Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Manis Dan Romantis


__ADS_3

Gerimis pagi diluar sana membuat tubuh serasa enggan untuk bangkit dari tidur. Waktu sudah pukul tujuh pagi namun sepasang anak manusia masih damai dalam dunia mimpinya.


Pendingin ruangan yang menyala semakin membuat keduanya meringkuk mencari kehangatan.


Nghh...


Leo melenguh, dengan mata yang masih tertutup, ia mengeratkan pelukannya dan merapatkan tubuhnya pada Syera. Tubuh Syera bagaikan sebuah guling dalam pelukan Leo.


Pelukan itu terasa hangat namun berat tangan dan kaki Leo yang menindih Syera membuat gadis itu tidak nyaman menahannya. Tubuh Syera tenggelam dalam pelukan Leo.


Syera menarik tubuhnya dan menyingkirkan tangan serta kaki Leo darinya. Syera berbalik memunggungi Leo dan kembali melanjutkan tidurnya.


Nghh...


Leo melenguh lagi saat kembali melingkarkan tangannya di tubuh Syera. Ia kembali memeluk bantal hidupnya itu. Syera grasak-grusuk menyingkirkan tangan dan kaki Leo. Sudah cukup sepanjang malam tadi ia sesak dalam pelukan dan penguasaan Leo.


"Diam dan jangan gerak-gerak. Kita tidur sebentar lagi," gumam Leo.


Syera menggaruk kepalanya merasa kesal tidak bisa tidur dengan posisi nyaman.


Pukul setengah sembilan pagi keduanya baru bangun, itupun karena ada panggilan telepon dari Bima.


Selesai mandi Leo keluar dari kamarnya hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Rambut dan tubuhnya yang basah dibiarkan begitu saja saat keluar menemui Syera.


"Sayang, aku lapar."


"Astaga!"


Syera melonjak kaget. Selama tinggal dengan Leo, ia selalu dikejutkan oleh berbagai hal. Sepertinya cepat atau lambat Syera akan terkena serangan jantung, ia harus segera mengunjungi dokter.


"Sayang, aku lapar," rengek Leo memeluk Syera dari belakang.


Lagi-lagi jantung Syera sedang tidak baik-baik saja saat Leo memeluknya dari belakang dengan tubuh yang masih basah.


"Ja-jagan bilang kak Leo lagi nggak pakai baju sekarang."


"Memang enggak, aku habis mandi dan lapar jadi aku langsung keluar untuk sarapan terlebih dahulu. Pakai bajunya nanti selesai makan."


"Jadi benar nggak pakai baju?"


"Iya, tapi aku pakai handuk. Kalau nggak percaya lihat aja," memutar badan Syera menghadapnya.


Glek!


Syera menelan salivanya gugup melihat bagian atas tubuh putih Leo yang polos dan masih basah.


Leo mengacak-acak rambutnya hingga air yang berasal dari rambutnya mengenai wajah Syera.


Mama Wulandari benar. Ini juga tidak baik buat jantungku.


"Kenapa nggak pakai baju dulu sih, kak?" tanya Syera memelas. Wajahnya sudah memerah seperti akan menangis menahan malu melihat kondisi Leo. "Kak Leo nggak malu? Disini bukan hanya ada kak Leo tapi ada aku juga, kak."


"Itu kamu tahu, hanya ada kita berdua disini," ucap Leo biasa saja. "Sekarang lebih baik kasih aku makan kalau tidak kita bisa lanjut tidur lagi. Bagaimana?"


"Jangan-jangan! Kak Leo harus pergi kerja."


Buru-buru Syera menyajikan sarapan yang baru selesai ia masak sedangkan Leo sudah duduk manis menunggunya.


"Sayang, sepertinya teh buatanmu pagi ini kurang manis tidak seperti biasanya?"


Sa-sayang?


Jantung Syera serasa dipompa begitu cepat saat Leo memanggilnya dengan sebutan sayang padahal saat memeluknya tadi Leo juga sudah mengatakannya namun Syera tidak menyadarinya.


Leo tersenyum, entah mengapa Leo merasa suka melihat wajah gugup dan tegang Syera. Saat gugup ia seperti orang kebingungan dan itu sangat lucu bagi Leo.

__ADS_1


"Kenapa? Apa ada yang salah atau kamu tidak suka aku panggil 'sayang'?"


Syera tersenyum malu menggelengkan kepalanya. Ia menyukai panggilan baru dari Leo hanya saja ia masih belum terbiasa.


"Kamu juga harus memanggilku seperti itu mulai sekarang," ucap Leo yang lalu mengedipkan mata pada Syera.


Syera menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia rasa dadanya akan meledak sebentar lagi karena ucapan dan kelakuan Leo yang bisa berubah seratus delapan puluh derajat.


"Tanganku pegal semalaman menjadi bantalmu, jadi kamu harus bertanggung jawab untuk menyuapiku. Kamu mau kan sayang?"


Syera menuruti kemauan Leo, ia duduk di sampingnya dan mulai menyuapi Leo sarapan.


"Sayang, kenapa tanganmu gemetaran? Apa kamu sangat gugup?" goda Leo.


Leo meraih tangan Syera yang gemetaran saat menyuapinya.


Cup - Cup


Leo mengecup punggung dan telapak tangan Syera yang gemetaran. Syera langsung menariknya dan memberi Leo minum.


"Aku sudah bilang, teh buatanmu pagi ini kurang manis," ucap Leo setelah menyeruput teh hangat yang di berikan Syera. "Kalau tidak percaya kamu bisa rasain."


Syera yang tidak pernah merubah takaran gula saat membuat teh untuk Leo heran dan langsung menyicipinya.


"Rasanya manis kok, kak."


"Oh, ya? Coba aku rasa."


Cup


Leo mencecep bibirnya setelah mengecup bibir Syera.


Cup


Sekali lagi Leo mengecup bibir Syera dan mencecap bibirnya sendiri.


"Kak?!"


Hahaha...


Tawa Leo pecah melihat wajah Syera sudah memerah. Ia suka setiap kali berhasil menggoda gadisnya itu.


Syera berlari ke kamarnya untuk menenangkan jantungnya. Ia membenamakan wajahnya pada bantal dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Syera berguling-guling di atas tempat tidurnya sedangkan Leo bersiap ke kantor.


Dibalik sifat dingin dan temperamen Leo selama ini, Syera akhirnya menemukan sisi yang berbeda. Leo ternyata seorang pria yang manis dan romantis hanya saja cukup dominan saat dalam sebuah hubungan.


Tok-tok-tok


"Aku akan pergi kerja, aku butuh pelukanmu," ucap Leo.


Tanpa membuat Leo menunggu lama Syera keluar dari kamarnya dan memberi Leo pelukan.


"Kamu melakukannya dengan baik, tidak membuatku menunggu lama."


Leo memeluk Syera begitu erat sedangkan yang dipeluknya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Leo.


Hap!


Leo menggendong Syera dan mendudukkannya di atas meja makan yang masih berantakan. Leo menggeser alat makannya tadi menjauh dari Syera.


Cup


"Aku akan langsung kembali setelah selesai kerja. Jangan kemana-mana dan tunggulah aku pulang, paham?" ucap Leo lembut sambil memainkan rambut Syera.


Tangannya turun mengelus pipi Syera dan turun lagi hingga jarinya berada di bibir Syera. Tak lama Leo sudah memagut bibir Syera yang membuat Leo begitu candu untuk merasakan betapa lembut dan manisnya bibir itu yang sekarang menjadi miliknya.

__ADS_1


"Aku pergi," ucap Leo melepas pagutannya. Ia mengelap bibir dan dagu Syera yang basah akibat ulahnya.


Leo tersenyum melihat mata Syera yang begitu sayu saat ia melepas ciuman mereka.


Cup


"Aku pergi."


Syera masih duduk di atas meja, mengatur nafasnya dan menenangkan jantungnya setelah Leo pergi.


Ma, Syera senang dan bahagia. Syera ingin bersama kak Leo selamanya. Itu sudah cukup buat Syera.


..........


Syera merasa bahagia melewati hari-harinya bersama Leo. Janji Leo untuk menjaganya dan tidak melakukan hal diluar batas saat bersama Syera di pegang teguh oleh Leo.


Setiap sore Syera akan menunggu Leo pulang dari kantor, menyambutnya dengan senyum dan akan dibalas Leo dengan pelukan hangatnya.


"Kak?"


"Em?" menenggelamkan wajahnya pada leher Syera, menghirup aroma tubuh gadisnya.


"Hari itu mama Wulandari minta aku untuk tidak tinggal dengan kak Leo lagi."


"Tapi sekarang mama Wulan sudah tidak ada. Apa aku tidak menjagamu dengan baik selama tinggal disini?"


"Bukan seperti itu, kak."


"Lalu?" tanya Leo mengeratkan pelukannya.


"Awalnya Syera juga nggak ngerti kenapa mama bilang seperti itu tapi sekarang aku jadi ngerti."


"Memangnya kenapa?"


"Kak Leo jangan pura-pura nggak tahu apa maksud mama Wulan."


"Aku nggak ngerti, sama sekali nggak ngerti."


Leo tersenyum, sesungguhnya ia tahu apa yang dimaksud Syera dan yang dikhawatirkan oleh mama Wulandari.


"Kak?"


"Em?"


"Kalau Syera tinggal dengan mami Jelita aja gimana? Kita bukan kakak-adik kandung, kak."


"Mau menjauh dariku? Lagian tidak ada yang tahu soal itu, biar hanya kita yang tahu untuk sementara ini."


"Tapi mami Jelita juga tahu soal ini," memberitahu Leo.


"Hanya mami Jelita, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mami Jelita tidak membutuhkanmu untuk tinggal dengannya sedangkan aku sangat memerlukanmu."


"Kalau gitu Syera tinggal di tempat lain aja gimana, kak? Syera bisa ngekos atau kontrak rumah, gimana?"


Syera mendorong kepala Leo dari ceruk lehernya, geli merasakan hembusan nafas Leo di lehernya.


"Gimana, kak? Boleh?" tanah Syera penuh harap.


"Hm... Jangan berpikir untuk bisa lepas dariku. Tidurlah, besok kita kepuncak dan aku butuh istirahat karena harus mengemudi," menarik kembali Syera dan membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. "Jangan mengulang permintaan itu lagi. Kalau tidak, aku akan benar-benar melewati batas dan melakukannya denganmu, paham?"


Syera langsung mengangguk, ia merinding mendengar perkataan Leo yang seolah mengancam.


"Bagus, sekarang tidurlah."


Leo menarik selimut menutupi tubuh mereka hingga hanya kepala saja yang terlihat. Malam ini mereka cepat beristirahat karena besok pagi akan pergi ke puncak. Seperti permintaan mama Mila, besok akhirnya mereka akan kepuncak untuk liburan.

__ADS_1


Jika Syera dan Leo sudah terlelap maka berbeda dengan Fandy yang masih terjaga. Fandy sibuk memikirkan sesuatu di kepalanya. Ia sudah memiliki rencana untuk besok ia lakukan saat di puncak.


Fandy tidak sabar saat mereka berada di puncak besok.


__ADS_2