
Dua puluh jam lebih duduk di kursi pesawat sungguh membuat tubuh Leo pegal. Punggung dan bokongnya terasa kram dan ingin rasanya di pijit. Lelah, bosan dan cemas karena cuaca cukup buruk di dua jam terakhir penerbangan. Meski begitu semuanya tak jadi masalah saat Leo menginjakkan kakinya di negara yang terkenal dengan kebersihan dan penduduknya yang ramah.
Leo memejamkan matanya, menghirup udara negara itu dalam-dalam saat kakinya menapak di tanah menuruni anak tangga pesawat.
Aku merindukanmu, aku tidak sabar bertemu denganmu.
Leo membuka matanya, tersenyum melangkahkan kakinya yang akan membawanya menemui pemilik hatinya.
Di ruang tunggu kedatangan pesawat dari Indonesia seorang pria bertubuh berisi dan tinggi mengangkat spanduk kecil bertuliskan 'Leo Geraldi Suntama' di atas kepalanya. Dialah Benny, biasa dipanggil Ben, junior Bima saat kuliah yang akan menemani Leo selama berada di sana.
Dari kejauhan Leo sudah melihat spanduk kecil yang berisi nama lengkapnya, tulisan itu cukup besar dan mencolok. Dalam hati Leo memuji Bima yang tidak membuatnya menunggu lama atau kesulitan saat mencari orang yang akan membantunya selama di sana. Leo juga memuji cara pria yang sedang menunggunya.
Leo mengeluarkan tanda pengenal, mengangkat dan menunjukkannya dengan wajah senyum menghampiri Ben.
"Hai, bro? Apa kabar Indonesia?"
Ben memeluk Leo setelah membaca nama yang tertera di kartu pengenal yang ditunjukkan oleh Leo dan sama persis seperti yang ia tulis di spanduk, sesuai yang diberitahukan Bima.
Pelukan hangat sesama anak Pertiwi menyambut kedatangan Leo.
"Terimakasih, Ben. Indonesia masih pada tempatnya, tidak ada yang berubah menurutku."
Keduanya tertawa, berpelukan dan saling berjabat tangan.
"Kau pasti lelah, aku yakin bokongmu sudah menipis duduk begitu lama di dalam pesawat," canda Ben.
Hahaha...
"Sudah, ayo aku antar ke tempatmu tinggal selama berada di sini."
Tidak banyak yang dikatakan Leo, ia lebih banyak mendengar saat Ben bicara dan itu membuat Leo merasa tidak bosan. Leo mengikuti kemana Ben membawanya.
"Apa kita akan menemuinya sekarang?" tanya Leo sudah tidak sabar akan tujuannya.
"Hei, bro? Tenanglah, aku akan mengantarmu padanya tapi kau juga perlu istirahat. Mungkin kau belum lihat bagaimana rupamu saat ini. Kau memang cukup tampan tapi penampilanmu dan wajahmu sangat kusut dan terlihat lelah. Kau butuh rileks sebelum menemuinya," tutur Ben memberi saran.
"Apa kau akan menemuinya dengan tampang seperti itu? Come on, bro... Kau seorang pria sejati, sabarlah sedikit lagi."
Leo memperhatikan wajahnya melalui kaca spion mobil. Benar saja, tampangnya sangat kusut dan kelelahan. Bulu-bulu halus di sekitar wajahnya juga sudah tumbuh karena selama tiga bulan ini Leo tak pernah bercukur. Rambutnya pun sudah sedikit panjang. Ia harus mengurus penampilannya terlebih dahulu.
"Apa ini tempatnya?" tanya Leo setibanya di depan tempat ia akan tinggali selama beberapa waktu.
"Kenapa, kau tidak suka? Mau aku carikan tempat lain?"
"Tidak-tidak, aku akan tinggal di sini. Tempatnya bagus dan mewah, aku suka. Hanya saja sedikit terlalu ramai di sini."
"Well, keputusan ada padamu. Katakan saja apa yang kau inginkan."
"Sudah, tidak apa-apa. Aku disini saja," ucap Leo.
Meski berkata tidak apa-apa tapi Ben bisa melihat jika Leo kurang nyaman dengan penginapan yang dipilihnya. Ben pikir hotel mewah, berkelas dan berada di pusat kota yang begitu ramai akan menjadi pilihan terbaik tapi sepertinya tidak untuk seorang Leo.
__ADS_1
"Baik, istirahatlah. Kau hubungi saja aku jika perlu sesuatu. Anytime for you, bro."
Dari jendela kamar tempat Leo berada terlihat pemandangan indah pusat kota. Ditemani secangkir kopi panas yang menggepul, Leo menikmati pemandangan kota tempat ia berada saat ini.
Ternyata dia membawamu ketempat yang sangat indah. Aku saja tidak pernah memikirkan negara ini jika akan membawamu untuk berlibur. Bagiku di manapun asal ada kamu bersamaku itu sudah cukup dan membuatku bahagia.
Leo mencium aroma kopinya dan menyeruputnya. Meski belum bertemu tapi dia sangat senang karena menghirup udara kota yang sama dengan gadisnya.
Kamu sedang apa di tempatmu sekarang? Apa saat ini jantungmu berdegup kencang? Jika iya, maka itu karena aku. Janji menua bersama dipuncak aku benar-benar-serius saat mengatakannya. Tunggu aku, aku akan datang dengan segala kerinduanku.
Beruntung ada barber shop di dekat hotel Leo menginap sehingga tidak sulit baginya mencari tempat untuk memotong rambutnya.
Ia mencukur dan membersihkan bulu-bulu di sekitar wajahnya. Guyuran shower membuat tubuh Leo segar dan rileks. Leo merebahkan tubuhnya, memejamkan mata agar segera tertidur. Tak sabar ia menunggu malam berganti pagi dan menemui kasihnya.
..........
Urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan membuat Ben tidak dapat mengantar Leo langsung ke tempat tujuan. Hampir seharian di hotel tanpa melakukan apapun membuat Leo jenuh. Kesabaran Leo seolah diuji namun Leo tidak bisa berbuat apa-apa. Barulah setelah pulang kerja Ben menghampiri Leo.
"Hai, bro? Sorry, ada keadaan darurat di Kedubes jadi baru bisa nongol."
"Aku bisa mengerti, harusnya aku yang berkata maaf karena sudah merepotkan."
"Oh, no. Santai saja untuk itu. Bima senior saya, dia sudah banyak membantu selama perkuliahan saya dari segi mental dan materi. Aku belum pernah membalas kebaikannya sampai sekarang. Mungkin dengan membantumu bisa dianggap salah satu bentuk terimakasih untuknya."
Leo tidak tahu jika Bima orang yang sangat peduli pada orang disekitarnya. Selain cakap dalam pekerjaan, Bima juga orang yang tulus dalam menolong.
Kau benar-benar akan naik jabatan, Bim. Aku rasa untuk duduk di kursi seperti milikku kau juga pantas.
"Come on, bro. Kita hampir telat," ajak Ben.
"Apa kau sering bertemu dengannya?" tanya Leo penasaran.
"Tidak juga, aku hanya melihatnya beberapa kali dari kejauhan saat membuntutinya pulang dan hanya sekali bertatap muka. Itupun hanya ya, sekedar menyapa sesama anak bangsa. Dia tidak tahu aku siapa, takutnya dia akan menghilang dari pantauan."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Hei... Mana aku tahu soal itu, yang jelas dia sangat cantik dan manis. Tidak sulit untuk seorang pria menyukainya."
Leo membayangkan sesaat wajah cantik dan manis itu. Wajah yang sangat ia rindukan.
"Apa kau tahu, aku sudah seperti penguntit selama dua minggu ini. Hahaha..."
Ben memukul pelan setir mobilnya membayangkan saat-saat ia membuntuti seorang gadis yang tidak ia kenal untuk mencari informasi. Ia hanya tahu jika gadis itu orang yang dikenal Bima.
Mobil yang dikemudikan Ben berhenti di depan sebuah toko pakaian, Ben melihat kembali jam tangannya dan merasa lega karena tiba tepat waktu. Ben melajukan pelan mobilnya agar tidak parkir tepat di depan toko yang bisa membuatnya diusir karena parkir sembarangan.
"Apa kau siap, bro?"
"Em?" tanya Leo sedikit gugup.
"Dia bekerja di toko ini, sekitar lima menit lagi dia akan keluar untuk pulang. Apa kau sudah siap untuk bertemu dengannya lagi?"
__ADS_1
"Itu tujuanku datang ke mari, Ben."
"Baguslah, kau pasti akan-" mata Ben menangkap sosok yang mereka nantikan. "Dia datang, bro. Sorry, maksudku dia keluar," menepuk pundak Leo, mengunakan telunjuk mengarahkan Leo pada orang yang dimaksud.
Deg
Leo menyentuh dadanya merasakan degup jantungnya yang sulit ia kontrol. Dilihatnya wajah yang setahun ini sangat ia rindukan keluar dari toko pakaian dengan setelan mantel coklat menutupi tubuhnya hingga mencapai lutut dipadukan dengan syal berwarna senada. Rambutnya dibiarkan tergerai panjang, rambut yang selalu dimainkan Leo saat malam menjelang mereka tidur.
"Go!" seru Ben menyadarkan Leo. "Aku akan tunggu disini," lanjutnya.
Leo memperhatikan wajah dan penampilannya sebelum akhirnya ia membuka pintu mobil. Ia sedikit berlari agar jarak tidak begitu jauh.
Langkah Leo mulai perlahan saat jarak hanya sekitar dua meter, Leo mengikuti langkah gadis di depannya dan satu tangannya masih berada di dada.
Ini aku, apa kau tidak bisa merasakannya? Apa kau sudah lupa dengan aroma parfum yang biasa kupakai? Saat ini kita sangat dekat. Syera, ini aku ada di belakangmu.
"Halo? Iya, kak...! Aku ingat pesanan kakak. Aku belum pikun, aku ingat semuanya. Aku sudah selesai kerja dan ini lagi jalan ke toserba buat beli pesanan kakak. Iya.., aku akan langsung pulang setelah selesai."
Apa yang dikatakan Syera pada seseorang di seberang telepon begitu jelas di pendengaran Leo. Ia yakin jika Fandy adalah orang itu. Suara Syera terdengar bersemangat, itu membuat Leo berubah tak percaya diri.
Syera, apa dia sudah menggantikan aku? Apa kau bahagia disini saat jauh dariku? Syera, apa aku sudah terlambat kali ini? Syera, tolong jangan melupakanku, hatiku masih sama, hanya ada kamu dan akan seperti itu selamanya.
"Syera?"
Tak sadar dengan suara yang pelan dan lembut Leo memanggil nama Syera yang berjalan di depannya.
Deg
Langkah Syera berhenti merasa seseorang memanggil namanya.
Suara itu? Tidak mungkin, aku pasti salah dengar dan berhalusinasi seperti biasanya.
Syera tidak ingin menoleh kebelakang. Ia tidak ingin dibodohi oleh pikirannya sendiri. Syera kembali melanjutkan langkahnya.
"Aku merindukanmu," ucap Leo. "Syera, aku merindukan."
Deg
Waktu seakan berhenti saat Syera menyadari suara yang memanggilnya tadi bukanlah halusinasi semata. Suara itu, suara itu sangat dikenal Syera dan tak mungkin akan ia lupakan. Dengan degup jantung yang berlomba Syera memutar tubuhnya, menghadap Leo yang kini berdiri tepat dihadapannya.
Di-dia? Kak Leo?
Syera merasa bagaikan sebuah mimpi melihat Leo ada di hadapannya.
"Aku rindu, aku sangat rindu padamu."
Leo tak kuasa menahan air mata. Akhirnya, setelah setahun wajah yang sangat ingin ia lihat kini ada di depan matanya. Leo melangkah tak sabar ingin memeluk kasihnya namun Syera malah melangkah mundur.
"Syera, ini aku. Aku datang untukmu," ucap Leo sedih.
Syera berkedip-kedip, ia kemudian memejamkan matanya lalu membukanya. Wajah Syera berubah sedih diikuti bibirnya yang manyun.
__ADS_1
"Ini aku," ulang Leo.
Sama seperti Leo, Syera tak kuasa menahan air matanya. Leo langsung mendekati Syera dan memeluknya. Syera menangis dalam pelukan Leo, membenamkan wajahnya pada dada bidang dan hangat Leo.