Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Kriteria Pria Untuk Syera


__ADS_3

Empat anak muda duduk bersebelahan dan berhadapan seperti dua pasangan yang sedang berkencan. Leo duduk disebelah Karina dan Syera di sebelah Fandy.


Seperti janji Leo sebelumnya yang akan membawa Syera saat ia bertemu dengan Karina lagi maka hari ini Leo membawa Syera ikut dengannya. Awalnya Syera bersikukuh menolak ajakan Leo. Akan tetapi, Syera yang juga penasaran dengan Karina terpaksa ikut meski ia tahu jika nantinya ia mungkin akan menyesal.


Saat di jalan menuju tempat mereka akan bertemu Karina, Fandy menelpon Syera dan menanyakan keberadaanya. Syera seperti enggan mengatakan keberadaanya pada Fandy dan tidak ingin Fandy menanyainya.


"Apa itu Fandy? Berikan sebentar ponselmu."


Syera diam saja namun Leo mengambil ponsel itu dari Syera.


"Datanglah ke cafe XXX."


Leo menyebutkan alamat tujuan mereka pada Fandy dan menyuruhnya untuk datang ke sana.


"Ini," menyerahkan ponsel Syera dan sambungan telepon dari Fandy sudah terputus.


Jadilah mereka berkumpul di cafe yang di pilih Karina sebagai tempat pertemuan mereka yang awalnya seharusnya bertiga menjadi berempat.


Dari mereka berempat hanya Syera yang tidak banyak bicara, dia hanya bicara saat ada pertanyaan untuk dirinya. Selebihnya Syera hanya diam memperhatikan Karina yang menurutnya lebih cantik dibanding foto yang ditunjukkan Leo.


Selain cantik dia juga baik, mudah bergaul dan dari caranya bicara pasti dia orang yang pintar.


Tak sadar Syera menghembuskan nafasnya kasar saat tak sanggup jika harus membandingkan dirinya dengan Karina. Apalagi Leo yang duduk di sebelah Karina selalu tersenyum dan sesekali tertawa kecil.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Fandy yang duduk di sebelah Syera dengan cara berbisik.


Syera menggeleng dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi kebanyakan menunduk sambil menyunggingkan senyumnya. Ia melirik pada Leo yang tak sedikitpun melihatnya sejak mereka berempat berkumpul tadi.


"Syera, kamu pasti senang punya kedua pria ini di sampingmu. Aku yakin jika mereka ini sangat sayang padamu," ucap Karina. "Jujur aku iri denganmu," lanjutnya.


"Bukankah menurutmu dia sangat cantik?" Fandy memuji Syera pada Karina.


"Dia sama cantiknya denganku," ucap Karina tersenyum. "Aku sedikit lebih cantik dari Syera sebenarnya tapi dia jauh lebih manis dariku. Sangat beruntung pria yang dekat dengannya."


Fandy tersenyum lebar sedangkan Syera yang menjadi topik pembicaraan dan yang paling muda dari mereka diam saja seraya memaksakan senyumnya.


"Kalau menurutmu pria seperti apa yang kamu harapkan untuk Syera? Sebagai kakak kamu pasti punya kriteria pria untuk adikmu yang manis ini," tanya Karina pada Leo tiba-tiba.


Mata Syera tertuju pada Leo di depannya sedangkan Leo hanya melihatnya sekilas.


"Dia hanya butuh seseorang yang sangat menyayanginya, membuatnya nyaman dan selalu ada untuknya," jawab Leo.


"Kakak yang baik," puji Karina menepuk-nepuk pundak Leo. "Apa kamu punya seseorang untuk direkomendasikan pada Syera?"


Pertanyaan Karina membuat Fandy menunggu apa yang akan dikatakan Leo, berbeda dengan Syera yang sudah ingin pergi dari sana.


"Aku rasa dia bisa melakukannya dengan baik."


"Dia? Maksud kamu dia itu siapa?" tanya Karina penasaran.


Mata Karian mengikuti arah pandangan Leo yang tertuju pada Fandy. Sesaat Karina belum mengerti maksud perkataan Leo namun melihat Leo belum mengalihkan pandangannya dari Fandy membuat Karina terbelalak, tidak percaya jika Fandy adalah orang yang dimaksud.


"Maksudmu orang itu Fandy?"

__ADS_1


Sama seperti Karina Syera juga terkejut saat mendengar nama Fandy di sebutkan.


Karina yang sudah tahu jika Fandy bukanlah adik kandung Leo dan tentunya tidak ada hubungan darah dengan Syera hanya bisa tersenyum dan tidak menduga kejadian seperti ini benar-benar nyata adanya. Karina merasa jika ia sedang membaca novel fiksi apalagi saat ia melihat Fandy, pria itu tersenyum padanya seakan menyetujui apa yang tadi dikatakan Leo.


"Sepertinya kepalaku butuh asupan segera, lebih baik aku pesan makanan untuk kita. Kalian semua di sini saja, aku akan memesannya langsung karena chef di sini teman kuliahku dulu."


"Aku akan ikut denganmu," ucap Fandy dan berjalan mengikuti Karina.


Tinggallah Leo dan Syera berdua. Leo menghabiskan ice green tea yang di pesan Karina untuk mereka semua saat baru tiba tadi.


"Aku mau pulang."


Leo mengerutkan keningnya mendengar kalimat yang diucapkan Syera.


"Jangan bercanda."


"Aku bilang aku mau pulang sekarang."


Leo memperhatikan wajah Syera yang menunduk.


"Kamu nangis?" tanya Leo saat Syera menyeka matanya menggunakan lengan. "Kamu kenapa, kamu sakit?"


Leo mengangkat dagu Syera agar menaikkan kepalanya untuk melihat wajah gadis itu.


"Aku baik-baik saja, aku hanya ingin pulang," menepis tangan Leo dari dagunya.


"Kenapa sikapmu jadi seperti anak-anak begini? Kalau ada sesuatu kamu bisa langsung katakan."


"Hapus air matamu dan jangan nangis. Karina dan Fandy sedang berjalan kesini, apa kamu mau menunjukkan wajah seperti itu kepada mereka berdua? Kalau tidak suka kamu bisa diam saja dan tunggu sebentar lagi setidaknya sampai habis makan."


Syera menghapus air matanya. Ia juga tidak mengerti kenapa tidak bisa mengontrol dirinya, padahal biasanya dia orang yang dengan mudah menyimpan dan tidak menunjukkan suasana hatinya pada orang lain.


Makanan yang dipesan Karina dan Fandy di hidangkan. Syera berusaha tenang dan makan sedikit meski ia tak ingin.


Sambil menikmati hidangan mereka membicarakan hal-hal kecil yang mengundang tawa namun hanya Syera yang merasa tak satupun ada yang lucu dan bisa membuatnya tertawa.


Dua jam seperti dua puluh tahun lamanya bagi Syera. Oleh sebab itu tanpa pikir Syera langsung berdiri setelah mereka selesai makan dan istirahat beberapa menit.


"Ayo pulang," ajak Syera pada ketiganya.


Karina memperhatikan wajah Syera, sesama perempuan ia merasa jika Syera sepertinya kurang nyaman namun tidak tahu akan apa.


"Iya, kita pulang sekarang. Kebetulan ada kerjaan yang harus aku selesaikan di rumah setelah dari sini," ucap Karina menyetujui ajakan Syera.


Mereka sepakat mengakhiri pertemuan mereka hari ini. Hujan diluar membuat Karina berdecak kesal. Ia tidak bisa mengendarai mobil sendiri saat hujan turun.


"Kalian bertiga pulang saja dulu, aku akan menunggu hujannya reda. Aku tidak bisa menyetir kalau hujan seperti ini, aku pernah menabrak pembatas jalan dua kali saat hujan turun dan itu membuatku trauma dan tidak berani mengemudi saat hujan," ucap Karina memberitahu.


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Leo. "Besok kamu bisa mengambil mobilmu kesini atau suruh seseorang mengambilnya."


Syera menengadah pada Leo, ia menarik ujung kaos Leo saat menawarkan diri mengantar Karina.


"Tidak perlu, itu akan makan waktu. Nanti Syera kelamaan," tolak Karina.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, justru sangat tidak nyaman meninggalkanmu di sini. Fandy akan membawanya pulang."


"Apa kamu yakin?" tanya Karina memastikan.


"Iya, ayo."


Sebelum pergi Karina memberikan senyumnya pada Syera sedangkan Leo pergi begitu saja. Karina mengikuti langkah cepat Leo menuju tempat parkiran dan meraih lengan Leo agar menunggunya dan memperlambat jalannya. Saat Syera akan menyusul mereka tangan Fandy menahannya.


"Ayo, mobilku parkir di sebelah sana," ucap Fandy menunjuk arah mobilnya yang tidak parkir di tempat yang sama dengan mobil Leo.


Fandy membawa Syera pulang dan di sepanjang perjalanan Syera hanya diam saja dan menutup mata. Berpikir Syera mungkin lelah dan mengantuk Leo membiarkannya saja meski sebenarnya ia ingin mengajak Syera berbicara dan mengatakan sesuatu.


..........


Sesampainya di apartemen, Syera yang tidak sanggup lagi mengontrol dirinya langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia menangis dilantai memeluk lututnya yang ia tekuk.


Syera menangis dan mengasihani dirinya sendiri yang tidak mengerti harus berbuat dan berkata apa. Meski air matanya berlinang namun sesak di dadanya sama sekali tidak berkurang. Mengingat bagaimana cara Karina menggandeng lengan Leo menuju parkiran tadi justru semakin membuat dada Syera bertambah sesak.


Setelah mengantar Karina kerumahnya, Leo juga langsung pulang. Pakaian Leo sedikit basah karena payung yang digunakannya mengantar Karina ke depan pintu rumah tidak menutupi seluruh badannya.


Leo mengambil dua lembar tisu dan mengelap tetesan hujan pada tangan kirinya. Ia melihat agenda milik Syera yang lupa ia berikan dibawah kotak tisu. Tiba di basemen apartemen Leo meraih agenda itu dan tak sengaja dua foto yang terselip di dalamnya terjatuh.


Jika satu foto sudah pernah ia lihat sebelumnya maka foto yang satu lagi yang memperlihatkan seorang pria belum pernah ia lihat.


Bastian Palmer?


Leo membaca nama yang tertulis di balik foto pria itu. Ia membuka sembarang halaman agenda itu saat akan menyelipkan kedua foto itu lagi namun yang ada Leo justru membaca tulisan yang ia lihat.


Muncul rasa penasaran Leo saat membaca tulisan itu, ia yakin itu bukan tulisan Syera.


Leo yang tadinya akan keluar dari mobil akhirnya duduk kembali, membuka lembar pertama dan membaca isinya. Ia kembali membuka lembar berikutnya. Wajah Leo berubah saat semakin membuka dan membaca isi agenda itu. Tangannya ikut gemetaran saat membuka lembar demi lembar hingga membaca semua isinya.


"Hahaha... Dia pasti sangat membenciku selama ini hingga menutupi semua ini dariku. Ternyata gadis kecil itu sanggup mempermainkanku."


Tawa Leo hanya sesaat karena kini wajahnya sudah merah padam. Ia mengeratkan giginya hingga membentuk tulang rahangnya.


Tup!


Leo keluar dan menutup pintu mobilnya kuat. Ia melangkah begitu cepat dengan sebelah tangannya terkepal erat sedangkan yang satunya lagi memegang agenda yang isinya sudah dibaca semau oleh Leo.


Pintu apartemen yang dibuka Leo ia tutup kembali dengan cara membantingnya kuat hingga membuat Syera yang baru berganti pakaian di kamarnya melonjak kaget.


Sesaat Leo menutup matanya berusaha tenang namun ia gagal melakukannya.


Bug-bug-bug!


Bukan mengetuk namun Leo memukul pintu kamar Syera menggunakan kepalan tangannya.


Bug-bug-bug!


"Keluar!"


Teriakan Leo memenuhi seisi ruangan.

__ADS_1


__ADS_2