
3 Bab Terakhir
Hai... teman-teman readers semua, salam sehat ya. Ada yang tahu atau pernah dengar lagu SIMPONI HITAM yang dinyanyikan SHERINA MUNAF nggak?
Kalau boleh, aku mau kasih saran untuk dengerin lagunya sebelum lanjut baca 3 bab terakhir ini dan kalau boleh kasih saran lagi bacanya sambil dengerin itu lagu lebih mantap.
Happy reading ya...
..........
"Oh... Siall!!
Seseorang yang baru turun dari dalam pesawat mengumpat habis-habisan. Sejak masuk dalam pesawat hingga turun sudah berapa kali ia mengumpat kesal karena berbagai hal menjengkelkan menimpanya.
Bayangkan saja, saat melakukan check in, petugas yang memeriksa kelengkapan dokumen menegur Bima karena zipper jeans-nya yang terbuka, malangnya petugas itu adalah seorang wanita muda berparas cantik. Setibanya di dalam pesawat Bima langsung mendaratkan bokong di kursinya disusul seorang pria yang jalannya melambai dan kemayu duduk di samping Bima.
Gaya dan nada bicara pria kemayu itu membuat Bima merasa mual setiap kali diajak bicara. Penerbangan yang memakan waktu lebih dari dua puluh jam serasa bagaikan dua puluh tahun dirasa Bima. Jika dibuat pilihan, Bima akan lebih memilih mendengar omelan mama Mila daripada suara pria yang duduk disampingnya.
Dan saat ini, Bima kembali mengumpat kesal karena saat akan turun dari pesawat seorang anak kecil tanpa sengaja menumpahkan susu cokelat dan mengenai sepatu kets putih miliknya.
"Hai sobat? Aku merindukanmu," Ben yang datang menjemput Bima ke bandara segera berlari dan memeluknya. "Akhirnya, setelah sekian tahun kita bisa bertemu kembali."
"Terimakasih sudah merepotkan karena harus menjemputku. Ini pertama kali jadi aku tidak mengerti kalau harus sendiri."
"Justru ucapanmu seperti ini yang membuatku tak enak. Ini tidak seberapa dari yang sudah kau lakukan dulu."
Bima setahun lebih senior dari Ben namun usia keduanya sama. Karena sesuatu hal membuat Ben frustasi dan sempat akan mengakhiri hidupnya di kampus. Beruntung saat itu Bima sedang lewat dibelakang fakultas Ben hingga rencana Ben yang akan mengakhiri hidupnya dengan mengkonsumsi sebotol obat tidur digagalkan. Sejak saat itu hubungan keduanya begitu dekat dan baik.
"Bagaimana dengannya, apa dia baik-baik saja?" Bima tidak sabar dan penasaran ingin mengetahui semua yang terjadi selama Leo ada di sana.
"Entahlah, aku juga sulit mengatakannya. Aku kira setelah mereka bertemu maka tidak ada masalah lagi tapi justru sebaliknya. Sudahlah, lebih baik melihatnya saja langsung. Dia sudah seperti orang bodoh yang linglung saat ini."
Hampir satu jam mereka berdua akhirnya tiba di hotel, tepatnya di depan pintu kamar Leo.
"Aku akan kembali bekerja. Kalau perlu sesuatu maka tinggal hubungi saja aku. Aku rasa kalian berdua juga ada hal yang perlu dibicarakan. Aku tidak tega melihatnya."
"Terimakasih, Ben."
Bima menekan bel pintu kamar hotel Leo beberapa saat. Pintu baru dibuka setelah Bima menunggu sekitar lima menit.
"Kau?"
Leo terkesiap melihat Bima berdiri di depan pintu. Leo pikir orang yang datang adalah Ben, dilihatnya kiri dan kanan namun hanya ada Bima di sana.
"Masuklah," mempersilahkan Bima masuk ke dalam kamarnya.
Bima menarik kopernya kedalam, wajah kusut dan berantakan Leo ditangkap jelas oleh Bima. Saat akan meletakkan ranselnya ke atas meja, Bima melihat surat undangan pernikahan dan bukan main terkejutnya Bima membaca dua nama yang tertera di sana, dua nama yang dikenalnya.
__ADS_1
Bukannya ini untuk besok?
Bima berbalik pada Leo yang sudah meringkuk di atas ranjang. Memeluk tubuhnya sendiri, Leo terlihat begitu menyedihkan bagi Bima.
"Tuan, apa anda baik-baik saja? Apa membutuhkan sesuatu?" tanya Bima hati-hati.
"Em, bawa dia untukku sekarang. Aku butuh dia, sangat membutuhkannya sekarang."
Kata-kata itu sudah pernah diucapkan Leo. Kalimat yang sama dan permintaan yang sama. Ragu-ragu Bima mendekati Leo yang meringkuk dalam selimut yang hanya memperlihatkan setengah badannya keatas.
"Apa anda sudah makan, tuan? Apa anda-"
"Aku sudah makan, tidak usah memperdulikan aku. Kau juga datang karena mama Mila ingin kau membawaku kembalikan? Kalian semua sama saja!"
"Maaf, tuan."
"Diamlah, aku ingin tidur. Aku lelah, besok adalah hari penting jadi aku butuh istirahat."
Bima berdiri di dekat jendela, pemandangan indah di depannya begitu hambar. Sepertinya ia salah saat memberitahu keberadaan Syera dan Fandy yang berada di negara ini. Tujuannya yang ingin membuat bahagia Leo justru malah sebaliknya. Bima menyesali perbuatannya sendiri.
..........
Malam telah berganti pagi, Syera dengan malas dan terpaksa mengikuti Fandy yang membawanya sarapan begitu cepat. Syera sama sekali tidak berselera, ia hanya mengisi perutnya dengan sepotong roti dan secangkir teh hangat.
Sekembalinya mereka dari sarapan, Syera menjumpai beberapa orang di dalam kamar hotel tersenyum seperti telah menunggu kedatangannya.
"Masuklah dan aku akan keluar sebentar."
Syera melangkah berat, gaun pengantin yang kemarin baru dicobanya sudah ada di sana. Gaun pengantin yang begitu indah itu seolah ikut menangis melihat kemalangan Syera.
Setelah membersihkan tubuhnya, Syera duduk di hadapan meja rias dimana sudah terdapat berbagai alat-alat dan produk kecantikan yang akan disapukan di wajahnya.
Dalam balutan bathrobe Syera mulai dihias dan di dandani. Terserah bagiamana kedua penata rias tersebut akan menghias rambut dan wajahnya, Syera tidak peduli. Beberapa kali penata rias tersebut bertanya jika mungkin ada model rambut atau make up yang ingin terapkan namun tak sedikitpun Syera menjawab.
Kedua penata rias akhirnya memutuskan sendiri model rambut dan make up yang mereka pikir akan cocok untuk Syera. Beberapa kali pula penata rias tersebut menghela nafas karena air mata Syera yang terus mengalir hingga merusak sapuan make up diwajahnya.
Salah seorang penata rias memberi Syera pengertian jika mereka hanya melakukan pekerjaan mereka dan meminta kerjasama Syera sampai tugas mereka selesai. Syera berlari ke kamar mandi dan meraung di dalamnya.
Sakit dan hancur, itulah yang terus dirasakan Syera. Ia menangis dan menangis sejadi-jadinya hingga merusak make up yang belum sempurna.
"Kak Leo...?!" teriakan Syera memenuhi kamar mandi, manggil pria yang begitu ia cintai. Kedua penata rias dan seorang designer yang menangani gaun pengantin Syera hanya bisa terdiam mendengar suara jeritan tangis Syera dari dalam kamar mandi.
Hampir tiga puluh menit Syera menangis dikamar mandi, setelahnya ia keluar dengan senyuman. Wajahnya juga sudah bersih dari olesan make up yang rusak. Syera mengulas senyum pada kedua penata rias dan kembali duduk di depan cermin. Syera siap untuk dirias kembali.
"Make me like a princess," ucap Syera masih dengan senyumnya.
Kedua penata rias tersebut hanya saling memandang dan kemudian melakukan seperti apa yang diinginkan pada mereka sedangkan designer yang menunggu Syera selesai di rias bisa merasakan jika pengantin yang akan memakai gaun rancangannya itu pasti terpaksa melakukan pernikahannya.
__ADS_1
Syera memandang wajahnya yang baru selesai rias. Kemudian Syera diarahkan untuk memakai gaun pengantin dengan bantuan designer.
"Keep your smile, this is your day. You look so beautiful with this wedding dress," ucap sang designer.
Designer tersebut menuntun Syera dan memutar tubuhnya agar menghadap ke cermin.
"As you wish before, you look like a princess. Be a happy princess with your prince. I'm happy for you."
Ucapan selamat yang di dengar Syera terasa menyayat hatinya. Ucapan yang harusnya membuat seorang pengantin tersipu dan bahagia tapi tidak untuk Syera.
Syera kembali memandangi wajahnya di hadapan cermin. Benar saja, Syera melihat penampilannya dicermin bagaikan seorang putri dalam cerita dongeng. Wajahnya yang datar dibuatnya tersenyum namun hanya bisa bertahan sementara.
Tak lama Fandy sudah kembali dan melihat Syera yang sudah selesai di hias. Fandy tersenyum puas melihat penampilan Syera. Tiga orang yang tadi membantu Syera meninggalkan kamar karena tugas mereka yang sudah selesai.
Fandy mendekati Syera dan berdiri di sisi kanan Syera, keduanya sama-sama menghadap pada cermin di depan mereka.
"Cantik. Kamu sangat cantik," memuji penampilan Syera. "Aku beruntung bisa memilikimu. Percayalah, kita akan hidup bahagia selamanya."
"Tidak ada yang akan hidup bersama selamanya. Ada maut yang akan memisahkan salah satunya terlebih dahulu," ucap Syera menekan kalimatnya.
Fandy bisa melihat wajah Syera yang menampilkan ketidak sukaan pada perkataannya.
"Tunggulah sebentar, aku tidak akan lama untuk bersiap."
Fandy membantu Syera duduk dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak perlu lama Fandy sudah keluar menggunakan handuk putih yang terlilit di pinggangnya.
Begitu santai Fandy berjalan di belakang Syera, mengambil pakaiannya di atas tempat tidur dan memeriksa jika semuanya sudah lengkap.
Syera menutup matanya saat Fandy melepas handuk di pinggangnya, hal yang tidak pernah dilakukan Fandy selama ini saat bersama Syera meski mereka tinggal berdua.
Meski membelakangi Fandy tapi Syera bisa melihat yang dilakukannya dari pantulan cermin di depannya.
"Buka matamu, aku adalah calon suamimu yang dalam hitungan jam akan segera menjadi suamimu."
Syera membuka matanya, ia memperhatikan Fandy yang sibuk memakai pakaiannya.
"Aku sulit melakukannya sendiri," ucap Fandy mengulurkan kedua tangannya mendekati Syera.
Meski tak suka tapi Syera melakukannya. Syera membantu Fandy mengancing ujung tangan kemeja putih yang dipakai calon suaminya dalam diam.
Syera ingin menangis tapi ia tahan sebisa mungkin apalagi saat ini Fandy menyerahkan dasi padanya dan berjongkok dihadapan Syera untuk dipakaikan dasi.
"Terimakasih, Syera." Fandy mencium telapak tangan Syera saat memakaikan dasinya. "Aku ingin kamu juga bahagia hari ini. Bahagia sama seperti apa yang aku rasakan."
Fandy memandangi wajah Syera dan membuka laci meja di sampingnya. Leo mengeluarkan sebuah kotak kecil yang Syera sudah tahu apa isinya. Sepasang cincin yang sebentar lagi akan melingkar di jarinya dan jari Fandy. Benda yang akan mengikat mereka berdua dalam kata pernikahan yang sungguh tak diharapkan Syera.
..........
__ADS_1
Dear readers...
Maaf ya, kemarin itu bukan 3 Bab terakhir. Author-nya ngeblank๐๐๐