Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Dukungan Mama Mila


__ADS_3

"Aku ngantuk, kamu yang urus hal ini," bisik Leo.


Leo pergi begitu saja meninggalkan dapur dan melewati wanita yang sudah menangkap basah Leo dan Syera di dapur tanpa rasa takut dan malu sedikitpun.


Wanita itu melongo di lewati saja tanpa sedikitpun menundukkan kepalanya. Syera yang masih berdiri di depan pintu kulkas gugup saat wanita yang memergokinya memandang penuh tanya padanya.


Syera mengikuti wanita itu saat kembali ke kamar dan bersiap untuk segala perkataan yang akan dilayangkan padanya.


Klek!


Syera mengunci pintu kamar dan duduk di hadapan bibi Retno yang melihat aksinya dan Leo di dapur beberapa saat lalu.


"Katakan sama bibi kenapa kalian seperti itu. Apa tuan Leo yang memaksamu? Kalau iya, kenapa bisa? Bukannya tuan Leo sangat benci denganmu selama ini? Terus kenapa tidak berteriak saja tadi? Apa kamu sebegitu takutnya hingga menerima semua perlakuannya terhadapmu?"


Pertanyaan bibi Retno yang bertubi-tubi membuat Syera bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu.


"Bibi Retno salah paham, bukan seperti itu, bi."


"Lalu yang benar itu yang mana? Apa kamu sebodoh itu, ha? Dia kakakmu dan kamu adiknya. Kenapa diam saja saat Leo melakukannya?"


"Syera nggak bisa, bi."


"Kenapa?"


"Karena Syera suka dia," jawab Syera.


Perlahan Syera mulai menceritakan tentang dia dan Leo yang sebenarnya bukan saudara kandung, mengenai Wulandari dan hubungannya dengan Leo saat ini. Bibi Retno tak bisa berhenti menganga mendengar penjelasan dari Syera. Ia seperti sedang mendengar cerita sebuah film yang endingnya belum bisa diketahui.


Bibi Retno juga merasa iba saat mendengar berita tentang Wulandari yang harus meninggalkan Syera di hari pertemuan pertama mereka setelah beberapa tahun lamanya dan menghapus air mata Syera yang jatuh saat bercerita.


"Kasihan sekali kamu, nak. Kamu harus kuat, ya?"


"Iya, bi. Walaupun sangat sedih tapi Syera bersyukur setidaknya bisa lihat wajah mama meski untuk yang terakhir kalinya.


"Jadi kamu dan Leo bukan saudara kandung?" tanya bibi Retno memperjelas tanpa menggunakan embel-embel 'tuan' saat menyebut nama Leo.


"Bukan, bi."


"Apa kamu dan Leo benar-benar saling sayang? Bukannya Leo selama ini benci denganmu?"


Syera menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia juga bingung bagiamana Leo bisa sangat menyukainya tapi itulah kenyataan yang ada saat ini. Syera senyum-senyum malu melihat bibi Retno.


"Ayo jawab?" desak bibi Retno.


"Syera juga nggak tahu, bi. Yang jelas kak Leo sangat sayang sama Syera."


Syera mendekatkan wajahnya ke telinga bibi Retno berbisik agar tidak ada yang mendengar padahal hanya ada mereka berdua dikamar itu dan pintu juga sudah ia kunci.

__ADS_1


"Kak Leo malah pernah nangis karena perasaanya Syera abaikan," bisik Syera.


"Kenapa bisa, bukannya kamu juga suka?"


"Waktu itu Syera belum tahu kalau kak Leo bukan kakak kandung Syera, bi."


"Tu-tunggu, maksudmu dia suka samamu saat kamu masih berstatus sebagai adik kandungnya?"


Syera menganggukkan kepalanya malu-malu.


"Ka-kamu juga seperti itu?"


Syera kembali menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan bibi Retno.


"Tapi Syera nggak tunjukkan karena Syera tahu itu salah. Hanya saja kak Leo nggak bisa menahan perasaannya, jadi dia terang-terangan bilang ke Syera."


Leher bibi Retno tegang mendengar pengakuan Syera. Bibi Retno sadar jika gadis itu benar-benar mempunyai banyak hal yang ia sembunyikan.


"Sudah, tidurlah. Leher bibi tegang mendengarnya. Dasar anak muda jaman sekarang, ada-ada saja kelakuannya."


Bibi Retno tidur memunggungi Syera, ia tidak habis pikir dengan kenyataan yang didengarnya. Melihat keberanian Leo di dapur tadi bibi Retno tidak bisa membayangkan saat Leo dan Syera tinggal berdua di dalam apartemen.


"Anak jaman sekarang tidak tahu tempat. Tidak di dapur ataupun kolam renang, asal ada kesempatan langsung eksekusi," ucap bibi Retno.


Perkataan bibi Retno membuat Syera terkejut, ia berpikir apa bibi Retno juga melihat kejadian saat di kolam renang.


"Apa bibi juga lihat kejadian di kolam renang?" tanya Syera ragu.


"Terimakasih, bi."


Syera memeluk bibi Retno yang memunggunginya. Ia bersyukur karena saat itu tidak memberitahu apa yang dilakukan Leo padanya saat di kolam renang. Seandainya bibi Retno mengadu, ceritanya mungkin akan berbeda sekarang.


..........


Esok harinya semuanya berjalan-jalan mengunjungi kebun teh, ke tempat-tempat yang biasanya dikunjungi banyak orang saat berkunjung ke puncak. Seharian mereka habiskan benar-benar untuk liburan.


Ada banyak foto yang mereka abadikan dari kegiatan mereka seharian ini. Pukul lima sore mereka baru kembali ke villa.


Fandy sengaja meminta mama Mila untuk menggunakan mobil yang sama dengannya sedangkan Syera dan Leo ada di mobil yang dikemudikan oleh pak Asep, bibi Retno di duduk disampingnya.


Sesampainya di villa mereka langsung membersihkan diri karena semakin sore maka akan semakin dingin.


Fandy menghentikan mobilnya di pertengahan jalan menuju villa dan berbicara serius dengan mama Mila untuk yang kesekian kalinya.


"Fandy serius, ma. Fandy hanya butuh dukungan dari mama. Fandy nggak mungkin ngotot sama mama kalau Fandy nggak benar-benar suka dan sayang sama Syera, ma. Jadi tolong untuk kali ini aja, ma?"


Mila tidak tahu lagi harus bicara apa. Selama ini Fandy sudah menjadi anak yang sangat baik, penurut dan perhatian padanya apalagi semenjak suaminya meninggal. Fandy melakukan tugasnya sebagai anak dengan baik selama ini.

__ADS_1


Hati mama Mila luluh dengan ketulusan dan kesabaran Fandy. Meski bisa bertindak semaunya tapi Fandy tetap menghargainya sebagai orang tua.


"Lakukanlah. Kamu sudah dewasa dan mama nggak bisa melarang lagi, terlebih menyangkut masa depanmu. Kamu lebih tahu apa yang terbaik untukmu."


"Jadi mama setuju dan dukung Fandy?"


"Iya, sayang. Mama setuju."


Fandy memeluk mama Mila, ia benar-benar lega. Kesabarannya meminta restu mama Mila kini sudah ia kantongi. Fandy senang, kebahagiaan bersama dengan Syera yang menjadi impiannya selama ini tinggal selangkah lagi dan ia akan melakukannya malam ini juga.


..........


Ekhem...


"Kenapa diluar, udara disini sangat dingin nanti kamu bisa masuk angin."


"Sebentar aja, kak. Aku mau nikmati udara dingin puncak saat malam hari."


"Terus kak Leo mau apa kesini?"


"Menurutmu apa lagi? Aku butuh amunisi. Amunisiku sudah hampir habis. Apalagi seharian ini melihatmu dekat dengan Fandy dan menyentuhmu membuat energiku terserap banyak," sungut Leo.


Leo menghampiri Syera ke pondok dan duduk disebelah kiri Syera. Seharian ini mereka hanya sedikit berinteraksi karena Fandy selalu menempel dan membawa Syera kemana ia mau. Leo merasa sudah cukup sabar seharian ini apalagi saat melihat Fandy beberapa kali merangkul Syera untuk berswafoto dengannya.


"Kak, jangan seperti ini. Ada banyak orang disini. Kalau ada yang lihat lagi gimana?"


Syera menghindar saat Leo merangkul pinggangnya dan menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Syera.


"Tempat ini sangat romantis, jangan menyia-nyiakan suasana seperti ini. Suasana seperti ini tidak akan kita temui di kota."


"Iya aku tahu tapi kalau ada yang lihat lagi seperti semalam gimana?" mendorong Leo menjauh darinya dan melepas tangan Leo dari pinggangnya.


"Hehehe... Apa kamu sangat takut ketahuan?"


"Ya jelas takut, kak. Geser kak, jangan dempet seperti ini," protes Syera menahan tubuh Leo agar berjarak darinya.


"Makanya lakukan sekarang." Leo mengerucutkan bibirnya pada Syera.


Syera tahu jika Leo tidak akan pergi sebelum keinginannya terkabulkan. Syera merutuki dirinya karena pria yang dicintainya bisa berubah menjadi seperti orang bodoh dan anak kecil, berbeda dengan Leo yang selama ini dikenalnya.


"Tapi janji hanya sebentar dan jangan lakuin seperti semalam lagi. Syera nggak mau dan akan marah kalau kak Leo seperti itu lagi," ucap Syera memperingatkan.


Syera menutup matanya agar Leo melakukan keinginannya dan langsung kembali ke dalam villa.


Mama Mila yang seharian ini lelah memilih untuk beristirahat sejenak sedangkan Fandy baru selesai membersihkan tubuhnya dibawah guyuran air dingin.


"Astaga!"

__ADS_1


Untuk ketiga kalinya bibi Retno harus berada dalam situasi yang tidak pernah diinginkannya. Niatnya untuk berjalan-jalan dipekarangan villa yang banyak ditumbuhi bunga malah harus menyaksikan pertunjukkan dua sejoli yang sedang memadu kasih dengan bibir yang menyatu.


Bibi Retno menutup mulutnya dan memilih menjauh, ia duduk di teras rumah untuk berjaga-jaga seandainya ada yang lewat dan akan menuju pondok tempat Syera dan Leo berada.


__ADS_2