
Semilir angin malam dan debur ombak menemani malam sepi dan kesendirian Leo yang sedari tadi memandangi langit malam tanpa bintang.
Beralaskan pasir di tepi pantai Leo merebahkan tubuhnya menengadah ke langit. Suasana pantai yang sepi dan gelap tak menjadi masalah baginya. Saat ini ia hanya butuh tempat untuk menyendiri dan menenangkan suasana hatinya.
Bayangan saat mama Mila menamparnya terus menerus menghampiri saat Leo memejamkan matanya. Tidak hanya itu saja, bahkan bayangan saat Fandy minum dari sedotan yang sama dengan Syera terasa mengganggu pikirannya. Pun bagaimana cara Fandy mengelus rambut Syera tak luput dari ingatan Leo.
Leo membuka matanya, mengangkat tubuhnya meski begitu berat mendekati ombak yang seolah berlomba menghampirinya.
Air sudah menutupi hingga mata kaki Leo namun ia masih terus berjalan ke depan hingga air mencapai lututnya.
"Hei, bodoh! Apa kau mau mati tenggelam, ha?" teriak penjaga pantai.
Jlub!
Leo menenggelamkan seluruh tubuhnya begitu saja dan tidak menghiraukan seseorang yang berteriak padanya.
Pria yang bertugas sebagai penjaga pantai itu gelagapan dengan apa yang dilihat matanya. Sudah sepi dan tidak ada orang lain disana kecuali ia sendiri.
Buru-buru pria itu melempar isi sakunya ke atas pasir dan berlari menghampiri posisi dimana tadi Leo berada.
Srakkk
Belum lagi penjaga pantai mencapai tujuan ia kembali dikejutkan dengan gemercak air dan melihat kemunculan Leo di tempat yang sama.
Mungkin ada sekitar sepuluh detik Leo menenggelamkan tubuhnya dan muncul lagi.
"Hei, brengsek! Kenapa tidak mati saja sekalian? Kau membuat jantungku hampir lepas," maki penjaga pantai begitu geram.
Begitu santainya Leo berbalik dan keluar dari air begitu saja tanpa memperdulikan makian yang dilontarkan padanya.
Penjaga pantai merasa jengkel dan seperti di permainkan. Ia mengejar Leo yang sudah ada di darat dan menarik bagian belakang bajunya.
"Hah! Apa kau sadar kelakuanmu tadi sangat berbahaya dan membuatku jantungan saat melihatnya! Apapun masalahmu jangan lakukan hal bodoh."
Leo menepis tangan pria itu dan pergi menuju mobilnya. Si penjaga pantai hanya dapat menyumpahinya sangking geramnya.
Dalam keadaan basah kuyup Leo kembali merebahkan tubuhnya di atas kursi kemudi. Sengaja ia membiarkan kaca jendela mobil disampingnya terbuka agar dapat merasakan hembusan angin malam yang semakin menusuk hingga ke tulang.
..........
Malam berganti pagi, aktivitas hari ini pun kembali dimulai. Di kamarnya Syera tengah bersiap untuk berangkat kerja sedangkan Fandy sudah berangkat terlebih dahulu untuk mengurus proyek kerja sama dengan perusaan Y. Sepertinya selama seminggu ini ia akan begitu sibuk karena harus terjun ke lapangan secara langsung mengingat dialah yang pegang kendali proyek tersebut.
"Semangat, Syera. kamu sudah cukup kuat karena bisa sejauh ini," menyemangati diri sendiri.
Tas tangan yang terbuat dari kain ia gantungkan di pundak kanan dan memakai sepatu kets yang sudah tiga tahun dipakainya baik saat masih kuliah dan saat bekerja.
Meski sudah buruk namun karena Syera rajin mencucinya, sepatu itu masih terliha bagus dan layak untuk dipakai.
__ADS_1
"Astaga!"
Begitu kagetnya Syera sampai melonjak saat membuka pintu. Di depan pintu apartemennya miliknya Leo tengah berjongkok dengan kedua tangan memegangi bahkan terlihat seperti mencengkeram kepalanya.
Melihat tidak ada pergerakan dari Leo sampai Syera menutup pintu ia berinisiatif menanyakan keadaan pria itu.
"Apa anda baik-baik saja?"
Leo masih saja diam dan tidak bergerak dari posisinya. Syera meneliti dan membuatnya merasa ada yang aneh karena melihat lantai yang basah. Maniknya mencari sumber yang membasahi lantai.
Syera tertuju pada sepatu kets yang dipakai Leo. Karena sebagian terbuat dari bahan kain maka siapa saja dapat melihat jika sepasang alas kaki itu basah.
"Tuan-" Syera terdiam saat ia kembali menegur Leo sambil telunjuknya ia gunakan menepuk pundak Leo. Ditempelkannya telapak tangan dan sedikit meremas kaos oblong yang melekat di tubuh Leo untuk meyakinkan apa yang di rasa telunjuknya tadi.
Pakaian Leo begitu lembab dan dingin.
"Tuan, apa anda baik-baik saja? Pakaian anda-"
"Bukan urusanmu," suara berat Leo tiba-tiba terdengar. Langsung ia berdiri meski terlihat sedikit kesulitan.
"Apa anda butuh sesuatu?"
Wajah pucat dan lusuh, mata yang begitu berat dan sayu karena menahan sakit di kepala namun tatapannya masih terlihat begitu tajam saat menoleh kearah Syera.
Sekujur tubuh Leo dari atas hingga bawah terasa begitu sakit. Kepalanya begitu berat belum lagi suhu tubuh dan nafasnya yang begitu panas. Leo sedang menahan sakit apalagi kepalanya seolah sedang menjinjing beban berat dan ditusuk-tusuk ribuan jarum.
Leo melepas satu persatu semua yang melekat pada tubuhnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Pakaiannya berserakan di lantai. Ia mengguyur sekujur tubuhnya dengan air hangat. Suhu tubuhnya memang begitu hangat namun ia juga menggigil kedinginan.
Hanya menggunakan bathrobe Leo naik keatas tempat tidurnya dan mengirim pesan pada Bima untuk menyerahkan urusan kantor hari ini pada sang asisten. Setelah meletakkan gawainya ia menarik selimut dan membungkus seluruh tubuhnya dengan kain lembut itu.
..........
"Sudah lama ya, pa. Maaf mama hanya datang sekali setahun."
Seorang wanita berbalut pakaian putih memandangi makam yang sudah cukup lama tak ia kunjungi. Tujuh tahun sudah lama kepergiannya dan setiap tahun ia selalu datang disaat memperingati hari kematian suaminya itu. Bayu Suntama nama yang terukir di atas batu nisan.
Sambil menebarkan bunga di atas pusaran yang sekarang sudah ditutupi rumput hijau mama Mila terus berbicara seakan pria yang sudah tinggal tulang belulang itu dapat mendengarkan.
"Apa kau melihatnya juga dari atas sana? Kau pasti marah dan kecewa bukan? Tangan yang selalu mengangkatnya saat terjatuh dan yang seharusnya menghapus air mata justru memukulnya."
Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh. Menangis tersedu-sedu, hatinya hancur dan sakit saat mengingat apa yang dilakukan pada anaknya.
"Tentunya papa marah, iyakan? Anak yang kita didik dengan baik itu sangat menyayangiku namun disisi lain semenjak kau pergi dia bisa berubah menjadi anak yang keras. Terkadang dia tidak bisa mengontrol ucapannya. Mama juga tidak ingin Fandy merasa sedih karena mendengar ucapan Leo."
"Pa, apa yang harus mama lakukan? Fandy menyukai gadis itu, meski tidak ada hubungan darah bukankah mereka berdua anakmu? Apa papa tahu, wajah gadis itu sangat mirip dengan ibunya dan sama sekali tidak mirip denganmu."
Perih dan sakit itulah yang dirasakan mama Mila saat mengucapkannya. Tangis dan air matanya sudah berhenti namun kesedihan tidak akan pernah hilang dari hatinya.
__ADS_1
"Aku pasti sudah gila bercerita sambil menangis disini. Maaf jika kedua anak itu tidak rajin mengunjungimu, atau ketiga anak itu, hahaha..."
"Hah... Sudah sore, aku harus pulang. Apa kau kesepian seorang diri di sana? Itu salahmu pergi terlalu cepat dan tidak mengajakku."
Mama Mila melihat kearah mobil yang tadi ia naiki. Di sana terlihat pak Asep sedang menunggu dengan pandangan tertuju pada sang majikan. Pria yang sudah dianggap sebagai saudara oleh mama Mila itu selalu sabar menunggunya setiap kali pergi ke makam suaminya. Seperti hari ini, sudah lebih dari satu jam mama Mila berada dimakan suaminya itu.
..........
"Apa dia kira dia itu seorang sultan atau tuan muda?" cerocos salah seorang pramusaji yang bekerja di restoran ibu Linda.
Sejak tadi sudah tiga kali dia bolak-balik ke dapur untuk menyampaikan pesan salah satu pelanggan yang membuatnya naik tensi namun harus ia tahan mengingat pelanggan adalah raja yang harus dilayani dan di hormati.
"Memangnya kenapa, kak?" tanya Syera.
Hari ini karena bagian tukang cuci piring dibelakang berhalangan masuk Syera mengambil alih bagian itu berdasarkan permainan yang dibuat para karyawan.
Semakin hari restoran itu semakin ramai dan orang yang bekerja pun sudah bertambah. Bahkan ibu Linda berniat akan memperbesar restoran miliknya. Ibu Linda hanya membutuhkan sedikit lagi waktu hingga biaya yang dibutuhkan tercukupi.
"Biasa, ada pelanggan gila."
Hahaha...
Para karyawan yang berada di dapur tertawa tapi tetap fokus dengan apa yang mereka kerjakan karena pesanan yang terus berdatangan dari pelanggan.
"Kalau gila anterin dong ke rumah sakit jiwa," celetuk karyawan yang sedang menyeok-nyeok masakan di wajan.
Hahaha....
Suara tawa memenuhi dapur yang cukup panas itu apalagi suara yang berasal dari alat-alat masak semakin menambah ragam bunyi-bunyian.
"Siapa coba yang nggak kesal. Disini nggak ada menu air jahe pakai madu tapi ngotot pesan itu. Lihat noh si Mery berbaik hati buatnya sampai puyeng tapi tetap disuruh ganti karena nggak sama seperti yang pernah dia minum katanya."
"Air jahe?" tanya Syera memperjelas.
"Ho'oh! Lagian susah amat sih, tinggal pergi dan beli atau suruh orang yang sudah pernah buatin buat dia ajakan bisa. Nyusahin banget dah!"
"Sabar, kak."
"Aku sabar kok kalau di depan itu tamu tapi beda kalau dah di dapur. Hahaha...."
Seorang karyawan masuk ke dapur meminta kembali pesanan pelanggan yang tadi dikatakan gila.
"Kasih jahe, air dan madu. Suruh dah dia racik sendiri dirumahnya," geram Mery memperlihatkan apa yang tadi disebutkannya.
Hahaha...
Tawa para pekerja di dapur kembali pecah hingga ibu Linda yang ada di meja kasir kaget dan hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar riuh yang berasal dari dapur.
__ADS_1
"Nanti kalau air jahenya sudah siap, biar aku aja kak yang antar ke depan," ucap Syera sedangkan pramusaji yang sedari tadi begitu kesal tersenyum membuat bentuk hati pada Syera.