Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Apa Dia Baik-Baik Saja?


__ADS_3

Hampir subuh pintu lift baru bisa terbuka. Butuh waktu yang cukup lama bagi petugas untuk memperbaiki kemacetan yang dialami lift tersebut hingga banyak orang terpaksa menggunakan tangga darurat untuk naik-turun.


Selain dua petugas apartemen, ada Bima dan Fandy yang sudah berjam-jam berdiri di luar pintu lift menunggu Syera dan Leo.


Ting!


Pintu lift terbuka. Mata Fandy membulat menyaksikan apa yang ia lihat. Pandangannya langsung tertuju pada tangan Syera yang digenggam Leo dan berada di atas paha kakak angkatnya yang sama seperti Syera masih terpejam.


"Syera," panggil Fandy membangunkan Syera.


"Tuan. Tuan, Leo. Tuan," panggil Bima juga membangunkan Leo.


Sayup-sayup baik Leo dan Syera mendengar nama mereka dipanggil. Perlahan keduanya mulai membuka mata dan menyadari jika pintu lift sudah terbuka.


"Syera!"


Mendengar namanya disebut ia pun mengangkat kepalanya yang entah sejak kapan bersandar di bahu Leo. Sekilas ia melihat wajah Leo meski sudah tidak seburuk semalam tapi masih tampak pucat.


"Syera!"


"Kak, Fandy?"


Syera tertegun saat melihat Fandy menatapnya lekat. Ia langsung meraih tas sandangnya akan keluar menghampiri Fandy. Saat akan berdiri ia tidak menyadari jika tangannya berada di genggaman Leo. Ia tertahan karena genggaman itu begitu erat.


"Lepas."


Syera melepas tangannya dari genggaman Leo begitu saja tanpa sadar jika sedari tadi pria itu sudah menatapnya. Syera berlari dan mengejar Fandy yang sudah terlebih dahulu pergi.


"Kak, Fandy?"


Suara panggilan Syera pada Fandy begitu jelas ditelinga Leo. Bima menghampiri Leo dan membantunya berdiri. Sebelum keluar mata Leo tertuju pada sweater yang terletak dilantai. Dengan sedikit membungkuk ia memungutnya dan membawa sweater itu bersamanya.


..........


Sejak masuk ke dalam apartemen hingga saat ini bersiap ke kantor, Fandy hanya diam saja tidak menghiraukan Syera yang sedari tadi mengajaknya berbicara. Fandy mengabaikan setiap perkataan dan pertanyaan yang diajukan Syera.


"Kak, kak Fandy kenapa diamin aku? Aku tahu kak Fandy pasti marah karena aku sudah buat kakak khawatir. Syera minta maaf, kak. Syera juga nggak mau buat kakak khawatir, liftnya aja yang tiba-tiba rusak. Maafin Syera ya, kak?"


Seperti anak ayam yang mengekori induknya, seperti itulah Syera saat ini berjalan mengikuti setiap langkah dan pergerakan Fandy.


Pertama kali selama mengenal Fandy dalam hidupnya Syera merasa diabaikan. Meski bukan keinginannya dan harus mengalami kejadian semalam namun Syera yakin jika semalaman ini Fandy pasti tidak tenang karena mengkhawatirkan dirinya.


Semalam melihat Syera tak kunjung pulang, Leo berniat menjemputnya ke restoran. Ia tidak dapat menghubungi Syera karena ponsel Syera tertinggal di sana.


Saat akan menggunakan lift tiba-tiba pemberitahuan mengenai lift yang rusak disampaikan dan mengatakan jika ada dua orang yang terjebak di dalamnya.


Spontan Fandy menuju bagian CCTV dan meminta orang yang bertugas di sana memperlihatkan siapa orang yang dimaksud.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya Fandy saat melihat Syera adalah salah satu orang yang dimaksud. Tak hanya itu, Fandy semakin khawatir karena salah seorang yang lain itu adalah Leo, orang yang selama ini sangat membenci Syera.


Fandy tidak dapat membayangkan apa yang terjadi pada gadis itu berada dalam lift untuk waktu yang cukup lama bersama Leo. Ia begitu khawatir dan apa yang dilihatnya saat pintu lift terbuka membuatnya tak suka.


"Kak, maafin Syera."


Tak lagi mengekori Fandy, kini Syera beralih duduk di sofa sambil mengusap air matanya. Syera merasa begitu sedih karena Fandy mengabaikannya, orang yang selama ini begitu perhatian dan baik padanya.


Fandy sudah rapi dan sedang memakai sepatunya. Ia membuka pintu untuk segera pergi.


"Hm.... Ck," Fandy menghela nafasnya dan berdecak mengacak rambutnya sambil berjalan.


Tangis Syera pecah tanpa suara ditengah ruangan yang hanya ada dia seorang saat ini. Kali ini Syera merasa dirinya benar-benar hanya seorang diri. Berulang kali ia menghapus air matanya yang terus menganak.


Klek!


Suara pintu terbuka dan membuat mata Syera tertuju seketika pada pintu.


Syera masih tetap menangis tidak dapat menahan isakannya saat mendapati Fandy kembali dan berjalan kearahnya.


"Maaf."


Kali ini suara tangisan Syera kembali pecah melihat Fandy berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang terentang lebar meminta Syera datang ke pelukannya sambil berkata 'maaf'.


Tanpa menunggu lama Syera sudah menghambur kedalam pelukan Fandy dan menangis di sana.


"Maaf. Aku minta maaf, tidak seharusnya aku seperti tadi."


Cukup lama Fandy memeluk Syera hingga isakan gadis itu berhenti.


"Aku hanya khawatir semalaman kamu bersama Leo di dalam lift tapi sepertinya kamu baik-baik saja di dalam bersamanya," ucap Fandy namun ia tidak mengatakan jika ia juga kesal melihat Syera justru bisa tidur bersandar di bahu Leo dan tangannya di genggam pria itu.


"Syera minta maaf sudah buat kak Fandy khawatir," ucap Syera menarik tubuhnya dari pelukan Fandy.


"Lebih baik sekarang kamu mandi dan sarapan. Kamu istirahat saja hari ini dan libur bekerja."


"Aku akan tetap kerja, kak. Aku masuknya agak siangan sekalian ngambil ponsel yang tertinggal di restoran."


"Ya sudah kalau itu mau kamu."


Fandy mengusap kepala Syera dan kembali membawa gadis itu ke pelukannya. Setelahnya fandy benar-benar pergi ke kantor.


..........


"Sebaiknya anda istirahat saja untuk hati ini, tuan. Biar saya dan pak Fandy yang menghandle pekerjaan di kantor."


Leo sudah mengganti pakaiannya, sarapan dan minum obat. Saat ini ia sedang berbaring di atas tempat tidur untuk beristirahat.

__ADS_1


Ting-Nong


Mendengar suar bel Bima langsung membuka pintu. Sejenak ia tidak percaya akan orang yang sedang berdiri di hadapannya.


"Apa dia baik-baik saja?"


"Anda boleh masuk," ucap Leo mempersilahkan.


"Tidak usah, aku hanya mau memberi ini," menyerahkan secangkir minuman jahe dan madu hangat.


"Silahkan anda masuk," paksa Bima menarik tangan Syera kedalam.


"Saya letak di sini saja. Minuman ini akan membuat badannya lebih enakan," meletakkan cangkir di tangannya di atas meja. "Tapi kalau saya boleh tahu kenapa dia bisa seperti semalam?" karena penasaran Syera bertanya pada Bima.


"Karena anda dia baik-baik saja. Saya sangat berterima kasih sudah menjaganya semalaman di dalam lift."


"Tidak. Saya tidak berbuat apa-apa, saya hanya melakukan apa yang anda minta," ucap Syera. "Tapi pak Bima yakin dia baik-baik saja sekarang?"


Bima mengangguk dan sambil mengecek ponselnya yang sedari tadi tak berhenti menerima pesan.


"Sepertinya semalam tuan Fandy tidak menyadari ada udang dalam makanan yang dia konsumsi. Beliau sangat alergi pada seafood. Tuan Fandy juga minum minuman kaleng saat perutnya kosong yang membuat perutnya sakit bahkan terasa perih karena beliau juga memiliki asam lambung."


Syera merasa kasihan mendengar penjelasan Bima. Pantas saja semalam Leo begitu kesakitan dan susah bernafas sambil terus mengeluarkan keringat dengan wajah pucat.


"Maaf tapi saya harus pergi sekarang juga. Ada yang harus saya kerjakan dan tidak bisa ditunda. Tolong berikan minuman yang anda bawa tadi pada tuan, Leo."


"Ta-tapi-"


Dalam sekejap Bima sudah pergi dan menghilang dari pandangannya. Sudah hampir pukul sebelas siang dan dia juga harus bersiap untuk pergi bekerja.


Tak ingin berlama-lama di sana, Syera pun membawa cangkir tadi dan menuju ke salah satu kamar yang ia yakin adalah kamar Leo karena saat berbicara tadi pandangan Bima selalu mengarah pada kamar yang dituju Syera saat ini. Kamar berbeda dari kamar yang pernah ia masuki saat mengantar Leo yang mabuk.


Begitu pelan Syera membuka sedikit pintu. Dari celah yang terbuka ia melihat Leo sedang berbaring di atas tempat tidur.


Baiklah. Setidaknya aku bisa meletakkannya di samping tempat tidur dan saat dia bangun dia akan lihat dan meminumnya meskipun sudah menjadi dingin nantinya.


Syera berharap Leo tidak melihat bahkan mengetahui jika dirinya masuk ke dalam kamar pribadi Leo. Syera dapat membayangkan bagaimana kemarahan pria itu saat mengetahuinya.


Wajah Syera tersenyum meski bercampur gugup setelah berhasil meletakkan cangkir di tangannya. Ia sama sekali tidak melihat bahkan melirik pada Leo.


Aman


Syera berbalik akan meninggalkan kamar.


Sampai di dekat pintu dan baru sebelah kakinya berada di luar Syera melonjak kaget mendengar suara yang membuat lututnya lemas seketika.


"Aku haus."

__ADS_1


Syera memutar tubuhnya begitu berat berbalik pada si empunya suara.


"Aku haus. Aku mau minum."


__ADS_2