
Sepulang dari kantor Leo langsung ke rumah. Ia membersihkan tubuhnya yang lelah bekerja seharian dan memakai pakaian santai.
Mama Mila tersenyum melihat Leo bersantai di sofa sambil menonton televisi. Sesekali Leo tertawa menyaksikan program komedi yang ia tonton.
Wajah mama Mila menjadi mendung dan saat bersamaan air matanya mengalir. Sudah begitu lama ia tidak melihat wajah santai Leo. Mama Mila sangat merindukan momen dimana dia dapat berkumpul bersama anak-anaknya meski tanpa kehadiran suaminya lagi.
Segera mama Mila meninggalkan Leo dan melanjutkan pekerjaannya sebelum Fandy datang.
"Jus sirsaknya sudah dibuat kan, bi?"
"Sudah, bu. Ada di dalam kulkas."
"Makasih, bi."
Makan malam sudah tersaji di atas meja, mama Mila pun sudah rapi. Ini adalah makan malam pertama baginya bersama dengan kedua putranya untuk pertama kali setelah bertahun lamanya.
Sembari menunggu Fandy, mama Mila mengobrol dengan Leo di sofa. Mulai mengenai perkembangan perusahaan, keseharian Leo saat tidak bekerja dan obrolan mengenai masa kecil Leo. Baik mama Mila maupun Leo terlihat begitu santai.
"Kalian berdua sudah dewasa. Maksud mama kamu dan Fandy. Setelah dewasa kalian malah ninggalin mama sendiri di rumah ini."
"Ma, Leo kan sering main ke rumah. Aku yakin dia juga sering pulang, iyakan?"
"Tapi rasanya beda kalau kalian juga tinggal disini."
Tidak ada jawaban dari Leo namun ia tahu jika mamanya pasti kesepian selama ini.
"Yang mama undang cuman Fandy, kan?" tanya Leo mengalihkan pembicaraan.
"Mama cuman undang Fandy tapi nggak tahu juga kalau dia akan bawa Syera atau tidak."
"Mama sudah tahu kalau anak itu tinggal dengan Fandy?" tanya Leo memastikan.
"Hm... Sudah. Mama sudah tahu dan itu yang buat mama jadi kepikiran."
"Ck, kenapa harus dipikirin. Mereka sudah besar dan dewasa. Aku yakin Fandy bisa jaga anak itu dengan baik," ucap Leo tak suka melihat mamanya dibuat khawatir.
"Justru karena itu. Gimana mama nggak kepikiran dan khawatir."
"Kenapa sih, ma?" Leo semakin tak suka.
"Fandy menyukai gadis itu."
Sesaat Leo terperangah dan mengernyitkan kening mendengar ucapan mamanya namun ia menanggapinya biasa.
"Bagus dong, ma. Justru kalau Fandy benci sama anak itu mama khawatir. Sebagai kakak yang baik aku yakin Fandy akan jagain anak itu dengan baik juga," meraih gelas berisi jus jeruk dan meminumnya.
"Hah... Maksud mama itu Fandy menyukai Syera. Bukan rasa suka pada seorang adik aja tapi rasa suka terhadap seorang gadis."
Ukhuk... Ukhuk...
Leo terbatuk mendengar penjelasan mamanya bahkan isi yang ada di mulut ia semburkan sedikit keluar.
"Maksud mama?"
__ADS_1
"Fandy cinta pada Syera."
Tepat saat mengatakannya pada Leo, orang yang sedang dibicarakan pun datang. Mama Mila menyambutnya dengan senyuman sedangkan Leo masih tak percaya akan apa yang di dengar telinganya.
Dada Leo serasa sesak hingga ia harus menepuk-nepuknya. Maniknya menatap Fandy tak suka. Leo merasa ada sesuatu yang memenuhi dadanya yang ingin ia semburkan namun tidak tahu kenapa itu ia rasa dan bagaimana cara mengeluarkannya dari dalam sana.
Sebisa mungkin Leo bersikap biasa saja dengan berdiri dan mengikuti langkah mama Mila.
"Ma?" sapa Fandy tersenyum tak lupa ia juga membawa bouquet mawar ditangannya untuk ia berikan pada mama Mila.
"Anak bontot mama. Kamu sudah datang sayang?" memeluk Fandy dan menerima bunga yang diberikan padanya.
"Kak?" sapa Fandy melihat Leo berdiri di belakang mama Mila.
Meski hubungan mereka kurang baik namun jika bersama mama Mila, Fandy akan selalu menahan semua perasaan kesal, marah dan tak sukanya pada Leo karena tidak ingin membuat wanita itu sedih dan kecewa.
"Em."
Sapaan Fandy dijawab singkat oleh Leo. Berbeda dengan adik angkatnya itu, Leo justru kerap kali secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya akan Fandy di hadapan mama Mila.
"Kedua anak mama sudah ada disini. Kita langsung ke meja makan aja ya," ajak mama Mila tak melepas senyum di wajahnya.
"Ma," ucap Fandy menahan tangan mamanya. "Fandy nggak datang sendirian. Fandy bawa seseorang, Fandy boleh ajak dia buat gabung dengan kita kan?" pinta Fandy dengan wajah mengiba. "Please, ma?" mohonnya.
Mama Mila sudah menduga hal ini akan terjadi. Ia yakin jika Fandy pasti dan tentunya akan ikut mengajak Syera malam ini. Dilihatnya ke arah Leo yang memasang wajah cuek dan wajah Fandy yang memohon.
Sangat salah jika seandainya ia tidak mengijinkan Syera ikut bergabung dengan mereka. Ia mungkin akan menjadi wanita dan ibu yang kejam Jika hanya mengikuti perasaan dan kata hatinya saja.
Oleh sebab itu mama Mila menganggukkan kepalanya, mengizinkan Syera ikut bergabung bersama mereka.
Begitu bersemangat Fandy berlari dan menghampiri Syera yang sedari tadi berada dalam mobil.
"Ayo!"
Langsung saja Fandy membuka pintu mobil dan menarik tangan Syera membawanya masuk ke dalam.
"Selamat malam, tante apa kabarnya?" sapa Syera.
Mama Mila hanya mengulas senyum dan mengajak mereka semua ke meja makan sedangkan Leo tak melepas pandangannya melihat Fandy terus memegang pergelangan tangan Syera.
Makan malam agak sedikit canggung karena kehadiran Syera. Meski sedari tadi mama Mila berusaha mencairkan suasana dengan mengajak mereka makan sambil mengobrol namun suasan tidak begitu mencair.
Hidangan yang disajikan begitu beragam, pun rasanya enak semua. Sambil mengunyah makanan di mulutnya mata Syera menjurus pada udang goreng yang ada di depan Leo.
Melihat ukuran jumbo udang goreng yang tak di sentuh Leo membuat Syera ingin sekali meluncurkan salah satu makan laut itu ke lambungnya.
"Fandy mau udangnya, ma."
"Tentu sayang."
Mama Mila mendekatkan piring berisi udang goreng ke dekat piring Fandy. Toh Leo tidak akan menyentuhnya karena alergi udang.
Posisi duduk Leo yang berhadapan dengan Fandy membuatnya dapat melihat jelas raut wajah penuh kebahagian pada adik angkatnya itu. Sedangkan sedari tadi Leo tahu jika Syera sangat menginginkan udang yang tadi ada di depannya.
__ADS_1
Bukan hanya satu namun dua udang goreng jumbo diambil Fandy dan diletakkannya di atas piringnya.
Pelan-pelan Fandy membuang kulitnya dan setelah selesai ia menaruhnya di atas piring Syera. Kembali Syera menelan liurnya dan tersenyum melirik pada Fandy sedang mengupas kulit udang yang satunya lagi.
Apa yang dilakukan oleh Fandy tak lepas dari pengamatan Leo dan mama Mila. Spontan Leo meletakkan sendoknya cukup kuat menyaksikan pemandangan di depan matanya.
Bunyi yang dibuat Leo membuat Syera dan mama Mila terkesiap sedangkan Fandy biasa saja dan menaruh kembali satu udang di piring Syera dan melanjutkan makannya.
"Enak, ma." Puji Fandy pada masakan mamanya.
"Iya, sayang. Kamu makan yang banyak, ya."
Mama Mila hanya dapat mengulas senyum menanggapi Fandy. Lalu ia menoleh kesamping dan mendapati tatapan tajam Leo pada Syera.
Leo merasa sudah kenyang padahal ia baru makan sedikit. Ia mengambil satu buah apel merah dan menggigitnya besar. Suara gigitan apel yang dibuat Leo membuat Syera mengangkat kepalanya dan melihat ke depan.
Tatapan Syera dan Leo beradu. Syera membuang pandangannya dari tatapan Leo yang begitu mengintimidasi namun entah apa yang terjadi Syera justru kembali mengangkat kepalanya dan melirik Leo.
Krouk...
Bunyi saat Leo menggigit apel membuat syera bergidik ditambah lagi Leo masih terus menatap padanya begitu tajam.
..........
Makan malam telah selesai, Syera membantu bibi Retno membersihkan meja sedangkan mama Mila dan kedua putranya sudah berpindah keruang keluarga mengobrol dan membahas perkembangan perusahaan.
Di dapur Syera membantu bibi Retno sambil bercerita banyak hal, termasuk bibi Retno yang tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan Syera seperti malam ini.
Buah yang tidak habis kembali dicuci Syera dan dimasukkan ke dalam kulkas agar tetap segar.
"Bi, ini jus sirsak punya siapa?" tanya Syera tersenyum melihat ada dua cup jus sirsak dalam kulkas.
"Punya tuan, Leo."
"O..."
"Mau jus jeruk nggak, biar bibi buatin?"
"Nggak usah, bi." Tolak Syera. "Biar Syera aja," mengambil alih pekerjaan mencuci piring bibi Retno.
"Udah cantik, baik dan rajin lagi, nak Syera memang yang terbaik," puji bibi Retno menggoda. "Kebetulan bibi mau ke depan mau nganterin kopi buat pak Asep. Nggak kenapa-napa kan kalau bibi tinggal sendiri?"
"Nggak kok, bi."
Satu persatu piring dan alat makan lainnya dicuci Syera. Akan lebih baik saat dia berada di dapur dan mengerjakan sesuatu dari pada harus berada diantara mama Mila dan kedua putranya.
Jarang-jarang anggota keluarga itu berkumpul seperti malam ini, jadi Syera tidak ingin mengganggu.
Dalam hati Syera tertawa melihat penampilannya dari pantulan dinding keramik di depannya. Penampilannya begitu kontras dengan apa yang sedang ia kerjakan. Ya, mencuci piring menggunakan dress selutut dan high heels pemberian Fandy yang baru dua kali ia pakai.
Hm....Huff...
Syera menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Dan saat itu juga sesuatu yang dingin menempel di pipi sebelah kirinya.
__ADS_1
"Hakh!" Syera melonjak kaget saat menoleh kesamping.