
"Berhentilah menangis, nanti kamu bisa sakit," pinta Fandy.
Tatapan matanya kosong namun bening-bening air mata seakan tak lelah terus mengalir. Syera termenung tanpa bicara apapun.
Leo hanya bisa menyaksikan Fandy di depannya menenangkan dan menghibur Syera. Setibanya ia dari pemakaman ia menjumpai Syera dan Fandy berada dalam apartemen. Ia tahu jika Fandy juga pasti sangat mencemaskan keadaan Syera.
"Meski sakit tapi kamu harus kuat, mama kamu pasti tidak mau lihat kamu terpuruk karena kepergiannya. Jadilah gadis yang kuat seperti sebelumnya," ingatkan Fandy.
Tangan Fandy tak berhenti menghapus air mata di kedua pipi Syera. Fandy membawa kepala Syera bersandar pada dadanya.
"Kak Fandy pergi dulu, ada klien yang harus kutemui malam ini. Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung hubungi kak Fandy, oke?" pesan Fandy pada Syera.
"Tidak perlu, tetaplah di sini untuk menemaninya dan biar aku saja yang pergi menemui klien," ucap Leo tiba-tiba.
Leo meninggalkan keduanya, membiarkan Fandy bersama Syera. Meski hati dan ucapan Leo tidak selaras namun ia berpikir jika Fandy-lah yang lebih baik menemani Syera saat ini di banding dirinya.
Cukup lama Fandy menemaninya di sana hingga akhirnya Syera pun meminta Fandy untuk pulang dengan alasan Syera ingin beristirahat.
"Istirahatlah," ucap Leo.
Tak ingin mengganggu Syera, Leo kembali ke apartemennya. Ia berharap Syera akan baik-baik saja.
Dengan langkah yang begitu berat Syera masuk ke kamarnya. Ia membiarkan pintu kamarnya terbuka dan duduk di lantai menyandarkan punggungnya ke tempat tidur. Ia meraih tasnya dan mengeluarkan agenda yang di beri mamanya.
Setiap isi lembaran itu membuat Syera tersenyum dan menangis. Dua foto terselip di dalamnya. Foto Wulandari dan Syera saat masih baru lahir dan foto seorang pria yang begitu tampan. Saat melihat bagian belakang foto ada tulisan 'Bastian Palmer'.
Apa ini papa Syera, ma? Apa mama sudah bertemu dengan papa di sana?
Syera kembali membaca isi setiap lembar agenda dan dari situ Syera tahu alasan mamanya menitipkan Syera pada orang lain. Syera tidak menyangka jika perjalanan hidup mamanya juga begitu berat. Ada banyak hal yang Wulandari tuliskan di dalam agenda tersebut. Agenda tersebut menceritakan hal-hal penting mengenai Syera, Wulandari dan siapa Bastian Palmer yang merupakan ayah biologis Syera.
Di akhir lembaran Syera menemukan buku tabungan atas namanya sendiri dan sebuah black card. Di lembar itu juga tertulis enam angka yang Syera tebak sebagi pin dari kartu itu.
Kenapa bisa sebanyak ini?
Syera menutup kembali buku tabungan ditangannya setelah melihat jumlah nominal yang tertera.
__ADS_1
..........
Setelah menemui klien Leo terlebih dahulu membeli makanan sebelum pulang karena yakin jika Syera pasti belum makan. Tidak tahu apa yang menjadi kesukaan gadis itu akhirnya Leo memutuskan untuk membelinya dari restoran miliknya yang di kelola ibu Linda.
Atas permintaan Leo, ibu Linda menanyakan makanan kesukaan Syera pada para karyawan lain yang sebelumnya merupakan rekan kerja Syera dan menyuruh juru masak di dapur untuk membuatkannya.
Sama seperti pelanggan lainnya, Leo juga ikut membayar untuk apa yang ia pesan bahkan memberikan dua kali lipat karena itu adalah makanan kesukaan Syera.
Tiba di apartemen, Leo langsung mencari keberadaan Syera dan menemukannya tertidur di atas lantai kamarnya sambil memeluk agenda yang tadi dibacanya.
"Syera," panggil Leo pelan membangunkan. "Ayo bangun, Syera..."
"Kak?"
Leo membantu Syera bangun dan mengangkatnya ke atas tempat tidur.
"Kenapa tidur di lantai, nanti kamu bisa masuk angin dan sakit. Apa kamu sudah makan?"
Syera menggeleng, dalam situasi seperti ini jangankan untuk makan dan minum, untuk menarik nafas saja sangat sulit Syera lakukan.
Syera kembali menggeleng saat Leo menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Syera.
"Aku nggak minta kamu untuk makan banyak tapi setidaknya makanlah beberapa suap," pinta Leo lembut. "Dia juga tidak ingin putrinya sakit karena dirinya, ia pasti akan merasa bersalah kalau lihat kamu seperti ini apalagi kalau sampai kamu sakit. Jadi ayo makanlah," bujuk Leo.
Mendengar perkataan Leo dan tidak ingin membuat mamanya sedih akhirnya Syera memaksakan diri untuk makan meski begitu sulit saat mengunyah dan menelan.
"Anak pintar," puji Leo mengelus kepala Syera.
Hanya empat suapan saja yang mampu Syera terima namun itu sudah cukup bagi Leo dari pada tidak makan sama sekali. Leo memaksa Syera untuk menghabiskan isi gelasnya agar tidak dehidrasi.
"Istirahatlah, kamu pasti capek," membantu Syera merebahkan tubuhnya. "Tidurlah dan jangan pikirkan yang lain. Kamu bisa memanggilku kalau perlu sesuatu, paham?"
Syera yang sudah rebahan kembali duduk, ia menahan tangan Leo dengan wajah sedih.
"Aku nggak akan pergi kemana-mana, aku ada di kamar sebelah, tidurlah," ucap Leo namun Syera menggeleng.
__ADS_1
Sejujurnya Leo juga sangat lelah dan mengantuk tapi Syera sepertinya tidak mau ditinggalkan. Syera tidak ingin sendiri dan mau ditemani karena takut tiba-tiba orang yang ia sayangi meninggalkannya lagi.
"Tidurlah," merebahkan kembali tubuh Syera. Leo berbaring di samping Syera dan memunggunginya. Ia tidak ingin Syera terganggu karena jujur Leo sangat mengantuk.
Entah siapa yang pertama kali tidur namun kini keduanya sudah terlelap dengan posisi saling memunggungi.
Terbiasa dengan kamar yang pendingin udaranya selalu menyala membuat Leo kurang nyaman dan merasa gerah. Leo melepas pakaian atasnya dan melemparnya begitu saja kelantai, ia tidak sadar jika ada di kamar Syera.
Pukul tujuh pagi ponsel yang masih berada di saku celana Leo berdering dan membangunkan Syera berbeda dengan Leo yang hanya menggeliat saja.
Hakh!
Mulut Syera menganga saat membuka matanya melihat Leo tidur di sebelahnya tanpa pakaian atas. Syera semakin gugup saat melihat tangannya melingkar di perut Leo.
Bunyi ponsel yang kembali berdering membuat Leo akhirnya menjawab panggilan itu meski ia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
Buru-buru Syera menutup matanya dan berpura-pura masih tidur. Syera berusaha menenangkan gemuruh jantungnya dan tidak menggerakkan tangannya yang berada di atas perut Leo.
"Halo?"
Suara Leo terdengar berat saat menjawab panggilan telepon. Ia menggaruk pinggangnya dan merasakan ada sesuatu yang menempel di sana. Leo terbelalak saat mengangkatnya ke atas. Ia menoleh ke sampingnya dan melihat Syera tidur di sebelahnya.
Kenapa dia ada disini?
Leo tidak mendengarkan apa yang dikatakan Bima dari seberang telepon, ia mengamati isi kamar dan sadar bukan Syera yang mengapa tidur di sana melainkan dirinya.
"Lanjutkan nanti saja di kantor. Aku mungkin akan telat hari ini," ucap Leo menyudahi sambungan telepon.
Leo menyibak selimut yang menutupi setengah tubuhnya dan Syera dengan pelan, menyingkirkan tangan Syera berhati-hati agar tak membuat gadis itu terbangun dan melihat keberadaanya di atas tempat tidur Syera.
"Aw!"
Meski sakit namun Leo mencoba untuk tidak bersuara kuat. Leo terpeleset hingga bokongnya kesakitan saat baru akan melangkah. Ia mengusap-usap bokongnya sambil melihat Syera yang masih tidur.
Ingin rasanya Syera bangkit untuk melihat apa yang terjadi namun ia tidak berani. Ia tetap berakting seperti orang yang sedang tidur.
__ADS_1