Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Air Mata Leo


__ADS_3

Duduk di lantai, bersandar pada dinding menghadap Leo yang menyembunyikan wajahnya dengan bantal, Syera lakukan itu untuk meyakinkan bahwa ada dia untuk Leo.


Sikap Leo yang seperti ini lebih tak di sukai Syera jika dibanding Leo yang dulu, Leo dengan kebencian yang begitu besar pada Syera, yang tak ingin melihat Syera ada di sekitarnya.


"Apa kak Leo akan diam seperti ini terus, hem? Ada aku di sini, kak. Apa salahnya berbagi cerita denganku, Syera yakin kak Leo lagi sembunyiin sesuatu. Kak Leo nggak lagi baik-baik aja, iyakan?" ucap Syera lembut.


Sebenarnya ada apa, kak?


Lama Syera duduk di lantai namun Leo sama sekali tak bergerak dari posisinya. Syera mendekat dan memberanikan diri menyentuh tangan Leo, melepas tautan kedua tangannya dari bantal. Tidak ada perlawanan lagi dari Leo hingga saat Syera meraih bantal yang menutupi wajah Leo.


Apa ini?


"Kak Leo nangis?"


Dari mata Leo yang terpejam Syera sangat jelas melihat air mata mengalir. Syera mengulurkan tangannya dan dengan lembut menghapus air mata itu.


"Apa sesulit itu untuk mengatakannya sampai kak Leo menangis?" tanya Syera lirih.


Melihat Leo menangis sampai mengeluarkan air mata membuat hati Syera sedih dan sakit. Orang yang selama ini begitu kuat dan mendominasi sedang menangis dengan alasan yang Syera tidak tahu itu apa.


"Apa yang Syera bisa lakukan untuk bantu kak Leo?" tanya Syera seandainya ada yang bisa Syera lakukan untuk sedikit membantu Leo.


"Keluar!" ucap Leo.


"Kak?" lirih Syera menahan diri untuk tetap tenang.


"Keluarlah. Aku minta keluar dari kamarku!" ucap Leo lagi penuh penekanan dengan mata yang masih tertutup.


Syera terdiam, tidak tahu lagi akan berkata apa. Ia menarik tubuhnya menjauh dan keluar dari kamar Leo.


Sedih, itulah yang dirasakan Syera. Bukannya berhasil menenangkan Leo dia malah diusir. Syera termenung di balik tembok kamar Leo. Ia mengingat alasannya memutuskan tinggal bersama Leo supaya hubungan mereka bisa lebih baik seperti saudara lainnya diluar sana.


Awalnya memang tidak mudah tapi lama kelamaan semakin berjalan lancar, bahkan Syera semakin merasa nyaman dan terbiasa. Saat Syera merasa semuanya baik-baik saja justru saat itulah Syera dihadapkan dengan perubahan sikap Leo.


Syera berpikir teh hangat akan sedikit membantu menenangkan pikiran. Oleh sebab itu Syera memutuskan membuatnya untuk Leo. Syera menyalakan kompor untuk mendidihkan air, karena sambil termenung Syera tidak sengaja menyenggol gelas yang akan dia gunakan sebagai tempat teh.


Gelas itu jatuh dan pecah. Sontak Syera terkejut. Ia mematikan kompor terlebih dahulu dan mengumpulkan pecahan gelas itu. Tanpa sengaja salah satu jarinya terkena pecahan gelas dan berdarah.

__ADS_1


"Aw!" pekik Syera.


Darah keluar begitu saja karena sayatan dari pecahan gelas itu cukup dalam. Bukanya mengobati lukanya Syera justru kembali memunguti satu persatu pecahan gelas. Air mata Syera kembali meluncur bersamaan dengan darah yang keluar dari jarinya. Darah itu menetes di lantai keramik putih yang begitu kontras warnanya.


"Kamu sudah gila, ha?" bentak Leo.


"Kak Leo?"


Syera kembali terkejut karena Leo sudah berdiri dibelakangnya. Leo langsung menarik tangan Syera saat berbalik. Jari yang penuh darah itu ia arahkan pada keran air yang mengalir.


"His... Aku bisa sendiri, kak." Syera meringis menahan pedih sekaligus sakit. Ia menarik tangannya namun Leo menahannya.


Darah dari jari Syera belum berhenti keluar. Sesaat Leo melihat wajah Syera dan tanpa pikir Leo menghisap jari itu.


Hal itu kembali membuat kaget Syera.


"K-kak," ucap Syera terbata.


"Diam!" perintah Leo diikuti tatapan elangnya.


Antara sakit, pedih dan hangat saat Leo menghisap darah dari jarinya. Leo menelan ludahnya yang pastinya sudah bercampur darah Syera, itu terlihat dari jakun Leo yang naik turun seperti seseorang yang sedang meneguk minuman.


Setalah merobek kertas plester Leo langsung mengeluarkan jari Syera dari mulutnya dan merekatkan plester tersebut. Leo menekan-nekan pelan plester itu supaya menempel dengan baik.


"Sebelumnya karena duri kaktus, hari ini pecahan gelas, besok-besok entah apalagi yang akan membuat jarimu mengeluarkan darah," ucap Leo.


"Aku akan gunakan pisau lain kali."


Wajah Syera cemberut dan air matanya mengalir kembali.


"Iya. Aku akan mengiris jariku kalau dengan cara aku terluka kak Leo mau bicara," ucap Syera dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. "Bila perlu Syera akan potong sekalian," lanjutnya.


"Sudahlah, jangan berlebihan. Hapus air matamu. Aku tidak suka melihat orang menangis di depanku," melepas jari Syera yang sudah selesai diplester. "Kau tidak akan melakukan hal sebesar itu untukku."


Syera berdiri dengan mata melotot. Pandanganya dengan Leo saling beradu. Syera mengangkat tangannya dimana salah satu jarinya baru saja dibalut plester. Dengan paksa Syera membuka dan melepaskan plester itu dari jarinya. Setelah itu Syera melemparnya pada Leo dan mengenai bahunya.


Tidak ada yang dikatakan Syera saat melakukan hal itu namun raut sedih bercampur kesal terlihat jelas diwajahnya.

__ADS_1


Leo merespon perbuatan Syera hanya dengan helaan nafas. Ia kembali mengambil plester yang baru dan merobek bungkusnya. Leo membalut kembali jari Syera yang terluka.


"Jangan dilepas lagi," ucap Leo tak bersemangat.


Syera berbalik, mengambil sapu dan keranjang sampah untuk membersihkan pecahan gelas. Leo gegas menahan tangan Syera untuk tidak melakukannya.


"Kamu mau ngapain?"


"Apa aku harus melaporkan yang kulakukan pada kak Leo?"


"Aku berharap kau melakukannya tapi itu tidak akan mungkin kau lakukan. Aku bukan siapa-siapa untukmu dan tidak ada artinya sama sekali dalam hidupmu."


Leo mengambil sapu dan keranjang sampah dari tangan Syera. Ia meletakkannya di dekat pecahan gelas. Satu persatu pecahan itu dipungut Leo dan dimasukkan kedalam tempat sampah.


"Masuklah dalam kamar dan istirahat," ucap Leo tidak mengizinkan saat Syera ikut membantunya.


Leo membersihkannya sendiri sedangkan Syera masih berdiri di dekatnya memperhatikan apa yang dilakukan Leo.


"Lain kali hati-hati, jangan sampai terulang lagi. Dan jangan bodoh dengan cara membiarkan lukamu begitu saja."


"Apa kak Leo khawatir?"


"Em."


"Makasih, kak. Syera sayang sama kak Leo," ucap Syera menunjukkan jarinya yang di plester.


"Tidak perlu berterimakasih."


Leo mengembalikan sapu dan tempat sampah ke tempat semula. Bibi Retno pasti akan tertawa jika seandainya melihat apa yang baru saja dilakukannya. Leo bukanlah orang yang manja sejak kecil tapi karena fasilitas dan pelayan yang ada di rumahnya membuat Leo tidak pernah menyentuh alat-alat bersih itu.


"Apa acara hari ini berjalan dengan baik?" tanya Syera mengikuti Leo saat mencuci tangannya.


"Em. Berkat Fandy semua berjalan dengan baik. Kau pasti sangat bangga padanya. Kau harus mengucapkan selamat untuknya."


"Kak Leo juga sudah bekerja keras selama ini. Kak Fandy juga pasti senang karena kak Leo mempercayakan proyek itu padanya. Kalian berdua melakukannya dengan baik, kak. Syera bangga dengan kalian."


"Kau yakin aku juga termasuk orang yang kau banggakan?" tanya Leo tertawa sinis. Ia kemudian meninggalkan Syera dan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Syera kembali dibuat bingung dengan sikap Leo yang berubah-ubah. Baru tadi Leo kelihatan khawatir karena luka dijari Syera tapi sekarang sudah kembali pada sikap dinginnya dengan pertanyaan yang membuat Syera diam ditempatnya.


__ADS_2