Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Kesalahan Termanis Dan Terindah


__ADS_3

Fandy mengepalkan kedua tangannya melihat rekaman CCTV toko pakaian tempat Syera bekerja. CCTV yang ada di bagian luar toko tersebut memperlihatkan jelas saat Leo berjalan dan mengejar Syera yang baru keluar dari toko. CCTV yang merekam situasi jalanan juga memperlihatkan semua yang dilakukan Leo dan Syera bahkan saat sebuah mobil menghampiri mereka dan masuk kedalamnya.


Fandy menghapal plat nomor mobil yang membawa Leo dan Syera. Ia mencaritahu siapa pemiliknya dan kemana perginya mobil tersebut.


Sembari menunggu informasi dari teman yang dimintai Fandy bantuan ia menghubungi mama Mila di Indonesia untuk meyakinkan jika pria yang dilihatnya bersama Syera adalah Leo.


Setahun lamanya Fandy tidak sekalipun memberitahu kepada siapapun mengenai keberadaannya bersama Syera, termasuk mama Mila. Fandy hanya mengatakan jika dia dan Syera baik-baik saja tanpa memberitahu mereka berada dimana, pun mama Mila tidak bertanya perihal yang sama.


Awalnya Fandy tidak berpikir jika Leo akan bisa menemukan mereka tapi nyatanya kini Leo ada bersama Syera.


Sejak ponsel Syera tidak bisa dihubungi dan tak kunjung kembali padahal sudah seharusnya Syera sampai di rumah tempat tinggal mereka setahun ini membuat Fandy khawatir. Ia mengunjungi toko tempat Syera bekerja namun karena sudah malam toko itu sudah tutup. Barulah keesokan paginya Fandy buru-buru kembali ke toko tersebut setelah semalaman ia suntuk memikirkan kemana Syera pergi dan tidak kembali.


Melalui sambungan telepon mama Mila membernarkan apa yang ditanyakan Fandy mengenai Leo yang tidak ada di Indonesia dan pergi menemui Syera atas bantuan Bima.


Disaat yang bersamaan informasi mengenai siapa pemilik mobil yang membawa Syera dan Leo di dapat oleh Fandy. Tanpa menunggu lagi Leo langsung menghubungi orang tersebut yang tak lain adalah Ben.


Tentunya Ben tidak sembarangan memberi informasi pribadi seseorang. Ia hanya mengatakan jika membawa sepasang kekasih itu ke tempat yang indah.


"Brengsek!" umpat Fandy kesal setelah sambungan telepon dengan Ben berakhir.


Marah!


Fandy kira setelah berada jauh dan tidak bertemu dengan Leo maka segala sesuatunya bersama Syera akan mudah tapi lagi-lagi Fandy salah dengan pemikirannya.


"Jika menemukan keberadaan kami kau bisa maka tidak sulit untuk menemukan kalian."


..........


Ben mematikan ponselnya dan mengirim pesan pada Leo mengunakan ponselnya yang lain.


"Mengganggu saja. Ini weekend, bro. Nikmati istirahatmu dan jangan mengganggu kesenangan orang lain."


Begitulah Ben yang terbangun karena bunyi ponselnya saat dihubungi Fandy. Ia menarik selimut, membungkus tubuhnya yang kedinginan dan kembali untuk tidur.


Leo dan Syera sudah berpakaian dan bergandeng tangan keluar dari kamar. Sejak semalam tiba di sana mereka belum makan sama sekali dan anehnya perut Leo baik-baik saja hanya sedikit perih.


"Aku lapar, kak."


"Pastinya. Kamu pasti sangat lapar sekarang. Maaf?"


Leo menarik kursi dan mempersilahkan Syera untuk mendudukinya. Ia kemudian melihat dua kantong plastik di atas meja yang semalam dibawa Ben. Saat dilihat ternyata isinya bahan makanan, roti, minuman dan kebutuhan dasar. Leo tersenyum membayangkan saat Ben membeli semua keperluan itu untuknya dan Syera.

__ADS_1


"Kak? Aku lapar."


"Ha? Oh, iya. Maaf, membuatmu menunggu."


Akan sangat melelahkan dan semakin lapar jika harus memasak saat ini dengan keadaan Syera yang tidak memungkinkan dan butuh istirahat. Leo mengeluarkan beberapa lembar roti dan mengolesinya dengan selai cokelat kesukaan Syera.


"Ini, makanlah," menyerahkan roti yang sudah berselai pada Syera. Leo membuka kotak susu dan menuang isinya untuk diberikan pada Syera.


"Dingin," ucap Syera saat meneguk susu di gelasnya.


"Apa mau aku panaskan?"


"Nggak usah, kak. Enak, kok."


Leo kembali mengolesi roti dengan selai untuk dirinya. Bukan hanya Syera saja yang lapar, dia juga lapar bahkan dua kali lipat dari rasa lapar Syera.


Syera memasukan semua sisa roti ditangannya kedalam mulut dan meminta roti yang ada ditangan Leo.


"Lagi, kak. Kurang," pinta Syera mengulurkan tangannya dan Leo memberikannya.


"Pelan-pelan, masih ada banyak."


Syera menghabiskan empat lembar roti dan satu kotak susu berukuran sedang dan segelas air putih untuk membuatnya cukup kenyang. Leo membersihkan mulut Syera dari bekas selai dan susu. Syera sangat sedang mendapat perlakuan manis dari Leo.


"Tidak perlu malu," ucap Leo menurunkan tangan Syera yang menutupi mulutnya.


Hoammm...


Syera menguap, kebiasaan buruknya setelah kenyang.


"Kamu ngantuk? Apa mau tidur lagi?" tanya Leo.


Kepala Syera dengan cepat menggeleng. Dia tidak ingin tidur, sudah cukup baginya berada di dalam kamar sejak semalam hingga siang hari.


"Kita keluar saja, kak."


"Sebentar."


Leo kembali ke kamar yang mereka gunakan dan membuka lemari yang ada di disana. Ben memberitahu dalam pesan singkatnya jika mereka bisa menggunakan apa yang ada di kamar tersebut termasuk pakaian jika memang butuh.


"Pakailah ini," memakaikan mantel yang lebih tebal dari milik Syera sebelumnya.

__ADS_1


"Apa tidak apa-apa kalau memakainya?"


"Em, karena kamu cantik dan manis maka di izinkan," jawab Leo menggoda.


"Apa aku memang seperti itu?"


"Kamu lebih cantik dan manis dari apa yang kamu pikirkan, apalagi hati yang kamu miliki. Apa kamu lupa aku pernah menangis, mengiba saat kamu tidak membalas perasaanku? Seorang Leo Geraldi Suntama menangis karena cinta sepihak pada seorang gadis. Sangat konyol jika mengingat saat itu tapi itulah kenyataannya."


Leo menggenggam tangan Syera dan membawanya keluar dari dalam rumah. Keduanya berjalan-jalan menikmati hamparan pemandangan hijau yang begitu indah.


"Apa kamu tahu, rasanya sangat menyakitkan melihatmu yang aku cintai ada di depan mata tapi tidak dapat memilikimu. Aku benar-benar frustasi saat itu."


"Apa waktu itu kak Leo berharap aku menerima dan membalas perasaan kakak?"


"Sangat! Tapi justru lenganku yang kamu gigit sampai hampir berdarah."


"Pasti rasanya sangat sakit."


"Sakit sekali tapi masih lebih sakit saat kamu menolak aku saat itu. Kamu menolak padahal kamu juga menyukaiku."


Keduanya berhenti menatap indah pemandangan di depan mata mereka. Dari belakang Leo meluk Syera dan menjatuhkan kepalanya dibatas pundak Syera. Angin yang berhembus menerpa wajah mereka dan membuat sebagian rambut Syera ikut menari-nari di udara.


"Apa kakak tahu, saat itu juga tidak mudah bagiku. Aku tidak mungkin membalas perasaan kak Leo, meski hatiku berkata iya tapi akal sehatku mengingatkan jika yang namanya Leo itu kakakku. Mana mungkin aku menerimanya."


"Dan kamu membuatku gila sendiri."


Ketenangan seperti saat inilah yang dicari Leo dan Syera. Berdua saja tanpa ada yang mengganggu, bersama menghabiskan waktu dengan berbagi cerita."


"Kak?"


"Em?"


"Apa Tuhan akan menghukum kita? Kita sudah melakukan kesalahan. Kita melakukan apa yang seharusnya hanya dilakukan pasangan suami-istri."


Sesaat Leo terdiam, ia tidak memikirkan sampai sejauh itu saat melakukannya dan setelah melakukannya bersama Syera.


"Bukankah itu kesalahan termanis dan terindah? Tentu Tuhan akan menghukum kita tapi asal bersamamu maka tidak akan jadi masalah untukku."


"Apa kakak pernah meminta sesuatu pada Tuhan untukku?" tanya Syera.


"Tentu. Aku meminta agar kamu selalu bahagia di manapun berada," jawab Leo. "Jangan bicara lagi, aku ingin menikmati suasana ini bersamamu dan jangan memikirkan banyak hal."

__ADS_1


Leo kembali mengajak Syera berjalan-jalan. Menjadikan sekeliling sebagai saksi dari kebahagiaan mereka.


Hingga sampai saat ini aku juga masih meminta pada Tuhan untuk bisa selamanya bersama kak Leo.


__ADS_2