
"Anda baik-baik saja, tuan?"
"Diamlah, aku tidak menyuruhmu untuk bertanya. Ulangi saja apa yang tadi pagi kau sampaikan lewat telepon."
"Baik, tuan. Saya minta maaf."
Bima menjelaskan kembali apa yang tadi pagi ia katakan namun sebelum selesai Leo sudah menutup teleponnya dan meminta Bima mengatakannya saat di kantor saja.
Selama mendengar penjelasan Bima tak henti-hentinya Leo menekan-nekan bokongnya yang masih sakit akibat terpeleset.
"Saya rasa pak Fandy saja yang menangani proyek ini karena tidak terlalu besar. Beliau juga pasti bisa menyelesaikannya seorang diri. Sebaiknya anda fokus saja dengan apa yang sekarang tuan tangani. Anda juga perlu menyediakan waktu untuk adik anda," ucap Bima mengakhiri.
"Tidak perlu. Biar aku yang menangani proyek itu juga."
"Tapi pekerjaan anda sudah cukup menumpuk, tuan. Setidaknya untuk beberapa saat ini lebih baik mengurangi sedikit pekerjaan untuk menemani Syera, adik anda."
"Tidak masalah, aku justru butuh banyak pekerjaan untuk tidak memikirkan hal yang lain. Tidak perlu khawatir, Syera gadis kuat dan dia akan baik-baik saja tanpaku. Ada Fandy yang akan selalu memperhatikannya. Fandy lebih baik dalam melakukan hal itu dibandingkan aku."
Bima tidak mengatakan apapun lagi, apa yang dikatakan Leo maka itulah yang akan dilakukannya. Leo punya alasan untuk setiap apa yang ia lakukan.
"Kalau begitu saya akan segera menyerahkan berkas mengenai proyek tersebut kepada anda."
Bima kembali ke ruangannya untuk mengambil berkas yang ia maksud dan menyerahkannya pada Leo.
Sepanjang hari sejak Leo tiba di kantor ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Saat jam kantor sudah selesai Leo masih tinggal di ruangannya. Barulah sekitar pukul tujuh malam ia meninggalkan kantor dengan membawa pekerjaannya pulang. Ia akan melanjutkan pekerjaannya di apartemen.
..........
"Apa makanannya nggak enak? Apa mau aku pesan yang lain saja?"
"Nggak usah, kak. Makanannya enak kok, hanya saja aku nggak terlalu berselera untuk makan saat ini. Maaf ya, kak?"
Fandy bisa mengerti situasi yang dialami Syera sehingga ia tidak terlalu memaksa.
"Kalau gitu setidaknya minumlah ini," mendekatkan satu cup jus jambu merah ke hadapan Syera.
Sepulang kerja tadi Fandy langsung menjumpai Syera dan membawa makanan untuknya. Ia akan terus menemui Syera dan melihat keadaanya sampai dia terlihat lebih baik.
Klek!
Leo kembali mendapati Fandy bersama dengan Syera dan berbagai makanan dibatas meja sofa. Tanpa berkata apapun Leo melewati keduanya untuk mengambil air minum karena haus.
__ADS_1
"Kak Leo baru pulang?" tanya Syera menoleh pada Leo.
"Iya," jawabnya singkat.
Leo masuk ke kamarnya dan tak berniat bergabung dengan mereka. Ia lebih memilih untuk mandi dan melanjutkan kembali pekerjaan yang ia bawa dari kantor.
Harusnya aku pulang lebih lama lagi tadi. Aku harus menyibukkan diri untuk menghilangkan perasaan ini.
Di kamarnya Leo mencoba fokus pada laptop di pangkuannya. Membaca file yang dikirim Bima lewat email dan merevisi bagian yang dianggapnya tidak perlu. Setengah jam berlalu, Leo keluar untuk mengambil minuman. Ia sudah tidak melihat Fandy dan Syera sudah ada di kamarnya.
Leo memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya diruang tengah. Ia membawa laptopnya, meletakkan sebotol minuman ringan di atas meja dekat laptop. Leo kembali membuka kulkas dan melihat sekelilingnya terlebih dahulu. Ia mengambil sebungkus snack berisi keripik kentang.
Agar lebih nyaman Leo duduk di lantai beralaskan permadani, di bawah sofa. Leo kembali sibuk ditemani minuman ringan dan keripik kentang. Biasanya Leo tidak suka yang namanya mengemil namun malam ini ia ingin mencobanya sambil bekerja dan ternyata Leo sangat menikmatinya.
Satu bungkus keripik kentang lainnya diambil Leo karena yang pertama sudah habis. Sambil berjalan Leo membuka bungkus keripik kentang dan saat itu Syera tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Kak Leo lapar?"
"Enggak."
"Kenapa makan cemilan, bukannya kak Leo nggak suka?"
Leo kembali duduk seperti semula. Dengan teliti membaca tulisan pada layar di hadapannya. Syera ikut duduk di sampingnya dan mengamati Leo yang begitu serius bekerja.
"Masuklah ke kamar. Tidak akan terjadi apa-apa jadi jangan takut."
"Aku sudah coba tapi tetap nggak bisa tidur."
Leo membiarkan saja Syera disampingnya, saat lelah dan bosan Syera pasti akan masuk ke kamarnya untuk tidur.
"Kamu mau?" menawarkan keripik kentang pada Syera.
"Enggak, inikan punyaku, kak. Kak Leo memakannya tanpa permisi terlebih dahulu," sungut Syera bercanda.
"Aku cuman makan dua bungkus, besok aku beli sepuluh kali lipat dari yang aku makan."
"Kenapa kak Leo jadi marah, aku cuman bercanda."
Syera mengambil keripik kentang dan memberikannya pada mulut Leo.
"Apa kak Leo memang punya uang yang banyak? Kalau iya, seberapa banyak?"
__ADS_1
"Yang jelas tidak akan habis untuk membeli semua keripik kentang yang ada di seluruh supermarket negri ini," jawab Leo.
Syera juga punya uang yang banyak sekarang kak tapi aku nggak tahu itu semua buat apa. Aku bingung dengan uang sebanyak itu harus diapakan.
"Apa kamu butuh uang?" tanya Leo karena tak biasanya Syera membicarakan mengenai uang.
Syera kembali mengambil keripik dan memberikannya pada mulut Leo.
"Aku nggak butuh uang, kak. Aku cuman mau orang-orang yang aku sayang tidak pergi ninggalin aku lagi."
Leo menghentikan pekerjaannya, ia teringat sesuatu, ia ingin menanyakan bagaimana ia bisa mengenal dan bertemu Wulandari.
"Apa aku bisa tanya sesuatu?"
Syera mengangguk memperbolehkan Leo.
"Sejak kapan kamu bertemu mama kandungmu? Apa sudah lama?"
Wajah Syera berubah murung mendengar Leo menanyakan mamanya. Syera sudah ikhlas akan kepergian mamanya akan tetapi pertemuan mereka yang sangat singkat masih menyisakan kesedihan.
"Di hari yang sama," jawab Syera datar.
Leo teringat saat ia mengatakan Syera keluyuran dan tidak ingat pulang jika bukan karena dihubunginya.
"Aku ketemu dengan mama waktu mengunjungi mami Jelita di kontrakannya. Aku ketemu mama di sana," ungkap Syera.
Tak ingin membuat Syera larut dalam kesedihan Leo langsung mengalihkan pembicaraan mereka mengenai ujian semester Syera yang sudah dilewatkan Syera.
Leo meminta Syera untuk tidak khawatir karena ia akan mengurus agar Syera bisa mengikuti ujian susulan. Kemudian ia mengambil bantal kecil dari sofa dan meletakkannya di samping ia duduk dan menepuk-nepuknya sembari melihat pada Syera.
"Kalau tidak bisa tidur sendiri di kamar, kamu bisa tidur di sini sebentar. Hitung-hitung menemaniku kerja," ucap Leo.
Syera tidak menolak, ia langsung meletakkan kepalanya di atas bantal yang ditepuk Leo tadi. Sesekali Leo melirik pada Syera sambil meneruskan pekerjaannya.
Semakin lama Leo melihat jika kedua mata Syera mulai menutup hingga saat tak sengaja Leo meremas bungkus keripik yang sudah habis dan menimbulkan suara nyaring namun Syera tidak membuka matanya.
Syera sudah tidur di dekat Leo dan sama sekali tidak terganggu dengan jari-jarinya yang menari-nari di atas keyboard laptop.
Pukul setengah dua dini hari Leo akhirnya menyelesaikan pekerjaannya yang sebenarnya bisa ia limpahkan pada bawahannya namun ia kerjakan sendiri dalam waktu satu kali dalam dua puluh empat jam meski ia harus begadang.
Leo merilekskan tubuhnya dan perlahan mengangkat bantal dan kepala Syera. Ia meletakkannya ke atas pahanya. Ia memperhatikan wajah Syera yang begitu teduh dan mengelus pipinya menggunakan jempol.
__ADS_1
Magnet apa yang kamu miliki sehingga sulit untuk menarik diri untuk bisa terlepas darimu.