Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Gadis Yang Kubenci


__ADS_3

Dalam kondisi yang tidak baik-baik saja Leo mengangkat kepalanya ke atas pada suara yang memanggil namanya. Dadanya begitu sesak dan semakin sulit menarik nafas namun sekuat mungkin ia menahannya.


"Tuan Leo kenapa?" Tanya Syera panik. "Ma-maaf, tuan. Ini saya Syera," ucap Syera membuka penutup kepalanya.


Leo tidak mengindahkan pertanyaan Syera. Ia berusaha meraih ponsel yang tadi terjatuh dari tangannya. Melihat Leo begitu kesulitan Syera mengambil ponsel itu dan memberikannya pada Leo meski sejujurnya ia begitu takut apalagi dengan keadaan Leo saat ini.


Untuk sesaat Syera hanya berdiri bersandar ke dinding lift sambil terus memperhatikan Leo yang juga sepertinya kesulitan menggunakan ponselnya.


"Maaf, tuan. Biar saya bantu."


Syera berjongkok mensejajarkan posisinya dengan Leo namun pria itu menepis tangan Syera.


"Maaf, and boleh marah nanti kalau memang tidak suka saya bantu tapi untuk sekarang jangan seperti ini."


Suara Syera terdengar begitu lirih karena tidak tega melihat keadaan Leo yang semakin kesakitan dan berkeringat. Wajahnya sudah bermandikan keringat belum lagi Leo menepuk-nepuk dadanya yang sesak bernafas.


Langsung saja Syera merampas ponsel itu dari tangan Leo dan berdiri menjauh darinya.


"Saya harus menghubungi siapa?" tanya Syera. "Kak Fandy? A-apa saya hubungi kak Fandy aja?"


Mendengar Syera menyebut nama Fandy membuat pandangan Leo semakin gelap. Ia menggeleng mengatakan untuk tidak menghubungi orang tersebut.


Terdengar pesan yang disampaikan petugas keamanan jika lift sedang mengalami sedikit masalah dan akan segera berjalan secepat mungkin.


"Bima."


Meski pelan namun Syera masih dapat mendengar nama yang disebutkan Leo.


"Bi-Bima?"


Syera mencari nama kontak Bima dan langsung menghubunginya. Sangkin gugupnya Syera tak sadar jika sebelah kakinya ia goyang-goyangkan dan menggigit kuku ibu jari kirinya.


Tak butuh waktu lama Bima sudah menjawab panggilan Syera.


"Halo, maaf ini saya Syera," ucap Syera karena Bima mengira yang menghubunginya adalah Leo, bosnya.


Begitu gugup Syera menceritakan apa yang terjadi dengan Leo dan keadaan mereka yang tertahan di lift.


Mendengar apa yang dikatakan Syera membuat Bima ikut menjadi panik. Ia tentu tahu alasan mengapa keadaan Leo menjadi seperti itu.


"Oke, baik. Saya langsung ke sana," sambil berbicara melalui sambungan telepon Bima mengambil jaketnya dan kunci mobil. Ia menuju ke apartemen Leo sambil terus memandu apa yang harus dilakukan Syera terhadap Leo.


"Tenang. Tenang. Secepatnya saya akan tiba di sana. Tapi sebelum lift terbuka tolong lakukan apa yang saya katakan."


"Apa?" tanya Syera tanpa pikir.

__ADS_1


"Apa ada orang lain lagi di dalam?" tanya Bima memastikan.


"Tidak ada. Hanya ada kami berdua."


"Baik. Dengarkan saya, sekarang tolong lepas dasi beliau dan juga kemejanya.


"Tapi-"


"Tolong lakukan, tuan Leo pasti sangat kesulitan bernafas sekarang. Aku yakin tubuhnya sudah penuh dengan keringat saat ini."


Syera memperhatikan Leo, benar saja apa yang dikatakan Bima namun bagaimana caranya ia melakukan hal itu mengingat Leo sangat membencinya dan tentunya akan membuat Leo semakin benci padanya.


"Baik," ucap Syera meski ia sendiri ketakutan. Persetan dengan apa yang mungkin akan dilakukan Leo padanya nanti yang jelas dia tidak mungkin membiarkan Leo saat ini.


Perlahan Syera mendekat dan meletakkan ponsel dilantai yang sudah ia buat dalam mode speaker.


"Maaf, tuan."


Sesaat pandangan keduanya beradu, Syera begitu kasihan melihat tatapan sayu Leo yang tak berdaya. Kedua tangan Syera terulur dan saat itu ia sudah siap jika seandainya Leo menepisnya.


Berbeda dengan apa yang Syera pikirkan, Leo justru diam saja saat tangannya perlahan membuka satu persatu kancing baju Leo dan menanggalkan kemeja yang sudah lembab itu dari tubuhnya hingga hanya menyisakan kaos oblong putih yang membentuk tubuh Leo.


"Tolong Lap keringat tuan, Leo. Usahakan dia juga tenang dan tidak panik agar nafasnya teratur."


Tidak sampai disitu, Syera akhirnya melepas sweater miliknya agar lebih leluasa ia gunakan untuk menyeka keringat Leo.


"Ma-maaf, tuan."


Syera terus mengucapkan kata maaf setiap kali akan melakukan sesuatu. Seperti saat ini, ia terlebih dahulu mengatakan maaf sebelum menyeka kening hingga rambut Leo yang basah karena keringat.


Kaos putih yang masih menempel di tubuh Leo membuat mata Syera begitu risih apalagi keadaan kaos itu sudah basah. Kedua tangan Syera memegang ujung kaos itu hendak melepasnya dari tubuh Leo namun dengan tatapan sendu Leo menggelengkan kepalanya mengatakan jangan.


"Tapi pakaian anda sudah basah."


Kembali Leo menggelengkan kepalanya. Sudah cukup baginya Syera melihat keadaannya seperti sekarang ini, tak berdaya dan dikasihani oleh Syera, gadis yang dia benci selama ini.


Setiap yang dilakukan Syera padanya tak lepas dari mata Leo. Seperti saat ini, tanpa sadar ataupun tidak sengaja Syera mengelap keringat di kedua pipi dan bagian bawah mata Leo dengan tangannya sendiri tanpa menggunakan sweater yang sedari tadi ia gunakan.


Sentuhan tangan Syera terasa begitu lembut saat menempel pada wajah Leo hingga tak sadar Leo terhanyut pada usapan lembut tangan Syera di pipinya.


"Sabarlah, sebentar lagi pak Bima akan tiba," ucap Syera lembut menyadarkan Leo.


Syera menarik tubuhnya dan duduk di samping Leo. Ia mengeluarkan botol air mineral dari tas sandangnya. Ia juga merasa haus dan gerah berada di dalam lift tersebut.


Saat meneguk isi botol itu Syera melihat kearah Leo yang terus mengeluarkan keringat. Mata Leo juga tertuju pada Syera.

__ADS_1


"Apa tuan mau minum juga?"


Leo menggelengkan kepalanya namun pandangan Leo masih terus tertuju pada Syera. Jujur Syera tidak mengerti apa yang diinginkan Leo dengan menatapnya begitu sendu.


"A-apa tuan butuh sesuatu?"


Kali ini Leo mengedipkan kedua matanya. Leo benar-benar tidak memiliki lagi yang namanya tenaga meski hanya untuk sekedar berucap.


Dalam kondisinya yang demikian Leo semakin frustasi karena tidak dapat mengatakan apa yang ia mau. Pikiran dan hati Leo sungguh tak berjalan seirama.


Sekuat tenaga Leo menahan tangan kanannya kelantai, menopang tubuhnya saat tangan kirinya berusaha meraih tangan kanan Syera.


Kaget dengan apa yang dilakukan Leo, Syera mencoba menarik tangannya namun Leo menahannya, membawa tangan Syera dan meletakkannya di atas dada bidang miliknya.


Sentuhan tangan Syera saat berada di pipi Leo tadi, membuatnya merasa sedikit tenang. Begitu pun kali ini saat Leo menggenggam tangan Syera dan meletakkannya di atas dadanya membuat Leo lebih tenang.


Sudah beberapa jam namun pintu lift tak kunjung terbuka, bahkan ponsel Leo sudah kehabisan baterai. Syera merutuki kecerobohannya karena lupa pada poselnya yang sedang ia isi dayanya di restoran.


Perhatian Syera tertuju pada Leo yang semakin teratur bernafas dan tidak melepas genggaman tangannya.


Posisi Syera benar-benar tidak nyaman karena tangannya yang digenggam Leo membuatnya harus menghadap tubuh Leo dari samping.


Apa dia tertidur?


"Apa anda tidur, tuan?" tanya Syera pelan. Tak ada jawaban dari Leo hingga Syera meyakini jika Leo sudah tertidur. "Baguslah."


Meski tidak nyaman namun Syera menyandarkan kepalanya ke dinding dan perlahan ingin menarik tangannya namun Leo tiba-tiba membuka matanya dan menatap Syera.


"Tanganku pegal," sungut Syera mengibaskan tangannya.


"Tidur lagi saja," pinta Syera sudah seperti seorang ibu yang sedang memomong anaknya.


Begitu juga Leo, ia menurut saja apa yang dikatakan Syera dengan menutup kembali kedua matanya.


Tak lama kemudian mungkin karena lelah dan juga mengantuk Syera pun tertidur. Berbeda halnya dengan Leo yang tak bisa tidur sejak Syera menarik dan melepas tangannya dari genggamannya.


Leo membuka matanya dan menoleh kearah Syera. Diamatinya setiap inci wajah gadis itu dan semakin mendekatkan posisinya pada Syera.


"Syera," panggil Leo menyebut nama gadis disampingnya pelan. Ini untuk pertama kali ia menyebut nama gadis itu sejak pertama kali bertemu.


"Gadis yang kubenci."


Usai mengucapkan kalimat itu Leo menjulurkan tangan kanannya dan menggenggam tangan kiri Syera dan ia letakkan di atas paha miliknya.


Informasi mengenai lift yang rusak tak lagi di dengarkan Leo maupun Syera. Tak lama setelah menutup mata, Leo pun tertidur seperti Syera yang mungkin sudah berada di alam mimpi terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2