Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Sama Gilanya


__ADS_3

Bug-bug-bug!


"Keluar!"


Teriakan Leo memenuhi seisi ruangan.


Ponsel milik Syera berdering bertepatan saat teriakan dari luar menggelegar. Ia meraih ponselnya dari atas meja belajar dan berlari untuk membuka pintu.


Bug-bug-bug!


"Ayo cepat keluar!"


Buru-buru Syera membuka pintu kamarnya dan tidak menjawab panggilan ponsel ditangannya karena teriakan Leo.


"Kak Leo kenapa teriak-"


"Kamu siapa?" memotong ucapan Syera. "Ayo katakan kamu itu siapa?"


"Aku siapa? Maksud kakak gimana, aku nggak ngerti."


Leo mengusap tengkuknya, ia merasa jika amarahnya akan meledak sebentar lagi.


"Aw! Kak, sakit."


Leo menarik lengan Syera mendekat padanya hingga dada mereka beradu.


"Kakak kenapa? Sakit, kak."


Tangan Leo semakin kuat mencengkram lengan Syera, belum lagi tatapan matanya yang tajam.


"Aku bukan kakakmu!" suara Leo pelan tapi penuh penekanan saat mengatakan kalimatnya. "Kau bukan adikku jadi kau tidak berhak memanggilku kakak, kau paham?"


Leo menekan setiap kata yang ia ucapkan pada Syera. Tulang wajahnya membentuk menahan emosinya, ia marah karena Syera sudah berbohong padanya dengan cara menutupi suatu kebenaran.


"Kenapa kak Leo bilang seperti itu? Kenapa sekarang memanggilku dengan kata 'kau'?" tanya Syera gemetaran melihat wajah merah padam Leo dan menahan sakit pada lengannya.


"Lalu aku harus memanggilmu apa? Apa, ha? Ayo jawab aku harus memanggilmu seperti apa?" tanya Leo kembali dengan suara keras.


Leo mendorong Syera dan melepas cengkeramannya.


Tak!


Usai melepas Syera ia melemparkan agenda yang sedari tadi ia pegang ke lantai. Syera kaget mengapa agenda itu ada pada Leo, iya yakin jika Leo pasti sudah membaca semua isinya.


"Ayo katakan apa maksud semua ini?"


"Kak, i-itu-"


"Apa, apa? Kau mau bilang apa? Apa kau puas mempermainkan aku selama ini? Apa kau sebegitu bencinya padaku dan membalasnya dengan cara membohongiku? Kau pasti senang dan tertawa melihatku menangis seperti anak kecil saat mengatakan menyukaimu, iyakan?"


"Enggak, kak. Bukan seperti itu, kak Leo salah," sanggah Syera.


"Hahaha... Apa? Aku salah?"


Leo tertawa namun wajah dan matanya memerah menahan diri untuk tidak menangis. Leo merasa seperti orang bodoh yang berhasil dipermainkan oleh Syera.


"Aku memang salah. Aku memang salah karena begitu menyukaimu," menyeka air matanya.


"Jangan nangis, kak. Kak Leo harus dengar aku dulu, aku bisa jelasin, kak."


"Tidak perlu karena apa yang tertulis di sana sudah cukup untuk menjelaskan semuanya," menunjuk pada agenda yang tadi Leo lempar kelantai.


"Tapi kak Leo harus dengar aku juga," lirih Syera mengguncang-guncang lengan leo.


"Baik, ayo katakan sekarang kau mau bilang apa lagi. Kau mau bilang apa setelah berhasil membohongiku," desak Leo. "Aku tidak percaya kau masih sanggup memintaku untuk mendengarmu. Katakan semua yang mau kau katakan, hanya saja kau harus tahu kalau aku tidak akan mempercayai apapun itu lagi."

__ADS_1


Hati Syera terasa sakit mendengar Leo sepertinya sudah tidak percaya lagi padanya. Air matanya mengalir menatap mata Leo berharap untuk dipercayai.


Syera sadar jika ia salah karena tidak langsung memberi tahu Leo kebenaran jika mereka bukan saudara kandung. Syera menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukannya namun ternyata Leo mengetahuinya lebih dahulu.


"Jangan nangis, aku tidak akan merasa kasihan lagi karena melihat air matamu itu," ucap Leo. "Jangan membuatku menunggu lama jadi katakan sekarang."


Syera mengulurkan tangannya hendak menghapus air mata Leo namun langsung ditepis. Syera semakin sedih dan merasa semakin jauh dari Leo.


"Bukannya kak Leo bilang kalau kakak sayang samaku?" tanya Syera sesegukan. "Apa sekarang kak Leo sudah nggak sayang Syera lagi?"


"Diam! Jangan membahas hal itu lagi," geram Leo.


Dengan kasar Leo menarik tangan Syera dan membawanya ke balkon. Satu tangannya ia gunakan untuk menyeret meja kecil berbentuk bundar dari pojok kiri balkon.


Leo meletakkan meja itu dekat pagar balkon, mengangkat dan mendudukkan Syera ke atas meja tersebut. Posisi pagar balkon yang hanya sepinggang Syera membuatnya merinding saat menoleh kebelakang.


Spontan kedua tangan Syera memegang pagar besi di sisi kiri dan kanannya.


"Jangan seperti ini, kak. Aku takut," ucap Syera ketakutan. Ia gemetaran dan tidak berani bergerak.


"Aku akan membunuhmu dengan cara melemparmu dari lantai tujuh ini kebawah saat kau berbohong lagi. Jadi cepatlah, apa yang ingin kau katakan padaku."


"Hiks... Tapi aku takut seperti ini, kak?"


"Syera.... Ayo cepat katakan!"


Suara teriakan Leo begitu memekakkan telinga Syera dan menambah ketakutannya.


"Hiks... Hiks... Jangan menyalahkan aku saja, ini juga salah kak Leo!" membalas teriakan Leo.


"Jangan berteriak padaku. Kalau ada yang harus berteriak maka orang itu adalah aku."


Sambil menangis Syera semakin mempererat pegangannya pada pagar balkon. Kakinya semakin gemetaran saat ia menangis dan berteriak tadi.


"Kakak pikir selama ini mudah untuk Syera, enggak! Kalau bukan karena kak Leo bilang untuk melupakan apa yang sudah terjadi dan akan lupain perasaan kak Leo samaku, aku juga nggak akan nutupin ini semua," jelas Syera sambil menangis. "Kak Leo juga salah, kak Leo jahat. Kak Leo bilang sayang tapi dengan gampangnya lupain aku. Aku pikir dengan cara nggak ngasih tahu kak Leo semuanya akan baik-baik aja tapi sayangnya aku salah."


"Angkat kepalamu dan lihat mataku saat bicara denganku agar aku tahu kau sedang berbohong atau tidak," perintah Leo. "Dan jangan membuat kepalaku semakin pusing dengan bicara berputar-putar, kalau tidak aku akan melemparmu kebawah," tegas Leo.


Perlahan Syera mengangkat kepalanya dan melihat mata Leo dengan mata sembabnya.


"Ayo lanjutkan bicaramu. Katakan kapan kau mengetahuinya."


"Aku tahu dihari aku ketemu dengan mama Wulandari."


"Lalu kenapa tidak langsung memberitahuku?"


"Aku nggak yakin kalau kak Leo akan langsung percaya karena kakak sudah memutuskan melupakan perasaan kakak. Lalu Syera bisa apa, kak. Semuanya nggak ada artinya lagi sekarang. Kak Leo juga sudah nggak sayang samaku dan sudah ada perempuan lain dihati kak Leo, iyakan?"


"Memangnya kenapa, apa kau menyukaiku?" tanya Leo tiba-tiba.


Tidak tahan dengan tatapan mata ditambah pertanyaan Leo yang tiba-tiba membuat Syera gugup hingga mengalihkan pandangannya dari Leo.


"Lihat dan jawab aku atau aku benar-benar akan melemparmu kebawah sekarang," gertak Leo.


"Karina cantik dan baik. Kak Leo pasti sangat suka apalagi tante Mila juga menyukainya."


"Kenapa kau malah membahas Karina, yang aku tanya itu kau suka aku atau tidak?"


Air mata Syera semakin bercucuran, bibirnya bergetar sangking sulitnya untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Syera... Ayo bicara, jangan menangis!" tekan Leo mengeratkan giginya. "Air matamu itu tidak akan bisa menyelesaikan semuanya."


Ponsel Syera yang tadi ia masukkan ke saku baju tidurnya saat Leo menariknya ke balkon berdering. Syera melihat ke arah saku baju tidurnya, ia tidak berani melepas pegangannya dari pagar balkon.


Leo yang sadar akan hal itu mengambil ponsel Syera dari saku bajunya dan melihat nama si penelpon.

__ADS_1


"Ck! Hah...!"


Leo memperlihatkan layar ponsel itu pada Syera.


Kak Fandy?


"Apa aku harus menjawab panggilannya untukmu? Kau pasti senang dia menghubungimu di saat seperti ini, iyakan? Tapi jangan harap kau akan bicara dengannya sekarang."


Tak!


Hancur!


Ponsel yang baru beberapa bulan dibeli untuk Syera hancur karena Leo membantingnya kuat ke lantai. Leher Leo semakin tegang tatkala mengingat apa yang sudah ia katakan pada Fandy sebelumnya. Meski tidak secara terang-terangan namun Leo sudah mengizinkan Fandy untuk bersama Syera dan mendekatkan mereka.


Syera bergidik ngeri saat Leo kembali mendekat dan semakin mengunci pergerakannya.


"Ayo bicara," pinta Leo sembari memijit lehernya yang tegang. "Kau suka aku atau tidak? Kenapa menjawab pertanyaan itu saja sangat sulit untukmu?" teriak Leo.


"I-iya," suara Syera bergetar saat mengatakannya. "Aku suka," jawab Syera. Takut dan gugup bercampur di rasa Syera.


"Katakan dengan jelas!"


"A-aku suka, aku suka kak Leo."


Tangis Syera pecah setelah mengatakannya. Rasa sesak di dadanya berkurang setelah mengakuinya.


"Gadis bodoh," ucap Leo ikut menangis saat mendengar pengakuan Syera sedangkan Syera sudah tidak berani menatap Leo lagi.


"Sejak kapan?" tanya Leo lanjut dengan nada yang lembut.


Leo mengulurkan kedua tangannya menghapus air mata Syera.


"Katakan sejak kapan kau merasakannya. Apa setelah kau tahu kalau aku bukan kakak kandungmu?"


Syera menggelengkan kepalanya. Ia menundukkan kepalanya namun Leo mengangkatnya kembali dan menahan wajah Syera agar melihatnya.


"Lalu sejak kapan, hem?"


"Aku nggak tahu tapi aku sangat khawatir saat kak Leo datang ke restoran dengan wajah pucat dan sakit. Aku senang saat kak Leo mengkhawatirkan aku, aku senang dengan perhatian kak Leo. Melihat wajah kak Leo saat tidur sudah membuatku senang dan...,"


Syera diam, ia tidak berani melanjutkan kalimatnya. Selama ini Syera sudah menutupi perasaannya dengan baik. Ia tahu saat melanjutkan perkataanya maka ia sama gilanya seperti Leo.


"Dan apa?" desak Leo agar melanjutkan kalimatnya namun Syera hanya diam dan menggelengkan lagi kepalanya.


Leo menggigit giginya, melotot pada Syera agar bicara namun tak jua membuat Syera bicara. Akan tetapi, Syera yang tidak bisa menunduk karena wajahnya ditahan Leo, mengulum bibirnya dan menggigit bibir bawahnya.


Melihat Syera melakukan hal itu membuat Leo ingin tertawa namun ia tahan.


"Dan kejadian saat di kolam renang, apa itu yang mau kau katakan?" tanya Leo dan di jawab Syera dengan anggukan kepala.


"Jangan membohongiku," ucap Leo semakin lembut. "Itu sebelum kau tahu kalau aku ini bukan kakak kandungmu, apa kau sadar?" mengangkat kedua alisnya menatap kedua mata Syera dan tidak menemukan kebohongan di sana.


Syera menganggukkan kembali kepalanya diikuti air mata yang mengalir.


"Aku pikir hanya aku. Ternyata kau sama gilanya denganku hanya bedanya kau pintar menutupinya."


Leo menyunggingkan senyumnya tidak percaya dengan apa yang sudah Syera tutupi dengan baik selama ini darinya.


"Kau sama gilanya denganku, kau bersembunyi dibalik kepolosanmu. Dasar gadis bodoh!"


Leo mendekatkan wajahnya dan menangkup kedua pipi Syera.


Emmp...!


..........

__ADS_1


Sampai jumpa besok😁🤭


__ADS_2