
Pelukan dan air mata menjadi bukti dari rasa rindu yang terpendam. Rindu yang selama ini hanya bisa diucapkan dalam hati, rindu yang sulit untuk diucapkan oleh bibir namun kini rindu itu telah bertemu dengan kasihnya.
Disini, di tempat banyak orang berlalu lalang Leo dan Syera memuaskan rasa rindu dalam peluk berteman air mata.
"Maaf, maafkan aku sudah membuatmu menunggu lama. Maaf karena sudah membuatmu menangis. Maaf sudah mengecewakanmu karena aku yang payah ini," ucap Leo.
Dalam pelukan Syera hanya terisak meluapkan emosi yang selama ini ia pendam akan rindunya pada Leo.
Hari ini, halusinasi Syera akhirnya menjadi kenyataan. Ia sering mendengar suara Leo memanggilnya, seakan Leo ada di sekitarnya dan melintas dari hadapannya. Itulah sebabnya Syera tidak yakin sebelumnya jika Leo berdiri di hadapannya dan memanggil namanya.
Tin-Tin...
Suara klakson mobil menyadarkan Leo dan Syera yang sedang berpelukan di pinggir jalan di saksikan para pejalan kaki yang melewati mereka. Hal yang biasa dilihat saat berada diluar negeri namun akan menjadi tabu saat di negeri sendiri. Leo menahan Syera saat akan melepas pelukannya.
"Come on, bro!" seru Ben dari dalam mobilnya. "Kau tidak berencana akan menghabiskan banyak waktu disini kan?" tegur Ben menunjukkan situasi tempat mereka berada saat ini.
Leo melihat Syera yang masih dalam pelukannya. Tanpa tanya Leo membawa Syera masuk ke dalam mobil Ben dan tak melepas tangan Syera.
"Hai cantik?" sapa Ben seketika Syera sudah di dalam mobil. "I'm Ben."
Syera merasa sudah pernah melihat pria yang menyapanya dan suaranya yang khas.
"Yes. Kita sudah pernah bertemu meski hanya sekali. Aku tahu apa yang kau pikirkan cantik," ucap Ben.
Seperti dugaan Syera, dia sudah pernah bertemu dengan Ben. Syera membalas Ben dengan senyumannya.
"You're so lucky, bro. She's really beautiful," ucap Ben menggoda Leo atas Syera.
Benar apa yang dikatakan Ben pada Leo sebelumnya, tidak sulit untuk seorang pria jatuh hati pada Syera. Sekarang saja Ben merasa tertarik dengan Syera namun pastinya itu hanya ada dalam khayalannya untuk bisa memiliki Syera.
"Oke, let's go! Aku akan membawa kalian ke tempat dimana kalian mungkin akan mengukir cerita."
Ben menyalakan mesin mobilnya dan melaju ketempat yang ia maksud.
Di kursi belakang Leo terus menggenggam tangan Syera dan memandangi wajah gadis itu. Leo bisa mengerti apa yang dirasakan Syera hingga membuatnya belum berkata apapun sedari tadi. Walaupun begitu merasakan telapak tangan Syera menyambut genggamannya sudah cukup bagi Leo.
"Kalian bisa mengganggap aku tidak ada. Aku akan berpura-pura tidak melihat apapun dibelakang. Santai saja, bro."
Leo menyimpulkan senyum, seakan Ben mengetahui isi hatinya sedangkan Syera masih saja diam dalam dekapan Leo. Syera merasa canggung karena ada Ben, ia menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Leo.
"Tidak apa, kemarilah."
Syera kembali dibawa Leo kedalam dekapannya. Rambut panjang Syera yang sedikit berantakan dirapikan Leo dan menghapus sisa air mata diujung mata Syera. Perlahan tangan Leo mengelus pipi lembut Syera.
Jika Leo sibuk mengelus-elus pipi Syera dan memandangi wajah gadis itu maka berbeda dengan Syera yang kini bertanya-tanya kemana Ben akan membawa mereka.
Mobil sudah menjauh dari perkotaan dan Syera tidak tahu arah yang dipilih Ben kemana.
Ponsel Syera berdering, ia merogoh saku mantelnya dan melihat nama Fandy pada layar ponselnya. Syera akan mengangkat teleponnya tapi ia juga bingung untuk berkata apa. Tidak mungkin Syera mengatakan jika saat ini sedang bersama dengan Leo apalagi kini ia sedang dibawa pergi entah kemana.
Arah mata Leo ikut tertuju pada layar ponsel ditangan Syera. Raut wajah Leo berubah drastis, ia sadar jika setahun ini Syera berada dalam pengawasan dan jangkauan Fandy. Setahun ini pula Leo tidak tahu bagaimana kehidupan Syera dan Fandy di negara tersebut. Leo khawatir dan takut, sungguh ia tidak menginginkan perpisahan lagi dengan Syera.
__ADS_1
Ponsel ditangan Syera kembali mendapat panggilan dari Fandy, dengan pelan Leo mengambil ponsel itu dari tangan Syera dan menonaktifkannya. Sesaat Leo dan Syera beradu pandang setelah ponsel itu mati. Syera melihat ke arah belakang, tempat dia dan Fandy tinggal setahun ini sudah berada jauh dari posisi mereka saat ini.
"Syera?" panggil Leo menangkup wajah Syera agar tidak menoleh kebelakang. "Syera, lihat aku. Ayo lihat," ucap Leo mempertegas jika ada dia dihadapan Syera.
Syera memandangi wajah Leo, kemudian memperhatikan jalanan kemana Ben membawa mereka. Leo tidak tahu dan tidak memikirkan kemana Ben akan membawa laju mobilnya, Leo percaya saja pada Ben.
Meski sudah setahun tapi Syera belum pernah melewati jalanan yang sedang mereka lalui saat ini. Sudah ada banyak tempat yang ia kunjungi bersama Fandy tapi kali ini membuat Syera sangat penasaran. Sempat terpikir oleh Syera jika mereka akan menuju bandara untuk kembali ke Indonesia namun dugaannya ternyata salah karena jalanan yang mereka lalui semakin menjauh dari perkotaan.
Ben menghentikan mobilnya dan merenggangkan kedua tangan setelah menyetir beberapa lama.
"Yup! Kita sampai, bro!" seru Ben.
Ben keluar dari mobil disusul oleh Leo dan Syera.
"Hah..... Aku sangat merindukan tempat ini. Bagaimana, apa kau suka tempat ini, bro?" tanya Ben pada Leo yang tak melepas tangan Syera.
"Apa tempat seperti ini ada di dunia?"
Pemandangan indah di depan mata membuat Leo begitu mengagumi alam ciptaan Tuhan. Selama ini dia hanya tahu bekerja dan bekerja, barulah semenjak ada Syera hadir dihatinya maka hari-harinya lebih berwarna, tidak monoton dan membosankan dengan urusan kantor.
"Hei cantik, apa sudah pernah ketempat ini?" tanya Ben pada Syera.
Syera menggelengkan kepalanya, ada banyak tempat indah di negara itu tapi Syera belum pernah ke tempat Ben membawanya dan Leo. Syera hanya tahu sekilas mengenai tempat itu dari media sosial.
"Sudah kuduga!" menjentikkan jarinya merasa bangga karena dia orang pertama yang memperkenalkan tempat itu pada Leo dan Syera.
"Bagaimana, indah bukan?"
Pemandangan hijau begitu mendominasi dengan danau yang bersih, pegunungan dan rumah yang tidak begitu banyak. Udaranya begitu dingin karena sudah masuk dalam periode musim dingin. Suasananya sangat tenang dan serasa bagai di negeri dongeng.
Ketiganya menikmati karya indah sang pencipta yang maha kuasa.
Ben akhirnya kembali pada Leo dan Syera dibelakangnya. Ia membuka bagasi mobil dan mengeluarkan dua kantong plastik berukuran cukup besar dengan berbagai isi di dalamnya.
"Ayo, udaranya semakin dingin dan hari juga akan semakin gelap."
Leo dan Syera mengikuti kemana arah langkah Ben membawa mereka. Ben mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya untuk membuka pintu di depannya.
"Apa ini rumahmu?" tanya Leo.
"Bukan. Aku tinggal di apartemen dengan rekan kerja dan itu tidak jauh dari Kedubes."
"Lalu ini?"
Ben mengajak dan mempersilahkan Leo dan Syera masuk ke dalam rumah.
"Santai saja. Ini rumah sepasang suami-istri. Suaminya orang sini tapi istrinya orang Indonesia. Mereka sedang tidak ada di sini. Mereka sedang menjelajah negara ini sambil mengunjungi anak-anaknya."
"Apa kau kenal dengan mereka?"
"Tidak hanya kenal, aku sudah seperti anak untuk mereka. Apa kau tidak lihat yang tadi itu, bro? Aku juga punya kunci rumah ini. Mereka pasangan lanjut usia, tiga anaknya adalah hasil adopsi. Aku mengenal mereka saat pertama kali ke tempat ini sendirian tanpa seorang teman. Aku butuh refreshing untuk menenangkan pikiran, saat aku mencari penginapan tidak sengaja bertemu dengan istrinya. Dan tidak perlu aku perpanjang lagi kau pasti sudah tahu kelanjutan ceritanya. Dia dan suaminya memintaku untuk menginap di rumah mereka apalagi saat tahu aku ini orang Indonesia," jelas Ben.
__ADS_1
"Kau beruntung mengenal mereka," ucap Leo memuji.
"Bukan hanya aku tapi kalian juga beruntung, buktinya kalian ada di sini sekarang."
"Ucapanmu benar, Ben. Terimakasih."
Dua kantong plastik ditangannya di letakkan Ben di atas meja dan membawa mereka mengelilingi setiap sudut rumah.
"Santai saja dan anggap seperti rumah sendiri. Kalau sangat kedinginan kalian bisa menyalakan api di sana."
Ben menunjukkan sebuah tempat perapian lengkap dengan kayu bakar di dekatnya.
"Nikmati suasana tempat ini, jangan menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin hanya datang sekali dalam hidup. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di hari esok, jadi pergunakanlah waktu yang ada dengan sebaik mungkin."
"Kau sendiri?"
"Well, aku akan pergi. Aku juga harus menikmati hidup yang singkat ini. Aku tidak mungkin berada disini dan menunggui kalian berdua," canda Ben.
"Thanks, Ben."
"No, don't say it," ucap Ben pada Leo. "Hei cantik, aku pergi dulu," mengedipkan mata pada Syera.
..........
Tinggallah Leo dan Syera, berdua dalam keheningan di malam yang semakin dingin. Syera masih berdiri saja, ia masih saja diam dan tidak melakukan apa-apa. Suasana mereka menjadi sangat canggung padahal ada banyak hal yang ingin mereka katakan satu sama lain.
"A-aku-"
"Nghh... Aku rindu kamu," sela Leo.
Saat Syera baru mengeluarkan satu kata dengan terbata Leo sudah memeluknya dari belakang. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang dan menjatuhkan kepalanya di atas pundak Syera, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu.
"Aku merindukanmu, Syera. Apa kamu tidak merindukanku? Apa kamu marah padaku?"
Syera menggelengkan kepala atas apa yang ditanyakan Leo padanya.
"Syera?"
Leo melepas pelukannya dan memutar tubuh Syera menghadapnya.
"Syera, aku sangat mencintaimu."
Tatapan Leo begitu tulus saat berkata cinta pada Syera. Leo tidak dapat menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu pada bibir Syera yang selama ini menjadi candu baginya.
Kini keduanya melepas rindu, bahkan Syera yang dulu hanya menerima bibir Leo kini sudah membalas cumbuan itu tanpa harus diminta oleh Leo terlebih dahulu. Syera menyusupkan kedua tangannya dalam mantel yang dikenakan Leo dan memeluknya erat disaat kepalanya mendongak membalas ciuman Leo yang semakin menuntut
..........
Dear readers...
Kira-kira ada yang tahu dan bisa menebak sekarang mereka ada di negera apa?
__ADS_1