
Mendengar suara pintu terbuka Syera berlari menghampiri pintu. Setelah beberapa hari lamanya Leo pulang tepat waktu seperti sebelumnya. Syera seneng bisa melihat Leo pulang kerja lagi sedangkan Leo merasa aneh karena tidak biasanya saat ia pulang Syera berada di dekat pintu seperti menungguinya pulang.
"Ngapain di dekat pintu, apa mau keluar?"
"Enggak, kak. Apa selesai dari kantor kak Leo langsung pulang?"
"Em," melepas sepatu dan dasinya sedangkan tasnya ia letakkan begitu saja di sofa.
"Apa Fandy belum datang hari ini? Bukannya biasanya dia sudah datang menemuimu?"
Kenapa tiba-tiba nanyain kak Fandy?
"Enggak, lagian kenapa kak Fandy harus nemuin aku setiap hari? Oh iya, untuk makan malam kak Leo mau makan apa, biar aku masakin?" tanya Syera antusias.
"Tidak usah, masak untukmu saja. Aku akan makan diluar," jawab Leo lalu masuk ke kamarnya.
Dia baru pulang, apa dia akan pergi lagi?
Satu jam berlalu Leo keluar dari kamarnya sedangkan Syera menungguinya di sofa sambil memainkan ponsel. Leo sudah berganti pakaian dan terlihat lebih segar dari saat dia pulang tadi.
"Kak Leo mau pergi lagi?" nada suara Syera melemah saat bertanya.
Penampilan Leo begitu rapi, tampan dan wangi berdiri tegak di depan pintu kamarnya membenarkan jaket yang di pakainya.
"Iya, tidak perlu memasak untukku."
Dia mau kemana dengan pakaian seperti itu? Kenapa tidak mengajakku juga?
Perpaduan kaos oblong putih, celana jeans biru dongker dengan jaket bahan kain berwarna cream membuat Leo terlihat begitu santai berbeda saat ia memakai celana kain, kemeja, dasi dan jas. Leo seperti pemuda dua puluh tahun yang akan pergi nongkrong dengan teman-temannya. Penampilannya semakin keren setelah memakai sepatu kets putih.
"Kak Leo mau pergi kemana? Apa pulangnya lama?"
Leo mengeluarkan ponselnya dari saku dan menunjukkan foto yang tadi pagi Syera lihat.
"Mama minta aku buat nemuin perempuan ini," menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan foto perempuan pada Syera.
"Gimana caranya ketemu, kak Leo kan belum pernah jumpa dan nggak punya nomor kontaknya. Apa kak Leo yakin akan pergi?" mengekori Leo yang hendak keluar.
"Hahaha... Kamu kenapa?" tanya Leo sambil tertawa. "Pertanyaanmu aneh, aku memang belum pernah jumpa makanya mama minta buat nemuin dia malam ini. Dan satu lagi, aku dan dia sudah bertukar pesan tadi," jelas Leo.
Jadi kak Leo pulang cepat karena mau bertemu perempuan itu ternyata.
"Apa kak Leo suka dengan perempuan itu? Apa kalian juga akan menjalin hubungan serius?" cecar Syera.
"Entahlah. Untuk saat ini aku belum tahu karena belum bertemu dengannya, yang jelas mama sangat menyukainya. Sudahlah, kamu jangan sampai lupa makan. Sebentar lagi Fandy pasti akan datang," ucap Leo lalu pergi meninggalkan Syera.
__ADS_1
Syera duduk lemas di lantai dekat pintu. Ia membayangkan pertemuan Leo dengan perempuan yang disukai oleh Mila. Mengingat foto perempuan itu yang begitu cantik maka tak sulit untuknya seorang pria menyukainya begitu juga dengan Leo, tidak akan sulit untuk seorang perempuan menyukainya.
Perempuan yang sangat beruntung.
Hiks... Hiks...
Syera menangis memeluk kedua lututnya yang ia tekuk. Suara bel dari luar tidak ia pedulikan. Ia hanya ingin menangis sampai rasa sesak di dadanya hilang.
..........
Leo menemui perempuan bernama Karina itu di tempat yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Pertemuan mereka berjalan baik dan obrolan mereka berdua nyambung karena banyak kesamaan yang mereka miliki.
Keduanya sepakat untuk berteman dan bertemu dilain waktu. Leo menawarkan diri untuk mengantar Karina pulang karena saat datang tadi perempuan itu menggunakan jasa taksi.
Dengan senang hati Karina menerima tawaran Leo dan memberitahu alamat tempat tinggalnya. Di perjalanan mereka juga asik mengobrol dan sesekali tertawa karena Karina memiliki selera humor yang tinggi.
Tak sengaja Karina menginjak sesuatu dibawah kakinya. Saat menunduk ia melihat sebuah agenda, milik Syera yang terjatuh saat mencari kartu ujiannya. Karina mengambil dan menepuknya karena ada pasir yang menempel.
"Ini milikmu?" tanya Karina memperlihatkan agenda ditangannya pada Leo yang sedang fokus menyetir.
Leo melihatnya sekilas dan mengatakan tidak karena memang tidak merasa memiliki benda itu.
"Kalau bukan milikmu lalu milik siapa? Inikan ada di dalam mobilmu?" tanya Karina lanjut.
"Coba lihat," pinta Leo.
Ini foto Syera dan mamanya. Agenda ini pasti punya dia. Dasar ceroboh. Bagaimana kalau benda penting seperti ini hilang, untuk jatuhnya di sini.
Leo menutup kembali agenda tersebut tanpa membaca apapun yang tertulis di sana. Ia akan memberikannya pada Syera saat pulang nanti atau mungkin besok pagi.
"Punya siapa?" tanya Karina lagi.
"Ini punya Syera."
"Syera? Kekasihmu?"
"Hahaha... Bukan, dia adik perempuanku," jawab Leo tertawa.
"Jadi kamu punya adik perempuan? Aku iri denganmu."
"Kenapa?"
"Aku anak tunggal, aku ingin sekali punya adik perempuan. Pasti sangat menyenangkan punya seorang adik."
"Apa menurutmu seperti itu?"
__ADS_1
"Menurutku, hahaha...."
Obrolan keduanya masih berlanjut sampai mobil Leo berhenti di depan pagar rumah yang ditinggali Karina sendiri.
Leo menunggui Karina sampai masuk ke dalam rumahnya barulah Leo pergi dari sana.
Di perjalanan menuju pulang Leo mengingat kembali obrolannya dengan Karina yang sangat mengocok perut. Ternyata keputusannya untuk bertemu Karina tidak buruk malah ia mendapat teman baru yang asik untuk di ajak mengobrol.
Tiba di apartemen Leo disambut dengan keberadaan Syera yang sedang menonton televisi. Program televisi berbau komedi yang ditontonnya berbanding terbalik dengan wajah Syera yang kelihatan murung dan seperti orang sedang melamun.
"Kamu belum tidur, kenapa masih diluar?"
Pertanyaan Leo berlalu begitu saja karena Syera tidak menjawabnya. Bukannya mau mendiami Leo, hanya saja Syera merasa jika ia pasti akan menangis saat bicara.
"Kenapa diam? Apa ada masalah?"
Syera menggelengkan kepalanya saat Leo menghampirinya dan duduk di samping Syera.
"Apa kamu sudah makan tadi?"
Syera mengangguk padahal ia sama sekali belum makan.
"Apa tadi Fandy datang ke sini?"
Ponsel Leo berbunyi dan tidak memperhatikan Syera saat menggelengkan kepalanya lagi. Bunyi ponsel Leo menarik perhatian Syera, dilihatnya Leo tersenyum saat menjawab panggilan teleponnya.
Meski bukan dalam mode speaker namun Syera bisa mendengar jika itu adalah suara seorang wanita. Tak lama sambungan telepon itu berubah menjadi panggilan video call.
"Hai?" sapa Karina saat Leo mengarahkan ponselnya pada Syera. "Ternyata Leo beneran punya adik perempuan dan orangnya cantik," puji Karina saat melihat wajah Syera melalui layar ponsel.
Syera yang tidak tahu harus bersikap seperti apa hanya menyimpulkan senyum kecil diwajahnya dan mengalihkan wajahnya dari ponsel.
"Oke deh, yang penting kamu sudah pulang dan sampai dengan selamat. Lain kali bawa Syera kalau kita ketemuan," pinta Karina pada Leo.
"Kalau kamu tidak keberatan kenapa tidak. Kalau gitu kamu istirahatlah, sudah malam dan kamu juga pasti capek dengan kerjaanmu seharian ini."
Leo menyudahi panggilan video call dengan Karina. Ia melihat pada Syera yang duduk dengan wajah murung di sampingnya.
"Kamu juga tidurlah, sudah malam. Kamu masih harus ikut ujian dua hari lagi."
Leo yang memang sudah sangat lelah meninggalkan Syera dan masuk ke kamarnya terlebih dahulu untuk tidur.
Kak Leo kelihatan sangat senang hari ini. Apa tadi kak Leo juga memeluk perempuan itu seperti saat dia memelukku?
..........
__ADS_1
Dear readers...
No! Jangan khawatir karena cerita ini tidak ada pelakornya.