Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Kita Akan Menikah


__ADS_3

"Ayo cepat!"


Begitu kasar Fandy menarik paksa tangan Syera keluar dari mobil dan membawanya masuk kerumah tempat tinggal mereka berdua setahun ini. Disaat yang sama ponsel Syera masih terus menerima panggilan dari Leo.


Mata Syera melirik pada ponselnya yang ada di tangan Fandy. Ingin sekali ia menjawab panggilan itu tapi sudah ia coba sedari berada di mobil untuk mengambilnya dari Fandy tapi tidak berhasil.


Fandy melempar tubuh Syera ke atas ranjang dan mengunci pintu kamar. Ia kemudian menghampiri Syera dengan penuh kemarahan.


"Satu tahun Syera, sudah satu tahun lamanya. Kenapa belum juga melupakan dia?"


"Aku sayang sama sama kak Leo."


"Hahaha... Sayang? Kamu bilang kamu sayang dia? Lalu menurutmu aku ini apa?"


Syera diam memalingkan wajahnya dari Fandy. Dia tidak peduli apapun karena hanya ada Leo di hati dan pikirannya.


"Kamu tidak bisa seperti ini padaku. Kamu sangat jahat, Syera!"


"Maaf," ucap Syera masih memalingkan wajah dari Leo.


"Apa menurutmu maaf saja cukup? Apa kamu pikir kata maafmu cukup untuk apa yang aku lakukan selama ini?"


Fandy duduk di ujung ranjang, membelakangi Syera yang tak mau melihatnya. Kecewa dan marah Fandy tak bisa lagi ia tutupi dari Syera.


"Dari dulu aku yang selalu berusaha ada untukmu bukan Leo. Bahkan dari awal bertemu aku yang jagain kamu dari kemarahan Leo, kamu nggak lupa semua itukan? Orang yang kamu tuju dan kamu hubungi bukan dia disaat kamu butuh tapi aku. Kalau dia saja yang kasar dan jahat sama kamu bisa buat kamu sayang dia, lalu bagaimana dengan aku? Ayo jawab, bagaimana dengan aku?"


Syera mendengar setiap yang dikatakan Fandy, sebenarnya ia sedih namun mau bagiamana lagi jika hatinya memang lebih memilih Leo sebagai pria yang dicintai. Syera sayang pada Fandy tapi rasa sayangnya hanya sebatas saudara. Fandy sudah seperti kakak kandung bagi Syera.


Memang benar Fandy selalu ada buatnya dan sering menolongnya. Perhatian dan kebaikan Fandy selama ini dianggapnya sebagai rasa sayang pada seorang adik oleh Syera dan tidak lebih.


"Syera, aku cinta sama kamu. Aku cinta sama kamu dari sebelum Leo mencintai kamu. Aku yang akan memiliki kamu bukan Leo."


"Jangan seperti itu, kak. Aku sudah anggap kak Fandy seperti kakak kandung. Aku sayang sama kak Fandy tapi tidak lebih sebagai seorang adik," ucap Syera pada akhirnya.


"Aku tidak peduli. Sekarang coba jawab aku, apa kamu bahagia dengan Leo?"


"Iya, aku bahagia karena kami saling cinta, kak."


"Aku rasa kamu melupakan seseorang, Syera. Apa kamu yakin bisa bahagia di saat ada mama Mila sedang menangis karena anaknya tidak memperdulikannya karena lebih memilih kamu? Apa kamu lupa seperti apa kemarahan mama Mila satu tahun lalu ke kamu dan Leo? Bukan hanya ada perasaan kamu dan Leo saja, ada aku dan mama Mila. Sadarlah Syera, kamu dan Leo nggak akan bisa bersama. Itu hanya akan membuat hatimu sakit karena harus mendengar perkataan mama Mila yang begitu menyakitkan dan akan terus menyangkut pautkannya dengan mama kamu, Wulandari."

__ADS_1


"Apa kak Fandy sedang mencoba memprovokasi? Aku bukan anak kecil lagi."


"Baik, sekarang kamu hanya perlu jawab pertanyaanku. Apa kamu bisa bahagia di atas kesedihan dan kemarahan mama Mila?"


Pertanyaan Fandy begitu menohok. Mama Mila, Syera tahu wanita itu sangat menentang hubungannya dengan Leo. Perpisahan Syera dan Leo setahun ini juga karena mama Mila.


Perkataan mama Mila saat berada di puncak juga masih jelas diingatan Syera yang mengatakan jika Leo boleh bersama gadis manapun kecuali dengan Syera. Siapapun gadis yang bernama Leo akan direstui mama Mila tapi tidak dengan Syera.


"Kami akan memohon sama tante Mila, kalau perlu aku akan menekuk lutut, aku akan berlutut agar tante Mila merestui kami."


Sekuat hati dan percaya diri Syera mengatakannya pada Fandy meski sejujurnya ia tahu jika hal itu tidak mudah.


"Apa kamu akan membuang harga dirimu dan juga mama kamu di hadapan mama Mila?"


Syera diam kembali, ia tidak bisa menjawabnya. Ia merasa Fandy sedang mencoba memprovokasinya tapi apa yang dikatakan Fandy itu juga tidak salah.


"Kenapa diam? Kenapa tidak menjawabnya dengan percaya diri?"


Fandy bangkit berdiri, berjalan mendekati Syera yang terdiam. Fandy berlutut di hadapan Syera sambil menggenggam kedua tangan Syera. Dilihatnya wajah Syera yang tak mau menatapanya.


"Syera, dengarkan aku. Kali ini saja tolong dengar dan buka hati kamu. Aku sayang dan cinta sama kamu. Aku nggak ingin kamu terluka, aku nggak ingin kamu sedih dan menangis karena perkataan pedas mama Mila. Aku tahu seperti apa mama Mila, dia nggak akan membiarkan kamu bisa bersama Leo."


"Tapi aku sangat mencintainya, kak?"


"Tapi-"


"Apa kamu setuju?" tanya Fandy menyela ucapan Syera.


"Kak, tolong jangan seperti ini. Jangan paksa aku," mohon Syera.


"Kamu setuju denganku kan? Hanya ada aku dan kamu, hanya ada kita berdua. Tidak usah pikirkan dan pedulikan yang lainnya. Bagaimana?"


"Syera nggak bisa, itu nggak mungkin, kak."


Fandy sudah mencoba bicara dengan lembut tapi hasilnya tetap juga sama. Ia melepas tangan Syera dan berjalan dekat jendela, menatap keluar.


"Kalau begitu tidak ada cara lain lagi. Kita akan melakukannya segera," ucap Fandy setelah beberapa saat berpikir.


"Apa kak Fandy akan membawa aku pergi lagi seperti satu tahun lalu? Negara mana lagi tujuan kakak membawaku? Sejauh apa tempat itu?"

__ADS_1


Syera menangis membayangkan dia akan pergi lagi jauh dari Leo untuk kedua kalinya.


"Aku nggak akan bawa kamu pergi lagi, kita akan tetap disini."


Sesaat Syera merasa lega, apa yang ditakutkannya tidak akan terjadi. Akan tetapi tidak mungkin hanya itu saja, Fandy tidak akan semudah itu melepasnya.


"Kita akan segera melakukannya. Kita akan menikah disini."


"Apa?"


"Aku sudah mempersiapkannya, hanya waktunya saja yang dipercepat. Kita akan menikah dan persiapkan dirimu. Kamu hanya perlu menyiapkan dirimu tanpa memikirkan lainnya."


"Enggak. Kak Fandy pasti lagi bercanda, iyakan?"


"Apa menurutmu aku sedang bercanda? Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan ucapanku saat ini. Aku tidak mungkin bercanda akan hal besar seperti ini!" tegas Fandy.


"Aku nggak bisa!" tolak Syera.


"Jika alasannya karena Leo, aku tidak perduli. Sudah cukup aku menunggu selama ini."


"Bukan hanya karena kak Leo tapi juga karena diriku sendiri. Aku nggak bisa nikah dengan kak Fandy, itu tidak mungkin."


"Kita akan segera menikah dan tidak ada alasan lain untukmu bisa lepas dariku saat ini."


Fandy meninggalkan Syera dan pergi ke kamarnya. Beberapa bulan terakhir Fandy sudah berencana untuk melamar Syera dan menikahinya di negara tersebut. Fandy bahkan sudah mengurus semua administrasinya tanpa sepengetahuan Syera. Ia berpikir Syera tidak akan bisa menolaknya disaat mereka sudah tinggal dan hidup berdua setahun ini tanpa Leo. Sama sepertinya, Syera juga tidak pernah membahas tentang Leo selama ini.


Syera menarik panjang nafasnya dan menyusul Fandy ke kamarnya. Ia tidak peduli, ia hanya ingin bahagia bersama pria yang dicintainya, yaitu Leo. Syera menguatkan kakinya saat melangkah memasuki kamar Fandy yang dalam keadaan setengah terbuka.


"Aku nggak bisa dan nggak akan nikah dengan kak Fandy."


Fandy yang sedang mencari sesuatu dalam laci meja menoleh pada Syera yang sudah berdiri di dekatnya.


"Sudahlah, aku nggak ingin berdebat denganmu. Kembali ke kamarmu dan istirahat," perintah Fandy.


"Aku sudah melakukannya dengan kak Leo. Apa yang harusnya hanya dilakukan sepasang suami-istri sudah kami lakukan."


Syera menekankan setiap kata yang diucapkannya. Ia ingin Fandy tahu jika ia tidak sedang main-main dengan apa yang ia katakan.


"Apa kamu tidak punya alasan lain selain itu? Apa kamu pikir aku akan percaya ucapanmu? Seharusnya kamu mencari alasan yang lebih masuk akal, bukan alasan yang sangat menjengkelkan dan menjijikkan seperti itu. Kamu bukan perempuan murahan yang akan dengan mudah memberi tubuhmu pada siapapun dan termasuk pada Leo."

__ADS_1


Syera tidak mempedulikan perkataan Fandy, ia menarik lengan Fandy agar menatap wajahnya.


"Lihat dan perhatikan dengan jelas!" ucap Syera mulai membuka kancing mantelnya.


__ADS_2