Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Isi Kotak Dalam Laci


__ADS_3

Semakin hari sepertinya Leo semakin ketergantungan akan Syera. Sejak ada Syera Leo lebih memilih masakan rumahan yang dibuat Syera. Segala keperluan Leo mulai dari makanan, pakaian dan keperluan lainnya yang menyangkut kepentingan pribadinya semua Syera yang mengurusnya. Leo semakin merasa nyaman dan terbiasa tinggal dengan Syera.


Syera sudah seperti seorang ibu yang merangkap jadi pelayan Leo. Untuk hal-hal kecil saja terkadang harus Syera yang melakukannya untuk Leo. Yang awalnya Syera tidak bisa menyentuh apapun barang milik pribadi Leo kini justru harus Syera yang menanganinya.


Setiap pagi Syera bagaikan berpacu dengan waktu antara menyiapkan sarapan, mengurus keperluan Leo ke kantor dan keperluannya sendiri ke kampus.


Tak jarang Syera menggerutu tapi sayangnya hanya dapat ia lakukan dalam hati. Bukannya tidak senang saat melakukan semuanya hanya saja semakin lama Leo sudah seperti anak kecil yang dari bangun sampai tidur harus diperhatikan dan diurus keperluannya.


"Apa kau melihat ponselku?"


Syera menggelengkan kepala. Dia sibuk mengerjakan tugas kuliahnya yang akan dikumpulkan besok pagi.


"Tadi aku meletakkannya di atas tempat tidur tapi sudah tidak ada di sana sekarang."


"Aku nggak tahu, kak. Coba cari di tempat lain mungkin kak Leo lupa naruhnya dimana."


Seperti yang dikatakan Syera, Leo mencari ponselnya disekitar ruangan. Leo bolak-balik mencari ponselnya di sofa, meja dan ditempat tidur tapi tak ketemu juga. Dia juga melihat ke balkon siapa tahu lupa membawa masuk saat bersantai tadi.


Leo kembali menghampiri Syera ke depan pintu kamarnya yang terbuka.


"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Leo. "Aku sudah cari tapi tidak ketemu."


Syera mencoba menghubungi ponsel Leo tapi tidak masuk.


"Apa tadi baterai ponselnya habis?"


"Sepertinya," jawab Leo.


Pantas saja beberapa kali Syera menghubungi nomor Leo ponsel itu tidak berdering untuk menunjukkan keberadaanya dimana. Syera melanjutkan mengerjakan tugasnya. Syera yakin jika ponsel itu ada disekitar Leo hanya saja dia tidak mencarinya dengan benar.


Tadinya Syera mengerjakan tugasnya diruang tengah tapi saat Leo datang justru mengganggu konsentrasi Syera karena Leo menanyakan ini dan itu. Alhasil Syera memilih pindah ke kamarnya.


"Kenapa kau belum mencarinya? Aku butuh ponselku untuk menghubungi Bima."


"Sebentar, kak. Syera sudah hampir selesai, tanggung kalau ditinggal."


"Aku tidak peduli soal itu. Apa kau yakin tidak akan mencarinya sekarang?"

__ADS_1


Tidak ingin membangunkan singa yang tidur akhirnya Syera menghentikan jari-jarinya yang sedari tadi menari-nari pada keyboard laptop dan turun dari tempat tidurnya.


Tempat pertama yang dituju Syera adalah kamar karena tadi Leo mengatakan meletakkan ponselnya di atas tepat tidur, itu artinya ponsel itu kemungkinan besar ada di dalam kamar Leo.


Bantal, selimut dan seprei semuanya diraba Syera tapi tidak menemukannya. Syera menelisik semua sudut kamar dan dibawah tempat tidur tapi juga tidak ada.


"Apa kakak yakin tadi meletakkannya di atas tempat tidur?"


"Em," jawab Leo santai yang justru rebahan di tempat tidur Syera.


Syera membuka satu persatu laci meja di kamar Leo, siapa tahu Leo tidak sadar dan memasukkannya kesalah satu laci itu. Syera berkacak pinggang dan tertuju pada lemari.


"Mana mungkin bisa sampai kesini," ucap Syera sambil tangannya membuka lemari pakaian Leo. "Kenapa dia nggak bisa ngambil pakaian dengan rapi," ucap Syera kesal melihat pakaian Leo yang disusunnya rapi berubah seperti kapal pecah.


Saat akan menutup lemari Syera melihat laci paling bawah yang selalu terkunci dan tidak pernah Syera buka. Tidak seperti biasanya, kali ini ada kunci yang menggelantung di laci itu dan Leo pasti lupa mencabutnya.


Syera penasaran dengan isi laci itu. Tak sadar Syera sudah membukanya dan melihat beberapa map dan sebuah kotak di dalamnya.


Takut ketahuan Syera melirik ke arah pintu.


Syera kaget mendengar suara Leo yang menanyainya.


"Be-belum, kak. Ini aku lagi nyariin."


Tangan Syera langsung mengambil kotak dalam laci lemari dan membukanya. Kening Syera mengkerut melihat isi kotak ditangannya.


Kenapa ada foto-foto ini disini?


Syera heran kenapa Leo punya foto-fotonya dan menyimpannya. Di dalam kotak itu Syera menemukan ada beberapa fotonya semasa masih SMP dan SMA. Syera tahu itu semua foto dirinya tapi dia tidak merasa pernah di foto seperti yang dia lihat saat ini apalagi sampai Leo memilikinya dan saat itu Leo juga masih ada di luar negeri.


Tidak ingin ketahuan, Syera memasukkan kembali foto-foto itu kedalam kotak dan mengembalikannya ke dalam laci.


Tak menemukan ponsel Leo di kamar Syera pun mencarinya disekitar ruang tengah.


Pasti disini.


Syera merapikan berkas-berkas pekerjaan Leo yang menumpuk di atas meja. Mata Syera terpejam dengan kepala menengadah ke atas, menatap malas pada pada langit-langit berwarna putih. Syera menemukan ponsel Leo ada diantara tumpukan berkas yang berantakan.

__ADS_1


"Ini. Ada dibawah tumpukan berkas kerjaan kak Leo di atas meja," menyerahkan ponsel pada Leo.


"Mana mungkin, aku sudah bolak-balik mencarinya tadi di sana tapi tidak ketemu."


"Hmm... Ya udah, kak. Yang penting ponselnya ketemu. Aku mau lanjut kerjain tugas kuliah lagi, jadi kak Leo mendingan keluar dari disini."


"Kau mengusirku?" protes Leo.


"Bukan, kak. Bukan gitu maksudku," kilah Syera.


"Ya sudah terserahmu saja. Aku bingung siapa yang tuan rumahnya disini," sungut Leo.


Syera lebih milih diam dari pada harus berdebat dengan Leo yang dia tahu tidak akan menang dan tidak ada ujungnya. Tugas yang belum selesai kembali di kerjakan Syera dan mengabaikan Leo yang masih rebahan di dekat laptopnya.


"Bukankah baterainya habis? Apa kau akan membiarkan ponselku terus mati?"


Jari-jari Syera berhenti mengetik mendengar Leo. Andai saja Syera punya kekuatan dia pasti akan menghilang. Tidak akan ada gunanya jika Syera membantah semua yang dikatakan Leo adalah aturan yang harus dilakukan dan dituruti.


Syera mengambil ponsel Leo dan mengisi dayanya. Jika semakin hari Leo semakin bergantung pada Syera maka semakin hari Syera semakin sulit untuk menolak setiap apa yang dikatakan dan diinginkan Leo.


"Kak, tugas Syera sudah selesai, aku ngantuk dan mau istirahat."


"Apa hubungannya denganku, kalau mau tidur ya tidur saja."


"Masalahnya kak Leo masih ada di kamarku. Apa aku harus mengatakannya dengan jelas?"


"Tidur saja, aku nggak akan ganggu. Lagian baterai ponselku juga belum penuh."


Kalau tidak mengingat Leo adalah kakaknya dan pemilik tempat dia tinggal saat ini Syera mungkin sudah mengumpatinya. Bagaimanapun juga Syera mempunyai batas kesabaran dan kesabarannya selalu diuji setiap hari semenjak tinggal bersama Leo.


Terserah apa yang dikatakan Leo. Syera sudah mengantuk, dia menarik selimut dan menutupi setengah badannya. Berhadapan dengan layar laptop membuat mata Syera perih dan lelah, tak lama Syera pun tidur.


Perlahan Leo bangkit dari tepi ranjang setelah mendengar suara nafas teratur Syera, pertanda gadis itu sudah terlelap. Leo mendekat dan berhenti dekat wajahnya, ia berjongkok menghadap wajah Syera dan memandanginya.


"Aku pasti sudah gila, iyakan?"


Leo berbalik membelakangi wajah Syera dan duduk dilantai. Ia bersandar pada tempat tidur. Pandangan Leo terlihat kosong dan tiba-tiba tersenyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2