
Satu persatu Syera mulai mengeluarkan isi dari tas gunung yang begitu padat. Niatnya yang ingin pergi kerja malah harus membongkar dan membereskan isi tas gunung milik Leo.
Apa aku juga akan seperti gadis dalam novel fiksi yang disuruh mengerjakan ini-itu dan kehidupanku diambil alih oleh dia yang lebih berkuasa? Tapi aku kan adiknya, ini bukan kisah antara sepasang kekasih yang tadinya saling membenci dan ujungnya menjadi saling cinta?
Sambil mengeluarkan isi tas gunung Syera terus memperhatikan jam di dinding. Setidaknya dia bisa bekerja setengah hari, mulai siang hingga malam. Syera yakin ibu Linda dan karyawan lainnya akan mengerti jika Syera menjelaskannya nanti.
Kenapa dia belum pergi juga? Apa dia tidak akan pergi kerja? Lebih cepat dia pergi maka akan lebih baik.
"Ini apa?" gumam Syera saat tangannya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas. Penasaran dengan apa isi kotak tersebut Syera lalu membukanya.
"Cantik," puji Syera melihat isi kotak."
Syera melirik ke arah Leo yang sibuk dengan laptopnya di sofa, jaga-jaga kalau ia ketahuan akan Leo karena telah membuka isi kotak miliknya.
Di dalam kotak kayu berdiameter dua puluh sentimeter itu Syera menemukan tanaman kaktus mini dalam pot kecil. Syera sangat menyukai bentuk kaktus itu, ia yakin Leo pasti membawanya dari gunung.
"Pasti untuk pacaranya," tebak Syera. Mana mungkin pria seperti Leo menyukai hal seperti itu. Kalau dia mau dia pasti bisa beli sendiri dan menyuruh orang mengantarkannya, itulah yang dipikirkan Syera.
"Apa kau suka?"
Pertanyaan Leo yang tiba-tiba membuat Syera sontak terkejut. Dia ketahuan oleh Leo. Buru-buru Syera menutupnya kembali namun karena gugup dan kurang hati-hati salah satu jarinya terkena duri kaktus dan berdarah. Meski ukuran kaktus itu kecil tapi durinya yang halus sangatlah tajam.
"Dasar ceroboh. Kenapa tidak sekalian saja kau genggam kaktus itu?" ketus Leo.
Kendati demikian Leo mengambil sebuah plester dan menempelkannya pada jari telunjuk Syera yang mengeluarkan darah.
"Cepat selesaikan. Jangan manja, bukan luka besar."
Apa benar dia kakakku? Kak Fandy saja tidak pernah menyuruh-nyuruhku. Dan apa itu, kenapa justru berbaring? Bukankah harusnya dia pergi kerja?
Baru saja berbaring di ranjang Leo sudah tidur, itu terdengar dari deru nafasnya yang seperti orang lagi mengorok. Kedua kakinya saja masih menggelantung setengahnya.
Semua pakaian kotor Syera masukkan dalam mesin cuci dan menjemurnya pada jemuran kecil di balkon.
Sudah pukul sebelas siang Syera harus berangkat kerja dan apa yang disuruh Leo sudah selesai ia kerjakan, terkecuali mengenai tanaman kaktus itu. Karena tidak tahu Syera meletakkannya di atas meja dekat tempat tidur Leo.
Sebelum pergi Syera terlebih dahulu merapikan rambut dan pakaiannya di kamar. Rapi dan bersih adalah dua modal utama yang paling penting bagi Syera dan yang ketiga adalah pintar.
"Waktunya berangkat kerja," ucap Syera.
Hakh!
Keluar dari kamar Syera sudah mendapati kembali Leo di ruang tengah. Duduk di sofa sambil jari-jarinya menari di atas keyboard laptop.
"Aku haus," ucap Leo namun matanya fokus pada laptop.
Syera mengambil air minum dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
"Kak, aku-"
"Apa sudah selesai?" memotong ucapan Syera.
"Sudah, kak. Syera mau-"
"Apa kau lapar?" tanya Leo memotong ucapan Syera lagi.
"Bukan itu, kak. Syera harus pergi kerja sekarang."
Perkataan Syera sama sekali tidak di gubris oleh Leo. Ia malah asik dengan ponselnya kini. Sesekali ia menguap dan menggaruk dagunya.
"Duduklah. Tiga puluh menit lagi," ucap Leo.
Tiga puluh menit lagi? Oke, baiklah. Setidaknya aku bisa pergi bekerja.
Syera lebih memilih masuk kamar dan menunggu di sana. Syera mengamati semua isi kamar barunya. Sejak tiba semalam dia sama sekali tidak memperhatikan apa saja yang ada didalamnya.
Fasilitas di dalam kamar Syera cukup lengkap. Hanya saja tidak ada kamar mandi di dalamnya. Syera yakin jika kamar Leo yang memiliki kamar mandi di dalamnya.
Seketika Syera tergelitik saat melihat sebuah foto yang sangat dikenalnya. Dalam foto itu Leo tengah tersenyum berpose layaknya seorang model dengan kemeja putih tanpa dikancing.
Foto itu diambil saat Leo baru sebulan menjadi seorang mahasiswa dulunya. Saat itu Leo menemani salah satu teman semasa SMA-nya untuk ikut casting iklan namun pihak penanggung jawab malah terpikat dengan Leo.
Menurut mereka Leo sangat tampan dan sesuai dengan produk yang akan mereka pasarkan. Jadilah Leo sebagai model untuk mempromosikan kemeja sedangkan temannya tadi menjadi model iklan salah satu minuman.
Tiga puluh menit telah berlalu, Syera keluar dari kamar dan masih melihat Leo berkutat dengan laptopnya.
Seseorang menekan bell dan Syera berlari membukanya.
"Syera?"
"Kak Baim?"
Keduanya saling terkejut. Baim yang merupakan rekan kerja Syera yang bertugas sebagai pengirim makanan di restoran tempat mereka kerja datang untuk mengantar pesanan.
"Kak Baim ngapain?"
"Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain disini dan nggak masuk kerja? Kalau aku jelas mau ngantar pesanan dan alamatnya disini," jelas Bima. " Terus kamu ngapain disini? Jangan-jangan kamu itu...??"
Mata Baim melihat Syera penuh curiga. Setahu semua karyawan Syera anak yatim piatu dan tinggal di rumah saudaranya. Mendapati Syera sekarang keluar dari salah satu apartemen mewah cukup membuat Baim curiga.
"Kamu pasti simpanan om-om ya?"
"Hus! Ngomong apa sih, kak. Kalau ada yang dengar bisa salah paham nanti. Aku-" belum sempat Syera menjelaskan suara dari dalam memanggilnya."
"Syera!" panggil Leo karena Syera terlalu lama.
__ADS_1
Suara dari dalam semakin membuat Baim melotot pada Syera. Penasaran dengan siapa Syera di dalam Baim langsung menerobos masuk.
"Syera?" panggil Leo lagi.
Yang dipanggil Syera namun yang muncul justru pria pengantar makanan dan disusul Syera dari belakang.
"Kenapa kau masuk?" tanya Leo tak suka melihat Baim ikut masuk ke dalam apartemennya. Selama ini hanya kedua orangtuanya, Bima, Fandy, seorang pelayanan untuk bersih-bersih dan yang terakhir Syera, hanya mereka yang diizinkan Leo masuk ke sana.
Cara Leo menatapnya membuat Baim merinding. Sepertinya keputusannya untuk masuk ke dalam sangatlah salah tapi rasa penasarannya sangat besar.
"Apa restoran tempatmu bekerja tidak punya aturan? Apa kau sudah bosan bekerja?"
"Maaf, pak. Saya hanya mau memastikan pesanannya sampai pada pemiliknya," jawab Baim menyerahkan bungkusan ditangannya pada Syera.
"Kalau sudah selesai langsung keluar," ucap Leo mengingatkan.
"Baik, pak. Saya permisi."
"Apa kau akan berdiri di sana sampai makanan itu dingin?" menegur Syera.
"I-iya, kak. Maaf."
Sebelum keluar Bima mendengar kata 'kak' yang disebutkan Syera. Baim melirik Syera ingin diyakinkan jika pria itu benar adalah kakaknya. Syera yang mengerti lirikan Baim menganggukkan kepalanya.
"Dia kakak aku," ucap Syera dengan gerakan bibir tanpa membuat suara.
"Apa kalian berdua tidak dengar apa yang aku katakan tadi?" bentak Leo.
Baik Syera maupun Baim sama-sama kaget mendengar bentakan Leo. Baim langsung pergi keluar sedangkan Syera kembali menata pesanan yang baru diantar ke dalam piring.
"Makanannya sudah siap, kak."
Syera menatap semua makanan di meja. Ternyata Leo memesan makan siang mereka dari restoran tempat Syera bekerja. Leo yang sebenarnya sudah sangat lapar langsung mengeksekusi makanan di depan matanya.
Berbeda dengan Leo, gadis yang duduk di depannya itu seperti tidak berselera. Syera memikirkan beberapa hal, ia ingin menanyakan dan mengatakan isi kepalanya pada Leo.
"Kenapa? Apa kau tidak suka dengan makanannya?"
"Enggak, kak. Aku suka."
Tidak bisa ditunggu lagi, akhirnya Syera memberanikan diri untuk berbicara.
"Selesai makan Syera pergi kerja ya, kak. Aku harus kerja, soalnya semalam aku sudah izin nggak masuk kerja. Syera nggak mungkin bolong dua hari berturut-turut."
"Apa keluarga Suntama miskin dan tidak sanggup memberimu makan?"
"Bukan gitu kak, Syera harus kerja buat masa depan Syera nanti."
__ADS_1
"Masa depanmu ada di tanganku dan di tangan Tuhan. Lanjutkan saja kuliahmu."
"Enggak, kak. Syera mau kerja aja."