Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Benar-Benar Payah!


__ADS_3

Slurpp.....


Terdengar bunyi seruputan yang begitu menggugah selera bagi para penikmatnya. Syera tersenyum menikmati mie instan kaldu miliknya.


Tak lepas mata Fandy memandangi wajah Syera menikmati hidangan sederhana itu dengan menopang dagunya menggunakan kedua tangan.


"Hanya mie instan. Apa seenak itu?"


"Enak, kak. Coba aja."


Fandy tidak ingat lagi kapan saat terakhir kali ia mengkonsumsi makanan cepat saji itu. Dia hanya ingat saat itu ia bolak-balik ke Puskesmas dibawa pengasuh panti setelah mengkonsumsinya.


Sudah cukup lama namun sekalipun sejak saat itu Fandy tidak pernah memakannya. Hingga saat ini dimana ia melihat Syera begitu menikmati hidangan itu membuatnya seperti ingin mencicipinya.


Ting-Nong...


Ting-Nong...


"Biar aku aja, kak." Syera berlari akan membuka pintu sambil mengunyah.


Klek!


"Tuan?"


Syera termangu melihat Leo berdiri dihadapannya setelah pintu terbuka. Belum lagi saat maniknya melihat kedua tangan pria itu dengan bungkusan.


"Apa ekspresimu harus seperti itu setiap kali melihatku? Seharusnya akulah yang terkejut karena kau masih saja berada di sini."


Leo melongos begitu saja ke dalam tanpa izin terlebih dahulu.


"Ada apa?" tak menyangka akan kehadiran Leo.


"Kenapa, apa aku mengganggu kegiatan kalian berdua?"


Leo meletakkan semua kantong makanan diatas meja dimana terdapat dua mangkok mie instan. Ia mencebikkan bibirnya dan membuka satu persatu bungkus makanan.


"Aku membelinya karenamu jadi Jika ada yang harus bertanggung jawab untuk menghabiskannya maka kau adalah orangnya," tunjuk Leo pada Fandy.


"Sampai kapan kau akan menampungnya disini?" melirik pada Syera. "Lalu ini, sejak kapan kau memakan makanan instan ini. Seingatku kau paling anti dengan ini. Tidak mungkin kau memakannya."


Terlalu lelah bagi Fandy untuk menanggapi ucapan Leo. Mata Fandy tertuju pada Syera yang tak bergerak di dekat pintu. Ia yakin jika Syera merasa tidak nyaman setiap kali bertemu Leo.


"Apa kamu hanya akan diam disana, ayo lanjutkan makanmu!" perintah Fandy pada Syera.


Perlahan Syera melangkah dan lewat dari hadapan Leo. Syera kembali pada posisi semula, duduk berhadapan dengan Fandy. Leo merasa jika keberadaan dirinya tidak anggap sama sekali. Ia kemudian menarik kursi di sebelah Syera dan duduk memandangi keduanya bergantian.


"Apa kamu mau makan di kamar?" tanya Fandy agar Syera merasa nyaman.

__ADS_1


Syera memaksakan senyumnya sambil menggelengkan kepala menolak ide Fandy. Rasa lapar Syera dan liur yang begitu mendamba mie instan yang baru dua sendok ia makan hilang seketika. Selera makannya tak lagi ada, ia hanya berharap dapat menghilang saat itu juga.


Fandy berdiri dan berjalan mengitari meja makan. Dipegangnya sebelah tangan Syera dan menuntunnya untuk duduk disamping kursinya. Kemudian Fandy menarik mangkok milik Syera dan mendekatkannya pada gadis itu.


"Makanlah sedikit lagi," ucap Fandy membenarkan rambut panjang Syera yang hampir mengenai mangkoknya. Syera langsung mencepol asal rambutnya keatas dengan ikat rambut yang ada di pergelangan tangannya. Memperlihatkan leher jenjang yang putih dan mulus serta anakan rambut Syera yang terjatuh.


"Kamu seperti anak kecil saja kalau makan," menggunakan jempolnya dengan lembut Fandy mengelap bibir Syera yang berminyak saat tadi menyeruput kuah mie instan.


Grasak-grusuk Leo membuka dan mengeluarkan makanan yang tadi ia bawa. Sudah cukup baginya menyaksikan pemandangan yang memuakkan tersebut dan suara kantong plastik itu berhasil mengalihkan perhatian Syera dan Fandy pada Leo.


Setelahnya Leo berjalan kearah pintu dan menarik begitu kuat pintu saat menutup hingga menimbulkan bunyi yang begitu mengganggu pendengaran.


"Brengsek! Apa mereka tidak mengganggap aku sama sekali? Apa mereka lupa kalau mereka kakak adik?" geram Leo.


..........


Pukul tiga pagi Leo terjaga dari tidurnya. Bayangan kedekatan Fandy dan Syera sejak semalam entah mengapa selalu terlintas di pikirannya.


Matanya yang tak lagi dapat terpejam memuat Leo memutuskan berolahraga dengan berlari di area apartemen sampai terang hari.


Leo kembali ke apartemen dan berkemas berangkat kerja. Kegiatannya hari ini begitu padat hingga melupakan sarapan pagi bahkan makan siangnya pun sudah terlambat.


Hari sudah sore namun Leo masih berada di kantornya. Ia harus memastikan pertemuannya dengan perusahaan Y malam ini tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun.


"Sebaiknya anda istirahat sebentar, tuan. Jam tujuh nanti anda akan menemui pemimpin perusahaan Y bersama pak Fandy."


"Kita berangkat sekarang," ucap Leo meninggalkan ruangannya.


Tiba di ruangan VIP salah satu restoran ternama, Leo dan Bima sudah mendapati Fandy di sana. Fandy sudah terlebih dahulu ke sana takut pimpinan perusahaan Y tiba lebih awal dari mereka.


Selang lima belas menit orang yang ditunggu kedatangannya muncul dengan seseorang yang tak lain adalah sekretarisnya.


Hanya butuh tiga puluh menit bagi mereka untuk membahas kontrak kerjasama. Tidak ada kendala ataupun masalah, semua berjalan dengan lancar sesuai apa yang diharapkan. Hanya saja pimpinan perusahaan Y lebih banyak bicara dengan Fandy dari pada dengan Leo.


Pembahasan kerjasama selesai dan penandatanganan kontrak pun telah dilakukan. Bima menekan bel di atas meja dan tak lama para pelayan restoran masuk menyajikan berbagai hidangan. Makan malam mereka diselingi dengan pembicaraan diluar pekerjaan.


"Apa kau sudah punya calon istri atau kekasih?"


Sejenak Fandy terdiam mendengar pertanyaan pak Surya, pria berusia lebih dari setengah abad itu yang juga merupakan pimpinan perusahaan Y.


Leo hanya mengikuti arus pembicaraan keduanya sama dengan dua sekretaris yang berada di ruangan itu.


"Apa aku bisa memperkenalkan seorang gadis padamu? Kau tidak perlu khawatir, tentunya aku akan memperkenalkan gadis yang baik dan cantik untukmu. Bagaimana?"


Fandy tidak tahu harus menjawab seperti apa. Ia hanya mencoba untuk berkata jujur seperti apa adanya.


"Aku tidak mempunyai kekasih atau calon istri tapi ada seorang gadis yang aku sukai."

__ADS_1


Terlihat ada gurat kekecewaan di wajah pak Surya namun segera ia tutupi.


"Benarkah? Apa kau sangat menyukainya?" tanya pak Surya ingin memastikan.


Fandy mengangguk dan tak menyadari jika sedari tadi sepasang mata yang tak lain milik Leo tak melepas tatapan darinya. Leo khawatir jika kontrak kerjasama yang baru ditanda tangani batal seketika.


"Baiklah. Meski begitu aku tetap akan memperkenalkan padamu gadis yang aku maksud. Setidaknya bertemanlah dengannya karena aku sangat berharap padamu."


Pembicaraan mereka masih berlanjut sambil menikmati hidangan bahkan minuman yang tiba-tiba di pesan pak Surya.


Baik Leo mau pun Fandy tidak enak hati menolak apalagi pak Surya terlihat begitu menikmati makan malam tersebut.


Leo melirik Fandy yang sudah tampak mabuk. Meski tidak memiliki hubungan yang begitu baik dengan Fandy bukan berarti Leo tidak tahu apa-apa mengenai adik angkatnya itu.


Tidak hanya mie instan, minuman beralkohol pun tak disukai Fandy. Konsentrasi Fandy pada alkohol sangatlah rendah. Berbeda dengan Leo, meski bukan seorang peminum namun Leo tidak seburuk Fandy.


Merasa tak enak hati Leo dan Fandy terus meneguk minuman yang dituangkan pak Surya ke gelas mereka masing-masing. Leo tak habis pikir karena meski sudah minum banyak, pak Surya masih terlihat segar dan baik-baik saja.


"Hahaha... Anak muda zaman sekarang sungguh payah. Baru satu botol saja sudah tidak berdaya. Hah...."


Fandy mengangguk-anggukan kepalanya meminta maaf sedangkan Leo begitu geram melihat Fandy sudah seperti orang bodoh.


Fandy meraih gelasnya dan meneguk habis isinya. Kepalanya pusing dan seolah ia berada di ruangan yang berputar-putar.


Bruk!


Fandy ambruk seketika. Ia tak lagi dapat menahan tubuhnya untuk tetap duduk. Ia sudah kehabisan tenaga dan keseimbangan. Kesadarannya sudah menghilang. Untung saja posisi duduk mereka lesehan dan tempat duduk mereka beralaskan bantalan kecil.


"Aku pikir kalian berdua akan menjadi partner minumku malam ini. Ternyata aku salah. Untuk selanjutnya kalian dapat menghubungi sekretarisku jika perlu sesuatu."


Pak Surya merapikan pakaiannya sambil tertawa menuju pintu. Bima dengan sigap membuka pintu untuk pak Surya dan sekretarisnya. Sebelum benar-benar pergi pak Surya menoleh kearah Fandy yang tergeletak di atas lantai beralaskan karpet.


Pandangannya berganti pada Leo yang mulai pusing terlihat dengan cara ia memijat-mijat kening dan tengkuknya.


"Pulanglah. Jangan sampai kau bernasib sama dengan adikmu itu. Benar-benar payah!"


Pak Surya berlalu meninggalkan mereka. Ia tidak percaya dan habis pikir dengan kedua kakak adik itu.


"Kalau kau masih hidup, kau pasti akan tertawa melihat mereka berdua saat ini. Kau adalah yang terhebat. Aku merindukanmu Bayu," gumam Surya sejenak mengingat kenangannya bersama sahabatnya Bayu.


Setelah kepergian pak Surya Bima langsung menghampiri Leo.


"Apa yang harus saya lakukan dengan pak Fandy, tuan?" tanya Bima menatap Fandy yang tergelatak.


Sejenak Leo berpikir dan yang terlintas dipikirannya hanya satu orang.


"Hubungi dia saja."

__ADS_1


__ADS_2