Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Pembicaraan Serius


__ADS_3

"Apa anda yakin datang sendirian kemari tanpa seorangpun yang tahu?"


"Saya yakin, saya tidak akan mengulangi lagi kecerobohan sebelumnya."


"Kalau begitu katakan anda mau apa? Kita tidak boleh terlalu lama, itu tidak baik untuk anda."


"Putriku. Saya ingin bertemu dengan putriku. Saya sangat merindukannya, sudah terlalu lama saya menahan rasa rindu untuk bisa bertemu dan memeluknya," lirih seorang wanita bertopi pantai dengan kaca mata hitam.


"Itu tidak mungkin. Lupakan saja dia dan jalani kehidupan anda seperti biasanya."


"Tidak. Saya harus bertemu putriku. Saya hanya ingin bertemu dengannya, saya tidak akan mengatakan apa-apa, termasuk memberitahunya bahwa saya ini ibunya."


"Tapi-"


"Tolong, saya mohon," pinta wanita itu mengiba.


Wanita itu menangis, memohon agar permintaanya dikabulkan. Sudah bertahun dia memendam rasa rindu untuk bisa bertemu dan memeluk putri satu-satunya yang ia lahirkan dua puluh tahun lebih yang lalu.


Tujuh tahun yang lalu wanita itu sempat merasakan kebahagiaan saat tahu bahwa ia akan bertemu dengan putrinya. Akan tetapi sebelum bertemu sebuah kecelakaan terjadi. Laki-laki yang akan membawanya menemui putrinya meninggal saat kecelakaan itu terjadi.


Harapannya pupus terlebih saat laki-laki yang bersamanya di dalam mobil meninggal. Wanita itu mengutuki dirinya, menganggap dia yang menjadi penyebab kematian laki-laki yang pernah sangat ia cintai sebelum akhirnya mereka berpisah karena tidak mendapat restu.


Wanita itu adalah Wulandari, wanita yang dulunya mengisi hati Bayu Suntama. Wanita yang harus ditinggalkan Bayu demi menjalankan keputusan orangtuanya untuk menikahi wanita lain bernama Mila Wijaya.


Perpisahan karena tidak mendapat restu tidaklah mudah disaat kedua hati mereka saling mencintai. Hanya waktu yang dapat menyembuhkan luka di hati mereka.


Hingga suatu saat setelah Bayu menikah dan memiliki anak mereka kembali dipertemukan.


"Apa anda baik-baik saja?" tanya pria yang duduk di depan Wulandari.


Wulandari tersadar dari lamunannya. Ingatan masa lalu itu tidak akan pernah dapat ia lupakan.

__ADS_1


"Apa anda tahu, saya sudah menutup rapat mengenai hal ini. Sudah banyak kebohongan yang saya lakukan, kalau bukan karena pak Bayu begitu baik pada saya dan keluarga saya, tentunya saya tidak mau ikut campur dengan urusan anda. Biarlah tetap seperti ini, saya yakin putri anda baik-baik saja bersama keluarga Suntama."


"Tolong, saya benar-benar merindukannya, saya wanita yang sudah melahirkannya, saya ibunya."


"Dia hanya tahu satu ibu dan itu Jelita. Dia hanya tahu jika wanita yang dipanggilnya dengan sebutan mami Jelita adalah ibunya. Tidak ada yang lain. Satu lagi, Syera sudah tahu jika Jelita bukan yang melahirkannya tapi itu tidak akan merubah apapun. Mami Jelita adalah ibunya, wanita yang sudah membesarkannya. Itu sudah cukup untuk Syera."


"Sebaiknya anda pergi. Seharusnya anda tidak yakin jika tidak akan ketahuan. Saya masih akan disini sebentar lagi."


Wulandari menjatuhkan ponselnya kelantai, saat membungkuk akan mengambil ponselnya ia melihat sekilas kebelakang dan benar saja, dua pria berpakaian serba hitam yang hampir setiap hari mengawasinya dari jauh sedang duduk di kursi paling belakang restoran Jepang tempat ia berada sekarang.


"Kalau ingin putrimu hidup seperti gadis seusianya dan menikmati masa mudanya dengan baik maka berhati-hatilah saat bertindak."


Wulandari menghapus air matanya, ia tersenyum saat berjalan keluar dari restoran seperti tidak terjadi apa-apa padahal sebelumnya ia sangat sedih hingga menangis saat keinginannya begitu sulit untuk dilakukan.


Wanita itu berjalan begitu santai agar tidak menimbulkan kecurigaan pada dua pria yang selalu mengawasinya. Saat akan menyalakan mesin mobilnya ia teringat sesuatu, ia keluar dari mobilnya untuk kembali ke dalam restoran.


Pria yang tadi bersama Wulandari masih ada di sana dan sesekali melirik jam tangannya.


Wanita itu melambaikan tangannya diikuti langkah kakinya menuju meja pak Ferdy.


Ya. Pak Ferdy adalah pria yang tadi bersama Wulandari dan saat ini ia sedang membalas lambaian tangan wanita bernama Jelita yang akrab di panggil mami Jelita.


Pak Ferdy sedikit terkejut karena mami Jelita datang setengah jam lebih cepat. Untung saja pertemuannya dengan Wulandari sudah berakhir.


"Hahaha... Aku pikir aku yang datang deluan tapi ternyata pak Ferdy sudah ada di sini."


"Ah, tidak. Saya juga baru saja tiba," bohong pak Ferdy.


"Apa anda yakin?" melirik dua cangkir kopi di atas meja.


Pak Ferdy mengikuti arah lirikan mata mami Jelita dan dia mengerti apa yang dimaksud.

__ADS_1


"Oh, ini bekas pengunjung yang sebelumnya duduk di sini."


Mami Jelita mengedarkan pandangannya pada meja-meja yang kosong dengan ekspresi kecut.


"Aku lebih suka di sebelah sini, lebih gampang untuk memanggil pelayannya," bohong pak Ferdy lagi.


"Aku tidak tanya kenapa anda harus menjelaskannya pada saya."


Keduanya duduk dan memanggil pelayan untuk memesan makanan. Pak Ferdy dan mami Jelita terlihat begitu serius dengan pembicaraan mereka. Ekspresi mami Jelita juga terlihat terkejut saat pak Ferdy berbicara.


Tanpa sepengetahuan mereka Wulandari yang tadinya kembali ke restoran guna memesan makanan untuk ia bawa pulang mengurungkan niatnya saat melihat pak Ferdy dan mami Jelita. Meski hanya baru sekali bertemu namun Wulandari tidak akan pernah bisa lupa dengan wajah mami Jelita, wanita yang ia titipkan Syera padanya saat masih berusia beberapa bulan.


Wanita itu?


Wulandari duduk di luar restoran menunggu mami Jelita keluar. Sekitar satu jam mami Jelita berpisah dengan pak Ferdy dan meninggalkan restoran.


Mami Jelita tidak merasa ada yang aneh tapi tanpa ia sadari Wulandari


mengikuti taksi yang membawa mami Jelita.


Beberapa bulan yang lalu saat ia punya kesempatan Wulandari mengunjungi bar mami Jelita tapi ia kecewa karena kini bar itu sudah tidak lagi beroperasi. Wulandari kehilangan jejak Jelita dan kesempatan kali ini tidak akan ia sia-siakan. Ia tidak perduli dengan apapun lagi, ia hanya ingin bisa bertemu dengan Syera, putrinya.


Taksi yang membawa mami Jelita berhenti di depan sebuah kontrakan kecil. Selama ini setelah meninggalkan bar dan menyimpan barang-barangnya di tempat yang di sarankan salah satu teman Fandy, mami Jelita menyewa kontrakan kecil.


Karena sulit mendapatkan pekerjaan baru mami Jelita akhirnya menerima tawaran Fandy untuk bekerja di panti asuhan tempatnya dulu tinggal. Di panti asuhan mami Jelita melakukan apa saja yang bisa ia lakukan yang penting bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari.


Apa dia tinggal disini?


Melihat mami Jelita sudah masuk kedalam rumah ingin rasanya Wulandari menjumpainya namun mobil dibelakangnya yang ditumpangi dua pria yang mengawasinya, akhirnya membuat Wulandari mengurungkan niatnya dan akan datang lain hari namun secepatnya.


..........

__ADS_1


Setibanya Wulandari di rumah ia mengambil satu-satunya foto yang dia miliki saat bersama Syera kecil. Dia mengusap wajah putri kecilnya, tersenyum membayangkan jika tidak akan lama lagi untuknya bertemu dengan Syera, putrinya.


__ADS_2