Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Daebak!


__ADS_3

Bima terkesiap dengan kedatangan Leo. Setelah membuka pintu Leo langsung menyuruh Bima melakukan sesuatu saat itu juga.


"Apa anda yakin, tuan?" meyakinkan kembali apa yang dikatakan Leo.


"Apa aku pernah bercanda?"


"Maaf, tuan. Saya mengerti dan akan segera melakukannya."


Bima diam-diam melirik Leo yang tengah duduk menyandarkan kepalanya di kursi direktur utama. Ia yakin jika Leo pasti memiliki rencana dalam pikirannya. Leo bukanlah orang yang mudah mengubah keputusannya jika bukan karena ada hal penting lainnya.


"Tunggu apa lagi," mengingatkan Bima.


"Baik, tuan."


Segera Bima keluar untuk melakukan apa yang diminta Leo. Bima menuju ruangan personalia dan sekitar sepuluh menit ia keluar dari sana dengan sesuatu di tangannya. Langkahnya kemudian berlanjut kebagian sales.


Tidak ada yang tidak mengenal Bima selaku sekretaris Leo yang hampir sehari-harinya selalu bersama.


Semua karyawan dalam ruangan berdiri saat Bima berdiri di depan pintu mencari keberadaan seseorang. Ia berjalan mendekati meja paling ujung.


"Maaf saya mengganggu," ucap Bima ramah pada Fandy.


"Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Fandy langsung karena tak biasanya sekretaris Bima menemuinya.


"Saya tidak yakin," jawab Bima.


Bima meletakkan apa yang tadi ia bawa dari bagian personalia di atas meja Fandy. Keduanya beradu pandang disaksikan karyawan lainnya.


"Segera kemasi barang-barang anda dan kembali keruangan sebelumnya. Jika anda bingung dan ingin bertanya maka anda bisa langsung menanyakannya pada pak Leo," jelas Bima. "Kalau begitu saya permisi."


Karyawan yang berada di sebelah Fandy melirik benda yang tadi di letakkan sekretaris Bima di atas meja Fandy.


"Wow...!" Ia kaget dan menutup mulut. Ekspresinya mengundang rasa penasaran seluruh orang di ruangan. Satu persatu mendatangi meja Fandy dan berkerumun di sana.


"Daebak!" seru satu-satunya karyawan wanita menirukan kata yang sering kali diucapkan dalam drama Korea.

__ADS_1


..........


Sudah hampir dini hari namun Leo tak kunjung dapat memejamkan matanya. Beberapa minuman kaleng menjadi temannya malam ini selain angin malam yang menusuk hingga ke tulang.


Ingatannya pada siang tadi saat menyaksikan Fandy tersenyum bahagia menerima kotak bekal makan siang yang dititipkan pada seorang OB sedikit mengganggu pikirannya.


Jauh-jauh ia mengusir pikirannya akan hal itu. Hal yang seharusnya dan tidak perlu mengusiknya.


Dua ponsel di atas meja bundar yang tadi ia letakkan bergetar secara bersamaan.


Leo meraih ponsel pertama. Ponsel yang dia gunakan sejak SMA sampai sebelum ia berangkat ke luar negeri dulu. Ponsel yang hanya ia buka sesekali saat merindukan wanita yang kini sudah menjadi milik orang lain. Hanya melihat wajah wanita itu yang tersimpan di galeri ponselnya sudah cukup untuk melepas rindunya.


Satu pesan masuk yang diterima Leo membuatnya tercengang. Meski ragu namun ia membuka isi pesan itu.


My Vanilla : Saat kamu membuka hati, percayalah akan banyak kebahagian lain yang bisa kamu dapatkan.


Tak sadar air matanya menetes tepat pada layar ponsel. Butuh keberanian besar sebenarnya bagi Leo untuk membuka isi pesan tersebut.


Sore tadi setelah sekian tahun Leo memberanikan dirinya mengirim pesan singkat pada wanita di masa lalunya itu yang masih setia mengisi hatinya hingga kini. Pesan singkat yang mengatakan kerinduan dan perasaannya selama ini yang masih belum pudar sama sekali.


Tak disangka jika wanita itu membalas pesannya meski harus menunggu berjam-jam bagi Leo.


Tertawa namun air matanya semakin mengalir deras. Suasana tengah malam semakin menambah suasana sepi Leo saat ini. Ia mematikan kembali ponsel lamanya dan meletakkannya kembali.


Selanjutnya Leo meraih ponsel yang ia gunakan saat ini. Ada beberapa pesan dari sekretaris Bima yang masuk.


Pesan itu mengatakan jika salah satu orang suruhan Bima pernah melihat keberadaan Wulandari, wanita yang bersama almarhum pak Bayu dalam mobil saat kecelakaan beberapa tahun lalu terjadi.


Segera Leo menghapus air matanya dan membalas pesan Bima untuk tetap mencari informasi dan menemukan wanita itu. Wanita yang menjadi kunci mengenai siapa Syera sebenarnya dan hubungannya dengan almarhum papanya.


Pesan selanjutnya adalah mengenai persyaratan kerjasama dengan perusahaan Y jika tidak ada kepastian maka tentu saja kerjasama mereka akan gagal. Leo tidak memberi balasan apapun mengenai hal itu. Ia justru memejamkan matanya pada kursi goyang berharap ia dapat masuk dalam dunia mimpinya.


..........


Sarapan bersama adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan bagi Syera dan Fandy sejak tinggal bersama. Akan tetapi pagi ini sejak Fandy keluar dari kamarnya dan kini duduk di hadapannya, Syera merasa ada yang berbeda dari dari beberapa bulan ini.

__ADS_1


Sampai sarapan selesai Syera tak henti memandangi Fandy yang sudah rapi dengan setelan jas.


"Ada acara di kantor ya, kak?" penasaran ingin tahu.


"Enggak," jawab Fandy seraya menggelengkan kepala.


"Tapi kenapa pakaiannya beda, nggak seperti biasanya?"


"Jadi itu yang buat kamu dari tadi ngeliatin terus?"


Fandy kemudian membawa Syera duduk di sofa. Ia mengeluarkan kartu nama, benda yang semalam diberikan Bima padanya.


Sesaat Syera biasa saja saat menerima kartu nama itu. Tentunya hal biasa untuk orang pekerja kantoran memiliki benda itu.


Dibacanya dalam hati hingga matanya melotot tak percaya dengan apa yang selanjutnya akan dia baca.


"Kak?" mencari kebenaran dari Fandy.


"Aku juga nggak yakin makanya enggak cerita sama kamu. Setelah memastikannya nanti baru aku akan cerita ke kamu tapi kamu keburu bingung karena penampilanku sekarang."


"Syera memang sudah biasa lihat kak Fandy dengan setelan rapi seperti ini. Cuman Syera nggak nyangka aja kalau ternyata posisi wakil direktur utama kembali dipegang kak Fandy."


"Lalu menurut kamu gimana?" menanyakan pendapat Syera.


"Kenapa tanya aku? Tanya hati kak Fandy aja. Kalau saran Syera terima aja lagi. Kak Fandy sering cerita kalau almarhum pak Bayu itu sangat baik. Jadi lakukanlah untuk beliau. Seandainya masih hidup, aku yakin beliau pasti senang kak Fandy dan Leo mengelola perusahaan bersama-sama. Iyakan?"


"Kamu yakin?"


"Aku yakin kak Fandy akan melakukan yang terbaik seperti sebelumnya,"menyemangati Fandy. "Lebih baik sekarang kak Fandy berangkat kerja biar nggak diturunin lagi jabatannya. Hehehe..."


Keduanya tertawa mengingat bagaimana jabatan Leo yang turun drastis beberapa bulan lalu.


Usai mengunci pintu apartemen Syera merasa sesuatu akan terjadi. Entah itu baik atau buruk Syera tidak yakin. Tidak mungkin dengan tiba-tiba Leo mengembalikan jabatan Fandy tanpa ada alasan namun ia mencoba untuk menampiknya dan berpikir positif.


"Apa ini karena permintaanku setelah meninggalkan rumah itu?" pikir Syera. "Sudahlah, bagaimana pun juga meski tidak memiliki ikatan darah mereka itu tetap kakak adik dalam keluarga Suntama."

__ADS_1


Mungkin karena sudah terbiasa selama beberapa bulan ini, membuat Fandy tetap menggunakan lift karyawan. Menurutnya tidak ada yang berbeda antara dirinya dan karyawan lainnya. Semua sama sebagai pekerja yang membedakan hanya apa yang mereka kerjakan untuk perusahaan.


"Selamat pagi semua," sapa Fandy terlebih dahulu menundukkan kepalanya pada karyawan yang ia lewati saat menuju ke ruangannya, tempat seorang wakil direktur berada.


__ADS_2