Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Sedang Tidak Baik-Baik Saja


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Syera sudah bangun dan membuat sarapan stelah sebelumnya mencuci wajah dan menyikat giginya. Semalaman ini ia sudah bertekad untuk bagun lebih awal, ia tidak mau bertemu Leo pagi ini. Syera tidak tahu harus bersikap seperti apa saat bertemu Leo lagi. Bayangan atas apa yang Leo lakukan semalam sungguh tidak dapat ia lupakan, apalagi saat bangun ia merasa sesuatu yang tidak seperti biasanya pada bibirnya, agak keluh.


Di kamarnya Leo baru saja membuka matanya, ia melihat jam pada ponselnya dan mendengus kesal saat tahu sudah waktunya bersiap untuk pergi kerja. Ia melemparkan asal ponselnya pada tempat tidurnya dan mengusap wajahnya.


Leo melepas semua pakaiannya dan berjalan malas masuk ke kamar mandi sambil mengacak-acak rambutnya. Ia mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin. Aroma sabun yang sudah bertahun menjadi pavorit Leo begitu menenangkan saat menembus hidung. Ritual terakhirnya adalah menggosok gigi dengan pasta beraroma mint yang sangat menyegarkan.


Sambil menggosok giginya di depan cermin dalam kamar mandi, Leo memperhatikan wajahnya. Tangannya tiba-tiba berhenti bergerak menyikat giginya.


Bukan mimpi, itu nyata. Itu semua benar terjadi, aku...


Leo kembali melanjutkan menyikat giginya dengan sedikit terburu-buru sambil senyum-senyum. Ingatannya akan semalam serasa mimpi baginya di awal ia bangun hingga membuatnya mendengus kesal tadinya.


Leo yang sudah selesai mandi kembali membasahi tubuhnya, memakai sabun dan sampo untuk kedua kalinya bahkan menyikat giginya lagi. Jangan tanya bagiamana aroma tubuh leo lagi. Harum semerbak dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Jika setiap paginya Leo dengan mudah memilih pakaiannya ke kantor namun berbeda dengan pagi ini. Ia bolak-balik memilih warna kemeja yang akan dipakainya. Setelah cukup lama pilihannya tetap jatuh pada kemeja putih polosnya dan jas biru langit senada dengan warna dasinya.


"Perfect!" menjentikkan jarinya saat melihat penampilannya pada cermin. Leo ingin terlihat menarik di depan Syera.


Semangat Leo berpuluh-puluh kali lipat dari pagi biasanya, ia yang masih memakai sendal rumah pun keluar dari kamarnya.


Wajahnya loyo seketika saat tak mendapati keberadaan Syera. Sarapan dan teh hangat di atas meja sudah tersaji namun yang menyajikannya tidak terlihat.


"Ck, hm..." berdecak kesal, suasana hatinya sudah tidak begitu semangat seperti lima menit yang lalu.


Leo melihat pintu kamar Syera yang tertutup rapat, membuatnya semakin tak bersemangat.


Sadarlah Leo, kau bukan anak ABG lagi, bersikaplah dewasa sesuai dengan umurmu.


Sarapan di atas meja ditariknya mendekat, dengan malas ia mulai memasukkan sesendok demi sesendok ke dalam mulutnya hingga isi piringnya kosong.


Kenapa belum keluar juga, apa dia akan di dalam sana sampai aku pergi? Setidaknya dia harus menampakkan wajahnya untuk mengembalikan suasana hatiku.


Leo berpindah ke sofa, membuka tas kerjanya mengecek apakah dokumen yang perlu ia bawa ke kantor hari ini sudah ada di dalam atau masih ada yang kurang. Ia melihat jam tangannya dan sudah waktunya ia pergi kalau tidak ingin terjebak jalanan macet.


Sepatu pantofel hitam sudah disediakan Syera di dekat pintu, Leo tahu jika Syera yang sudah menyiapkannya di sana.


Mana bisa seperti ini, dia harus mengembalikan suasana hatiku yang rusak.


Leo berbalik saat akan membuka pintu dan pergi untuk kerja. Ia harus mengembalikan semangatnya, ia tidak rela waktunya terbuang sia-sia karena menghabiskan waktu untuk dua kali keramas, dua kali sabun dan begitu juga dengan sikat gigi.


Tok-tok-tok!


"Aku mau pergi ke kantor, apa kamu tidak akan keluar dan melihatku pergi?"


"Hati-hati, kak. Jangan lupa makan siang," jawab Syera dari dalam kamar.


"Kamu lagi apa di dalam, keluarlah sebentar."


"A-aku ada kerjaan, kak."


"Jangan bohong. Ujianmu sudah selesai dan kamu sudah tidak ada kegiatan kampus Sekarang. Keluarlah atau aku tidak pergi kerja saja hari ini."

__ADS_1


Klek


"Ja- jangan," mata Syera melihat pemandangan indah di depannya. "Ka-kak Leo harus pergi, tidak boleh bolos kerja."


Syera gugup, ia salah tingkah dan untuk menutupinya ia melihat ke sembarang arah tidak tahan melihat tatapan mata Leo.


Suasana hati Leo berangsur-angsur membaik setelah melihat Syera. Leo meraih tangan Syera yang masih memegang handle pintu, menciumi punggung dan telapak tangannya.


Leo membawa Syera ke sofa dan mendudukkannya di sebelahnya. Syera menggeser tubuhnya karena posisi mereka yang begitu rapat namun Leo justru semakin mendekat dan mendempet Syera hingga ke ujung sofa.


Leo mengarahkan tangan Syera ke pipinya dan mengendus telapak tangan gadis itu.


Cup


"Bu-bukannya semalam sudah?"


"Itukan yang semalam. Untuk hari ini beda lagi."


Syera menelan salivanya membayangkan ciuman Leo semalam.


"Nanti kak Leo kena macet dan lama tiba di kantor," ucap Syera membuat alasan.


Kening Leo mengerut Syera beralasan untuk menolaknya. "Apa kamu tidak suka?" tanya Leo cemberut. "Kamu tidak suka aku cium, iyakan?"


Leo menarik tubuhnya menjauh dari Syera.


"Bukan gitu, kak."


Syera bingung melihat Leo sudah seperti anak kecil. Ia mendekat dan meraih tangan Leo agar tidak ngambek.


"A-aku suka, kak."


"Terus, kenapa menolak?"


"Jantung Syera deg-degan saat kak Leo melakukannya, belum lagi tubuh Syera berdesir saat bibir kak Leo menempel dan mengemutnya seperti permen.


Pipi Leo merah dan terasa panas, ia tidak habis pikir bagaimana Syera bisa mengatakan hal itu padanya.


"Jantung Syera benar-benar deg-degan, kak. Kalau kak Leo melakukannya lagi jantung Syera bisa copot."


"Benarkah?" menatap serius pada Syera.


"Iya, kak. Syera nggak bohong," jawab Syera jujur bercampur polos.


Syera memang bukan gadis remaja usia belasan tahun namun dia sama sekali belum pernah memiliki hubungan dekat dengan lawan jenis meski saat SMA ada yang menyatakan perasaanya pada Syera. Leo adalah pria pertama bagi Syera.


"Baik kalau gitu, tidak hanya akan membuat jantungmu copot tapi aku juga akan membuat dadamu meledak. Aku akan terus melakukannya."


"Kak?"


Emppp...

__ADS_1


Jakun Leo naik turun mencium bibir Syera dan menelan salivanya. Serangan tiba-tiba yang dilakukan Leo benar-benar membuat Syera tak berkutik. Sengaja Leo meletakkan telapak tangannya di dada Syera untuk merasakan degup jantung gadis itu.


Syera terengah-engah saat Leo melepas ciumannya.


"Cukup, kak. Aku sesak nafas."


"Hehehe... Tapi aku belum cukup. Kamu juga tidak membalasnya."


"Ma-macet, kak. Nanti kakak terkena macet."


Leo melihat jam tangannya dan mendengus.


"Kalau gitu beri aku pelukan, aku akan sangat sibuk hari ini. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadi beri aku pelukan."


Leo berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Ragu-ragu Syera berdiri dan mendekatkan sedikit tubuhnya agar Leo segera pergi karena jantungnya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Syera dapat menghirup aroma sabun dari tubuh Leo, belum lagi aroma parfum di pergelangan tangannya saat tadi Leo menciumnya sambil mengelus pipinya.


"Aku akan langsung pulang setelah selesai kerja. Jangan kemana-mana dan tunggu aku pulang."


Syera mengangguk paham pada perkataan Leo.


"Aku pergi," ucap Leo melepas pelukannya. "Aku akan melakukannya lagi nanti," bisik Leo hingga membuat kedua pipi Syera merona.


Leo mengedipkan matanya pada Syera dan benar-benar pergi ke kantor. Sebentar lagi saja Leo ada di hadapan Syera, bisa di pastikan gadis itu akan terkena serangan jantung.


Syera masuk ke kamarnya dan mengambil agenda milik mamanya. Syera mendekapnya, berguling-guling dia atas tempat tidur sambil membayangkan wajah Leo, pria yang berkata akan membuat jantungnya copot dan meledakkan dadanya.


Ma, apa Syera bisa menulis nama seorang pria di sini? Syera menyukainya, ma. Namanya Leo. Syera menyukai kak Leo, ma.


..........


Bima merasa aneh melihat Leo senyum-senyum sendiri sedari tadi tiba di ruangannya. Aneh tapi Bima senang karena jarang-jarang melihat senyuman di wajah Leo. Bima yakin jika hal baik sedang terjadi pada Leo, ia berharap senyuman itu tidak hanya sesaat.


"Maaf, tuan. Kita akan ada pertemuan dua jam lagi."


"Iya, kau sudah memberitahuku semalam."


"Kemeja anda sedikit kusut, apa anda tidak akan menggantinya?"


Leo menunduk, memperhatikan kemejanya. Memang sedikit kusut dan Leo sangat memperhatikan penampilannya saat akan bertemu klien.


"Tidak perlu, aku menyukai kemeja ini. Lagi pula ada jas yang akan menutupinya."


Leo mencoba mengendus kemejanya dan kembali tersenyum.


..........


Dear readers...


Bab selanjutnya juga masih ada manis2nya, jadi jangan bosan bacanya ya☺️

__ADS_1


__ADS_2