
"Apa katamu? Kau bilang apa barusan, ha?"
Plak!
"Apa kau sudah lupa dengan apa yang aku tekankan padamu satu tahun lalu? Apa kau lupa sehingga begitu lancang mengabaikannya?"
Plak!
Bima hanya bisa tertunduk diam menerima tamparan dari amarah mama Mila setelah mengetahui jika Leo sudah mengetahui keberadaan Syera dan pergi menemui gadis itu.
"Bereskan semua barang-barangmu, ini hari terakhir kau menginjakkan kaki di perusahaan Suntama Group!"
Pasrah!
Itulah satu-satunya kata yang mungkin ada dipikiran Bima. Ia tidak berniat atau mencoba untuk memohon pada Ibu Mila. Tak dipungkiri selama bekerja sebagai sekretaris Leo, cukup banyak pundi-pundi yang sudah dikumpulkan Bima. Meski demikian belum pernah terpikir oleh Bima untuk berhenti bekerja pada Leo.
Bima senang bekerja dengan seorang pimpinan yang mencintai pekerjaannya seperti Leo. Bukan seperti kebanyakan pemimpin muda yang selain suka bekerja juga suka menghabiskan waktunya di club-club malam, berpoya-poya menghabiskan uang yang dihasilkannya dengan wanita-wanita di tempat hiburan malam.
Ada banyak hal yang dipelajari Bima mengenai cara berbisnis selama bekerja dengan Leo, bahkan ia masih ingin belajar banyak lagi namun nasi sudah menjadi bubur. Kini Bima hanya bisa menerima kenyataan saat mama Mila menyuruhnya untuk angkat kaki dari perusahaan.
"Baik, bu. Saya minta maaf dan saya akan menerima konsekuensi atas apa yang sudah saya lakukan."
Bima sedikit membungkuk dihadapan mama Mila yang diliputi amarah. Bima keluar dari ruangan Leo dimana mama Mila datang untuk melihat dan bertanya hasil pertemuannya dengan Naomi tapi yang di dapatnya malah kabar yang tidak ingin ia dengar. Tidak ada Leo dikantornya hingga akhirnya Bima memberitahu apa yang terjadi.
Bima merapikan meja kerjanya dan memasukkan barang-barang pribadi miliknya dalam sebuah box. Bima tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri.
"Baiklah, mari kita mulai dari awal lagi di tempat yang baru. Menjadi karyawan biasa sepertinya akan lebih baik untuk saat ini."
Ya.
Saat Bima memberitahu Leo mengenai keberadaan Syera dia sudah memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya karena mustahil dia masih bisa bekerja di Suntama Group karena mama Mila. Dengan pengalamanya sebagai sekretaris seorang pemimpin salah satu perusahaan ternama maka tidak akan sulit baginya mendapat pekerjaan baru. Akan tetapi, Leo sudah memikirkan akan melamar pekerjaan yang tidak berhubungan langsung dengan seorang pemimpin. Bima akan melamar pekerjaan sebagai karyawan biasa saja.
Bima teringat jika laptop pribadinya ada di ruangan Leo, ia menenteng kardus ditangannya untuk mengambil laptopnya dan sekalian pamit pada mama Mila untuk yang terakhir kalinya.
Tok-tok-tok
"Maaf, bu. Saya hanya mau mengambil barang saya," ucap Bima memohon izin terlebih dahulu.
Dilihatnya mama Mila sedang duduk di kursi milik Leo, aura ruangan direktur utama tiba-tiba terasa mencekam saat mama Mila yang menduduki kursi pimpinan tertinggi di perusahaan tersebut.
"Apa kau pikir segampang itu untukmu keluar dari perusahaan ini?"
__ADS_1
Pertanyaan mama Mila berhasil membuat Bima terperangah.
"Apa kau pikir setelah mengabaikan perintahku maka kau bisa bebas pergi begitu saja dari sini? Tidak semudah itu!"
Bima masih mendengarkan mama Mila, ia belum mengerti arti perkataan mama Mila. Bima hanya tahu jika dia sudah membuat kesalahan, dia diusir dari perusahan dan dia akan angkat kaki dari sana sebagai konsekuensi perbuatannya.
"Bawa anakku kembali dan kau bisa angkat kaki setelahnya!" tegas mama Mila. "Aku hanya butuh anakku Leo kembali secepat mungkin dan itu tugasmu!" ucap mama Mila menekankan ucapannya.
Mama Mila berdiri dan meninggalkan Bima mematung dalam ruangan Leo.
Setelah beberapa saat Bima terduduk di sofa, kepalanya pusing dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bagaimana mungkin Bima bisa membawa kembali Leo disaat Bima sendirilah yang membuat Leo pergi sejauh itu.
..........
Malam telah berganti pagi namun musim dingin membuat tubuh serasa enggan untuk bangkit. Leo sudah bangun sedari tadi, ia memandangi wajah Syera yang tidur nyenyak disampingnya. Leo tidak banyak bergerak agar tidak menggangu tidur Syera dan membuatnya terbangun.
Aku tidak tahu kapan untuk pertama kalinya hatiku tertuju padamu. Aku juga tidak tahu apa yang sudah aku lakukan hingga membuat hatimu bisa tertuju padaku. Aku hanya tahu jika aku merasa bahagia saat melihatmu dan ada bersamamu. Aku bahagia karena aku adalah pria yang kamu cintai. Aku pria yang bisa memilikimu dengan seutuhnya. Aku suka aroma wangi sampo yang kamu pakai. Aku suka kedua bola matamu, hidungmu dan bibirmu yang manis. Terlebih aku sangat menyukai hatimu. Terimakasih sudah menjaga dirimu hanya untukku, terimakasih menjadikan aku pria pertama yang melakukannya padamu. Aku berjanji aku adalah pria pertama dan akan menjadi satu-satunya pria yang melakukannya denganmu. Syera, terimakasih. Syera, aku sangat mencintaimu.
Leo mengecup bahu Syera yang justru membuatnya menggeliat dan terbangun. Syera membuka matanya berat dan saat sudah terbuka ia menutupnya kembali dengan dahi yang mengkerut. Leo tahu apa yang dipikirkan Syera.
"Syera, buka matamu. Ini bukan mimpi."
Leo tertawa kecil melihat Syera yang malu-malu.
"Baiklah, tetaplah seperti ini kalau itu membuatmu merasa lebih nyaman."
Leo memeluk Syera dan membiarkannya menyembunyikan wajahnya di dada Leo.
"Syera?"
"Em?"
"Maafkan aku. Aku sudah melanggar janji yang kubuat sendiri. Aku sudah melewati batas dan melakukannya padamu. Aku minta maaf?"
Syera menggangguk dan dapat dirasakan Leo bibir Syera mengenai kulit dadanya saat menggangguk.
"Kamu tidak marah?"
Syera menggelengkan kepalanya.
"Kamu bisa menolak tapi kenapa tidak kamu lakukan, hem? Apa yang kamu pikirkan saat menganggukkan kepala dan mengizinkanku untuk melakukannya?"
__ADS_1
Jujur Leo bahagia karena Syera tidak menolaknya semalam tapi Leo juga penasaran apa yang membuat Syera begitu mudah memberikan tubuhnya semalam. Selama berhubungan dengan Syera, tinggal di apartemen yang sama dan beberapa kali tidur di satu ranjang tak sekalipun Leo berani melakukan hal lebih selain peluk dan ciuman bibir. Seingatnya ia hanya pernah memberikan tanda dileher Syera dan itupun dilakukannya sekali.
Syera tidak menjawab pertanyaan Leo, dia justru menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu.
"Kamu tidak ingin menjawabnya?"
Dari dalam selimut Syera menganggukkan kepalanya lagi.
"Baiklah kalau begitu. Kamu hanya perlu tahu jika aku hanya untukmu dan begitu juga sebaliknya, kamu hanya akan menjadi milikku."
Leo membuka selimut yang menutupi hingga kepala Syera. Leo juga penasaran akan satu hal, meski tidak yakin tapi ia ingin menanyakan hal itu kepada Syera.
"Syera?"
Syera akhirnya mendongak dan melihat pada Leo. Dilihatnya wajah Leo begitu serius menatapnya.
"Apa semalam aku melakukannya dengan kasar?"
Tanpa ragu Syera menganggukkan kepalanya.
"Sedikit," ucap Syera memperjelas anggukannya.
"Hei, kenapa menjawabnya begitu jelas?" protes Leo tak terima akan pengakuan Syera. "Itu membuatku tidak nyaman saat ini. Setidaknya kamu harus bilang tidak atau juga tidak perlu menjawabnya."
Syera terkekeh melihat Leo yang tak terima saat ia berkata jujur. Leo menarik bantal di bawah kepalanya dan digunakannya untuk menutupi wajahnya. Syera semakin gemas dibuat Leo.
"Enggak, kak. Aku bohong, kakak tidak seperti itu," ucap Syera meralat apa yang ia katakan sebelumnya.
Leo menurunkan bantal dari wajahnya dan melihat wajah Syera untuk meyakinkannya jika Syera tidak berbohong. Syera tersenyum geli melihat tampang Leo.
"Haiss.... Kamu berbohong," rengek Leo memunggungi Syera dan kembali menutup wajahnya dengan bantal.
"Aku nggak bohong, kak. Itu pertama kalinya untukku jadi aku juga tidak yakin dengan jawaban dari pertanyaan kakak."
"Sungguh?" tanya Leo membalikkan badannya menghadap Syera.
"Iya, kak."
"Kalau gitu aku harus melakukannya lagi untuk membuatmu yakin."
Obrolan pagi berakhir dengan pergumulan yang dilakukan keduanya seperti semalam. Mengulang cerita cinta semalam yang begitu hangat dan semakin besar. Menyatukan rasa dari dua kasih yang tak ingin terpisah.
__ADS_1