Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Merengkuh Hangatnya Cinta


__ADS_3

Dua hati yang saling merindu beradu dalam hangatnya pelukan dan ciuman. Tak ingin melepas kasih yang sudah ada dalam genggaman, justru memberikan ruang untuk semakin masuk dan merasa berterima.


Leo dan Syera, tak satupun dari mereka memberi tanda-tanda untuk menyudahi ciuman yang semakin dalam dan menuntut. Keduanya larut dalam heningnya suasana rumah tempat mereka berada.


Entah sadar atau tidak Syera melangkah mundur diikuti Leo masuk dalam salah satu kamar yang pintunya di buka Ben saat menunjukkan kamar yang bisa ditempati mereka malam ini.


"Syera?"


Leo melepas ciuman mereka dan melihat wajah Syera begitu sayu. Leo menelan salivanya dan menggunakan tangannya mengelap bibir Syera yang basah. Dilihatnya kini mereka sudah berada di dalam kamar.


Menyadari keberadaan mereka Syera melepas pelukannya dari Leo dan spontan mundur seakan lupa apa yang sudah mereka lakukan beberapa saat lalu. Syera menunduk tak berani menatap Leo, ia malu dengan apa yang sudah ia lakukan.


Syera memeluk dan mengusap-usap lengan mantelnya. Semakin malam membuat Syera semakin kedinginan. Mantel ditubuhnya tidak cukup untuk membuatnya merasa lebih hangat.


Leo mendekat dan merapikan rambut Syera, mengelus kepalanya, tersenyum melihat tingkah malu-malu Syera yang justru membuat Leo semakin suka. Mata Leo menangkap gelang yang dipakai Syera.


"Kamu masih memakainya?" tanya Leo senang disaat sebenarnya ia sangat khawatir jika hati Syera mungkin saja sudah berubah padanya.


Syera menjatuhkan tangannya, menarik ujung tangan mantel guna menutupi pergelangannya untuk menyembunyikan gelang pemberian Leo saat di puncak.


"Kamu masih memakainya, itu tandanya aku dan kamu masih kita."


Syera menarik paksa tangannya saat Leo ingin melihat pergelangan tangan Syera. Syera berontak dan menjauh dari Leo. Apa yang dilakukan Syera membuat Leo mendelikkan matanya, setiap kali Leo melangkah maju untuk mendekati Syera maka Syera juga menjauh.


Dari wajahnya Syera terlihat bingung dan memikirkan sesuatu. Leo ikut bingung dibuatnya.


Untuk beberapa saat mereka sama-sama diam, Leo berpikir mungkin antara dia dan Syera sudah tidak seperti dulu lagi. Leo berdiri dekat jendela membelakangi Syera, memasukkan kedua tangannya dalam saku mantelnya. Leo menatap keluar melalui jendela, melihat salju tahun ini mulai turun.


Syera, apa aku benar-benar sudah terlambat?Sikap diammu semakin membuat aku takut.


Pria tegas, kuat dan berprinsip seperti Leo menjadi begitu rapuh saat sudah berhubungan dengan hati. Syera


mengangkat kepalanya, dilihatnya Leo seperti sedang menghapus air mata.


Salju yang turun diluar sana seakan menertawakan Leo dan kesedihannya.


Saat Leo merasakan kesedihan yang semakin mendalam, dua tangan terulur dipinggang Leo dan memeluknya dari belakang.


"Kak?"


Leo langsung memutar tubuhnya saat pertama kali Syera memanggilnya.


"Kak, jangan nangis. Kenapa jadi cengeng seperti ini?" Syera mengangkat kedua tangannya menghapus air mata Leo. "Kakak juga kurusan sekarang."


Leo mengangguk, membenarkan perkataan Syera. Rasanya sangat senang saat Syera memperhatikannya, Leo meraih tangan Syera dan menciumi telapaknya.

__ADS_1


"Apa kak Leo baik-baik saja selama ini? Apa kakak selalu makan tepat waktu? Apa asam lambungnya sering kambuh? Apa kakak tidur nyenyak?" cecar Syera dengan banyak pertanyaan yang justru membuat air mata baik Syera maupun Leo semakin mengalir.


Dari banyaknya pertanyaan untuknya, Leo hanya menganggukkan kepalanya. Dia sangat merindukan suara Syera, sangat dan sangat.


"Apa masih ada aku disini?" tanya Leo mengarahkan telunjuknya ke dada Syera. Pertanyaan itulah yang sedari tadi ingin ditanyakan Leo namun sulit ia ucapkan karena Syera diam saja sedari mereka bertemu.


Syera mengarahkan tangan Leo dan meletakkannya di atas dadanya diikuti anggukan kepala.


"Sampai aku mati dan berada di kehidupan selanjutnya," ucap Syera.


Masih ada banyak hal yang ingin ditanyakan dan diketahui Leo namun dia tidak ingin merusak kebahagiannya. Sejauh ini dia masih ada di hati Syera dan itu sudah cukup.


"Apa kamu kedinginan?" tanya Leo tiba-tiba.


Bukan tanpa sebab, sedari tadi sebenarnya Leo merasa tubuhnya hampir beku. Beradaptasi dengan lingkungan dan cuaca baru bukanlah hal mudah apalagi perbedaannya sangat drastis dengan Indonesia.


"Tunggu sebentar."


Leo teringat jika tadi Ben menunjukkan perapian sebelum ia pergi. Meski belum pernah namun bukan menjadi tidak tahu sama sekali. Leo berjalan ke ruang tengah dan melihat perapian yang tadi ditunjukkan Ben. Syera yang ikut keluar dari kamar mengikuti Leo dan memperhatikan apa yang sedang dikerjakannya.


Syera tersenyum saat Leo mulai menyusun beberapa potong kayu dengan gamang. Syera berdiri di belakang Leo dan memperhatikan gerak tangan Leo.


"Apa kakak bisa melakukannya?" tanya Syera dan membuat Leo sedikit gugup.


Leo mencari pemantik dan menemukannya. Berulang kali Leo menyalakan pemantik dan mengarahkannya pada kayu bakar di perapian namun tak kunjung terbakar.


Kalau bukan karena ada Syera di dekatnya, mungkin Leo sudah mengumpat habis-habisan karena kayu yang tak kunjung terbakar. Syera semakin tersenyum lebar saat wajah Leo berubah menjadi sangat kesal.


"Kak, biar aku saja," meminta pemantik pada Leo.


"Tidak usah, biar aku saja. Aku bisa melakukannya," tolak Leo.


Wajah Leo berubah menjadi sangat serius, dari pengalamannya sebagai anak Pramuka ketika SMP saat akan menyalakan api unggun, selain kayu bakar dan alat pemantik atau korek api maka yang dibutuhkan juga adalah minyak tanah. Satu persatu botol dalam rumah itu yang berisi dicium Leo untuk mencari minyak tanah.


"Enggak ada minyak tanah, kak. Biar aku saja," pinta Syera lagi pada pemantik ditangan Leo.


Leo tidak mendengarkan Syera, ia belum menyerah. Sebenarnya tak jauh dari tempat perapian ada kantong berisi serbuk kayu yang biasa digunakan untuk menyalakan api terlebih dahulu. Syera tahu akan hal itu tapi dia sengaja mendiamkannya. Syera rindu melihat setiap ekspresi wajah Leo, itulah sebabnya Syera tidak memberitahu pada Leo.


Syera ingin tertawa saat Leo kembali dari arah dapur membawa beberapa kantong plastik dan kertas. Seperti yang Syera tahu, Leo bukanlah orang yang mudah menyerah jika sudah bertekad.


Setelah hampir setengah jam akhirnya Leo berhasil menyalakan api meski susunan kayunya berantakan. Leo tersenyum puas atas keberhasilannya. Ia membawa Syera dekat perapian untuk menghangatkan tubuh mereka.


"Apa sangat dingin?" tanya Leo memperhatikan wajah Syera yang sedikit memerah.


Dipegangnya kedua pipi Syera dan sudah begitu dingin. Leo mengarahkan kedua telapak tangannya pada perapian dan setelah cukup hangat ia menempelkannya pada pipi Syera. Leo melakukannya berulang kali hingga pipi Syera sedikit menghangat.

__ADS_1


Tak mau ketinggalan, Syera mengikuti apa yang dilakukan Leo dan menempelkan tangannya pada pipi Leo. Syera yakin jika Leo pasti cukup kesulitan beradaptasi dengan keadaan dimana ia sekarang berada.


Saat tangan keduanya menempel pada pipi satu sama lain suasana kembali canggung. Syera menurunkan tangannya dari pipi Leo dan menghadap pada perapian di depannya. Syera gugup dan saat akan berdiri Leo sudah terlebih dahulu menahannya.


"Syera?" panggil Leo lembut. Leo menangkup wajah Syera agar menghadapnya.


Dengan mata yang tertutup Syera memberanikan diri mengecup bibir Leo. Untuk pertama kalinya Syera mencium Leo terlebih dahulu. Tentu saja apa yang dilakukan Syera disambut baik oleh Leo yang membalas kecupan Syera dengan *******.


Nafas keduanya terengah-engah saat menjeda ciuman untuk mengatur gemuruh jantung yang semakin berpacu tak beraturan. Leo membawa Syera ke kamar yang tadi mereka masuki dengan cara menggendongnya.


Sengaja pintu kamar tidak ditutup agar panas dari perapian masuk ke dalam kamar.


Sangat pelan dan hati-hati Leo meletakkan Syera ke atas tempat tidur. Syera berkedip-kedip, ia memainkan kukunya sangking gugupnya. Leo menyadari kegugupan Syera dan menggenggam tangan Syera agar tenang.


Leo ikut bergeser ke samping Syera dan kembali mencumbu bibir gadis itu. Syera meneguk salivanya saat Leo menuntunnya untuk duduk dan melepas mantelnya. Leo melakukan hal yang sama dengan melepas mantelnya.


Syera semakin gugup saat Leo kembali mendekatinya dan melihat Leo sudah ada di atas tubuhnya.


"K-kak Leo?"


Suara Syera mengecil saat Leo sudah kembali menghujani Syera dengan ciuman.


"Syera, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu," bisik Leo.


Itulah kalimat manis yang di dengar Syera di telinganya saat Leo mulai melepas satu persatu yang melekat ditubuhnya maupun ditubuh Syera.


Syera diam saja menerima apa yang dilakukan Leo padanya. Ia tahu kemana ceritanya bersama Leo akan berlabuh malam ini. Sesaat Leo berhenti karena tidak ada penolakan dari Syera karena Leo yakin harusnya Syera marah padanya namun kenyataannya tidak.


Hingga keduanya polos tanpa sehelai kain yang menempel Syera tidak melakukan penolakan.


"Syera, aku-"


Syera mengalungkan tangannya di leher Leo dan perlahan menganggukkan kepalanya. Mengetahui tidak ada penolakan, Leo mengulas senyumnya, menarik selimut dan melakukannya pada Syera.


Untuk kali ini saja, biarkan aku egois. Biarkan aku egois untuk aku yang tidak pernah berharap banyak pada dunia ini sejak awal. Pria ini, aku sangat mencintainya. Jangan mengutukku karena aku sangat mencintainya. Maafkan aku yang sudah berlaku egois demi diriku sendiri.


"Apa sangat sakit?"


Kekhawatiran meliputi Leo ketika melihat wajah Syera menahan suaranya saat akan mengerang kesakitan. Syera mengangguk berteman air mata.


"Maaf, maafkan aku. Aku mencintaimu. Syera, aku sangat mencintaimu."


Salju yang turun diluar sana yang sebelumnya menertawakan Leo dan kesedihannya kini justru menjadi saksi bisu atas pergumulannya dengan Syera. Tidak ada penolakan dan tidak ada keterpaksaan, yang ada hanyalah cinta yang semakin besar.


Ditempat yang indah, dalam suasana tenang dan nyaman baik Leo maupun Syera bersama merengkuh hangatnya cinta mereka.

__ADS_1


__ADS_2