
Hanya satu aturan yang diterapkan Leo untuk dilakukan Syera namun satu aturan itu memiliki ribuan aturan di dalamnya. Syera menyesal menyetujui begitu saja saat Leo mengatakannya kemarin.
Keluar dari kampus bukanlah hal yang mudah tapi karena Leo dia harus menerima keputusan pihak kampus. Syera menghabiskan hari-harinya di restoran dan dengan bekerja dia sudah melupakan cita-citanya menjadi seorang designer. Bisa bekerja dan mendapat gaji sudah cukup buat Syera meski yang dihasilkannya tidaklah begitu besar.
Saat Syera sudah melupakan soal kuliah sekarang Leo justru memintanya untuk melanjutkan lagi. Bukannya menyerah akan cita-citanya tapi bekerja sudah cukup untuk Syera sekarang. Gadis itu tidak pusing lagi untuk memikirkan biaya yang harus dia keluarkan untuk kuliah.
Orang yang sebelumnya membuat Syera putus kuliah sekarang menyuruh untuk melanjutkan kembali kuliahnya. Syera tidak mau dan tidak setuju.
"Aku akan suruh Bima untuk mengurus semua administrasinya besok. Kau hanya perlu belajar dengan baik dan patuh. Masalah dengan pihak kampus yang sebelumnya kau tidak perlu pikirkan. Bima juga akan menyelesaikannya."
"Aku hanya mau bekerja. Aku tidak mau kuliah lagi," protes Syera tidak setuju apa yang dikatakan Leo.
"Anggap saja kau melakukannya untuk almarhum papa."
"Papa?" gumam Syera.
"Aku melakukannya karena papa. Meski tidak suka setidaknya aku akan mencoba untuk menerima kenyataan yang aku sendiri juga tidak harapkan."
Apa papa yang dimaksudnya itu almarhum pak Bayu? Dan lagi, dia belum sepenuhnya menerimaku sebagai adiknya. Pantas saja dia ingin berkuasa atasku.
"Kalau gitu aku akan lanjutkan kuliah tapi dengan syarat aku juga akan kerja. Sama seperti dulu sebelum aku keluar dari kampus," ucap Syera.
Leo memperhatikan wajah Syera yang serius. Sejenak Leo mempertimbangkan syarat yang dibuat Syera.
"Baik. Kau bisa melakukannya tapi tidak ada maaf jika nilaimu jelek," tegas Leo.
"Iya, kak."
Senyum sinis tersimpul di wajah Leo sambil terus melahap makan siangnya, demikian juga dengan Syera merasa senang akhirnya bisa bekerja dan kuliah lagi. Bekerja sambil kuliah bukanlah perkara mudah tapi Syera sudah pernah melakukannya. Dia yakin asal ada niat maka semuanya akan bisa dilakukan dengan baik.
"Kak?"
"Apalagi?"
"Em... Apa kita akan selalu pesan makanan dari luar setiap kali mau makan?"
"Kenapa? Aku tidak ada masalah. Apa kau tidak suka?"
"Aku bisa masak, kak."
"Apa kau juga melakukannya disebelah?"
"Iya, kak. Terkadang kak Fandy ikut bantu dan kalau ada waktu luang kak Fandy juga mau masak sendiri."
"Kak Fandy, kak Fandy dan kak Fandy. Apa kau tahu laki-laki yang kau panggil kakak itu tidak menganggapmu adik seperti yang kau pikirkan selama ini," geram Leo tak suka Syera selalu menyebut nama Fandy. Sayangnya itu hanya dapat ucapkan Leo dalam hatinya.
"Istirahatlah. Tiga jam lagi kita keluar."
__ADS_1
"Mau kemana kak? Tapi Syera kan harus pergi kerja."
"Sebelum masuk kampus kau tidak diizinkan kerja."
Leo meninggalkan Syera begitu saja dan masuk ke kamarnya. Dilihatnya kaktus yang ia bawa dari gunung sudah ada di atas meja dekat tempat tidurnya. Leo memandangi duri-duri halusnya dan mengingat saat tadi jari Syera tertusuk duri kaktus itu.
Ponsel Leo yang dia tinggal di sofa berdering, dengan cepat Syera mengambilnya untuk diberikan pada Leo. Syera melihat jika orang yang menghubungi Leo adalah Bima.
Tok... Tok... Tok...
Belum lagi Syera memanggil, Leo sudah membuka pintu dan mengambil ponselnya dari tangan Syera. Setelahnya Leo menutup pintu kamarnya dan mengangkat panggilan Bima.
"Ada apa?" tanya Leo.
Bima memberi tahu beberapa laporan mengenai perusahaan dan meminta Leo untuk kembali masuk kerja karena ada hal-hal penting yang harus ditanganinya sendiri dan tidak dapat diwakilkan, baik itu pada Fandy ataupun dirinya sebagai sekretaris.
"Besok pagi datanglah ke apartemen, ada yang harus kau lakukan," perintah Leo.
"Baik, tuan."
"Satu lagi, mengenai restoran tempat Syera bekerja. Aku mau kau membelinya dan membuatnya atas namaku secepatnya, bila perlu besok sudah selesai. Kau hanya perlu membelinya, biarkan restoran itu beroperasi seperti biasanya."
"Baik, tuan. Saya mengerti dan akan saya lakukan secepatnya."
....
Mata Fandy tertuju pada layar laptop dihadapannya namun pikirannya dikuasi oleh Syera. Apapun dan bagaimanapun itu caranya Fandy akan menyakinkan mama Mila untuk bisa bersama Syera selamanya. Fandy sudah memutuskan akan menemui mama Mila setelah pulang kerja nanti.
Berdua di dalam mobil sangat canggung baik untuk Syera maupun Leo. Saat ini mereka sedang menuju ke salah satu pusat perbelanjaan. Setibanya mereka di sana, Leo mengambil sebuah troli dan memberikannya pada Syera.
Syera tak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Leo. Pria yang mulai hari ini di panggilnya 'kakak' itu justru menyuruh Syera yang membawa troli berbeda jika saat berbelanja dengan Fandy.
"Ambil saja apa yang menurutmu dibutuhkan," ucap Leo berjalan di depan Syera.
Leo mulai memasukkan satu persatu apa yang di perlukan ke dalam troli sedangkan Syera masih berpikir apa yang harus dia ambil.
"Ambilkan itu," tunjuk Leo pada sebotol besar minuman ringan.
"Yang ini, kak?" tanya Syera memastikan.
"Em."
Syera mengambilnya dan memasukkannya dalam troli. Syera kembali mendorong troli dan Leo sudah menyuruhnya lagi untuk mengambil barang-barang yang ditunjuknya.
"Itu... Itu... Itu..."
Syera mengekori Leo dan cukup kewalahan saat akan mengambil apa saja yang ditunjuk Leo dengan cepat, belum lagi langkah pria itu begitu panjang.
__ADS_1
Tadi menyuruhku mengambil apa yang dibutuhkan tapi dia sendiri yang menunjuk apa yang harus dibeli.
Troli sudah hampir penuh dan semua isinya adalah barang-barang yang tadi ditunjuk Leo untuk diambil Syera. Kaki Syera sudah pegal mengikuti Leo berputar-putar sedangkan apa yang perlu dibelanjakan Syera belum satupun mendarat ke dalam troli.
Tanpa sepengetahuan Leo, Syera berbelok dan meninggalkannya. Syera menuju ke bagian kebutuhan dapur. Tak perlu bingung Syera sudah tahu apa-apa saja yang akan dia ambil. Satu persatu bahan dapur mulai Syera ambil dan masukkan dalam troli, mulai dari buah, sayuran, daging, ikan dan bumbu dapur. Syera mengambil semua bahan yang menurutnya dia butuhkan sama seperti ketika dia bersama Fandy.
Syera ingin mengambil beberapa ekor udang tapi Leo tidak bisa memakannya karena alergi, alhasil Syera menahan diri meski udang adalah salah satu makanan favoritnya.
"Apa aku juga bisa mengambilnya?" bertanya pada diri sendiri. "Baiklah, ayo kita ambil."
Syera meluncur kebagian dimana para pengemil langsung pergi saat berbelanja. Beberapa bungkus keripik dengan jenis yang berbeda diambil Syera untuknya, belum lagi dengan makanan ringan lainnya. Syera melupakan dimana dan sedang apa Leo saat ini.
"Apa kau sudah selesai?"
Syera menutup matanya saat mendengar suara Leo yang tiba-tiba. Kesenangan Syera sudah selesai, menghilang seketika di udara.
"Ayo ke kasir," ajak Leo mengambil alih troli dari tangan Syera.
Melihat isi troli membuat Leo tersenyum sekilas apalagi saat melihat beberapa makanan ringan yang tak pernah dia beli setiap kali berbelanja. Leo tidak suka dengan yang namanya mengemil. Syera kembali mengekori Leo dari belakang.
Sebelum pulang mereka terlebih dahulu makan malam sekalian istirahat karena berbelanja tentunya juga kegiatan yang cukup melelahkan.
"Em, kak?"
"Apa?"
"Apa tidak sebaiknya rambut dan- maaf, kak. Enggak jadi."
Syera tidak bisa melanjutkan perkataannya karena Leo sudah melotot padanya. Tatapan mata Leo saja sudah cukup membuat nyali Syera menciut ditambah rambut gondrong dan brewoknya. Belum lagi pakaian Leo saat ini serba hitam. Anak kecil yang duduk di meja sebelah mereka saja seperti ketakutan semenjak mereka datang tadi.
"Aku ke toilet sebentar. Kau bisa pesan lagi kalau kurang."
Setelah Leo pergi, Syera memanggil pelayan dan memesan eskrim. Sudah sejak tadi Syera ingin menikmati makanan dingin itu. Sekarang saat ada kesempatan sama sekali tidak disia-siakan oleh Syera.
Sudah setengah eskrim pesanan
Syera habis tapi Leo belum juga datang.
Apa antrian di toilet sebegitu panjangnya? Atau jangan-jangan kak Leo...? Ah, mana mungkin kak Leo ninggalin aku disini apalagi makanannya juga belum dibayar.
Syera memikirkan berbagai memungkinan-kemungkinan karena sudah hampir satu jam Leo belum juga kembali. Syera sudah bosan belum lagi para karyawan di sana sedari tadi memperhatikannya.
Menyadari dirinya tidak membawa dompet membuat Syera semakin gelisah. Mungkin jika membawa dompet pun akan sama saja karena uang yang dia punya tidak akan cukup untuk membayar semua apa yang sudah dimakan.
Tidak ada cara lain, Syera berpikir untuk menghubungi Fandy. Syera tidak bisa menghubungi Leo karena tidak punya nomor ponselnya.
"Ayo pulang."
__ADS_1
"Ha?"