
Seminggu semenjak meninggalnya Wulandari sudah berlalu. Syera kembali pada aktivitasnya semula. Seharusnya jadwal kuliah di kampusnya sudah masuk dalam libur semester setelah ujian selesai. Akan tetapi, untuk Syera masih harus ke kampus untuk ujian susulan.
Berkat campur tangan Leo maka para dosen memberikan dispensasi pada Syera untuk mengikuti ujian seorang diri apalagi yang menjadi alasan adalah meninggalnya mama Syera yang baru ia temui setelah dua puluh tahun lebih.
Mama Mila yang semula berencana mengajak kedua putranya dan Syera liburan ke puncak harus batal karena baik Leo dan Fandy mengatakan jika mereka sedang banyak kerjaan. Mereka beralasan seperti itu karena seminggu ini Syera pasti butuh istirahat.
Mama Mila tetap merencanakan liburan mereka kembali setelah Syera selesai ujian semester. Leo dan Fandy tidak dapat menolak karena tidak ingin mama Mila kecewa.
Kedua putranya itu sepakat tidak menceritakan mengenai Wulandari apalagi saat tahu jika mereka berdua ikut dalam mengurus pemakaman wanita yang mama Mila anggap sebagai perusak rumah tangganya dan penyebab kematian suaminya. Mereka ingin menjaga perasan mama Mila.
Selama seminggu ini Fandy selalu menemui Syera setelah pulang kerja sedangkan Leo akan pulang di atas pukul sembilan malam. Leo dan Syera menjadi jarang bertemu meski tinggal di tempat yang sama.
Saat Leo pulang Syera sudah berada di kamarnya sedangkan di pagi hari mereka hanya bertemu saat waktu sarapan saja.
Kling-kling!
Leo mengusap layar ponselnya yang terletak di atas meja makan dan mengetik empat digit pin-nya. Pesan masuk dari mamanya hanya dibaca Leo. Ia menghela nafas sambil mengunyah sarapannya.
Kling-kling!
Beberapa pesan dari mama Mila kembali Leo terima. Kali ini Leo malah tersenyum dan tertawa kecil saat membaca pesan mamanya dan melihat sebuah foto yang dikirim padanya.
Diam-diam Syera melirik pada ponsel Leo. Posisi ponsel yang berada di atas meja membuat Syera yang duduk di depan Leo dapat melihat foto yang dikirim mama Mila.
Cantik dan elegan, dua kata yang digunakan Syera untuk menggambarkan foto yang ia lihat.
Kak Leo lagi chatting-an dengan siapa? Perempuan cantik itu siapa dan apanya kak Leo? Apa sekarang dia sudah menyukai perempuan lain?
Selera makan Syera hilang, ia menunduk sambil memainkan sendoknya di atas piring.
Ting-Ting!
Syera mendongak mendengar bunyi piring yang dipikul Leo menggunakan sendok.
"Kenapa tidak makan?"
__ADS_1
"Enggak kok, kak. Ini aku makan," ucap Syera memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
Dari tadi senyum-senyum dan ketawa, pasti kak Leo lagi senang.
"Cantik, kak."
Rasa penasaran Syera tidak dapat ia tahan namun ia tersenyum agar tidak ketahuan.
"Cantik? Maksud kamu siapa?"
"Itu, foto yang ada di ponsel kakak. Aku nggak sengaja lihatnya tadi," jawab Syera.
Leo mengangkat kedua alisnya tersenyum membuka ponselnya lagi.
"Maksudmu yang ini?" menunjukkan foto yang tadi mungkin Syera lihat.
"Em, perempuan itu cantik," ucap Syera melirik sekilaa foto yang ditunjukkan oleh Leo.
"Jadi menurutmu dia juga cantik, penilaian kamu dan mama sama saja ternyata. Dia perempuan yang mau di kenalin mama denganku. Anak temannya mama waktu sekolah dulu katanya."
"Apa kak Leo mau ketemu dengan perempuan itu?"
"I-iya, kak. Jangan buat tante Mila kecewa."
Dia cantik, pastinya nggak akan susah buat kak Leo bisa suka dengannya. Apalagi perempuan itu di kenal tante Mila, tentunya pilihan terbaik pasti diberikan untuk kak Leo.
Sebelum menuju kantor Leo terlebih dahulu mengantar Syera ke kampus untuk ujian susulan. Saat akan keluar dari mobil Syera memeriksa kartu ujian yang harus ia bawa. Syera tidak ingat menyimpannya dimana. Ia mengeluarkan semua isi dalam tasnya, memeriksa isi dompet siapa tahu ia lupa melipat dan menyimpannya di sana namun tidak ada.
"Memangnya umurmu sudah berapa sampai tidak ingat menaruhnya dimana?" geram Leo melihat Syera membolak-balikkan setiap lembar kertas binder.
Tak sengaja agenda milik Syera yang diberikan Wulandari padanya terjatuh kebawah namun tidak diperhatikan oleh Syera maupun Leo.
"Huh... Akhirnya ketemu juga, kak. Kalau gitu aku pergi dulu kak."
Buru-buru Syera memasukkan kembali semua barang-barangnya ke dalam tas kecuali agenda di bawah yang tak jauh dari kakinya.
__ADS_1
..........
Keadaan di kantor hari ini sedikit berbeda karena sedang ada pemeriksaan kesehatan yang menjadi salah satu program yang berikan perusahaan pada para karyawan setiap tahunnya.
Leo memesan makanan dalam jumlah yang banyak untuk para karyawan setalah kegiatan pemeriksaan kesehatan selesai. Setiap devisi makan bersama di ruangan yang sudah di tentukan.
Khusus untuk Leo dan Fandy serta Bima sebagai asisten Leo, mereka berada di ruangan yang biasanya digunakan para eksekutif untuk rapat.
"Apa kau sangat menyukainya?"
"Maksudnya?" tanya Fandy tanpa melihat pada Leo.
"Hem... Maksudku, Syera. Apa kau memang sangat menyukainya?"
"Apa acara makan bersama ini adalah caramu untuk menanyakan hal itu? Aku bukan hanya menyukainya tapi menyayanginya. Aku tidak butuh persetujuan dari siapapun lagi termasuk kak Leo dan mama. Aku sudah besar dan punya kehidupan pribadi, mungkin akan terdengar seperti anak tidak tahu diri tapi aku tidak peduli jika mama masih tidak setuju."
Duduk berhadapan dengan jarak tiga meter kedua pasang mata Leo dan Fandy saling beradu. Jika Leo ingin meyakinkan dirinya akan sesuatu maka Fandy ingin mempertegas perkataannya selama ini.
Bima yang duduk dengan jarak dua kursi dari Leo merasa sedang berada di tempat yang tidak seharusnya.
"Maaf, tuan. Ada yang harus saya lakukan, saya permisi dulu. Sebaiknya anda dan pak Fandy menikmati makan siangnya karena jarang bisa makan bersama saat berada di kantor seperti ini," ucap Bima lalu undur diri.
Bima tidak ingin ikut dalam pembicaraan pribadi antara Leo dan Fandy. Ia memilih melanjutkan makannya bersama karyawan lain. Ia ingin menikmati makan siangnya dan hal itu sepertinya akan sulit jika berada di ruangan yang sama dengan Leo dan Fandy.
"Lakukanlah."
Orang yang bicara di depannya seperti bukan Leo yang selama ini dikenal Fandy. Ia tidak yakin jika Leo benar-benar mengatakan hal itu padanya.
"Aku tidak butuh persetujuan darimu," ucap Fandy.
"Aku tidak mengatakan jika aku menyetujuimu dengan Syera. Hanya saja akan lebih baik jika Syera bersamamu dibanding dengan pria lain yang tidak aku kenal. Aku tidak akan menyetujui apapun sebelum Syera yang membuat keputusan. Lagi-lagi, hanya tidak ada pilihan lain. Jika bersamamu maka akan lebih gampang bagiku untuk mengawasi."
Fandy masih meragukan perkataan Leo namun di sisi lainnya ia merasa mendapat angin segar.
Keduanya tidak lagi bicara hingga akhirnya Fandy meninggalkan Leo seorang diri di ruang rapat tersebut tanpa menghabiskan makan siangnya.
__ADS_1
Leo berdiri menghadap keluar melalui jendela kaca yang memperlihatkan bangunan-bangunan tinggi di sekitar perusahaan yang ia pimpin.
Apa yang kulakukan sudah benar? Aku tidak ingin egois, melepasnya untuk melihatnya bahagia adalah yang terbaik meski hati ini masih belum sepenuhnya rela.