Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Enak, kok.


__ADS_3

Baru saja kembali menjabat posisi wakil direktur Fandy sudah disuguhkan dengan banyak pekerjaan penting. Tugasnya kali ini seakan dua kali lipat dari yang dulu pernah ia lakukan.


Fandy melalui hari-harinya dengan kesibukan yang seolah tak akan kunjung usai.


Meski bukan setiap malam namun kerap kali Fandy akan pulang larut malam karena harus menyelesaikan pekerjaan penting di kantor. Jika tidak ia akan membawa pekerjaannya pulang kerumah untuk diselesaikan.


Hampir setiap hari Syera menitipkan bekal makan siang untuk Fandy pada OB yang sama. Ia khawatir Fandy akan melewatkan makan siangnya.


Hari ini pun Syera datang ke perusahaan dengan bekal makan siang. Ia sudah menunggu OB yang ternyata bernama Eko itu di dekat pos satpam.


"Sudah nunggu lama ya, mba? Maaf, ya."


"Nggak kok mas, Eko. Jangan lupa kasih ke pak Fandy ya," memberikan kantongan ditangannya pada Eko. "Dan ini tips buat mas."


"Tau aja kalau saya suka jus mangga. Makasih ya."


Pak Eko mengambil jus mangga yang diberikan Syera padanya. Setelah berpamitan ia mengantar titipan Syera pada Fandy. Sebelum tiba diruangan Fandy, seseorang menarik tangannya dan membawanya keruangan direktur utama. Kejadian itu terjadi begitu cepat hingga ia bingung dengan yang terjadi padanya.


"Letakkan di atas meja," perintah Leo.


"Pak Bima tapi ini titipan buat pak Fandy," bukannya menuruti perintah Leo, Eko justru mengalihkan pandangannya pada Bima yang tadi membawanya keruangan tersebut. Eko tidak berani berhadapan langsung dengan Leo akan tetapi dia juga tidak mungkin menuruti perintah Leo begitu saja.


"Kalau masih mau bekerja disini sebaiknya menurut saja," saran Bima.


"Tapi pak, ini untuk pak Fandy." Eko terus menolak meletakkan bekal makan siang untuk Fandy.


Bima mengeluarkan satu lembar uang seratus ribu dan memasukkannya ke kantong baju yang dipakai Eko.


"Gunakan itu untuk membeli gantinya," ucap Bima.


Sebenarnya Eko tidak tega dan merasa tak enak hati pada Fandy namun ia juga tidak mau mempertaruhkan pekerjaannya. Dengan berat hati ia meletakkan bekal yang tadi di titip Syera padanya.

__ADS_1


Berada diruangan direktur utama membuatnya sesak nafas. Ia berharap ini adalah hari pertama dan terakhir kalinya ia masuk kesana.


"Ka-kalau gitu saya permisi, pak." Perlahan Eko mundur dan kemudian berlari dari ruangan tersebut.


Sambil berlari Eko mengelus dadanya berulang-ulang. Cepat-cepat ia membeli makan siang sebelum waktunya tiba. Setelahnya ia mengantar apa yang dia beli pada Fandy dengan menggunakan uang yang diberikan Bima tadi.


Di ruangannya Leo tak melepas pandangannya pada kotak di depannya. Ia sama sekali belum menyentuhnya. Kotak itu hanya terbuka dan itupun dibuka oleh Bima.


Kemudian Leo melihat ke arah Bima yang tengah sibuk dengan file-file. Menggunakan dagunya Leo menunjuk kotak makanan di atas mejanya dan selanjutnya pada tempat sampah yang berada di dekat pintu.


Ingin rasanya Bima mengatakan sesuatu tapi dia urungkan karena tahu itu tidak akan berguna. Dengan perasaan bersalah Bima mengambil kotak itu dan membuang semua isinya ke tempat sampah. Dilihatnya Leo menyunggingkan senyum merasa puas dengan apa yang dilakukan Bima.


..........


Di salah satu restoran ternama yang menyediakan ruangan untuk para pelanggan VIP Leo duduk berhadapan dengan Fandy sedangkan Bima berada di samping kiri Leo.


Satu persatu hidangan mulai disajikan di hadapan ketiganya yang sedari tadi hanya memperdengarkan batuk dan deheman. Melihat tak satu pun yang membuka suara, Bima akhirnya memulai percakapan.


"Sebaiknya kita makan terlebih dahulu," ucap Bima membuka percakapan.


Leo mulai kesal mendengar ucapan Fandy. Ia mengumpati perusahaan Y dalam hatinya. Kalau bukan karena perusahaan itu yang meminta persyaratan harus Fandy yang menangani kerjasama, Leo juga tidak ingin berada pada situasi mereka saat ini.


"Baiklah kalau itu yang kau mau," ucap Leo.


Bima langsung mengerti arah pembicaraan Leo. Ia mengeluarkan kontrak kerjasama dengan perusahaan Y dan menyerahkannya pada Fandy.


Fandy membaca isi kerjasama sambil Bima ikut menjelaskannya juga. Tak satu poin pun terlewatkan oleh Fandy. Leo dan Bima yang tidak memberitahu jika Fandy adalah orang penting dalam menjalin kerjasama tersebut.


"Dua hari lagi akan ada pertemuan dengan pemimpin perusahaan Y untuk membahas kerjasama. Jika merasa tertarik mungkin mereka akan langsung menanda tangani kontraknya," jelas Bima.


Fandy tertawa kecil, sepertinya ia mengetahui alasan mengapa ia kembali menjadi wakil direktur. Sungguh sesuatu yang tak pernah ia duga. Meski begitu Fandy tidak berkomentar apapun. Ia mengingat ucapan Syera yang mengatakan untuk melakukan pekerjaannya demi almarhum pak Bayu, papa angkatnya.

__ADS_1


Setelah dirasanya cukup, Fandy meninggalkan Leo dan Bima tanpa menyentuh hidangan yang sudah tersaji.


"Apa dia tidak tahu jika aku mengeluarkan banyak uang untuk memesan makanan ini?" gerutu Leo menatap satu persatu hidangan di depannya.


"Apa kau tidak makan? Tadi kau menyuruhnya untuk makan tapi kau sendiri juga tidak makan. Apa aku yang harus menghabiskan ini semua?" cecar Leo melihat Bima yang hanya meneguk minuman.


"Maaf, tuan. Sebelum kemari saya sudah makan di kantor. Sebaiknya pak Leo saja yang makan. Saya akan menemani andai sampai selesai."


"Apa kau sedang bercanda denganku, ha? Panggil pelayan dan suruh membungkus semuanya ini. Aku membelinya untuknya jadi dia yang harus bertanggung jawab."


Seorang wanita datang setelah Bima menekan tombol yang disediakan di meja untuk memanggil pelayan. Bima meminta pelayan itu untuk membungkus semua hidangan seperti yang dikatakan Leo sedangkan bos-nya itu sudah terlebih dahulu menuju mobil dan menunggu di dalam.


"Apa yang harus saya lakukan dengan semuanya ini, tuan?" tanya Bima melihat pada bungkusan-bungkusan di kursi tengah mobil.


"Apa aku harus mengulanginya?"


"Maaf, tuan."


Tanpa bertanya lagi Bima mengantar Leo ke apartemennya. Dengan menggunakan kedua tangannya sendiri Leo membawa semua bungkusan berisi makanan itu. Ia sampai harus menggunakan sikunya untuk menekan tombol di lift karena sedikit kesulitan.


..........


Di apartemennya Fandy menatap nanar hidangan yang baru saja disajikan Syera di atas meja. Ia mengelus tengkuknya dan duduk dikursi.


Berbeda dengannya, mata Syera justru berbinar menyajikan apa yang baru ia masak.


"Ayo makan, kak."


Syera begitu antusias dan tak sabar ingin menyantapnya. Hanya ada dua bungkus mie instan rebus dan telur ceplok beserta nasi putih. Hidangan yang begitu menggugah selera Syera.


Semenjak tinggal dengan Fandy ini adalah untuk pertamakali Syera makan mie instan terang-terangan. Sebelumnya ia sangat sering mengkonsumsinya tanpa sepengetahuan Fandy .

__ADS_1


Setiap kali berbenja keperluan dapur Bima melarang Syera untuk membeli yang namanya mie instan, padahal Fandy tidak tahu saja jika diam-diam Syera kerap kali memakannya saat berada sendirian di apartemen. Fandy tidak menyukai mie instan dengan alasan tidak baik untuk kesehatan.


"Enak kok, kak. Cobain aja," bujuk Syera berharap Fandy akan memakannya.


__ADS_2