Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Seperti Kucing Dan Tikus


__ADS_3

Syera terlihat begitu santai pagi ini, tidak seperti biasanya yang sering berpacu dengan waktu. Usai membuat sarapan sederhana yaitu nasi goreng yang menjadi andalan menu sarapan paginya, Syera menyalakan televisi menunggu Leo bangun.


Setengah hari ini Syera akan bersantai di rumah karena dosen mata kuliahnya sedang berada diluar kota untuk urusan pribadinya. Meski demikian sang dosen tidak lupa memberikan tugas rumah kepada mahasiswanya termasuk Syera.


Sejujurnya Syera sangat menantikan saat dimana dia bisa bersantai seharian tanpa ada yang mengganggu. Dia butuh waktu untuk menyenangkan dirinya sendiri dengan hobi yang selama ini sudah jarang bahkan tidak pernah dilakukannya lagi.


Sambil mengunyah cemilan Syera tertawa kecil menyaksikan serial kartun dimana seekor kucing dan tikus tak pernah akur dan saling mengerjai.


"Kenapa menertawakan diri sendiri?"


"Ha? Kak Leo sudah bangun?" mengalihkan wajahnya pada Leo yang baru keluar dari kamarnya.


"Em."


"Aku ketawa karena film kartunnya, kak. Lucu, apalagi tikusnya."


"Tikus itu sangat mirip denganmu, kecil tapi membuat jengkel," sindir Leo.


"Kalau tikus itu aku berarti kucingnya kak Leo, garang dan menggigit," balas Syera tidak terima disamakan dengan seekor tikus.


"Bukan hanya menggigit, aku juga akan memakan dan menelanmu hidup-hidup. Maka berhati-hatilah mulai sekarang."


"Hihihi..." tawa Syera.


Mendengar Leo akan memakan dan menelannya seperti yang dilakukan seekor kucing pada tikus mengundang gelak tawa Syera. Gaya bicara Leo seperti inilah yang Syera tak temui beberapa hari terakhir ini.


"Hari ini Syera nggak ke kampus, kak. Dosennya berhalangan masuk, jadi cuman dikasih tugas rumah aja," ucap Syera memberitahu.


"Aku tidak tanya," ucap Leo ketus. "Kenapa tiba-tiba memberitahuku hal seperti itu? Bukannya kau berharap aku tidak ikut campur urusan?"


"Aku hanya mau kasih tahu kak Leo. Apa itu salah?"


"Memberi tahuku hanya karena melihatku saja dan saat tidak ada aku, kau tidak mengingatku sama sekali," sindir Leo.


"Apa kak Leo lagi ngajak Syera untuk bertengkar pagi-pagi begini?" tanya Syera menjadi kesal.


"Terserahmu saja mau menganggapnya seperti apa."


Masih dengan pakaian yang semalam Leo duduk manis dan menyantap sarapannya. Leo mengabaikan Syera yang melihatnya dengan kesal.


"Baik kalau gitu. Terserah Syera mau apa, iyakan?" tanya Syera mempertegas.

__ADS_1


"Em," merespon singkat pertanyaan Syera.


Syera mendekat dan berdiri di samping Leo yang sedang menikmati sarapannya. Matanya melotot memandangi Leo. Meski menyadari Syera berdiri begitu dekat dengannya, Leo tetap bersikap cuek dan tidak menggubrisnya.


Nasi goreng yang dibuat Syera lebih penting bagi Leo saat ini dibanding orang yang sudah memasaknya.


Kresss....


Bunyi bungkus keripik kentang yang digenggam Syera. Sekilas Leo melirik pada tangan Syera yang sudah terkepal kuat.


"Aaa...! Kau gila, lepas!" teriak Leo.


Diluar dugaan, Leo berteriak kesakitan saat tiba-tiba Syera menggigit lengan atas Leo cukup kuat. Leo meringis kesakitan, ia begitu geram atas apa yang dilakukan Syera.


Ptak!


Belum sempat Leo membalas perbuatan Syera, gadis itu justru langsung berlari ke kamar dan menutup pintu begitu kuat.


"Syeraaa!" teriak Leo memanggil.


Syera ketakutan setelah menyadari apa yang dia lakukan. Dia saja tidak menyangka akan berani melakukan hal itu pada Leo, dia berharap Leo tidak akan semarah yang dipikirkannya.


Tidak hanya menutup pintu kamarnya, Syera juga menguncinya agar Leo tidak bisa masuk. Sungguh rasa takut Syera saat ini melebihi rasa takutnya saat Leo menarik kerah bajunya dan mendorongnya sampai jatuh setelah kematian pak Bayu beberapa tahun lalu.


"Syera!!!" teriak Leo lagi memanggil.


Leo mencampakkan kemejanya asal dan menggedor-gedor pintu kamar di mana Syera sudah meringkuk didalam selimut.


"Keluar!" bentak Leo. "Ayo cepat buka pintunya!"


Syera menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar teriakan Leo, membuatnya semakin takut untuk keluar.


Berulang kali Leo menggedor-gedor pintu kamar Syera namun tidak ada artinya, si pemilik kamar bersikukuh untuk tidak keluar dan membuka pintu.


Apa kau pikir aku orang bodoh karena sudah berhasil membohongiku beberapa kali? Baik, ayo kita bermain sebentar!


Leo masuk ke kamarnya dan mengambil kunci serep kamar Syera.


Klek!


Syera seperti mendengar suara pintu kamarnya terbuka tapi dia langsung menampiknya. Dia yakin sudah mengunci pintu itu dengan baik. Karena tidak mendengar lagi suara Leo berteriak memanggil namanya, Syera membuka selimut yang digunakan untuk menutupi tubuhnya yang ketakutan akibat ulahnya sendiri.

__ADS_1


"Hakh! K-kak leo?"


Seolah tak percaya dan merasa sedang berhalusinasi Syera mengkedip-kedipkan matanya. Dihadapannya kini berdiri sosok Leo yang tinggi dan tegap sedang menyeringai padanya. Syera berpikir itu halusinasinya saja karena begitu takutnya saat ini apalagi sosok yang dilihatnya hanya memakai kaos singlet pada tubuh bagian atas.


"Apa kau sudah siap untuk kutelan hidup-hidup?" gertak Leo menyadarkan Syera pada kenyataan di depannya.


"Maaf, kak. Aku minta maaf, aku nggak sengaja, aku nggak bermaksud gigit kak Leo," ucap Syera minta ampun dengan mengatupkan kedua tangannya.


Perlahan Leo semakin mendekat dengan seringai yang menakutkan Syera. Leo menjulurkan tangannya berpura-pura seperti akan mencekik leher gadis yang sangat ketakutan itu. Refleks Syera menarik kembali selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


Sekuat tenaga Leo menahan diri untuk tidak tertawa.


Cukup dengan sekali tarikan Leo berhasil menyibakkan selimut dari atas kepala Syera dan berniat untuk menyudahi permainan kecilnya.


Tak sadar Syera meraih tangan Leo dan mendekapnya.


"Aku nggak ada niat kak, aku nggak bermaksud melakukannya," ucap Syera memohon. "Ampun, kak. Syera akan jadi adik yang baik dan penurut seperti yang kak Leo mau. Aku akan lakuin semua yang kak Leo mau, jadi jangan marah, kak."


"Benarkah? Kalau gitu jangan pernah membohongiku, kau paham?"


Apa pun yang dikatakan Leo langsung dianggukan oleh syera, yang penting masalah pagi ini bisa selesai.


"Bagus! Sekarang lepaskan tanganku," pinta Leo.


"Ha? Tangan? Maksudnya?"


Syera terperangah tak sadar dengan tangan Leo yang di dekapnya. Leo mengangkat kedua alisnya, Syera yang belum sadar mengikuti kemana arah mata Leo tertuju. Syera menurunkan pandangannya dan spontan melepas tangan Leo.


Senyum di wajah Leo mengembang memperhatikan raut wajah Syera yang menjadi kikuk.


Lama Leo memandangi wajah Syera yang masih menunduk malu. Tangannya bergerak keatas kepala Syera membelai rambut lembutnya, sesuatu yang sudah lama ingin dilakukan Leo. Sesuatu yang sering dan mudah dilakukan Fandy tapi sulit untuk Leo lakukan.


Leo duduk di hadapan Syera dengan tangan yang masih membelai rambut hitam dan panjang gadis itu. Leo semakin mendekatkan wajahnya pada Syera, mengamati setiap inci wajah yang kini berhasil menggantikan posisi orang lain dari masa lalu Leo.


Tangan Leo turun dari kepala Syera dan menangkup pipi kirinya. Leo menghela kuat nafasnya hingga Syera dapat merasakan nafas itu menyapu wajahnya.


"Sepertinya aku memang sudah gila," ucap Leo tepat di hadapan wajah Syera.


Tak lama setelah mengatakannya Leo keluar dan meninggalkan Syera yang masih menunduk dan tak bergerak sama sekali.


Hufff...

__ADS_1


Syera menghembuskan nafasnya saat Leo sudah tidak berada di kamarnya. Ia segera mengunci kembali pintunya. Syera menepuk-nepuk dadanya yang sulit bernafas sejak tadi Leo membelai rambutnya.


Sesaat Syera tersenyum namun seketika wajahnya berubah menjadi sendu.


__ADS_2