Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #12


__ADS_3

Mikael terus memikirkan perkataannya pada Sarah. Dia terpaksa berbohong agar Sarah tidak mendekatinya lagi. Dia tidak menyukai wanita itu.


Bagaimana jika papanya sampai tau jika dia sudah punya pacar tapi belum di kenalin ke orang tuanya? Pikir Mikael


Mikael menelpon seseorang.


"Gladys tolong kamu pesankan saya makanan." Ujar Mikael.


"Maaf Pak Mika, Gladys hari ini gak masuk kerja, dia sakit." Ujar Teddy yang mengangkat telepon diatas meja kerja Gladys.


"Oh iya saya lupa. Teddy minta tolong yah kamu pesankan saya makanan nasi goreng dan es teh."


"Baik Pak."


Panggilan telepon terputus.


30 menit Mikael menunggu Teddy telah datang membawa menu pesanannya.


"Terimakasih." Ujar Mikael.


"Iya Pak. Oh iya pak Mika ini laporan hasil rapat dengan PT Ayustya yang sudah dikerjakan Gladys." ujar Teddy.


"Bagaimana keadaan anak itu?" Tanya Mikael sambil melangkah menuju ke ruang tamu di ruangannya untuk menyantap makanannya.


"Katanya pak Aaron sudah mengirimkannya tukang pijit jadi sekarang keadaanya sudah membaik dan katanya juga besok dia sudah masuk kerja." Jawab Teddy.


"Aaron? Segitu pedulinya dia sama Gladys. Memang cap raja Playboy yang diberikan padanya itu tidak salah." Ujar Mikael.


Teddy yang mendengarnya tertawa kecil.


***


"Terimakasih Bu, sekarang saya benar-benar sudah merasa baikan." Ujar Gladys pada wanita parubaya yang telah memijit kakinya hingga membaik.


"Sama-sama. Nak apa besok saya masih harus datang?"


"Gak usah, saya sudah baikan."


"Kalau begitu saya pergi dulu." Pamit wanita parubaya itu.


"Hati-hati yah Bu."


Gladys lalu menutup pintu apertemennya.


Dia masuk ke dapurnya mencari bahan-bahan masakan yang bisa di olahnya menjadi menu makanan. Dia memutuskan membuat dadar mie.


Selesai makan Gladys membereskan peralatan makan dan masaknya.


🎵 you, you love it how i move you...


Gladys mencari keberadaan hpnya lalu melihat ke layar hpnya. Ternyata nomor yang tidak ia kenal, dia menggeser tombol hijau di layar hpnya.


"Halo." ujar Gladys


"Saya Lina, kamu masih mengingat saya kan?" Tanya orang di seberang.


Gladys yang mendengarnya seakan tidak percaya kalau mamanya Leon menelponnya.

__ADS_1


"Iya Tante Lina, saya ingat kok Tan." Jawab Gladys sopan.


Ada rasa takut dan cemas yang di rasakannya setelah kejadian di rumah sakit saat kecelakan Leon


"Bagus kalau kamu ingat saya, memang sudah seharusnya. Saya ingin meminta pertanggung jawaban kamu." Ujar Lina dengan suara datar.


"Iya Tante Lina."


"Pihak rumah sakit sudah memberikan tagihan biaya rumah sakit Leon, tapi saya ingin uang tunai."


"Kalau gitu Tante Lina bisa kirimkan foto tagihan rumah sakitnya, nanti saya akan..."


Belum selesia Gladys berbicara Lina sudah memotongnya. "Kamu gak percaya sama saya? sampai saya harus memberikan bukti tagihannya ha?" Bntak Lina.


"Maaf Tante Lina bukan itu maksud saya." Ujar Gladys hati-hati.


"Gak usah banyak alasan. Kamu sediain aja uang tunai kamu 30 juta rupiah." Ujar Lina.


"Maaf Tante Lina, kalau uang sebanyak itu sekarang saya tidak punya. Mohon berikan saya waktu."


"Kamu ini yah mau mempermalukan saya? kamu sendiri yang mau menanggung biaya rumah sakit Leon. Giliran uangnya di minta aja alasan gak punya uang. Saya beri kamu waktu 5 hari dan kita bertemu di cafe rumah sakit." Bentak Lina.


"Tapi Tante Lina..." Gladys memghentikan kalimatnya karena dia sudah tidak mendegar suara apapun dari hpnya. Dia lalu melihat kelayar hpnya, ternyata Lina sudah memutuskan sambungan telepon.


Gladys duduk di kursi makannya, tangannya menyanggah kepalanya.


"Sekarang saya harus bagaimana? uang tabungan saya mana cukup." Ujar Gladys dalam hati.


Apa pinjam uang ke Teddy dan Mira? Pikir Gladys tapi dia langsung menepis pemikirannya.


"Saya baru saja mengenal mereka, mana nyaman kalau saya pinjam uang mereka." Ujarnya dalam hati.


***


"Selamat pagi Dys." Sapa Mira yang baru saja menghampiri Gladys di pantry, tapi tidak ada balasan dari Gladys.


"Gladys." Panggil Mira yang melihat Gladys bengong.


"Ya." Ujar Gladys yang terkejut.


"Kamu kenapa sih? Bengong gak jelas gitu. Kamu lagi ada masalah?" Tanya Mira.


"Gak kok, pengaruh kurang tidur aja kali." Jawab Gladys asal.


"Dys kamu belum buatin pak Mika kopi yah? tadi saya keruangannya tapi tidak melihat gelas kopi." Ujar Teddy yang baru saja datang.


"Yah Tuhan saya lupa Ted." Ujar Gladys lalu buru-buru membuatkan Mikael kopi lalu mengantarnya keruangan Mikael.


"Gladys kenapa sih Ted?" Tanya Mira.


Teddy hanya menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya bertanda bahwa dia juga sendiri tidak mengetahuinya.


Mereka kembali ke meja kerja masing-masing.


Gladys yang baru saja keluar dari ruang CEO, langsung melihat Mikael yang baru saja tiba. Dia mempercepat langkahnya menuju ke meja kerjanya.


"Selamat pagi Pak." Sapa Teddy dan Gladys bergantian.

__ADS_1


Mikael lalu masuk ke dalam ruangannya.


Tidak menunggu lama telepon di atas meja kerja Gladys berbunyi, itu adalah panggilan dari Mikael.


Gladys segera membuka pintu ruangan CEO dan melangkah masuk.


"Kopi saya kok panas banget? kamu baru buat yah?" Tanya Mikael.


"Maaf Pak, saya memang baru saja membuatnya." Ujar Gladys yang menundukkan kepalanya.


"Kamu datang terlambatkan?" Tanya Mikael. Tidak menunggu jawabanya dari Gladys "kamu bawa kuar saja kopi ini, saya sudah tidak ingin meminumnya" lanjut Mikael.


"Baik Pak." Ujar Gladys lalu mengambil gelas berisikan kopi dan melangkah keluar dari ruang CEO.


Gladys menuju ke pantry untuk membuang kopi yang dibawanya lalu kembali ke meja kerjanya.


"Kamu kenapa Dys?" Tanya Teddy.


"Saya di marahin Pak Mika." Jawabnya.


"Bukan itu yang saya tanyakan. Kamu kenapa kek orang lagi banyak pikiran begitu?" Tanya Teddy.


"Saya lagi ada masalah." Jawab Gladys tidak semangat.


"Kamu bisa ceritakan sama saya, siapa tau saya bisa bantu." Ujar Teddy.


"Terimakasih, tapi maaf saya belum bisa cerita."


Teddy tersenyum." Gak pa pa kok, saya akan tunggu sampai kamu mau cerita. Kamu udah memberitahukan pak Mika jadwalnya hari ini?"


"Oh iya saya sampai lupa." Ujar Gladys segera dia mengambil buku jadwal Mikael lalu masuk kedalam ruang CEO.


"Maaf pak Mika saya ingin memberitahukan jadwal pak Mika hari ini."


"Bacakan." Ujar Mikael tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen dikerjakannya.


"Hari ini jadwal pak Mika hanya ada 2, jam 10.00 bertemu dengan pengacara lalu jam 03.00 acara launching dan peletakan batu pertama pendiri pabrik tekstil PT. Ayustya di desa A yang akan di hadiri oleh Gubernur."


"Acara launching nanti kamu ikut dengan saya." Ujar Mikael


"Baik pak, saya pamit dulu." Ujar Gladys lalu keluar dari ruang CEO.


Gladys kembali ke meja kerjanya.


"Gladys nanti saya akan menemani pak Mika untuk bertemu pengacara, saya minta tolong kamu susun laporan-laporan ini lalu kamu sesuaikan dengan data-data yang ada di komputer." Jelas Teddy


"Iya. Terus dokumen itu gimana?" Tanya Gladys yang melihat 3 dokumen yang ganggur di tepi meja Teddy.


"Itu biar saya yang akan kerjakan sepulang dari kantor pengacara, acara launching dan peletakan batu pertama pabrik PT Ayustya kamu yang nemenin pak Mika kan?" Tanya Teddy untuk memastikan.


Gladys hanya menjawabnya dengan anggukan. Dia kembali fokus pada kerjaannya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2