Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #66


__ADS_3

"Hai." Sapa Lea begitu masuk dalam ruang rawat Leon.


Gladys sedang menyusun kembali rantang yang baru saja di cucinya di kamar kecil.


"Hai Kak Lea." Sapa Gladys balik.


"Anak nakal itu kemana?" Tanya Lea ketika melihat Leon yang tidak berada di tempat tidur.


"Leon lagi di kamar kecil Kak." Jawab Gladys.


Lea mengangguk mendengarnya, dia lalu duduk di salah satu sofa empuk dalam ruang rawat.


"Kaki kamu kenapa?" Tanya Lea begitu melihat luka memar di lutut Gladys.


"Tadi saya gak sengaja terjatuh, jadi memar gini deh." Jawab Gladys lalu menutupi memar di lututnya dengan jaket yang di bawanya. Gladys tidak sepenuh berbohong tentang penyebab memar di kakinya.


"Ceritanya yang lengkap dong Sayang." Sahut Leon yang tiba-tiba telah berdiri di depan pintu kamar kecil yang membuat kedua wanita itu melihat ke arahnya.


"Kamu udah selesai? Biar saya bantu kamu ke tempat tidur." Ujar Gladys lalu memapah Leon


melangkah ke tempat tidur.


"Maksud kamu apa Leon?" Tanya Lea penasaran.


"Tadi siang Adys bertemu dengan Mama, saya lihat sendiri Mama sengaja menyandung Gladys dengan kakinya." Jelas Leon yang telah duduk bersandar di atas tempat tidur di bantu oleh Gladys.


"Tante Lina mungkin gak sengaja Leon, kamu gak usah menyalahkan Mama kamu." Ujar Gladys yang kembali duduk di samping tempat tidur.


"Maafin Mama yah." Ujar Lea yang merasa bersalah.


"Kak Lea apa-apaan sih kok minta maaf. Lagian luka memar ini udah gak begitu sakit kok. Tadi Leon udah mengobatinya." Ujar Gladys.


"Yah udah kalau gitu kak Lea, Leon saya pamit dulu." Pamit Gladys.


"Hati-hati yah Sayang." Ujar Leon lalu mengecup lembut jidat Gladys ketika wanita itu mendekatinya untuk mnegambil rantang di nakas.


"Leon ada Kak Lea, malu tau." Ujar Gladys yang merasa kaget dan malu dengan kecupan Leon tiba-tiba mendarat di jidatnya.

__ADS_1


"Tenang aja kakak Lea kalian gak lihat kok." Canda Lea yang hanya menutup mata kirinya dan mata kanannya tetap terbuka yang membuat mereka bertiga tersenyum bersamaan.


"Saya pamit dulu Kak Lea." Pamit Gladys lalu meninggalkan kakak beradik itu.


Setelah pintu tertutup rapat, Lea mendekati adiknya dan duduk di kursi yang di tempati Gladys tadi.


"Kakak mau tanya serius sama kamu." Ujar Lea.


"Soal Mama?" Tebak Leon.


"Iya, Mama pasti mendesak kamu lagi kan?" Tanya Lea, tidak menunggu jawaban adiknya wanita itu melanjutkan kalimatnya. "Soal Papa kamu gak usah pikirin, kakak masih bisa mengurus Papa. Tapi soal perusahaan Kakak memang gak bisa bantu. Kakak sama sekali gak ngerti soal perusahaan Papa, kamu tau sendirikan selesai kuliah kakak langsung di jodohkan dengan laki-laki pilihan Mama. Jadi kakak minta sama kamu untuk mempertimbangkan semuanya dengan matang-matang. Kamu harus mempertimbangkannya dari semua hal, termasuk Gladys." Jelas Lea.


"Apa Kakak bahagia dengan pernikahan Kakak?" Tanya Leon ragu.


"Bahagia yah...." Lea sejenak memikirkan kehidupan rumah tangganya, apakah masih bisa di bilang bahagia atau tidak.


"Bisa di bilang cukup bahagia. Selama Kakak menuruti keinginanannya dan tidak membantahnya, dia akan baik pada Kakak."


"Apa suami kakak pernah main tangan?" Sekali lagi Leon bertanya dengan perasaaan ragu, dia takut pertanyaannya menyakiti hati kakaknya tapi dia juga ingin mencari tau tentang kehidupan rumah tangga kakaknya yang tidak pernah di ceritakan oleh Lea.


"Kalau main tangan sih nggak hanya saja dia punya kebiasaaan ketika marah akan membuang semua barang yang ada di sekitarnya like a mad man. Makanya ketika dia marah Kakak akan membawa keponakan kamu menjauh dari Papanya." Jelas Lea yang membayangkan ketika suaminya marah padanya ataupun pada pejerjaan kantornya.


"Leon." Panggil Lea pelan.


Tidak ada respon dari adiknya.


"Leon." Sekali lagi Lea memanggilnya.


"Yah." Jawab Leon lirih.


"Kamu gak usah terlalu memikirkannya yang terpenting sekarang adalah masa kepulihan kamu, setelah kamu sudah benar-benar pulih baru kita pikirkan sama-sama jalan keluarnya." Jelas Lea yang menenangkan hati adiknya.


"Ini semua karena mama, anaknya belum sembuh betul dia sudah memberikan beban pikiran. Bahkan penyebab papa sampai sakit strok pun karena mama yang terlalu banyak maunya sampai perusahaan di ambang kebangkrutan. Gengsi Mama terlalu besar. Yah Tuhan Lea sadar, lagian nasi sudah menjadi bubur tidak ada gunabya menyalahkan mama la**gi." Batin Lea.


"Saya ke kamar mandi dulu." Lea berdiri lalu menuju ke kamar mandi.


Sementara Leon masih memandang kosong ke arah jendela yang tepat berada di hadapannya. Leon menjadi termenung sendiri.

__ADS_1


"Apa yang harus saya lakukan? Mohon berikan pertunjuk-Mu Tuhan." Gumam Leon. Hati dan pikirannya terus bergelut dengan masalah yang di hadapinya.


Tanpa sadar butiran-butiran bening telah jatuh ke pipi Leon, ini kali ke dua Leon menangis setelah berumur 12 tahun setelah anjing peliharaannya meninggal dari situ Leon sudah tidak menangis lagi hingga dia mendapat kabar papanya terserang penyakit strok 2 tahun lalu namun dia tidak bisa kmebali ke Indonesia karena baru saja terikat kontrak dengan perusahaan yang sangat ketat di Korea yang mengharuskannya tetap berada di Korea.


"Leon." Panggil Lea.


Dia terkejut melihat Leon yang menitihkan air mata dan hanya diam menandang kearah jendela.


"Leon, Kakak udah bilang kamu gak usah mikirin masalah itu dulu. Kamu harus fokus pada kepulihan kamu." Ujar Lea sambil menghapus air mata yang membasahi pipi adiknya.


Lea menyandarkan kepala adiknya di pundaknya, untuk mencoba menenangkan perasaan Leon.


"Saya gak tau Kak harus bagaimana, satu sisi mama dan satu sisinya lagi Gladys. Mereka sama-sama orang yang saya sayang Kak." Keluh Leon di dalam pelukan kakaknya, orang yang menjadi tempat Leon bersandar, tempat Leon mengeluh pada kehidupannya. Selain menjadi seorang kakak, Lea juga merupakan sahabat Leon. Mereka sangat dekat.


Lea tidak bisa berkata-kata lagi, dia menangis dalam diam sambil mengusap lembut rambut adiknya.


Lea tidak ingin memperburuk suasana hati adiknya, saat Leon tau dirinya juga ikut sedih dan menangis. Lea berpikir harus tampak kuat di depan adiknya agar bisa memberi semangat pada Leon.


"Kak Lea kepala.... kepala saya.... sakit Kak." Leon merintih kesakitan sambil memengangi kepalanya yang terasa sakit, semua yang di lihat oleh Leon terlihat kabur dan mulai menjadi gelap.


"Leon." Teriak Lea saat melihat Leon yang berada di pelukannya sudah tidak sadarkan diri. Buru-buru Lea memencet tombol darurat yang tergantung di samping tempat tidur.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣


__ADS_2