Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #15


__ADS_3

Mikael telah sampai di rumahnya.


Begitu mendapat telepon dari Winjaya, dia segera berangkat ke kota dan meninggalkan Gladys di hotel.


Kepala Pelayan yang melihat Mikael langsung tersenyum karena melihat penampilan Mikael.


Dia memakai baju kaos berwarna merah yang bergambar setengah hati berwarna putih dan bertuliskan hurup L dan O, serta celana kain yang memiliki karet dikakinya. Style pakaian yang dipakainya sama sekali bukan style Mikael, dia jarang memakai baju kaos. Mikael sudah terbiasa memakai pakaian rapi walau dirumah sekalipun.


Mikael yang menyadarinya langsung memerintahkan pelayan untuk menyiapkan pakaian untuknya.


"Sebelum bertemu papa, saya ingin mandi dulu." Ujarnya.


Mikael lalu melangkah menuju ke kamarnya. Saat hendak masuk ke kamar, dia bertemu dengan Nana


"Mika, pakaian kamu?" tanya Nana terkejut melihat pakaian yang dipakai Mikael.


"Kemarin saya kehujanan Tante Nana, jadi terpaksa pakai baju ini" jawab Mikael lalu masuk ke dalam kamarnya.


Nana adalah istri dari Winjaya dan ibu tiri Mikael.


***


Selesai mandi dan berpakaian, Mikael keluar dari kamarnya menuju ke ruang kerja papanya untuk mencari Winjaya. Namun orang yang di cari tidak ada. Dia melihat Nana yang sedang berjalan menuju arah dapur.


"Tante Nana." Panggil Mikael.


Nana yang mendengar namanya di panggil berbalik ke sumber suara.


"Ada apa Mika?"


"Tante Nana lihat papa gak?"


"Papa kamu lagi di taman belakang. Oh iya, saya mau buatin papa kamu kopi. Kamu mau juga?" Ujar Nana


"Teh aja." Sahut Mikael.


"Ok"


"Terimakasih Tante" ujar Mikael, dia lalu menuju ke taman belakang. Benar saja dia melihat papanya sedang menyirami tanaman.

__ADS_1


Akhir-akhir ini Winjaya sangat gemar menanam dan merawat tanaman buah-buahan. Apalagi sejak dia tau kalau cucu kesayangannya suka memakan buah strawberry.


"Selamat pagi Pa." Sapa Mikael.


"Selamat pagi Nak. Kamu lihat buah strawberry kesukaan cucu papa sudah mulai berwarna merah." Ujar Winjaya bangga, dia berhasil merawat tanaman buah strawberry pertamanya.


Mikael mendekati papanya untuk melihat buah yang di maksud Winjaya.


"Kata Yuan, cucu papa akan datang dalam waktu dekat ini. Papa tidak sabar menunggu cucu papa datang" ujar Winjaya yang masih melihat tanaman buah strawberry di depannya. "Papa mau ketemu dengan calon mantu papa." lanjutnya yang kini mengalihkan pandangannya kepada anak pertamanya.


Mikael yang mendengarnya merasa terkejut.


"Calon mantu?" Tanya Mikael heran sekaigus terkejut.


"Iya, calon mantu. Kamu gak usah sembunyiin lagi dari Papa, Papa udah tau. Pantesan kamu sering nolak kalau papa kenalin kamu sama anak perempuan temen-temen Papa." Jelas Winjaya.


"Minumamnya udah datang." Ujar Nana yang baru saja datang membawa kopi dan teh dan menaruhnya di meja besi yang berada di taman.


"Sayang, kasih tau Mikael apa yang di katakan Frans." Ujar Winjaya lalu duduk di kursi taman dan menyeruput kopinya.


Mikael mengikuti Papanya dan duduk di kursi taman.


"Semalam Paman Frans telpon papa kamu, dia melihat kamu masuk hotel bersama seorang wanita dan kamu gendong lagi wanita itu. Paman Frans bahkan mengambil foto kalian, tunggu tante kirim ke kamu fotonya." Jelas Nana lalu mengambil hp di saku celananya.


"Yah Tuhan, bagaimana ini? bisa-bisanya mereka mengira saya dan kepala batu pacaran" batin Mikael.


"Mulai sekarang Papa dan Tante Nana tidak akan mencarikan kamu wanita lagi, asalkan kamu mau membawa calon mantu papa untuk makan malam, papa ingin berkenalan dengan dia" ujar Winjaya semangat.


"Papa serius? Tidak akan menjodoh-jodohkan saya lagi." Tanya Mikael untuk meyakinkan.


"Iya." Jawab Winjaya sambil mengganggukkan kepalanya.


"Deal, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Dia orangnya pemalu Pa." Ujar Mikael. Dia sengaja berbohong dan menyetujui keinginan papanya, dia butuh waktu untuk membawa Gladys ke rumahnya karena tidak mudah untuknya membawa wanita kepala batu itu kerumahnya. pikir Mikael


***


Seperti biasa Gladys telah tiba di kantor menggunakan ojol. Belum banyak pegawai yang datang ke kantor. Dia telah tiba di ruangannya dan menyimpan tasnya lalu ke pantry untuk menyiapkan kopi dan biskuit untuk Bossnya.


Setelah keluar dari ruangan CEO, Gladys melihat Teddy yang telah tiba dan beberapa karyawan lainnya.

__ADS_1


"Selamat pagi Dys." Sapa Teddy sambil mengeluarkan dokumen-dokumen ke atas mejanya.


"Selamat Pagi." Sapa Gladys balik.


Gladys mulai mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Tidak menunggu lama sudah terdengar suara beberapa karyawan yang kompak menyapa seseorang dan sudah pasti orang itu adalah Mikael. Pikir Gladys.


"Orang sok perfect datang." Ujar Gladys dalam hatinya kesal.


Dengan ekspresi kesal, Gladys mengikuti Mikael masuk ke dalam ruangannya sambil membawa buku jadwal Mikael.


"Jadwal Pak Mika hari ini jam 10.00 rapat dengan pak Aaron. Jam 02.00....."


Belum selesai Gladys membaca jadwal Bossnya, Mikael menghentikannya.


"Stop. Saya belum perintahkan kamu untuk membaca jadwal saya dan apa-apaan ekspresi kamu itu? Kalau lagi marah sama seseorang jangan tunjukkan disini." Ujar Mikael sedikit kesal.


"Saya emang lagi marah sama kamu." Bentak Gladys dalam hati.


"Maaf Pak." Ujar Gladys tanpa merasa bersalah.


"Lanjutkan." Ujar Mikael.


"Jam 02.00 bertemu dengan klien bersama pak Aaron. Selesai." Ujar Gladys yang berusaha menutupi kekesalannya.


"Jadwal saya hanya itu?" Tanya Mikael.


"Iya Pak. Ada yang mau saya tanyakan ke Bapak." Ujar Gladys.


"Apaan? Oh iya pakaian saya seharusnya mereka titipkan ke kamu, sekarang mana pakaian saya?" Tanya Mikael.


"Saya lupa bawa." Jawab Gladys singkat.


"Lupa?" Tanya Mikael geram.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2