
"Hai Leon." Sapa Gladys.
Kali ini dia lebih bisa mengontrol perasaannya di bandingkan saat pertama kali dia menjenguk Leon.
"Saya sudah dapat kerjaan sekarang di salah satu perusahaan dengan gaji yang tinggi. Saya juga ada kerjaanya extra, gajinya juga tinggi." ujar Gladys. Dia tidak memberitahukan pada Leon jika kerjaan extra itu adalah menjadi pacar bohongan Bossnya. Menurutnya pekerjaan extranya itu tidak begitu penting untuk di ketahui Leon karena yang terpenting dia bisa mendapatkan uang yang banyak untuk Leon.
"Leon, saya hanya berharap kamu cepat sembuh seperti sebelumnya. Kita bisa jalan-jalan bersama, makan bersama, saya masakin kamu makanan kesukaan kamu." ujar Gladys, dia tersenyum mengingat kenangannya saat bersama Leon di Korea.
Gladys lalu memperbaiki posisi selimut Leon dan mengelus lembut pipi Leon.
Dia memandang wajah Leon yang tampak seperti bayi yang sedan tertidur lelap.
"I love you my lovely." Lirih Gladys pelan.
Dia lalu berpamitan dan mengecup lembut dahi Leon.
Gladys telah keluar dari ruang ICU.
Dia mencari benda kecil dari dalam tasnya, setelah menemukan benda yanh dicarinya segera Gladys menekan nama pada kontak hpnya lalu menelpon seseorang.
"Halo Kak Lea sekarang dimana?"
"Saya lagi ada urusan Dys, lagian jam besuk ruang ICU tinggal beberapa menit lagi. Mungkin jam besuk sore nanti baru saya ke rumah sakit." Jawab Lea.
"Iya Kak Lea. Saya baru saja keluar dari ruang ICU. Yah udah Kak Lea bye."
"Bye Dys."
Sambungan telepon terputus.
Gladys lalu melihat selembar kertas yang tertempel di pintu ruang ICU
Jam besuk pasien di ruang ICU
Pagi jam 9.30 - 11.00
Sore jam 15.30 -18.00.
Dia lalu melihat ke jam tangannya yang menunjukkan pukul 10.55.
"Ternyata jam besuknya sudah berubah." Gumam Gladys.
__ADS_1
Belum lama dia menyimpan honya didalm tasnya, benda kecil itu kembali berbunyi.
🎵 you, you love it how i move you...
Gladys mengambil hpnya kembali di dalam tas lalu melihat kelayar hpnya ternyata telepon dari Lina. Segera Gladys memencet tombol hijau di layar hpnya.
"Halo Tante Lina." Sapa Gladys.
"Saya mau kamu berikan uangnya sekarang." Ujar Lina.
"Kalau gitu saya akan mentransfer uangnya ke Tante."
"Gak usah. Saya mau uang kes, 30 menit lagi kita ketemu di Big Cafe." Ujar Lina lalu memutuskan sambungan telepon.
"Big Cafe? Bukannya Big Cafe lumayan jauh dari rumah sakit?" Gumam Gladys, dia pernah melihat Big cafe saat perjalanan menuju ke desa A bersama Mikael. Gladys langsung mencari tahu lokasi Big Cafe di google map untuk memastikan dan benar saja butuh waktu sekitaran 40 menit untuk sampai kesana.
Segera Gladys menuju ke ATM center rumah sakit untuk menarik sejumlah uang sesuai permintaan Lina. Lalu memesan ojol.
Sesampainya, Gladys turun di parkiran Big Cafe.
Matanya langsung dapat melihat keberadaan Lina dari kaca besar di Big Cafe. Namun Lina tidak sesang sendirian.
Dia melihat Lina yang sedang mengobrol dengan seseorang dan saat Gladys ingin menghampiri Lina langkahnya terhenti ketika dia tau siapa orang yang mengobrol dengan Lina.
Gladys melihat Nana yang melangkah keluar cafe dan masuk ke dalam mobil alphard berwarna putih.
Setelah Gladys memastikan mpbil Nana sudah tidak terlihat lagi, Gladys segera keluar dari persembunyiannya, dia melangkah masuk ke dalam cafe dan menghampiri Lina.
"Selamat siang Tante Lina" Sapa Gladys lalu duduk di kursi seberang Lina.
Lina tampak syok dengan keberadaan Gladys.
"Untung anak ini baru saja datang sekarang." Batin Lina.
"Siang. Kamu kok baru datang. Kamu lihat jam gak? saya kan bilang kita ketemuanya dalam waktu 30 menit. Sekarang ini sudah 1 jam." Bentak Lina yang membuat para pengunjung cafe yang berada di sekitar mereka melihat sessaat kerah mereka
"Maaf Tante tadi jalanan macet." Ujar Gladys berbohong.
"Yah sudah, mana uangnya?" Ujar Lina ketus.
"Tapi tante saya boleh gak lihat tagihan dari rumah sakit?" Tanya Gladys ragu.
__ADS_1
"Kamu gak percaya sama saya?" Bentak Lina lagi.
"Maaf Tante Lina, bukan itu maksud saya. Saya... Saya... Hanya ingin melihatnya saja." Ujar Gladys pelan. Dia tidak ingin Lina merasa kalau dirinya tidak percaya dengan kata-kata Lina.
"Berikan uangnya sekarang." Ujar Lina ketus.
Gladys mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya lalu memberikan uangnya pada Lina.
Lina yang telah menerima uang dari Gladys, tersenyum licik pada Gladys.
"Ternyata segampang ini mendapatkan uang dari wanita bodoh ini. Baru di gertak sedikit dia sudah panik gitu dan langsung memberikan uangnya." Batin Lina.
"Kamu dapat uang ini dari mana?" Tanya Lina.
Belum sempat Gladys menjawab, Lina sudah terlebih dulu berbicara.
"Gak usah di jawab. Karena yang terpenting kamu mau membayar semua biaya rumah sakit Leon. Saya pergi dulu." Ujar Lina lalu berdiri dari kursinya sambil memakai kacamata hitamnya.
Lina melangkah dengan angkuh dan langkah kaki yang besar keluar dari cafe. Dia sudah seperti ibu-ibu pejabat yang supermodis.
Perut Gladys kini memberi sinyal untuk di isi.
Gladys segera keluar dari cafe dan mencari warung makan di sekitar cafe.
Big Cafe adalah salah satu cafe terbesar di Ibu Kota, tempat berkumpulnya para konglomerat Ibu Kota dan sudah pasti harga menu makanan dan minumannya tidak murah. Pikir Gladys.
Gladys melihat warung bakso dan memutuskan untuk makan siang di sana.
Selesai makan Gladys memesan ojol dan kembali ke apertemennya.
Sesampainya Gladys segera melepas sepatunya lalu ke kamar untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian rumah.
Gladys menuju ke dapur untuk mencuci peralatan dapur yang telah di pakainya pagi tadi. Dia melihat bahan-bahan cup cakenya yang masih banyak tersisa.
"Sayang banget bahan-bahan cup cake masih banyak gini, apa saya buat cup cakenya aja yah?" Gumam Gladys sambil melihat bahan-bahan cup cakenya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...