
Gladys hanya merespon Mira dengan senyuman lalu keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.
"Gimana Nona? Apa Nona Gladys suka?" Tanya Pak Noh.
"Iya Pak Noh saya suka, tapi apakah setelah saya setuju memyewa apertemen ini saya bisa menambah furniture atau jika saya ingin menambah sebuah lukisan begitu?" Tanya Gladys ragu.
"Tentu saja bisa, kamu bebas bahkan jika kamu mau mengubah posisi-posisi furniture di sini juga boleh banget." Samber Teddy.
"Bukan kamu yang di tanya, malah kamu yang nyamber." Gerutu Mira yang baru saja keluar dari kamar yang berada di seberang kamar utama.
Gladys yang tanpa sengaja melihat ke arah luar apertemen melihat sosok wanita parubaya yang sedang berjalan melewati pintu apertemen.
"Bi Jum." Panggil Gladys yang membuat Bi Jum mengehentikan langkahnya dan melihat Gladys yang sedang memghampirinya.
"Bi Jum darimana?" Tanya Gladys.
"Bibi dari beli buah untuk Tuan Mika." Jawab Bi Jum sembari menunjukkan hasil belanjaannya. "Non Gladys lagi ngapain di apertemen itu?" Lanjut Bi Jum.
"Saya di bawa Teddy untuk melihat apertemen."
"Non Gladys mau nyewa?"
"Rencananya sih gitu, tapi belum di putusin juga."
"Bagus dong Non kalau gitu, Non sama Tuan jadi bisa lebih sering ketemu. Asal Non tau yah, Tuan itu gak mau apertemen itu di sewa orang lain dan Mas Teddy juga tau itu."
Gladys terkejut mendengar penjelasan Bi Jum.
"Teddy juga tau? berarti Kak Mika yang telah menyuruh Teddy sampai maksa agar saya mau menyewa apertemen ini bahkan biaya sewanya di murahin, tapi kenapa? Kenapa dia ingin saya pindah ke apertemen ini? Dan kenapa Kak Mika gak bilang langsung ke saya? Apa karena dia takut saya menolaknya?" Batin Gladys bertanya-tanya.
"Kata Bi Jum Kak Mika gak mau orang lain nyewa apertemen ini, kenapa?"
"Tuan takut dapat tetangga ribut. Tuan memang gak suka keributan."
"Hai Bi Jum." Sapa Teddy yang telah keluar dari unit apertemen Sky-2002 bersama Pak Noh dan Mira.
"Hai Mas Teddy."
"Oh iya Bi kenalin ini Mira, sahabat saya."
"Hai Bi" Mira mengulurkan tangan dan di balas oleh Bi Jum membuat mereka salin berjabat tangan.
"Hai juga Non." Balas Bi Jum.
"Gak usah panggil Non, panggil Mira aja." Ujar Mira.
__ADS_1
"Bi kami mau makan siang, mau sekalian ikut dengan kami makan siang?" Tanya Teddy.
"Terimakasih Mas Teddy untuk ajakannya,tapi sayangnya Bibi sudah makan siang sebelum pergi belanja tadi." Tolak Bi Jum dengan sopan.
"Yah sudah kalau begitu, kita pamit yah Bi."
***
Selesai makan siang, Mikael keluar dari kantornya menuju ke mobil Jeep Renegade yang kini selalu di pakainya setelah kecelakaan yang di alaminya.
Kini mobil Mikael tengah melaju di jalan raya.
Walaupun Gladys telah berjanji akan menuruti permintaan pertamanya tapi di dalam hati Mikael masih terselip rasa khawatir. Pasalnya Mikael hanya meminta Gladys untuk pindah dari rumah kontrakan Mira tapi bukan untuk pindah ke apertemen miliknya.
Laki-laki tampan itu memberhentikan mobilnya di parkiran sebuah toko mainan terbesar di Ibu Kota.
Mikael memasuki toko itu dan matanya langsung tertarik dengan boneka beruang berwarna cokelat cream lengkap dengan bentuk love yang tertempel di dada kiri boneka beruang serta sebuah puket bunga di salah satu tanga boneka beruang itu menambah ke cantikan boneka itu.
"Apa kepala batu bakalan suka?" Ujar Mikael yang sedang memegang boneka beruang berwarna cokelat cream di tangannya.
Mikael mencoba memeluk bonrka itu, untuk mengetahui aoakah boneka itu nyaman saat di peluk untuk tidur.
"Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pegawai toko.
"Iya Mbak, gini saya mau membelikan pacar saya boneka tapi saya gak tau dia sukanya yang bagaimana. Saya hanya tau kalau dia suka memeluk boneka saat tidur."
"Kalau gitu saya ingin beruang yang memakai baju dan di bajunya itu bertuliskan kebahagian itu ada ketika kamu di sisiku dan tulis aja MW."
"Kami akan buatkan, bonekanya yang warna cokelat krem saja?"
"Iya, dan tolong ketika sudah jadi di kirim ke alamt ini." Ujar Mikael lalu memberikan kartu namanya pada pegawai toko.
"Baik Pak, kalau begitu silahkan ke kasir kami." Ujar pegawai toko sopan.
"Hai Mikael Winjaya." Sapa seorang wanita yang nerpenampilan bak seorang model.
"Marsha? Kamu ngapain di sini?" Tanya Mikael yang terkejut melihat keberadaan Marsha.
"Beli kado untuk anak teman saya yang ulang tahun." Jawab Marsha. "Berikan nomer hp kamu dong, siapa tau nanti kita bakalan berbisnis bareng." Pinta Marsha dengan gaya sok centilnya.
"Nanti aja, kalau kita memang ada bisnia bareng." Ujar Mikael datar tanoa melihat ke arah wanita yang kini berdiri di sampingnya.
"Ok."
"Mbak belanjaan saya dia yang bayarin yah." Ujar Marsha pada pegawai toko yang bertugas di bagain kasir.
__ADS_1
Mikael tersentak mendengarnya, dia gak ada sama sekali niatan untuk membayar belanjaan wanita kepala dua itu
"Baik Bu, ini belanjaannya." Pegawai toko trlah memberikan belanjaan Marsha.
"Bye My Mika." Pamit Marsha dan melangkah keluar toko sambil menenteng sekantong besar berisikan mobil-mobilan.
"Dasar wanita aneh." Gumam Mikael dan dengan terpaksa dia membayar belanjaan Marsha.
Selesai membayar Mikael keluar dari toko dan masuk ke dalam mobilnya.
Mikael mengambil hpnya dari saku celananya. Dia memgetikkan sebuah nama lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo Sayang, gimana dengan apertemennya? kamu suka?" Tanya Mikael.
"Suka. Tapi sepertinya saya gak jadi sewa." Jawab orang di seberang.
"Kenapa?" Tanya Mikael terkejut.
"Kamu sekarang di mana?" Tanya Mikael lagi tanpa menunggu jawaban Gladys.
"Di kantin kantor lagi makan siang." Jawab Gladys.
"Setengaj jam lagi kita ketemu di ruangan saya, saya ingin bicara dengan kamu." Ujar Mikael kesal.
"Ok."
Panggilan telepon terputus.
Mikael segera melajukan mobil di jalan raya, dia terua memikirkan alasan Gladys sampai menolak untuk menyewa unit apertemen Sky-2002.
"Apa dia tau kalau saya pemilik apertemen itu? Makanya dia menolak?" Gumam Mikael.
.
.
.
Bersambung...
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣