
Kini mobil Mikael telah berada di jalan raya, dia mengikuti sesuai arahan dari GPS.
"Lain kali saya mau kamu yang mengantar makan siang saya, bukan Teddy." Ujar Mikael yang masih fokus pada jalanan.
"Bukannya sama saja yah pak Mika, saya atau Teddy yang mengantarnya?" Yanya Gladys.
"Saya bilang kamu yah kamu." Ujar Mikael geram.
"Baik pak Mika."
"Kamu jangan pernah memberikan nomor telepon kamu pada sembarang orang dan juga jangan menatap wajah laki-laki lain."
"Kenapa gak boleh? Itukan hak saya Pak." Bantah Gladys.
Mikael memberhentikan mobilnya ketika melihat lampu lalulintas yang berwarna merah. Dia lalu melihat kearah Gladys.
"Tapi kamu harus ingat, ada kontrak perjanjian diantara kita." Ujar Mikael kesal.
"Maaf Pak Mika. Saya akan mengingatnya." Ujar Gladys.
Mendengar kata kontrak perjanjian diantara mereka membuat Gladys hanya bisa terdiam dan menuruti keinginan Mikael.
"Besok saya akan menjemput kamu pukul 05.00." Ujar Mikael.
"Besok? Besokkan hari sabtu, kita mau kemana di hari libur?" Tanya Gladys.
"Bertemu dengan orang tua saya." Jawab Mikael.
"Kenapa mendadak? Saya belum siap Pak Mika." Ujar Gladys panik.
"Siap gak siap kamu harus siap. Lagian apa kamu gak pernah bertemu dengan orang tua pacar kamu?" Tanya Mikael geram.
"Pernah. Tapi keluarganya tidak menyukai saya." Jawab Gladys, lalu melihat ke luar jendela mobil.
Dia teringat dengan pertemuannya dengan Lina di rumah sakit, saat kecelakaan Leon. Hari itu adalah pertama kalinya dia bertemu dengan keluarga Leon dengan situasi yang kacau balau.
Lampu lalulintas telah berubah warna menjadi hijau, Mikael kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
Sepintas dia melihat ke arah Gladys saat melihat ke kaca spion sebelah kiri.
"Kenapa dia tampak sedih begitu? Apa ada masalah saat pertemuannya dengan keluarga pacarnya?" Tanya Mikael dalam hati. "Tapi bodoh amat, itu bukan urusan saya juga." Lanjutnya.
Kini mobil Mikael telah berhenti di depan lobi apertemen Gladys.
"Terimakasih Pak untuk tumpangannya." Ujar Gladys lalu keluar dari mobil Mikael.
Mikael kembali melajukan mobilnya.
Gladys telah sampai ke apertemennya, dia melepas sepatu yang lalu berjalan ke sofa empuk miliknya dan melempar badannya ke sofa. Dia melihat langit-langit apertemennya.
"Apa semuanya akan berjalan lancar? Apa yang harus saya katakan saat bertemu dengan mereka besok? Apa mereka akan menyukai saya?" Gumam Gladys. Ada rasa ketakutan yang di rasakan Gladys mengingat pertemuan pertamanya dengan orang tua Leon dulu.
Gladys lalu menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.
***
Hari ini Gladys bangun cukup pagi. Dia ingin berbelanja bahan-bahan cup cake untuk di berikannya pada orang tua Mikael saat bertemu nanti.
Dia telah selesai bersiap dan melangkah keluar dari apertemen menuju ke supermarket menggunakan ojol.
"Gladys." Panggil seseorang.
Gladys lalu berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Kak Gilang."
"Kamu belanjaan apaan?" Tanya Gilang.
"Ini bahan-bahan untuk membuat cup cake." Jawab Gladys.
"Kamu bisa buat cup cake?" Tanya Gilang yang sedikit terkejut mendengar jawaban Gladys.
"Hobi saya masak kak."
"Bagus dong. Kapan-kapan boleh dong di masakin."
__ADS_1
"Boleh. Kak Gilang suka makan apa, nanti saya coba masakin."
"Terserah kamu aja. Yang penting kamu yang masak."
"Ok"
Selesai membayar. Gilang menawarkan diri untuk mengantar Galdys pulang.
"Terimakasih Kak Gilang." Ujar Gladys saat sudah sampai di depan apertemennya lalu keluar dari mobil Gilang.
Gladys lalu melangkah ke apertemennya.
Sesampainya dia melepas sandal yang di pakainya lalu menuju ke dapur dan mulai membuat cup cake yang sering di buatnya saat di Korea.
"Selesai" ujar Gladys senang saat dia telah selesai merias cup cake terakhirnya.
Tiba-tiba Gladys mengingat papanya yang sangat suka memakan cup cake buatannya. Saat papanya berulang tahun pasti Gladys di minta membuat kue ulang tahun dari cup cake yang di buatnya.
"Semoga saja Papa di Korea baik-baik saja. Lagian ada eomma, Gisel dan Geral di samping papa. Mereka pasti menjaga papa" ujar Gladys dalam hati lalu membuat segaris senyum di bibirnya mengingat kedua adiknya yang berebut untuk menyuapi papanya cup cake pertama di hari ulang tahun papanya
Perut Gladys berbunyi.
"Lapar banget." Ujar Gladys sambil memegang perutnya dan melihat jam dinding yang berada di dekat meja makan yang emnunjukkan pukul 1.30. Dia lalu menyimpan semua cake yang di buatnya ke dalam kulkas lalu membuat telur dadar.
Gladys mengambil nasi putih yang telah di masaknya ke dalam piring dan mengambil telur dadar yang telah matang lalu menyiramkan kecap manis di atas nasi telurnya.
Selesai makan Gladys membersihkan dapurnya lalu mandi. Setelah itu dia memilih pakaian yang akan di gunakannya untuk bertemu orang tua Mikael.
Pilihannya jatuh pada dress brenda berwarna pink muda diatas lutut, sepatu wedges pink dan handbag berwarna senada dengan pakaian dan sepatunya.
Setelah berpakaian Gladys merias tipis wajahnya dengan make up yang biasa di pakainya ke kantor. Dia mengikat setengah rambutnya dengan jepitan berbentuk pita. Untuk sentuhan akhir Gladys memakai anting dangle yang berbentuk seperti tetesan air mata, bentuk oval yang menggantung berwarna putih perak.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...