
Kini mobil Aaron telah melaju ke jalan raya.
"Kamu tinggal dimana dys?" Tanya Aaron
"Di apertemen dekat mini market tadi." Jawab Gladys.
"Apertemen yang lebih mirip rumah susun itu?" Tanya Aaron memastikan.
Gladys mengiyakan pertanyaan Aaron.
"Memangnya gaji sebagai asisten CEO Winjaya Development gak cukup untuk apertemen yang lebih besar?" Tanya Aaron yang masih fokus pada jalanan.
Gladys tersenyum. "Saya nyaman kok kak tinggal di situ." Jawab Gladys.
"Oh iya ngomong-ngomong soal CEO, kamu beneran pacaran dengan si Arogan itu?"
"Arogan? Maksud Kak Aaron, Kak Mika?" Tanya Gladys memastikan.
"Ya iya. Siapa lagi."
Gladys tersenyum. "Kalau Kak Mika bilangnya saya pacarnya berarti saya memang pacarnya."
"Patah hati lah saya ini. Kamu kok mau sama Si Arogan itu?"
"I don't know. Maybe because of fate." Ujar Gladys.
Ini memang takdir dari Tuhan menjadi fake boyfriend orang lain demi real boyfriend. pikir Gladys.
Aaron menghembuskan napas mendengar jawaban Gladys.
"Kak Aaron kenapa?" Tanya Gladys yang mendengar hembusan napas Aaron seperti seorang yang kecewa.
"Patah hati dong." Ujar Aaron membuat suaranya terdengar sedih.
"Cup cup cup jangan sedih dong Kak. Kak Aaron kan masih punya segudang wanita." Canda Gladys.
"Saya hanya sukanya sama kamu." Gombal Aaron.
"Udah ah. Lama-lama jadi baper lagi."
"Emang itu tujuannya."
Mobil Aaron kini tengah memasuki parkiran kantor.
Mereka turun dari mobil dan masuk ke lobby kantor.
"Ternyata begini yah suasana saat datang lebih awal dari pegawai lain." Ujar Aaron kegirangan seperti anak kecil.
"Memangnya kak Aaron gapain datang lebih awal?" Tanya Gladys sambil melangkah menuju ke lift bersama Aaron.
"Untuk revisi desain proyek infrastruktur, sebentar ada rapat dengan pak Gubernur." Jawab Aaron.
"Oh iya. Kak Mika juga ikut rapat." Ujar Gladys yang mengingat jadwal Mikael hari ini.
Kini mereka telah berada di dalam lift.
Pintu lift kembali terbuka saat di lantai 25.
Aaron memang sengaja menekan tombol bertuliskan angka 25 untuk mengantar Gladys terlebih dulu.
"Terimakasih kak Aaron." Ujar Gladys lalu pintu lift kembali tertutup.
__ADS_1
Gladys menyimpan tasnya lalu ke pantry untuk menyiapkan kopi dan beberapa kepingan biskuit untuk Bossnya.
Saat melewati ruangannya untuk masuk ke ruang CEO.
"Selamat pagi Dys." Sapa Teddy yang sedikit mengeraskan suaranya.
Gladys yang mendengarnya di buat kaget.
"Yah Tuhan Ted. Bisa gak sih suaranya di kecilin. Hampir nih kopi dan biskuit terbang ke wajah kamu." Omel Gladys.
"Sadis amat sih." ujar Teddy dengan ekspresi di buat takut.
"Udah ah. Saya masuk dulu." Pamit Gladys lalu membuka pintu di hadapannya.
Seperti biasa tidak ada orang di dalam ruang CEO, dia melihat posisi kursi CEO membelakanginya lalu menaruh kopi dan biskuit yang di bawanya ke meja kerja bossnya.
Saat menaruh piring biskuit tiba-tiba saja kursi CEO yang tepat di hadapannya bergerak, sontak Gladys pun tersentak kaget.
"Nih ruangan ada hantunya kali." Gumam Gladys ketakutan.
Segera Gladys berbalik badan dan melangkah menuju pintu secepat mungkin.
"Kamu pikir saya hantu?"
Gladys yang mendengarmya langsung menghentikan langkahnya, dengan ragu dia membalikkan badan menghadap meja kerja bossnya.
"Pak Mika." Teriak Gladys legah ketika melihat Mikael yang duduk di kursi CEO.
"Pak Mika kenapa gak ada suaranya sih atau membalikkan kursinya gitu biar saya tau kalau ada orang. Bikin takut saja." Ujar Gladys kesal.
"Sebelum kamu masuk posisi saya sudah seperti itu. Jadi bukan salah saya dong." Bantah Mikael.
"Nih anak benar-benar. Bossnya datang cepat malah ngomel." Ujar Mikael geram.
"Tadi sekretarisnya sekarang Bossnya. Dasar bawahan dan atasan sama aja." Gumam Gladys lalu melangkah keluar ruangan CEO.
"Kamu bilang apa?" Tanya Mikael yang hanya mendengar samar-samar suara Gladys.
"Gak." Ujar Gladys singkat lalu mempercepat langkahnya keluar ruangan CEO.
"Kenapa tuh wajah? Pagi-pagi udah imut gitu." Canda Teddy yang melihat wajah kesal Gladys keluar dari ruangan CEO.
"Imut imut, imut dari hongkong. Orang lagi kesal gini di bilang imut." Ujar Gladys kesal. Dia lalu mengambil buku jadwal Mikael hari ini dan kembali masuk ke ruang CEO.
Teddy terkekeh geli.
Ruang CEO
Mikael sedang menyeruput kopi panas di hadapannya dengan hati-hati sambil membaca dokumen di atas meja kerjanya.
"Baru tau ternyata kopi bikinan kepala batu lebih enak saat masih panas." Gumam Mikael lalu mengembalikan cangkir kopi panas di tangannya ke alas piring cangkir.
"Permisi Pak, jadwal Bapak hari ini." Ujar Gladys dengan suara kesal lalu melangkah ke meja kerja CEO
Pandangan Mikael teralihkan pada Gladys.
"Sepertinya pagi ini kamu sedang memancing saya yah?" Tanya Mikael yang kini berdiri tepat di depan meja kerjanya hingga posisinya dan Gladys sangat dekat.
Gladys langsung melangkah mundur untuk menjauh dari Mikael namun Mikael tetap melangkah mendekati Gladys.
"Mau sampai mana kamu akan terus melangkah mundur?" ujar Mikael lalu melihat jarak antara punggung Gladys dan tembok yang semakin dekat.
__ADS_1
"Ini masih pagi, Pak Mika jangan berbuat yang aneh-aneh." Ujar Gladys mulai panik.
"Kalau begitu bagaimana dengan nanti siang?" Tanya Mikael lalu berpura-pura tersenyum sinis.
Saat Gladys merasa kakinya tidak dapat mundur lagi, dia langsung mendorong tubuh Mikael dengan buku jadwal Mikael lalu berlari kecil menuju ke pintu ruang CEO.
Mikael tersenyum puas melihat Gladys panik.
"Itu hukuman buat kamu sayang" Gumam Mikael sambil memegang buku jadwalnya.
***
"Tadi keluar wajahnya kelihatan kesal sekarang panik. Sebanarnuya kamu dan Boss habis lakuin apaan sih?" Ledek Teddy.
"Gak ada." Jawab Gladys singkat.
Gladys tidak dapat membayangkan apa yang terjadi padanya dan Mikael tadi jika saja dia tidak berlari keluar ditambah lagi saat Mikael mendekatinya tadi membuat jantungnya terus berdebar kencang.
"Kenapa deg-degan gini yah?" Tanya Gladys dalam hati sambil memegang dadanya.
"Teddy nanti yang dampingi pak Mika rapat dengan pak Gubernur siapa?" Tanya Gladys.
"Belum tau. Pak Mika belum ngomong."
Gladys berharap agar Teddy yang mendampingi Mikael karena dia lagi tidak ingin berdua saja dengan Mikael di mobil nanti.
Gladys dan Teddy melanjutkan pekerjaan mereka, tidak ada percakapan lagi di antara mereka hingga Aaron datang menghampiri mereka.
"Aura di ruangan ini emang beda yah. Aura uangnya kental banget. Karyawannya pada pengen cepet naik gaji, rajin amat kerjanya." Canda Aaron yang melewati ruang manajer lalu ke meja kerja Teddy dan Gladys.
"Ada apa Kak?" Tanya Gladys yang hanya melihat sesaat kearah Aaron lalu kembali ke dokumen-dokumen di hadapannya.
"Kamu cantik." Ujar Aaron
"Gak usah gombal. Di dengar orang-orang nanti di kiranya ada apa-apanya lagi."
"Pak Aaron terhormat udah jelas-jelas wanita yang anda gombal ini udah punya pacar. Masih aja di gombal." Ujar Teddy geram.
"Memangnya kamu yakin kalau mereka pacaran beneran?" Tanya Aaron yang membuat Gladys melihat kearahnya.
Gladys diam saja mendengar perkataan Aaron karena memang benar adanya.
"Iya dong. Kelihatan lagi kalau pak Mika suka sama Gladys." Pangkas Teddy
"I'm not sure." Ujar Aaron lalu melangkah masuk ke ruangan CEO, dia tidak memperdulikan tatapan Teddy padanya yang terlihat jelas kalau Teddy kesal padanya.
"Kamu gak usah perduliin dia Dys." Ujar Teddy yang mengira Gladys akan sedih mendengar perkataan Aaron.
"Kenapa Kak Aaron segitu yakinnya kalau saya gak pacaran beneran dengan pak Mika?" Batin Gladys.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1