Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #29


__ADS_3

Gilang melihat kearah Gladys, membuat Gladys terkejut dan buru-buru mengalihkan pandangannya.


"Gimana perasaan kamu? Sudah lebih baik?" Tanya Gilang.


Gladys mengangguk. "Berkat Kak Gilang. Terimakasih Kak" Ujar Gladys sambil tersenyum.


"Kalau nanti kamu lagi sedih, stress kamu bisa datang kesini untuk menghilangkan sejenak segala beban pikiran kamu."


"Iya Kak. Terimakasih."


"Kalau begitu sekarang kita kembali. Nanti kamu di cari Mika lagi."


Mereka menuruni tangga dan masuk ke dalam lift.


Pintu lift terbuka di lantai 25.


Mereka keluar dari lift.


Gladys kembali ke meja kerjanya.


Mikael tiba-tiba datang yang entah dari mana.


"Kamu dari mana saja?" Tanya Mikael.


Belum sempat Gladys menjawab Gilang sudah lebih dulu berbicara.


"Gladys dari antar dokumen ke Pak Tomo. Tadi kami gak sengaja ketemu di Departemen Marketing." jawab Gilang.


"Kenapa Kak Gilang gak cerita yang selengkapnya kalau kita dari rooftop juga?" Ujar Gladys dalam hati sambil melihat sesaat kearah Gilang.


Mikael dan Gilang masuk ke dalam ruang CEO. Mereka duduk di ruang tamu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Gilang.


"Maksud kamu?" Tanya Mikael balik yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Gilang.


"Kamu dan Gladys. Foto kalian sampai gempar di seluruh kantor bahkan sampai di beberapa kantor cabang di luar kota." Jawab Gilang.


Mikael tersenyum. "Kami berdua telah pacaran." Ujar Mikael.


Gilang tertawa mendengar perkataan Mikael.


"Gak mungkin dia mau. Kecuali kamu ancam dia atau kamu memberikannya imbalan supaya dia setuju." Ujar Gilang tidak percaya dengan perkataan sahabatnya itu.


Seseorang masuk ke dalam ruangan Mikael.

__ADS_1


"Boss saya ingin kamu jawab pertanyaan saya dengan jujur. Apa benar wanita yang ada di dalam foto ini Gladys?" Tanya orang tersebut yang kini duduk tepat di hadapan Gilang sembari memperlihatkan foto dari hpnya.


Mikael lalu melihat foto tersebut dan dia menjawab dengan anggukan tanda mengiyakan pertanyaan orang tersebut.


"Amazing. Ternyata wanita ini gak bisa di pandang sebelah mata. Pantesan susah banget dapetin dia." Ujar orang tersebut.


"Maksud kamu Aaron?" Tanya Gilang.


"Hanya wanita ini yang berani menutup mulut seorang Mikael Winjaya dengan tangan mungilnya itu." Jawab Aaron yang masih merasa kagum.


"Tapi apa kamu tau kalau sekarang Gladys di katain wanita tidak tau diri bahkan ada yang bilang kalau dia itu wanita penggoda?" Tanya Gilang.


"Kok Bisa?" Tanya Mikael kaget.


"Gosipnya kalau Gladys telah menggoda Aaron dan karena gak dapetin Aaron, sekarang dia beralih ke Bossnya" Jawab Gilang.


"Sialan. Siapa yang berani mengatakan itu?" Tanya Mikael kesal.


"Gladys bahkan telah mendengar sendiri para karyawan menggosipinya tapi dia hanya diam saja mendengarnya." Jelas Gilang.


Mikael tersenyum sinis. "Sama saya saja dia terus membantah tapi sama karyawan yang menggosipinya dia tidak melawan." Ujar Mikael.


"Mungkin dia tidak ingin mencari masalah di kantor." Ujar Aaron.


"Tapi dia mau mencari masalah dengan saya." Ujar Mikael.


"Saya gak salah dengar?" Tanya Aaron kaget.


Mikael berdiri dari sofanya, dia melangkah ke meja kerjanya lalu memencet tombol di telepon.


"Kamu ke ruangan saya sekarang." Ujar Mikael.


Tidak menunggu lama seorang wanita masuk.


"Ada apa Pak?" Tanya Gladys sopan.


"Sayang kamu beritahu ke mereka kalau kamu adalah pacar saya." Ujar Mikael.


"Ha?" Ujar Gladys kaget.


"Lihatkan Gladys saja kaget mendengar perkataan kamu." Ujar Gilang tersenyum mengejek.


"Saya dan Kak Mika..." Gladys menarik napas seakan mengumpulkan nyawa untuk melanjutkan kalimatnya. "pacaran." Lanjutnya.


"Dengar sendirikan?" Tanya Mikael yang merasa senang karena bisa membuktikan kepada teman-temannya tentang apa yang dikatakannya.

__ADS_1


Gilang dan Aaron di buat syok dengan pernyataan Gladys.


"Kamu cinta gak sama Boss?" Tanya Aaron.


Gladys hanya diam, dia merasa canggung dan gugup ketika mengakui hubungan palsunya dengan Bossnya di hadapan Gilang dan Aaron.


Gilang melihat dengan jelas dari wajah Gladys kalau dia merasa tidak nyaman.


"Kamu bisa kembali bekerja sekarang." Ujar Gilang.


"Saya permisi." Ujar Gladys legah lalu keluar dari ruangan Mikael.


"Kok kamu menyuruh Gladys keluar? Diakan belum menjawab pertanyaan saya." Tanya Aaron sedikit geram dengan sahabatnya.


"Dari dia diam saja kita sudah tau jawabannya, gak perlu dia katakan. Sudahlah saya mau balik ke ruangan saya dulu." Jawab Gilang lalu melangkah keluar ruangan Mikael.


"Saya juga kalau gitu. Bye Boss." Ujar Aaron lalu mengikuti Gilang keluar dari ruangan Mikael.


"Sepertinya mereka gak percaya kalau saya dan Gladys pacaran. Ini semua karena Gladys yang hanya diam saja." Gumam Mikael kesal.


***


Gladys melihat Gilang dan Aaron yang baru saja keluar dari ruangan Mikael, dia hanya tersenyum kepada mereka sambi lsedukit menundukkan kepalanya memberi hormat.


Telepon di atas meja kerja Teddy berbunyi, dia lalu mengangkatnya dan tanpa berkata apa-apa dia menutup telepon. Teddy melangkah masuk ke dalam ruang CEO.


"Ada apa Pak Mika?" tanya Teddy.


"Saya ingin kamu beritahukan kepada seluruh karyawan kalau mereka jangan pernah mengatakan atau berpikir kalau Gladys adalah wanita tidak benar apalagi wanita penggoda. Jika itu terjadi maka mereka harus menanggung resikonya atau jika perlu saya akan memecat mereka yang mengatakannya." Perintah Mikael dengan tegas


"Baik Pak." Ujar Teddy lalu melangkah keluar ruangan Mikael.


"Ternyata Pak Mika kalau sudah menyukai seorang wanita dia akan melindunginya sampai segitunya." Ujar Teddy lalu tersenyum geli.


.


.


.


Bersambung...


Hai readers...


Tolong bantu author yah🙏

__ADS_1


Kalau suka dengan karya saya mohon feedbacknya dengan cara klik like, komentar yang membangun, klik favorite dan kalau perlu beri tips. Biar saya juga semangat nulisnya.


Terimakasih 😉


__ADS_2