Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #88


__ADS_3

Setelah pintu lift kembali terbuka, mereka langsung di sambut dengan tatapan wanita yang tadi di tinggal oleh Mikael. Yap siapa lagi kalau bukan Mira. Wanita itu terus menatap Gladys dan Mikael sampai dua orang itu tidak lagi terlihat dari pandangannya.


"Mira kenapa sih? Apa dia marah?" Tanya Gladys dalam hati.


"Sayang, buatin kopi aja yah biskuitnya gak usah." Pinta Mikael saat mereka harus berpisah. Mikael yang masuk ke dalan ruangannya sementara Gladys ke meja kerjanya.


"Iya Kak." Sahut Gladys lalu ke meja kerjanya.


"Kalian darimana?" Tanya Teddy.


"Dari kontrakan Mira, kamu jadi jemput Mira tadi kan sebelum ke kantor?" Tanya Gladys lalu menyimpan tas kantornya di meja kecil samping kursinya.


"Pak Mika emang nyuruh jemput dia tapi... Saya gak jadi jemput." Jawab Teddy yang merasa tidak enak hati.


"Kok bisa? Tunggu bentar nanti kita lanjutin, saya ingin dengar penjelasan kamu tapi sekarang saya harus membuatkan kopi untuk Kak Mika dulu. Bentar." Ujar Gladys lalu melangkah menuju ke pantry.


Seperti biasa Gladys mengambil cangkir di lemari atas untuk membuatkan Bossnya kopi.


Gladys yang mendengar suara langkah kaki seseorang yang semakin mendekat menoleh ke arah pintu di sebelah kanannya.


"Sepertinya saya tau arti dari tatapan tidak bersemangat kamu." Ujar Gladys lalu menuangkan air panas ke dalam cangkir yang berisikan bubuk kopi dan gula.


"Teddy pasti udah ceritakan?" Tebak Mira.


"Dia hanya bilang kalau dia tidak jadi menjemput kamu tapi saya belum mendengar penyebabnya karena apa." Jawab Gladys.


"Laki-laki resek itu bilang kalau rumah kontrakan saya susah di dapat dan jalanan ke sana tuh macet parah tapi ketika angkot lewat jalanannya ramai lancar aja. Pikirnya bakalan dapat tumpangan gratis malah keluar duit. Tau gitu kan saya mumpang Dion." Keluh Mira yang kini duduk di kursi besi.


"Tadi di jalanan memang macet parah sih, saya dan Kak Mika sampai terjebak sejam. Lagian angkotkan punya rutenya sendiri, mungkjn karena itu kamu gak dapat macet." Jelas Gladys yang sudah siap mengantarkan kopi pesanan Mikael.


"Kamu kenapa malah belain dia sih?" Omel Mira yang tidak menerima jika Gladys lebih memihak pada Teddy di bandingkan dirinya.


"Bukannya ngebelain Teddy tapi memang itu kenyataannya Rara. Udah ah saya anterin kopi Kak Mika dulu." Ujar Gladys lalu melangkah menuju keluar pantry meninggalkan sahabatnya.


"Dys." Panggil Mira yang membuat langkah Gladys terhenti dan kembali menoleh sumber suara.


"Terimakasih yah untuk nama panggilan barunya, Rara." Canda Mira.


"Sama-sama." Balas Gladys yang mengedipkan mata kanannya.


Ruang CEO


"Ini kopinya Kak." Ujar Gladys yang menaruh cangkir kopi di tepi meja kerja Mikael karena hanya tempat itu yang kosong, yang tidak di isi dengan kertas-kertas dokumen Mikael.


"Kamu kenapa lama?" Tanya Mikael yang masih fokus pada kertas di tangannya.

__ADS_1


"Tadi ada sedikit drama di pantry." Jawab Gladys.


"Drama?" Tanya Mikael yang menggerutkan keningnya dan melihat ke arah Gladys.


"Iya. Ternyata Teddy gak jadi jemput Mira katanya jalanan macet dan Mira seperti kesal dengan Teddy." Jawab Gladys.


"Oh iya Kak Mika, mengenai kerja sama perusahaan dengan Perusahaan dari Jepang. Apa saya harus menyiapkan proposalnya sekarang?" Tanya Gladys.


"Jangan dulu, saya masih mempertimbangkan apakah saya akan bekerja sama dengan perusahaan itu atau tidak. Karena dari kabar yang saya dapat perusahaan itu memiliki banyak masalah. Yah walaupun keuntungan yang kita dapat dari proyek ini besar tapi jika banyak masalah percuma, malah kemungkinan akan merusak citra perusahaan."


"Baik Kak." Sahut Gladys.


"Oh iya Sayang, semalam kamu kenapa gak kirim foto kamar kamu?"


"Maaf Kak Mika saya lupa." Ujar Gladys yang merasa bersalah.


Mikael mengangkat kedua alis dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kekuasaannya. "Sekarang saya ingin menggunakan satu dari tiga permintaan saya." Ujar Mikael yang melipat kedua tangannya di dada.


"Kak Mika ingin apa?" Tanya Gladys yang tidak merasa penasaran atas permintaan Bossnya karena dia memang tidak tertarik.


"Saya ingin kamu segera pindah dari rumah Mira." Pinta Mikael dengan wajah berubah tegas.


"Tapi kenapa?"


Tok tok tok.


"Masuk." Ujar Mikael yang sedikit meninggikan nada suaranya agar terdengar dengan jelas.


"Permisi Pak Mika, saya ingin memberikan laporan penunggakan pembayaran Perumahan Taman Elite Diomond." Ujar Teddy saat langkahnya terhenti tepat di depan meja kerja Mikael.


"Kalau begitu saya permisi dulu Kak Mika." Pamit Gladys.


Sepeninggalnya Gladys, Teddy memberanikan diriny bertanya pada Bossnya.


"Gladys kenapa Pak Mika, seperti orang tidak senang begitu."


"Tau darimana kamu kalau Gladys lagi tidak senang?" Tanya Mikael datar sambil membaca laporan dari Teddy tadi.


"Dari raut wajah Gladys."


"Sok tau kamu. Jangan lupa dengan tugas kamu, buat Gladys mau pindah ke apertemen Sky 2002." Ujar Mikael tanpa melihat laki-laki di depannya.


"Iya Pak Mika, saya juga akan menuruti saran dari Pak Mika untuk membawa Mira bersama kami saat melihat apertemen siang nanti."


"Lagi-lagi nama ini muncul." Ujar Mikael yang mengalihkan pandangannya pada sekretarisnya.

__ADS_1


"Iya, nama itu juga muncul di dua kompleks perumahan elit yang di bangun perusahaan, menurut kabar yang saya dapat Ibu Lina Hartanto ini bisa di bilang setiap ada pembangunan perumahan elit beliau akan membeli 1 unit atau bahkan 2 unit dalam kompleks perumahan itu."


"Berarti developer lain juga ada?"


"Iya Pak. Perusahaan milik suami Bu Lina saat ini diambamg kebangrutan, bahkan Bu Lina secara diam-diam menjual 2 unit rumah mewahnya untuk menutupi utang perusahaan suaminya yang begitu besar, dia tidak ingin teman-temannya tau. Harga diri Bu Lina ini sangat tinggi" Jelas Teddy yang telah mencari informasi tentang Lina Hartanto.


"Apa nama perusahaannya?"


"PT Mitra Tambang." Jawab Teddy.


Mikael tersentak mendengar jawaban Teddy, pasalnya nama perusahaan yang di sebutkan Teddy adalah salah satu perusahan tambang terbesar di Indonesia dan perusahaan yang sering melakukan CSR.


(CSR atau Corporate Social Responsibility adalah tindakan yang di lakukan suatu perusahaan sebagai rasa tanggung jawab terhadap lingkungan maupun sosial. Seperti mendirikan sekolah gratis)


"Saya memang sudah lama tidak mendengar kabar mengenai perusahaan itu. Apa kamu memiliki foto Lina Hartanto?"


"Ada Pak." Jawab Teddy yang memperlihat foto Lina Hartanto dari hpnya.


"Ibu ini... Sepertinya saya pernah melihatnya" Ujar Mikael, dia menyatukan kedua alisnya berusaha mengingat wajah wanita yang sedang di lihatnya.


"Lina Hartanto tidak pernah terjun ke dunia bisnis Pak, wanita parubaya ini hanya tau membeli perhiasan, tas-tas branded, dia juga bergabung dengan arisan geng sosialita bergengsi yang berisikan ibu-ibu pejabat tinggi dan istri-istri pengusaha besar di Indoensia." Jelas Teddy.


"Wajar saja jika wanita ini masuk dalam geng arisan sosialita itu, tapi saya masih penasaran pernah melihat dimana Ibu ini."


"Mungkin ketika Pak Mika sedang rapat dengan mitra bisnis perusahan, apa mau saya panggilkan Gladys ? Siapa tau dia pernah melihat Bu Lina mengingat Gladys sering menemani Pak Mika rapat di luar perusahaan." Usul Teddy yang di setujui oleh Mikael.


Melihat wajah Lina entah kenapa membuat rasa penasaran Mikael begitu besar.


"Sepertinya ada sesuatu dengan wanita ini." Gumam Mikael sembari memperhatikan foto Lina Hartanto dari hp Teddy. Sementara si pemilik hp keluar dari ruang CEO untuk memanggil Gladys.


.


.


.


Bersambung...


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣

__ADS_1


__ADS_2