
Selesai makan siang, mereka memutuskan untuk berkeliling di taman rumah sakit.
Gladys mendorong pelan kursi roda yang di gunakan Leon, agar laki-laki itu dapat menikmati setiap pemandangan taman yang mereka lewati.
Taman rumah sakit di penuhi dengan berbagai macam bunga-bunga yang bermekaran yang membuat taman tampak begitu indah dan asri.
Tidak hanya mereka, di taman juga terdapat beberapa pasien rumah sakit.
"Gladys kamu gak capek dari tadi dorong saya?" Tanya Leon.
"Lumayan, habisnya kamu berat." Ledek Gladys.
"Kamu bilang apa? Kamu berani yah mengejek soerang pasien." Ujar Leon pura-pura marah lalu menegok ke arah Gladys di belakangnya. Namun Gladys malah menjulurkan lidahnya pada Leon.
Leon tersenyum melihat Gladys yang malah mengejeknya sekali lagi, dia lalu membalikkan kursi roda yang di pakainya menghadap ke Gladys.
"Adys, sini kamu." Panggil Leon yang melihat Gladys berjalan mundur untuk menjauh darinya.
"Gak mau." Gladys tertawa lepas melihat Leon yang sedang berusaha mengejarnya dengan kursi roda.
Baru beberapa kali Leon menggunakan kursi roda tapi laki-laki itu sudah cukup menguasai kursi roda yang di pakainya.
Karena tidak mungkin baginya mengejar Gladys dengan kursi roda, akhirnya dia memikirkan cara lain agar wanita itu mau mendekatinya.
"Dys kaki kiri saya." Ujar Leon yang meringis kesakitan memegangi kaki kirinya yang tidak terasa sakit.
Gladys yang melihatnya mulai panik.
"Leon, kaki kamu kenapa?"
Gladys mempercepat langkahnya menghampiri Leon, dia berlutut tepat di depan kaki Leon dan memegangi kaki kiri Leon.
"Saya panggilkan dokter dulu." Ujar Gladys panik, wanita cantik itu hendak berdiri namun langsung di tahan oleh Leon dan otomatis Gladys kembali ke posisinya yaitu berlutut di depan Leon.
"Posisi kamu udah benar untuk orang yang akan meminta maaf, sekarang tinggal kamu bilang aja Leon syang saya minta maaf yah." Ujar Leon yang mengajarkan Gladys caranya meminta maaf.
"Kamu bohong?" Tanya Gladys yang menyadari kalau dirinya telah masuk dalam perangkap Leon.
Kini giliran Leon yang tertawa lepas melihat wajah kesal kekasihnya itu.
"Dasar yah kamu, awas aja pembalasan saya nanti."
"Eitss pembalasan apaan, kamu kan yang mulai duluan." Ujar Leon lalu mencubit pipi cabi Gladys.
"Udah ah, saya berdiri. Kram juga ini kaki lama-lama berlutut."
Saat Gladys akan berdiri, tiba-tiba saja Leon menarik Gladys hingga wanita itu terduduk di pangkuan Leon. Alhasil Gladys terduduk membelakangi Leon.
Leon langsung memeluk Gladys dari belakang.
"Leon saya mau berdiri, gak enak di lihatin orang-orang." Ujar Gladys yang menyadari tatapan tiap pasang mata yang melihat mereka.
__ADS_1
"Tahan malu kamu, saya ingin di posisi ini sebentar saja." Ujar Leon yang mempererat lingkaran tangannya pada perut Gladys dan menyandarkan kepalanya di punggung Gladys.
Leon tau jika wanita yang di sayangnya ini sangat memperdulikan pandangan orang-orang pada dirinya. Sudah sejak kuliah Leon tau jika Gladys sangat menjaga imagenya di depan orang banyak, dia tidak ingin menjadi bahan omongan orang-orang.
"Terimakasih kamu sudah mau menunggu saya selama saya koma, pasti sangat berat untuk kamu. Apalagi harus menghadapi mama yang tidak menyukai kamu." Lirih Leon.
"Kamu bicara apa sih? Tentu saja saya akan menunggu laki-laki yang saya sayang. Apapun rintangannya." Tegas Gladys.
"Apa kamu akan tetap menunggu saya ketika status saya nantinya akan berubah?" Batin Leon tanpa sadar dia meneteskan air matanya.
Gladys menyadari sesuatu, baju yang di pakainya terasa aneh di belakang.
"Leon kami nangis?" Tanya Gladys.
Leon buru-buru menempelkan seluruh wajahnya pada punggung Gladys untuk menghapus air matanya yang mengalir di pipinya.
"Gak kok. Lagian untuk apa saya nangis?" Kelik Leon yang berusaha membuat suaranya agar terdengar tidak seperti orang habis nangis.
"Mana saya lihat wajah kamu." Gladys berdir dari pangkuan Leon dan menundukkan badannya sedikit untuk melihat wajah Leon.
"Saya gak nangis kan?"
Gladys menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia lalu melihat bajunya bagian belakang.
"Kok basah?" Tanya Gladys heran.
"Ooo itu basah karena tadi gak sengaja ada sedikit cairan yang keluar" Jawab Leon.
Dengan sok polos Leon menunjuk bibir dengan jari telunjuknya.
"Kamu ngeces di baju saya?" Tanya Gladys memastikan.
Bak seperti anak kecil yang takut di marahin ibunya, seperti itulah ekspresi Leon sambil menganggukkan kepalanya.
"Iyuu... kamu jorok banget sih." Teriak Gladys geram.
"Gak usah marah kali, kan hanya sedikit doang."
"Tapi tetap aja nyebelin."
Gladys kembali mendorong kursi roda Leon dengan wajah cemberut.
"Sayang wajahnya bisa di ubah gak?" Canda Leon yang sempat menegok ke arah wajah Gladys.
"Kamu mau ubah apa wajah saya?" Tanya Gladys ketus.
"Ubah menjadi kecil, biar bisa saya bawa kemana-mana." Ujar Leon yang bermaksud menghibur Gladys.
"Itu gombalan atau ejekkan karena pipi saya yang tembem?"
"Yah Tuhan salah lagi, maksud hati ingin gombal." Lirih Leon.
__ADS_1
"Makanya kalau gak tau gombal, janga sok sok-an ngegombal."
"Iya iya sayang, maaf." Ujar Leon pasrah, dia memang tidak pandai membuat gombalan.
Entah kenapa dari Gladys jalan di taman sampai di koridor rumah sakit, dia merasa seperti ada seseorang yang sedang mengawasi mereka.
Gladys berusaha untuk tidak menghiraukannya karena dia berpikir mungkin hanya firasatnya saja. Namun semakin kesini Gladys semakin yakin jika dirinya dan Leon sedang di awasi oleh seseorang.
Gladys tetap melangkah dengan tenang dan tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk mencari tau apa benar dirinya dan Leon sedang di awasi atau hanya firasat Gladys saja.
Samar-samar Gladys melihat bayangan hitam yang begitu cepat menghilang di balik tiang tembok koridor rumah sakit.
"Bayangan hitam?" Gumam Gladys.
"Kamu bilang apa?" Tanya Leon heran.
"Bukan apa-apa kok." Jawab Gladys bohong, dia tidak ingin Leon mengkhwatirkan hal yang belum pasti kebenarannya.
Kini mereka telah berada di dalam ruang rawat Leon.
Setelah membantu Leon kembali ke tempat tidurnya Gladys menuang air ke gelas kosong lalu meminumnya untuk sedikit menenangkan dirinya.
"Dys kamu kenapa sih? Dari tadi saya perhatiin kamu kek orang gelisah gitu." Tanya Leon.
"Gak kok. Biasa-biasa aja." Jawab Gladys bohong.
Gladys lalu menghampiri jendela di dalam ruang rawat, dia berpura-pura memperbaiki kain gorden agar tidak di curigai oleh Leon jika dirinya sedang ingin memastikan yang dilihatnya di koridor rah sakit tadi.
"Saya gak mungkin melihat hantukan sore-sore gini, matahari juga masih terik. Katanya hantu takut matahari kan. Udahlah gak usah di pikirin, malah buat saya takut sendiri lagi." Ujar Gladys dalam hati.
"Kamu kenapa sih? Malah begong di dekat jendela. Hati-hati kesambet." Canda Leon.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣
__ADS_1