
Mikael telah sampai di apertemennya.
Dia melepas sepatunya lalu menuju ke kamarnya yang superluas. Mikael duduk di sofa empuk dekat jendela sambil melihat pemandangan kota di malam hari lewat jendelanya yang berukuran besar.
Dia teringat dengan Gladys, saat dirinya memanggil wanita itu sayang yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
"Saya kok jadi alay gini yah, kenapa saya mesti manggil dia sayang?" Gumam Mikael.
Mikael sebenarnya merasa geli sendiri ketika memanggil Gladys sayang tapi di saat bersamaan dia juga merasa senang. Bahkan saat masih berpacaran dengan mantan pacarnya dia tidak pernah sekalipun memanggil pacarnya dengan sayang.
Mikael tidak tau sejak kapan dirinya tidak menyukai Gladys ketika wanita itu memanggilnya pak.
"Yah Tuhan, wanita itu terus berada di pikiran ku." Gumam Mikael lalu memeluk bantal kecil berbentuk segiempat panjang yang selalu di letakkannya di sofa.
Dia mengambil hpnya lalu memesan menu makan malamnya di aplikasi. Jika Mikael lagi tidak ingin makan telur dadar buatannya dia akan memesan menu makanan dari luar. Mikael hanya tau membuat telur dadar dan nasi biasa di siapkan oleh ARTnya ketika Mikael menyuruhnya membuat nasi sebelum ARTnya pulang kerja. Mikael hanya menyewa seorang ART yang kerja 3 kali seminggu, dari pagi jam 06.00 hingga jam 05.00 sore.
***
Winjaya Development
Selesai dengan tugas paginya dan memberitahukan jadwal Mikael hari ini, Gladys kembali ke meja kerjanya dan mulai mengeluarkan dokumen yang harus di kerjakannya.
"Dys"
"Ya"
"Dys"
"Iya, kenapa Ted?"
"Bisa noleh ke saya dulu gak?"
Gladys terpaksa mengalihkan pandangannya pada Teddy.
"Apaan?"
"Kamu ada hubungan apa dengan Pak Mika?" Tanya Teddy penasaran.
Gladys terkejut dengan pertanyaan Teddy tanPa meresponnya.
"Ya ela dia malah diam aja lagi, bukannya di jawab."
"Hubungan atasan dan bawahan." Jawab Gladys asal.
"Bohong, jawab jujur. Saya tau sifat Pak Mika, dia tidak mungkin seperhatian gitu kalau gak ada apa-apanya."
Gladys berpikir untuk memberitahukan ke Teddy kalau dia pacar bohongan Mikael, mengingat Teddy adalah orang kepercayaan Mikael jadi dia pasti juga bisa menyimpan rahasia.
"Saya dan Pak Mika...."
"Kalian pacaran kan? kamu tenang saja saya tidak akan memberitahukan pada siapa-siapa." Potong Teddy
Gladys hanya menganggukkan kepalanya dengan ragu.
__ADS_1
"Tapi..."
"Benarkan dugaan saya." Potong Teddy lagi yang tidak memperdulikan perkataan Gladys.
"Susah amat sih gomong ama Teddy, main potong-potong aja lagi." Keluh Gladys dalam hati.
"Gimana pacaran dengan pak Mika? Saya penasaran aja, soalnya saya gak pernah melihat pak Mika pacaran."
"Gimana apanya?" Tanya Gladys.
"Gimana rasanya?"
"Senang dan ribet. Karena semuanya harus sesuai keinginannya. Tapi kamu janji yah jangan beritahu siapapun."
"Ok. Saya jadi ikutan senang. Oh iya ini dokumen yang kamu belum selesaikan kemarin, udah saya selesaikan. Tinggal di cek ulang saja." Ujar Teddy sembari memberikan dokumen yang baru saja di keluarkannya dari laci mejanya kepada Gladys.
Gladys mengambil dokumen pemberian Teddy dan mengeceknya.
Selesai mengecek, Gladys lalu berpamitan pada Teddy untuk mengantar dokumen tersebut kepada departemen marketing.
Dia lalu melangkah ke lift dan memencet tombol di samping pintu lift.
Tidak menunggu lama pintu lift terbuka, dia lalu masuk ke dalam lift dan memencet tombol bertuliskan angka 15.
Pintu lift terbuka.
Beberapa pasang mata langsung melihat kearahnya, Gladys berpura-pura tidak menghiraukan mereka dan terus berjalan menuju ke ruang kepala marketing. Namun bukan hanya tatapan beberapa pasang mata yangbharus dihadapi Gladys, dia juga harus mendengar bisik-bisikan orang-orang ketika melihatnya keluar dari lift tadi.
"Iya benar dia. Dasar wanita tidak tau diri. setelah dari pak Aaron sekarang ke CEO ganteng Pak Mika." balas wanita berkemeja hijau.
Gladys berusaha tidak mendengar perkataan mereka, dia terus melangkah ke ruang kepala marketing.
"Permisi Mbak saya mau antar dokumen ini." Ujar Gladys sembari memberikan dokumen yang di bawanya kepada sekretaris kepala marketing.
"Saya akan berikan ke pak Tomo." Ujar sekretasris kepala marketing ramah.
"Terimakasih Mbak, saya pamit dulu." Ujar Gladys lalu melangkah menuju ke lift.
"Cantik sih emang, tapi sayang gak tau diri." Ujar wanita yang baru saja melewati Gladys.
Gladys berusaha menahan amarahnya.
"Sabar Dys. Ini cobaan. Kamu datang ke sini untuk kerja bukan untuk mencari musuh. Sabar sabar." Batin Gladys.
"Dasar wanita penggoda." Bisik wanita lainnya.
Gladys sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, dia berbalik ke wanita yang mengatakan dirinya wanita penggoda.
"Kembali bekerja atau saya pindahkan kalian ke kantor cabang di luar kota." Ujar Gilang tegas yang baru saja menghampiri Gladys.
Mereka yang mendengarnya langsung kembali ke meja kerja masing-masing.
"Hai Dys." Sapa Gilang.
__ADS_1
"Hai Kak Gilang." Sapa Gladys balik.
Kini mereka tengah berada di depan lift.
"Kamu ada waktu gak sebentar? 15 sampai 20 menit." Tanya Gilang.
"Saya lagi gak sibuk-sibuk amat sih. Kenapa Kak?"
pintu lift terbuka
Mereka masuk ke dalam lift dan Gilang memencet tombol bertuliskan angka 28.
Gladys yang melihatnya merasa bingung, dia sendiri belum pernah ke lantai 28, lantai paling tinggi di perusahaan.
"Kita gapain ke lantai 28 Kak?"
"Rooftop kantor tempat yang paling nyaman untuk menghilangkan penat di kepala, stress" Jawab Gilang sambil melihat angka diatas pintu lift yabg terus berganti.
Gladys tersenyum mendengar jawaban Gilang.
"Memangnya Kak Gilang tau dari mana kalau saya stress?"
"Kelihatan kali." Jawab Gilang.
Pintu lift terbuka.
Mereka keluar dari lift dan menaiki tangga. Gilang lalu membuka pintu besi di depannya.
Mereka langsung dapat melihat cahaya matahari yang masuk dari sela-sela atap. Rooftop yang semi outdoor.
"Ternyata ada juga tempat seperti ini di kantor." Ujar Gladys ketika melihat ada taman mini, beberapa kursi kayu, meja yang cukup besar dan Gazebo yang berukuran tidak terlalu besar, juga terdapat kursi ayunan. Semua itu tertata dengan rapih
"Ini seperti bekas pembakaran." Ujar Gladys yang melihat sekeliling rooftop.
"Dulu kami berempat sering datang ke sini. Tapi sekarang hanya saya yang sering datang."
"Berempat?"
"Iya saya, Mikael, Aaron dan Zhoy"
"Zhoy itu...?"
"Dia teman kampus juga salah satu kepala departemen di perusahaan. Karena ada masalah dia memutuskan keluar dari perusahaan. Dia hanya bekerja 2 tahun di perusahaan."
Gladys hanya mendengarkan penjelasan Gilang, dia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi karena sepertinya Gilang tidak ingin membahas temannya itu. Pikir Gladys.
Gilang berjalan ke pinggir rooftop diikuti Gladys di belakangnya.
"Kalau saya lagi stress saya biasanya ke tempat ini dan melihat pemandangan kota. Melihat bangunan-bangunan kecil dan kendaraan yang lalu lalang seperti miniatur kota. Seakan kita bisa mengendalikan kota ini." Ujar Gilang.
Gladys ikut melihat apa yang dilihat Gilang lalu melihat kearah Gilang
"Jika saja saya tidak menyukai Leon, mungkin saya akan jatuh cinta dengan Kak Gilang. Dia begitu baik, perngertian, lembut dan ganteng. Pokoknya Kak Gilangk ini tipe cowok idaman banget." Ujar Gladys dalam hati
__ADS_1