
Pintu lift terbuka kembali di lantai 25.
Mereka berempat keluar dari lift.
"Kak Mika lepasin." Bisik Gladys.
"Gak, kamu harus ikut masuk ke ruangan saya."
"Tapi Mbak Sarah hanya ingin bicara dengan Kak Mika."
"Saya gak peduli."
Dengan terpaksa Gladys ikut masuk ke dalam ruang CEO.
"Panggilkan saya Aaron." Ujar Mikael pada Gilang.
Gilang tersenyum mendengarnya, dia mengerti maksud Mikael memanggil Aaron.
Ruang CEO
Mereka bertiga duduk di sofa.
"Mbak Sarah mau minum apa? Biar saya buatkan." Tanya Gladys.
"Teh hangat saja." Jawab Sarah.
Gladys lalu melihat kearah Mikael seakan bertanya minuman apa yang ingin di minum Mikael.
"Kopi yang biasa kamu buat sayang." Ujar Mikael lalu tersenyum pada Gladys.
Gladys lalu keluar dari ruang CEO dia langsung menuju ke pantry.
Setelah selesai Gladys melangkah masuk ke dalam ruang CEO tapi langkahnya terhenti di depan meja kerjanya.
"Dia siapa?" Tanya Teddy.
"Anaknya PT Ayustya." Jawab Gladys lalu melanjutkan langkahnya.
Di dalam ruang CEO, dia menaruh kopi dan teh yang dibuatnya di atas meja.
"Kamu gak salah ngomongkan?" Tanya Mikael pada Sarah yang Gladys sendiri pun tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Gladys lalu duduk di samping Mikael sesuai keinginan Mikael.
"Tidak. Mama ingin menjodohkan saya dengan anak temannya yang gak jelas itu." Jawab Sarah.
"Kenapa kamu gak terima saja. Waktu itu kamu di jodohkan dengan saya kamu mau-mau aja." Ujar Mikael.
"Itu karena saya memang sudah tau kamu sebelumnya. Please kamu maukan? Kamu kasih saya posisi apa aja saya mau asal jangan jadi office girl aja." Ujar sarah memelas.
"Saya gak mau. Nanti orang tua kamu bilang apa, bisa-bisa berdampak pada hubungan kerjasama kita. Tidak saya tidak mau. Kamu bisa cari perusahaan lain." Ujar Mikael.
"Kalau kamu setuju saya bekerja di perusahaan kamu, saya janji gak bakal ganggu hubungan kamu dan asisten kamu ini."
"Saya tetap tidak mau, sekarang saya minta kamu segera meniggalkan ruangan saya." Ujar Mikael geram.
"Gak. Saya mau kamu bantu saya dulu baru saya mau keluar." Ujar Sarah gotot.
Pintu ruang CEO terbuka.
"Hai Boss." Sapa Aaron ketika memghampiri mereka bertiga yang diikuti oleh Gilang.
__ADS_1
"Ada wanita cantik rupanya. Boleh kenalan?" Goda Aaron yang kini duduk tepat di samping Sarah. Sementara Gilang duduk di sofa tunggal samping Mikael.
"Sarah." Ucap Sarah ramah sambil mengulurkan tangannya.
"Aaron." Ucap Aaron dan menjabat tangan Sarah.
"Kamu Sarah anaknya Pak Winarto?" Tanya Aaron yang masih memegang tangan Sarah.
"Iya benar." Jawab Sarah malu-malu.
"Ternyata benar kata orang-orang kalau anaknya pak Winarto itu seperti bidadari yang turun ke bumi." Ujar Aaron yang mulai melancarkan aksinya.
"Memangnya kamu kenal dengan papa?" Tanya Sarah, dia menjadi salah tingkah mendengar gombalan Aaron dan terlihat dengan jelas dari wajahnya kalau Sarah mulai memerah karena merasa malu.
"Kalau kenal akrab gak. Hanya saja sempat bertemu beberapa kali." Ujar Aaron mendekatkan posisi duduknya pada Sarah.
Mikael dan Gilang merasa lucu melihat ekspresi Sarah, mereka berusaha menahan agar tawa mereka tidak terlihat.
Sarah hanya meresponnya dengan anggukan kepala, dia semakin merasa malu tapi ada rasa senang yang dirasakannya.
"Boleh minta nomor hp kamu gak?" Tanya Sarah malu-malu tapi dia memberanikan dirinya.
"Boleh tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Kamu harus mau dinner bareng saya. Gimana?"
"Ok deal." Ujar Sarah tersenyum malu-malu.
Mereka pun saling bertukar nomor hp.
"Kalau gitu sampai bertemu nanti yah." Ujar Sarah yang kini berdiri dari sofa.
"Kamu mau kemana? kok buru-buru amat." Ujar Aaron yang berpura-pura berusaha menahan Sarah agar tidak pergi. Padahal dia sendiri ingin agar Sarah cepat-cepat pergi.
"Saya ada urusan, saya harus pergi sekarang." Ujar Sarah lalu dengan langkah yang di percepat dia keluar dari ruangan Mikael.
Begitu Sarah keluar dari ruang CEO, Mikael dan Gilang langsung tertawa lepas. Seluruh ruangan dipenuhi dengan suara mereka.
"Kalian kenapa sih?" Tanya Gladys heran.
"Sayang kamu gak lihat apa ekspresi Sarah tadi? Dia kelihatan senang tapi malu malu gitu." Ujar Mikael di sela tawanya.
"Saya benar-benar tidak mengerti dengan pikiran kalian." Ujar Gladys.
"Tugas saya udah selesaikan?" Tanya Aaron.
"Sudah sudah. Nice." Ujar Mikael.
Kini tawa Mikael dan Gilang mulai mereda.
"Kamu kenapa sih setiap kali ada cewek yang dekatin kamu selalu saya yang harus hadapin tuh cewek?" tanya Aaron geram pada sahabatnya.
"Habisnya hanya kamu yang bisa menghadapi mereka." Jawab Gilang.
"Kalian berdua sama aja gak bisa hadapin cewek." Imel Aaron.
"Tapi kamu serius mau dinner bareng dia?" Tanya Gilang.
"Nggak lah. Saya gak mau berurusan dengan kakaknya Sarah. Kamukan tau sendiri kakaknya Sarah itu ketua geng jalanan, entar saya di jadiin adonan lagi." Jawab Aaron yang merasa geri mengingat saat dia bertemu dengan anak pertama dari Winarto tersebut
__ADS_1
"Kak Aaron gombalan kamu tadi ok juga sih." Puji Gladys.
"Kalau gombalan saya ok, saya boleh dong jadi pertimbangan kamu. Kamu bisa mendengar gombalan saya setiap hari." Canda Aaron sambil memperbaiki kera kemeja yang tidak berantakan.
"Eits... Jangan pernah kamu coba-coba gombalin Gladys. She is mine." Tegas Mikael yang membelalakkan matanya pada Aaron.
"Pelit amat Boss." Ujar Aaron.
"Dia emang pelit." Ledek Gladys lalu melangkah keluar ruang CEO.
"Kamu mau kemana?" Tanya Mikael.
"Mau lanjut kerja." Jawab Gladys sebelum keluar dari ruang CEO.
Jam 06.00
Mikael sedang membaca dokumen yang sedang di pegangnya sambil sesekali melihat ke layar laptopnya.
Tok tok tok
Terdengar seseorang yang sedang mengetuk pintu ruangannya.
Tanpa mengalihkan pandangannya, Mikael mempersilahkan orang itu masuk.
"Permisi Pak, ini laporan hasil rapat dengan pak Gubernur siang tadi." Ujar Teddy sembari menaruh map folder yang di bawanya ke atas meja kerja Mikael.
"Kamu kok belum pulang?" Tanya Mikael yang masih fokus pada kerjaannya.
"Saya memang berencana pulang setelah menyelesai laporan rapat dengan pak Gubernur Pak." Jawab Teddy.
"Gladys udah pulang?" Tanya Mikael lagi.
"Belum Pak." Jawab Teddy yang membuat Mikael kini melihat ke arahnya.
"Kok dia belum pulang. Inikan sudah lewat jam pulang kantor." Ujar Mikael.
"Dia masih sibuk dengan kerjaannya. Katanya naggung kalau di tinggal."
"Yah sudah kamu boleh pulang."
"Terimakasih Pak. Saya permisi." Ujar Teddy lalu keluar dari ruang CEO.
Mikael melihat keluar jendela besar di ruangannya, dia melihat Gladys yang sedang fokus pada dokumen-dokumennya lalu melihat ke arah yang di yakini Mikael adalah Teddy yang sedang pamit pada Gladys dan tersenyum pada Teddy.
"Beautiful girl." Gumam Mikael lalu tersenyum. Dia terus memperhatikan Gladys yang kini kembali fokus pada kerjaannya.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah 😉
__ADS_1
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih