
"Ada apa Kak Mika memanggil saya?" Tanya Gladys begitu memasuki ruang CEO.
"Sayang coba kamu lihat foto wanita ini." Mikael menunjukkan foto Lina kepada Gladys yang saat ini membungkukkan tubuhnya untuk melihat dengan jelas foto yang di tanyalan Mikael tadi.
"Dia... Ibu ini...." Gladys tidak dapat menjawab pertanyaan Mikael di depan Teddy.
"Kamu kenapa Dys? Jadi gagap gitu." Tanya Teddy yang melihat Gladys seperti orang kebingunan.
Gladys kembali berdiri tegak. "Apa saya harus menjawabnya sekarang?"
"Iya, saya penasaran dengan wajah ibu ini. Sepertinya ada sesuatu dengan ibu ini yang saya sendiri belum paham apa itu." Jelas Mikael.
Gladys mengigit bibir bawahnya. Dia merasa panik dan khawatir jika Mikael memaksanya untuk menjawab pertanyaannya di depan Teddy. Sesekali Gladys melihat ke arah Teddy dan Mikael bergantian.
"Kamu kenapa sih Sayang?" Tanya Mikael yang merasa bingung melihat wanita di sampingnya.
Apa Gladys tidak mau menjawab karena ada Teddy. Pikir Mikael yang melihat ke arah Teddy.
"Kamu keluar dulu Teddy, ada yang ingin saya bicarakan dengan Gladys dulu." Perintah Mikael.
Teddy menuruti permintaan Bossnya, dia berpamitan pada Mikael lalu meninggalkan mereka berdua.
Mikael memegang tangan Gladys dan menggiringnya ke sofa panjang.
"Sekarang kamu duduk." Pinta Mikael.
Laki-laki tampan itu juga ikut duduk tepat di samping Gladys.
"Teddy udah pergi, sekarang kamu bisa cerita ke saya. Kamu kenapa? Ada apa dengan foto ibu Lina Hartanto itu?" Tanya Mikael yang sedaritadi sudah sangat penasaran.
__ADS_1
"Foto yang kamu tunjukkan ke saya itu adalah Tante Lina, mamanya Leon. Saya tidak ingin Teddy tau hubungan saya dan Tante Lina." Jawab Gladys lirih.
"Pantas saja tidak asing melihat wajah wanita tua itu." Mikael menggempalkan kedua tangannya, menahan amarahnya mengingat kejadian saat Lina mendorong Gladys hingga wanita itu terhuyung ke lantai. Terlebih lagi selama Leon koma, Lina memanfaatkannya untuk memeras Gladys.
"Kak Mika kenapa tiba-tiba menanyakan tentang Tante Lina?" Tanya Gladys.
"Dia menunggak pembayaran cicilan rumahnya dan itu sudah berlangsung lama." Jawab Mikael.
"Sekitar 2 tahun lalu Papanya Leon, Paman Hartanto di vonis oleh dokter, dia mengalami struk ringan tapi harus tetap di jaga, Leon begitu terluka saat megetahuinya, dia sangat dekat dengan papanya. Leon ingin kembali ke Indonesia tapi sayangnya dia sudah terlanjur terikat kontrak dengan salah satu perusahaan di Korea. Masih lekat di ingatan saya waktu itu Leon menangis dan untuk pertama kalinya di hadapan saya." Gladys menghentikan ucapannya, dia kembali mengingat kenangannya bersama Leon di Korea Selatan. Kali ini wanita cantik itu dapat menahan emosionalnya.
"Apa dari Pak Hartanto di vonis struk perusahaannya mulai goyang?"
"Iya, laba perusahaan mereka mulai menurun tapi masih dapat bertahan hingga akhirnya Tante Lina kena tipu, dia membeli perhiasan palsu senilai ratusan juta. Dari situ penyakit Paman Hartanto semakin parah yang berdampak besar pada perusahaannya. Paman Hartanto tidak ingin anak laki-lakinya mengurus perusahaannya karena menurutnya perusahaannya itu sudah terlalu kotor tapi berbeda dengan Tante Lina yang ingin anaknya melanjutkan perusahaan."
"Kotor? Tapi image perusahaan mereka sangat baik, perusahaan Mitra Tambang juga sering melakukan CSR." Ujar Mikael yang mentautkan kedua alisnya.
"Mungkin itu cara mereka untuk menutupi bangkai perusahaan mereka. Dari yang saya ingat Leon pernah bilang kalau perusahaan Papanya melakukan penghindaran pajak." Jelas Gladys dengan wajah sendu.
Mikael menangkup wajah Gladys dengan kedua tangannya. "Saya berjanji tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu lagi." Ucapnya.
Entah mengapa mendengar ucapan laki-laki tampan di hadapannya membuat Gladys menitihkan air mata, dia merasakan ketulusan dari setiap kata yang diucapkan Mikael membuatnya merasa terlindungi sekaligus tenang. Tidak ada perasaan keraguan di hati Gladys, apakah itu sungguhan atau tidak seperti sebelum-sebelumnya yang sering Gladys pertanyakan di dalam hatinya.
"Saya percaya kalau Kak Mika akan menjaga saya." Lirih Gladys lalu mengulas sebuah senyum kecil di bibirnya.
"Tapi kamu kenapa malah nangis?" Dia mendekap wanita itu dan mengelus pucuk rambut Gladys.
"Entahlah." Jawab Gladys di dalam pelukan Mikael.
"Semuanya harus setimpal, rasa sakit yang kamu rasakan." Batin Mikael geram.
__ADS_1
Gladys melepas pelukan Mikael, dia mengulas sebuah senyuman manis memperlihatkan pada laki-laki tampan itu jika dirinya sudah merasa baikan.
"Saya harus melupakan Leon dan berhenti membuat Kak Mika khawatir dengan keadaan saya. Sudah saatnya saya bangkit." Tegas Gladys dalam hati.
***
Tok tok tok
Sebuah tangan tengah mengetuk meja kerja Gladys, wanita itu tengah fokus mengerjakan setumpuk dokumen yang harus di selesaikannya hari ini.
Kini tatapan Gladys beralih pada seseorang yang sedang berdiri di depan meja kerjanya.
"Kamu serius banget sih. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu. Kita bicara di tempat lain." Ujar Gilang yang membuat Teddy yang berada di samping meja kerja Gladys menoleh ke arah mereka.
Gilang membawa Gladys ke ruangan mini di samping lift. Ruangan itu begitu nyaman untuk mengusir sejenak kepenatan dari pekerjaan di kantor. Ruangan itu berisikan beberapa sofa tunggal yang super empuk dan meja bundar mini. Temboknya di lukis dengan gambar alam plus karper berbulu menambah keindahan ruangan itu.
"Semalam saya sudah melihat rekaman Cctv yang Kak Gilang berikan." Ucap Gladys setelah mereka berdua duduk.
.
.
.
Bersambung...
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
__ADS_1
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣