Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #48


__ADS_3

Kini Gladys telah berada di meja kerjanya.


Dia terus memikirkan cara agar bisa melihat rekaman Cctv butik Hello Fashion tanpa bantuan dari Mikael.


🎵 you, you love it how i move....


Suara dering hp Gladys membuat dirinya terkejut dan tersadar dari lamunannya.


Segera Gladys melihat ke layar hpnya dan ternyata telepon dari Mikael.


"Halo."


"Sayang, Papa ajak makan siang bareng. Kamu sekarang turun, saya tunggu di mobil yah."


"Iya Kak." Sahut Gladys.


Panggilan telepon terputus.


Gladys segera mengambil tasnya lalu menuju ke lift.


Setelah sampai di lobby kantor, Gladys melihat mobil range rover sport yang terparkir tepat di depan kantor dan sudah pasti mobil itu adalah milik Mikael. Pikir Gladys.


"Kita mau makan siang dimana?" Tanya Gladys begitu masuk ke dalam mobil.


"Ke warung langganan Papa." Jawab Mikael lalu melajukan mobilnya ke jalan raya.


"Terus Paman mana?" Tanya Gladys lagi.


"Dia udah duluan."


Setelah 30 menit perjalanan.


"Paman ajak makan siang di warung ini?" Tanya Gladys ragu, ketika dia mobil Mikael terparkir tepat di depan warung pinggir jalan sederhana.


"Iya. Ini warung langganan Papa." Jawab Mikael lalu keluar dari mobil yang diikuti oleh Gladys yang merasa terkejut mendengar jawaban Mikael.


Mereka masuk ke dalam warung dan langsung melihat Winjaya yang duduk di dekat pintu masuk warung.


Gladys duduk tepat di kursi samping Mikael sementara Winjaya duduk di depan Mikael.


"Kalian mau pesan apa?" Tanya Winjaya.


"Saya bakso aja Pah." Jawab Mikael.


"Saya bakmi aja Paman." Jawab Gladys.


"Mas pesan 2 bakmi 1 bakso minumnya 3 es teh manis." Ujar Winjaya pada pelayan warung.


"Mas baksonya gak usah pakai daun sop atau daun bawang yah." Ujar Gladys sebelum pelayan warung meninggalkan meja mereka.


"Baik Bu." Sahut pelayan warung.


"Ternyata kamu sudah hapal yah selera anak pemilih ini." Canda Winjaya sambil melihat putranya yang sedang melap meja di depannya dengan tisu.

__ADS_1


"Saya hanya tidak makan sayur aja. Masa di bilang pemilih." Protes Mikael yang tidak menerima perkataan Papanya.


"Tapi Gak apa-apa kan kalau Paman ajak kamu makan di warung ini?" Lanjut Winjaya.


"Gak masalah kok Paman. Saya malah lebih senang makan di warung pinggir jalan kek gini, karena lebih murah dan enak." Jawab Gladys


"Ternyata kita satu selera. Kalau Tante Nana gak suka makan di warung pinggir jalan katanya gak higienis lah, gak sehat lah dan bla bla bla... Tau kan kalau ibu-ibu." Canda Winjaya.


"Mungkin karena Tante Nana gak biasa kali Paman makan di warung pinggir jalan" ujar Gladys lalu tersenyum.


"Tapi saya cukup kaget loh Paman saat tadi Mikael memarkirkan mobilnya di depan warung ini. Gak jangka aja seorang paman Winjaya makan siang di warung pinggir jalan." Lanjutnya


"Paman punya beberapa langganan warung pinggir jalan. Kapan-kapan Paman ajak kamu ke warung langganan Paman."


"Iya Paman."


Pelayan warung telah menyajikan pesanan mereka dengan satu kali bawa dan Mikael yang melihatnya langsung mengambil 3 sendok dan 3 garpu lalu di lapnya dengan tisu.


"Ini Pa dan ini untuk kamu." Ujar Mikael sembari memberikan sepasang garpu dan sendok kepada Winjaya dan Gladys.


"Terimakasih." Ujar Gladys.


Mikael menggeser mangkok baksonya dekat dengan Gladys.


Gladys yang melihatnya terheran lalu melihaT ke arah Mikael.


"Racik bakso ini. Saya ingin rasanya sama seperti saat di kantin kantor waktu itu." Perintah Mikael.


"Kamu gak tau ngeracik bakso kamu sendiri?" Tanya Gladys heran.


Gladys segera menuangkan sambel dan perasan jeruk nipis ke bakso Mikael. Dia tidak menuangkan kecap manis karena menurutnya rasa kecap manis mengurangi rasa asli dari kuah bakso itu sendiri.


Selesai meracik Gladys mengembalikan mangkok bakso Mikael ke meja di hadapannya.


"Selamat menikmati Kak Mika." Canda Gladys.


Winjaya yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua hanya tersenyum bahagia melihatnya.


Selesai makan.


"Paman terimakasih untuk makanannya yang lezat." Ujar Gladys.


"Sama-sama Gladys. Yah udah Paman pergi dulu yah."


"Hati-hati Pah." Ujar Mikael.


Setelah mengantar Winjaya ke mobilnya, Gladys dan Mikael kembali ke kantor.


Winjaya Development.


Setelah keluar dari lift, Gladys mengikuti Mikael masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa?" tanya Mikael heran karena tidak biasanya Gladys mengikutinya masuk ke dalam ruangannya kecuali wanita itu ingin memberikannya dokumen tapi saat ini Gladys tidak sedang membawa map folder.

__ADS_1


Gladys memberikan Mikael flashdisk.


"Ini apa?" Tanya Mikael.


"Flashdisk."


"Anak-anak juga tau kalau ini flashdisk, maksud saya isinya apaan dan kenapa kamu berikan ke saya?"


"Kak Mika buka aja dulu."


Mikael menuruti keinginan Gladys dan membuka file yang ada di dalam flashdisk.


"Ini kan rekaman Cctv di ruang satpam." Ujar Mikael yang masih melihat video rekaman Cctv.


"Kamu lihatkan Pak Yoyo sore itu bertemu dengan temannya untuk menggantikan shift malamnya dan kamu juga sudah lihat siapa orang sedang tertidur di dalam video itu sebelum lampu padam di pos satpam?" Ujar Gladys setelah video rekaman Cctv itu berakhir.


"Saya gak buta, saya bisa lihat sendiri."


"Kalau gitu sekarang tepatin janji Kak Mika. Buat Pak Yoyo kembali bekerja di perusahaan."


Mikael hanya terdiam, sebab dia bukan tipikal orang yang menelan ludahnya sendiri. Karyawan yang sudah di pecatnya tidak mungkin di panggilnya kembali bekerja tapi dia juga sudah berjanji dengan Gladys. Pikirnya.


"Gimana Kak Mika? Kenapa diam aja?" Tanya Gladys.


"Ok saya akan menuruti keinginan kamu tapi ada syaratnya." Ujar Mikael.


"Kenapa pakai syarat segala sih? Kak Mika kan udah janji." Protea Gladys.


"Terserah kamu." Ujar Mikael singkat lalu membuka dokumen di atas meja kerjanya seakan dia sudah tidak memeperdulikan dengan apa yang mereka sedang bahas.


"Yah udah, apa syaratnya?"


Dengan terpaksa Gladys menyetujui keinginan Mikael. Dia merasa kesal dengan laki-laki di hadapannya.


"Saya ingin kamu jangan pernah lagi mengatakan kalau saya adalah pacar di atas kertas kamu." Ujar Mikael setelah menaruh map folder ke atas meja kerjanya yang tadi dipegangnya dan memalingkan pandangannya pada Gladys.


"Deal." Ujar Gladys.


Mereka lalu berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan diantara mereka.


Gladys keluar dari ruang CEO.


Mikael terus melihat Gladys hingga wanita itu sudah menghilang dari balik pintu.


"Kamu itu kalau lagi kesel gitu lucu banget. Saya jadi ingin cubit pipi kamu." Gumamnya lau tersenyum sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2