
Setelah makanan pembuka selesai di hidangkan oleh pelayan, mereka mulai mencicipinya.
"Kerjaan orang tua kamu apa Gladys?" Tanya Marsha di sela makannya.
"Wiraswasta." Jawab Gladys.
"Kerjaannya apaan?" Tanya Marsha lagi.
"Penjual makanan." Jawab Gladys singkat.
Gladys memang menuliskan pada surat lamarannya bahwa pekerjaan papanya wiraswasta. Sebelum menikah dengan ibu sambungnya yang kini di panggilnya eomma, papa Gladys sempat membuka restoran Indonesia di korea.
Marsha tersenyum sinis. "Kalian dengar kan ternyata dia hanya anak dari seorang penjual makanan. Paling pendapatannya juga cuman berapa. Dasar wanita murahan yang mengait laki-laki kaya." Ujar Marsha sinis.
Mikael tidak menyangka kalau kata-kata kasar seperti itu bisa keluar dari bibir Marsha begitupun dengan yang lainnya yang terkejut mendengar perkataan Marsha pada Gladys.
"Ka..." Belum sempat Mikael melanjutkan perkataannya, ucapannya telah terpotong oleh Gladys.
"Maaf yah Mbak Marsha yang katanya kaya raya sebanarnya yang wanita murahan disini saya atau anda yah?" Ujar Gladys lalu tersenyum sinis.
"Maksud kamu?" Marsha kini melotot pada Gladys.
"Wanita mana yang terus gombalin laki-laki yang jelas-jelas udah punya pacar kalau bukan wanita murahan? Coba aja anda pikir sendiri Mbak yang katanya kaya raya." Ujar Gladys menekan kata mbak yang katanya kaya raya.
"Berani banget nih bocah sama saya. Awas aja kamu." Ujar Marsha dalam hati kesal.
Marsha melanjutkan makannya sementara yang lain melihat kagum ke arah Gladys yang berani melawan Marsha anak pemilik dari salah satu stasiun TV terbesar di Indonesia sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Setelah makanan penutup di sajikan. Marsha melihat gelas orange jus Gladys yang kosong. Dia lalu berdiri tepat di belakang Gladys dan mengambil gelas kosong milik Gladys.
"Biar saya isikan yah sekalian saya ingin mengisi gelas saya juga." Ujar Marsha ramah.
Gladys yang mendengarnya terkejut.
"Ini orang punya kepribadian ganda apa? berubah jadi baik gini." Ujar Gladys dalam hati.
Belum sempat Gladys menjawab gelas kosong miliknya di bawa oleh Marsha ke meja kecil sudut ruang yang terdapat juice dispenser berisikan orange jus.
"Kamu harus hati-hati." Bisik Gilang yang duduk tepat di samping Gladys.
"Terimakasih Kak Gilang." Balas Gladys.
Setelah menuang orange jus ke dalam dua gelas yang di bawanya, Marsha memasukkan serbuk putih ke dalam gelas yang akan diberikanya pada Gladys.
"Dek, Kak Marsha pinjam obat kamu dulu yah. Untung tadi Fio titip di beliin obat pelancar BAB." Ujar Marsha dalam hati sembari tersenyum sinis.
__ADS_1
Marsha kembali ke meja makan malam mereka. Dia memberikan gelas berisikan orange jus dan serbuk putih tadi pada Gladys.
"Nih minum." Ujar Marsha.
"Sepertinya Mbak Marsha salah memberikan gelas. Tadi Kak Mika gak sengaja menumpahkan sausnya di atas meja dan mengenai gelas saya. Bekasnya masih tertinggal di gelas yang di tangan kiri Mbak Marsha." Ujar Gladys bohong. Dia hanya berusaha mencari perbedaan gelas yang di bawa Marsha untuk menjadi alasannya menolak gelas yang diberikan marsha padanya. Padahal dia sendiri tidak mengetahui gelas jusnya yang mana.
Dengan terpaksa Marsha memberikan gelas orange jus yang ada di tangan kirinya pada Gladys. Dia tidak mempunyai alasan untuk mambantahnya.
"Sial! Kenapa dia bisa mengingat gelasnya sih." Maki Marsha dalam hati
Marsha kembali ke kursinya dengan perasaan was-was dan takut jika nanti dia harus memimum jus jeruk di hadapannya.
Gilang yang sedari tadi memperhatikan Marsha tersenyum melihat tingkah Marsha. Dia lalu berdiri.
"Teman-teman mari kita bersulang untuk makan malam yang menyenangkan ini dan semoga saja bisnis Tito yang akan launching di luar negeri bisa sukses." Ujar Gilang lalu mengangkat gelas berisikan wine miliknya.
"Amin. Mari bersulang." Ujar beberapa orang yang hadir.
Mereka lalu berdiri untuk bersulang tapi tidak dengan Marsha yang masih duduk.
"Kamu kenapa Marsha? Kok gak berdiri? Kamu gak mau Tito sukses dengan bisnisnya?" Tanya Joni yang tentunya dia tidak serius dengan perkataannya.
"Nyebelin banget sih nih Joni." Maki Marsha dalam hati.
Marsha terpaksa berdiri dan bersulang dengan teman-temannya dan mau tidak mau dia harus meminum orange jus yang ada di tangannya. Dia memang sengaja tidak mengambil wine dan hanya meminum orange jus sejak awal, mengingat besok Marsha ada rapat penting di pagi hari.
"Udah kenyang soalnya." Jawab Marsha asal.
Mereka lalu kembali duduk melanjutkan memakan makanan penutup mereka.
Tito kembali berdiri.
"Teman-teman terimakasih untuk doanya dan makan malam kita kali ini biar saya yang traktir semuanya sebagai tanda terimakasih." Ujar Tito dan di sambut dengan teriakan dan trpuk tangan beberapa orang.
"Kenapa baru bilang sekarang? Saya kan jadi bisa bungkus bawa pulang." Canda laki-laki lainnya.
"Dasar maunya gratisan aja." Canda yang lainnya.
Sementara mereka yang sedang asyik melempar candaan, Marsha mulai merasa perutnya yang melilit. Dia terus memegang perutnya dan segera berdiri untuk ke toilet.
Belum sampai ke pintu keluar terdengar suara yang tidak asing yang bersumber dari Marsha.
Semua orang terdiam mendengarnya karena suara yang dikeluarkan terdengar dengan jelas di ruangan berukuran 4.5x3.5 meter tersebut.
Marsha benar-benar merasa malu dengan teman-temannya dan semua orang melihat ke arahnya. Dengan cepat dia keluar.
__ADS_1
"Parah banget tuh anak. Mana bau lagi." Ujar Tito.
"Jadi ini maksud kak Gilang?" Bisik Gladys.
Gilang hanya tersenyum pada Gladys.
Sementara Mikael memegang telapak tangan Gladys. Dia merasa kesal melihat Gladys dan Gilang yang begitu dekat.
"Kita pulang." Ujar Mikael dingin.
"Tapi teman-teman Kak Mika kan belum pada pulang." Ujar Gladys.
Mikael menarik tangan Gladys untuk berdiri.
"Saya balik duluan." Ujar Mikael lalu keluar dari ruang Vvip yang di ikuti oleh Gilang setelah berpamitan pada teman-temannya.
Mereka bertiga menuju ke parkiran mobil.
"Bye Kak Gilang." Ujar Gladys saat dirinya dan Mikael hendak masuk ke dalam mobil.
Dengan cepat Mikael menancapkan gas mobilnya meninggalkan restoran.
"Kak Mika boleh bertanya gak?" Tanya Gladys.
Tidak ada jawaban dari Mikael tapi Gladys tetap melanjutkan kalimatnya.
"Mbak Marsha emang suka yah bergaul sama laki-laki? Soalnya hanya mbak Marsha sendiri yang perempuan tadi, selain pacar-pacar dari teman-teman Kak Mika." Tanya Gladys.
"Dia sebenarnya bukan anggota UKM basket saat kuliah. Tapi entah siapa yang ngizinin dia sering datang ke basecamp basket laki-laki di kampus dulu." Jawab Mikael yang masih fokus pada jalanan.
"Kalau Kak Gilang dan Mbak Marsha, apa mereka deket saat kuliah atau sampai sekarang mungkin?" Tanya Gladys.
"Dulu Gilang suka sama Marsha. Kenapa? Kamu cemburu?" Tanya Mikael ketus.
"Gaklah ngapain cemburu. Kak Gilang juga bukan pacar saya. Saya hanya penasaran aja, karena Kak Gilang sepertinya mengerti banget sifatnya Mbak Marsha."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....