
Mikael terus memperhatikan Gladys, nampak jelas jika wanita di hadapannya ini sedang gelisah dan khawatir. Gladys terus saja mencubit punggung tangannya hingga kemerahan yang terlihat jelas oleh Mikael, apalagi warna kulit Gladys yang berwarna putih menambah jelas warna merah di punggung tangannya.
"Apa punggung tangan kamu tidak terasa sakit?" Tanya Mikael.
"Aa... Iya Pak." Gladys terkejut mendengar pertanyaan Bossnya, Ia langsung melihat punggung tangannya yang tanpa di sadarinya terus dia cubit. entah kapan Gladys mulai memiliki kebiasaan mencubit punggung tangannya sendiri.
Gladys menutupi punggung tanganya dengan tangan satunya.
"Jadi gimana Pak Mika, apa saya bisa ambil cuti?" Tanya Gladys pelan.
"Memangnya apa alasan kamu minta cuti?"
Gladys memberikan dua lembar kertas yang sedari tadi di pegangnya.
"Ini formulir cuti saya Pak."
"Berhenti panggil saya Pak." Ujar Mikael ketus lalu mengambil 2 lembar kertas yang diberikan Gladys tadi, dia mulai membaca isi formulir itu.
"Menjaga teman di rumah sakit? Kenapa mesti kamu yang jaga? Memangnya teman kamu itu gak punya sanak keluarga yang menjaganya?"
"Dia punya keluarga. Teman saya ini baru sadar dari koma Kak Mika dan saya juga berjanji untuk menjaganya, hitung-hitung untuk melepas rasa rindu kami." Jawab Gladys yang berbohong jika orang yang akan di jaganya adalah temannya.
"Laki-laki atau perempauan?" Tanya Mikael yang sudah seperti orang tua yang menanyai pacar anaknya.
Jika Gladys menjawab laki-laki besar kemungkinan Mikael tidak mengizinkannya karena di dalam kontrak perjanjian tertulis pihak kedua tidak boleh dekat dengan laki-laki lain. Pikir Gladys.
"Perempuan." jawab Gladys bohong.
Mikael memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Ok saya akan tanda tangan di formulir ini tapi ada syaratnya."
Gladys terbelalak mendengarnya. "Apa syaratnya Kak Mika?" Tanyanya.
"Kamu harus menelpon saya saat waktu makan siang dan malam."
"Tapi untuk apa Kak Mika?" Tanya Gladys heran.
"Untuk menanyai saya mau makan apa dan kamu harus mengurusnya."
"Tapi gimana caranya Kak?" Gladys menjadi bingung dengan syarat yang di ajukan Bossnya itu.
"Kamukan bisa pesan online atau menyuruh Teddy untuk membelinya. Tapi kalau kamu gak mau yah gak papa, saya gak jadi tanda tangan di formulir ini." Ujar Mikael sambil memegang 2 lembar kertas di tangannya.
"Ok deal." Ujar Gladys cepat sebelum Bossnya berubah pikiran.
"Kenapa harus serepot ini sih? Kan tinggal Kak Mika telepon Teddy untuk urus makan siang dan malam, kenapa harus saya coba." Maki Gladys dalam hati sambil melihat Bossnya yang sedang menanda tangani formulir cutinya ssbagai tanda jika Mikael menyetujui cuti Gladys.
Mikael sengaja memberikan syarat itu pada Gladys, agar dia bisa mendengar suara wanita itu dan mengetahui kalau Gladys baik-baik saja.
Flashback off
***
"Gimana rasa dakjuknya? Enak?" Tanya Gladys saat melihat Leon telah memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.
"Memangnya sejak kapan masakan kamu gak enak Adys?" Puji Leon.
Gladys tersenyum senang mendengar pujian Leon, sudah lama Gladys tidak mendengar pujian itu dari Leon.
__ADS_1
"Kamu gak makan?" Tanya Leon.
"Saya sudah makan di apertemen sebelum datang ke sini." jawab Gladys.
"Yah Tuhan hampir saja saya lupa." Batin Gladys.
"Leon makan sendiri gak papa kan? Saya keluar sebentar." Ujar Gladys.
"Kamu mau kemana?"
"Saya... saya mau telepon teman kerja dulu. Ada yang mau saya beritahukan tentang kerjaan." Jawab Gladya asal.
"Katanya kamu gak mikirin kerjaan kamu karena sedang cuti." Ujar Leon yang merasa curiga pada Gladys. Dia merasa jika Gladys sedang membohonginya. Tapi dia berusaha untuk menepis pikirannya itu.
"Saya lupa."
"Yah udah jangan lama-lama perginya." Ujar Leon yang mengenggam tangan Gladys lalu melepasnya.
Entah kenapa Leon seperti merasa tidak rela membiarkan Gladys pergi walau dia tau Gladys hanya Pergi untuk menelepon rekan kerjanya.
"Iya." Sahut Gladys lalu keluar dari ruang pasien.
Leon terus melihat Gladys hingga siluet wanita itu sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.
***
Setelah menekan layar hpnya Gladys menempelkan benda pipih itu pada telinga.
"Halo." Sapa Gladys
"Sekarang udah jam berapa? Kamu habis ngapain sampai lupa untuk menelpon saya?" Tanya Mikael begitu mengangkat telepon dari Gladys.
"Maaf Kak Mika tadi saya mengurus makan siang teman saya dulu." Gladys tidak mungkin jujur pada Mikael jika dia sempat lupa menelponnya. Bisa-bisa mengamuk.
"Untuk sekarang saya tidak akan mempermasalahkannya tapi jika sampai hal ini terjadi lagi, kamu harus tanggung akibatnya." tegas Mikael di seberang.
"Baik Kak Mika. Sekarang Kak Mika ingin makan siang apa? Biar saya pesankan." Ujar Gladys legah.
"Pesankan saya nasi padang. Tapi ingat harus di restoran tempat kita makan dulu." Ujar Mikael dingin.
"Baik Kak Mika."
Sambungan telepon terputus.
Gladys segera memesan menu makanan yang di minta Mikael secara online.
Selesai memesan, Gladys kembali ke ruang rawat Leon.
"Gimana? Kamu udah telepon rekan kerja kamu?" Tanya Leon begitu melihat Gladys memasuki ruang rawatnya.
"Udah." Jawab Gladys.
"Makanannya kok gak habis?" Tanya Gladys ketika dia melihat ke isi rantang yang telah di taruh Leon di atas nakas aamping tempat tidur.
"Suapin." Lirih Leon.
"Sejak kapan kamu jadi manja?" Ledek Gladys.
"Sejak sekarang." Jawab Leon asal.
__ADS_1
Gladys tersenyum melihat kekasihnya, dia mengambil rantang dari Leon lalu mulai menyuapi Leon.
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu ruang rawat terbuka membuat mereka berdua berbalik ke sumber suara.
Benar saja, dari balik pintu muncul sdsosok wanita yang paling di segani Gladys setelah halmeoni-nya di Korea.
(Halmeoni adalah panggilan nenek dalam bahasa korea)
Seketika itu juga Gladys menjadi tercekam melihat sosok itu yang melangkah mendekati mereka.
"Selamat siang Tante Lina." Sapa Gladys yang berusaha bersikap santai.
Bukannya membalas sapaan Gladys, Lina hanya melirik ke arah Gladys sebentar.
"Sayang gimana keadaan kamu sekarang? Udah lebih baik?" Tanya Lina dengan lembut pada anak laki-lakinya.
"Iya Ma. Saya udah merasa baikkan. Lagian Mama tenang aja kan ada Gladys yang jagain saya jadi Mama bisa fokus jagain papa." Jawab Leon.
"Bagus lah kalau gitu. Ini Mama bawain hamburger makanan kesukaan kamu, tadi mama singgah beliin kamu di restoran favorite Mama." Ujar Lina lalu mengeluarkan bungkusan makanan dari kantong plastik di bawanya.
"Maaf Tante Lina tapi menurut saya saat ini Leon harus memakan makanan sehat dulu." Ujar Gladys pelan.
"Jadi maksud kamu kalau makanan yang saya bawakan untuk anak saya ini tidak sehat?" Bentak Lina.
"Kalau Mama bicaranya kek gitu, mama bisa bikin Gladys takut. Lagian maksud Gladys bukan gitu. Sekarang kan saya lagi masa pemulihan jadi alangkah bagusnya jika saya tidak mengonsumsi junk food dulu." Jelas Leon.
"Kamu kenapa belain dia? dia yang membuat kamu sampai kayak gini. Kamu harus ingat itu."
"Mama gak usah mulai deh." Ujar Leon yang mulai geram pada Mamanya.
"Terserah kamu." Ujar Lina sinis.
Lina mendekatkan wajahnya ke telinga Gladys.
"Kamu akan menyesal karena tidak menuruti keinginan saya untuk menjauhi anak saya." Bisik Lina yang di akihiri dengan senyuman sinis pada Gladys lalu melangkah menuju ke pintu keluar meninggalkan mereka berdua.
"Kamu gak papakan? Tadi Mama bisikin apa ke kamu?"
"Saya gak papa kok. Tante Lina hanya menyuruh saya untuk menjaga kamu dengan baik." jawab Gladys bohong.
"Saya tau kamu bohong sayang." Ujar Leon dalam hati, dia merasa kasihan pada wanita yang dicintainya itu.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣