
40 menit kemudian Mikael telah memasuki ruangannya yang diikuti oleh Gladys di belakangnya.
"Kamu duduk." Perintah Mikael.
Tanpa berkata, Gladys menuruti perintah Bossnya, dia duduk di sofa panjang dan empuk.
"Sekarang kamu bilang ke saya, kenapa kamu gak mau sewa? Kamu kan sudah janji bakalan pindah dari rumah kontrakan Mira." Tanya Mikael lalu duduk di sofa seberang Gladys.
"mmhhh... Karena pemilik apertemen gak jelas siapa, saya takut aja kalau ada apa-apanya apertemennya itu, sampai di sewain murah lagi." Jawab Gladys.
"Apertemen itu gak ada apa-apanya, saya bahkan selalu menyuruh Pak Noh untuk membersihkannya. Hanya saja lama gak di tinggalin."
"Kenapa Kak Mika peduli dengan apertemen itu sampai nyuruh Pak Noh membersihkannya?" Tanya Gladys yang tidak merasa penasaran.
"Karena.... karenaa.." Mikael tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, dia menjadi gagap seketika.
"Mampus gimana harus jawabnya, kalau saya bilang karena apertemen itu milik saya. Apa Gladys akan terima." Batin Mikael.
"Kenapa Kak Mika sepertinya gak bisa jawab pertanyaan saya?" Tanya Gladys lagi.
"Yah karena..."
"Jawab jujur aja Kak, siapa tau kalau saya sudah tau pemilik unit apertemen itu saya berubah pikiran." Pancing Gladys. Wanita cantik itu hanya ingin agar laki-laki di hadapannya ini berkata jujur dan terbuka padanya.
"Benar juga siap tau Gladys bisa berubah pikiran, tapi gimana kalau tidak? Sudahlah." Batin Mikael.
"Apertemen itu milik saya." Jawab Mikael yang mempercepat setiap kata yang di keluarkan dari bibirnya.
"Gitu kek Kak Mika. Saya lebih suka dengan laki-laki yang jujur dan terbuka." Ujar Gladys. Seakan memberikan sinyal pada Mikael kriteria laki-laki yang di sukanya.
"Terus gimana? Apa kamu berubah pikiran setelah tau kalau saya pemiliknya?" Tanya Mikael datar.
"Kenapa Kak Mika gak jujur dari awal?" Tanya Gladys.
"Karena saya takut jika nanti kamu tau kalau saya pemiliknya kamu gak mau sewa dan saya yang menyuruh Teddy untuk membujuk kamu, bahkan saya menyuruh Teddy untuk membawa Mira bersama kalian karena sepertinya Mira setuju untuk kamu menyewa apartemen itu jadi dia bisa membujuk kamu." Jelas Mikael yang sudah seperti seorang anak yang mengaku jujur telah berbohong pada mamanya.
__ADS_1
"Benar juga, karena belum tentu juga saya bakalan nyewa apertemen itu kalau saya tau itu milik Kak Mika. Tapi sebenarnya niat Kak Mika juga baik, mau sampai kapan juga saya tinggal di rumah kontrakan Mira apalagi Ella sudah mau kembali dan saya masih belum mendapatkan tempat tinggal." Batin Gladys.
"Sayang, kamu kenapa begong?" Tanya Mikael.
"Saya kembali bekerja dulu Kak, masih banyak yang harus saya selesaikan." Pamit Gladys lalu keluar dari ruang CEO.
"Sepertinya Gladys tetap tidak ingin menyewa apertemen itu." Gumam Mikael yang sama sekali tidak bersemangat. Dia sudah pesimis jika Gladys tidak akan menyewa apertemen itu.
Dia lalu melangkah ke meja kerjanya.
***
Gladys dan Mira telah tiba di rumah kontrakan Mira setelah di antar oleh Teddy sesuai dengan perintah Mikael.
"Tumben Pak Mika gak mau antar kamu Dys, malah nyuruh saya." Ujar Teddy yang baru saja memberhentikan mobilnya.
"Gak tau juga. Besok pagi jangan lupa yah jam setengah 6 pagi, ingat harus sudah ada di sini." Tegas Gladys.
"Yah Tuhan, saya masih di alam mimpi kalau jam segitu." Protes Teddy
"Jangan dong, udah deal juga." Teddy di buat panik mendengar ancaman Gladys.
"Bodoh amat."
"Yah udah yuk Dys, kita keluar." Ajak Mira yanh sedari tadi hanya diam mendengar percakapan dua orang di depannya.
"Hai Gladys, hai burung beo." Sapa Dion saat melihat mereka telah keluar dari mobil Teddy.
"Hai Dion." Sapa Gladya balik. "Dion maaf yah saya gak bisa lama-lama, saya harus beberes." Lanjut Gladys yang melangkah meninggalkan mereka berdua setelah Mira membuka pintu rumahnya.
"Beberes apaan?" Tanya Dion heran.
"K-E-P-O Kepo" Ketus Mira lalu meninggalkan Dion sendirian di teras.
***
__ADS_1
Selesai mandi dan makan malam Gladys mulai bergelut di kamarnya. Wanita cantik itu mulai membereskan pakaian dan semua barang-baranh yang digunakannya selama beberapa hari di rumah kontrakan Mira. Walau tidak begitu banyak, tapi besok pagi Gladys sudah harus pergi.
"Dys dua kardus di dekat sofa itu milik kamu kan?" Tanya Mira yang sejak tadi bersama Gladys di dalam kamar. Eits bukan untuk membantu Gladys wanita berkulit putih itu hanya duduk di atas tempat tidur memperhatikan setiap gerakan Gladys, sepertu seseorang yang sedang mengawasi.
"Iya, itu isinya buku-buku, kotak kenanagan dan lain-lain."
"Kotak kenangan? Kotak kenangan apaan?" Tanya Mira antusias.
"Barang-barang Mama. Kamu masih ingat kan dulu mama saya mendadak pergi dari rumah?" Tanya Gladys sembari memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Iya ingat. Mama saya pernah cerita, katanya tidak ada angin tidak hujan mama kamu tiba-tiba menghilang."
"Iya, Papa saya bilang waktu itu mama pergi dalam keadaan menangis dan katanya mama gak bahagia dengan kami." Ujar Gladys dengan wajah sendu. Gladys kembali mengingat saat dirinya pulang dari sekolah sewaktu kecil, dia memangil mamanya yang tak kunjung menghampirinya dan yang datang hanya papanya yang seharusnya berada di kantor saat itu. Gladys kecil menangis histeris saat tau mamanya pergi tanpa membawanya hinhga membuat dia demam beberapa hari.
"Udah gak usah di ingat-ingat lagi. Sekarang kan udah Pak Mika yang selalu jagain kamu, nemenin, sayang-sayang. Oooo.... jadi pengen ada yang yang sayang-sayang juga." Ujar Mira yang tersenyum malu sambil membayangkan seorang laki-laki yang sedang memeluknya.
Gladys tersenyum masam. "Apa saya jujur saja yah? Toh Mira sudah banyak bantu saya selama ini, udah seperti saudara perempuan saya juga." Batin Gladys.
"Saya mau jujur sama Ra."
"Kamu mau bilang apa? Wajah kamu tiba-tiba jadi serius gitu." Tanya Mira penasaran.
.
.
.
Bersambung...
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣