
Jam 10.00
Tok tok tok
Setelah di persilahkan masuk, Gladys membuka pintu ruang CEO dan melangkah menghampiri meja kerja Mikael.
"Permisi Kak Mika, ini dokumen-dokumen yang Kak Mika perlukan untuk rapat dengan pak Gubernur nanti." Ujar Gladys seraya memberikan 3 map folio plastik pada Mikael.
Mikael yang menerimanya langsung mengecek hasil kerja Gladys.
"Kamu berikan pada Teddy, biar dia nanti yang dampingi saya. Saya juga akan pergi bersama Aaron." Ujar Mikael sambil terus memandang ke arah Gladys yang terus menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Mikael.
"Saya gak papa. Kalau begitu saya pamit undur diri" ujar Gladys lalu mengambil kembali map-map yang diserahkannya tadi pada Mikael dan keluar dari ruangan CEO.
Setibanya di meja kerjanya Gladys memberikan 3 map yang di bawanya pada Teddy dan memberitahukan apa yang di katakan Mikael tadi.
Tidak berselang berapa lama Mikael keluar dari ruangannya.
"Kita mau berangkat sekarang Pak?" Tanya Teddy.
"Iya." Jawab Mikael.
Mikael mendekatkan bibirnya pada telinga Gladys .
"Saya pergi dulu sayang." Bisik Mikael lalu mengusap lembut rambut Gladys
Gladys yang mendengarnya di buat menjadi patung di kursinya. Jantungnya kembali berdebar kencang karena perlakuan Mikael padanya.
Sementara Teddy yang melihatnya tersenyum cengegesan. Dia merasa senang dengan apa yang di lihatnya. Teddy bertambah yakin kalau dugaan Aaron itu salah.
"Bye Dys." Ujar Teddy.
Mereka berdua melangkah menuju lift.
"Gladys." Panggil Mira membuat Gladys tersadar kembali.
"Kamu dan pak Mika udah jadian?" Tanya Mira girang
"Jadi gosip selama ini benar?" Tanya Vicky yang terburu-buru menghampiri Gladys dan Mira yang sudah terlebih dulu bersama Gladys.
Dengan ragu Gladys mengangguk mengiyakan pertanyaan kedua temannya.
"Oh my God. This is the big news." Ujar Mira terkejut.
__ADS_1
"Tapi kalian gak usah ngomong ke siapa-siapa. Nanti saya jadi bahan gosip lagi." Ujar Gladys yang menyesal telah mengiyakan pertanyaan Mira dan Vicky tadi.
"Asal kamu tau yah Dys gosip kalau kamu dan Pak Mika udah jadian itu udah tersebar di seluruh kantor tapi karena ada larangan dari pak Mika makanya gak ada yang berani membicarakan kamu dan pak Mika lagi." Jelas Vicky
"Larangan dari Pak Mika?" Tanya Gladys heran
"Iya. Pak Mika menyuruh Teddy untuk memberitahukan kepada para karyawan untuk melarang keras membicarakan antara kamu dan Pak Mika." Jawab Mira.
"Saya baru tau kalau Pak Mika menyuruh Teddy melakukan itu." Ujar Gladys tidak percaya.
"Emang begitu adanya." Ujar Vicky.
"Gladys ingat yah PJ." Ujar Mira lalu tersenyum sambil mengangkat ke dua alis.
"PJ apa. Saya gak ngerti?"
"PJ itu singkatan dari pajak jadian. Kamu harus mentraktir kita-kita sebagai perayaan kecil-kecilan karena kamu baru saja punya pacar alias jadian." Jelas Vicky. "Emang kamu dari planet mana sih? PJ aja gak tau" lanjut Vicky.
"Hello.... Dia kan dari Korea. Mana ada PJ PJ-an di sana. Yah udah saya lanjut kerja dulu. Jangan lupa." Ujar Mira sambil melangkah menuju ruan kerjanya.
"Kalau gitu saya juga balik. Mau lanjut kerja." Ujar Vicky yang mengikuti Mira.
Gladys melanjutkan kerjanya yang sempat tertunda karena kedua temannya tadi.
Jam 11.30
🎵 you, you love it how i move
Hp yang diletakkan Gladys di atas meja kerjanya berbunyi.
Gladys langsung menghentikan aktivitasnya dan melihat kelayar hpnya, ternyata telepon dari Lina. Gladys segera mengangkatnya.
"Halo, Selamat siang Tante Lina." Ujar Gladys sopan.
"Siang. Saya langsung saja ke intinya, pihak rumah sakit memberikan tagihan biaya rumah sakit Leon. Kamu harus berikan saya 30 juta lagi." Ujar Lina di seberang.
Gladys yang mrndengarnya di buat kaget.
"Maaf Tante Lina tapikan biaya rumah sakitnya baru saja di bayarkan sekitar 1 minggu lalu atau mungkin lebih" ujar Gladys yang dia sendiri tidak mengingat dengan jelas kapan pastinya dia memberikan uang biaya rumah sakit pada Lina.
"Kamu gak percaya sama saya?" Ujar Lina yang meninggikan nada suaranya.
"Bukan gitu maksud saya tante Lina." Ujar Gladys.
"Terus apa? dari perkataan kamu tadi seakan-akan kamu ini gak percaya dengan saya" bentak Lina.
__ADS_1
"Yah udah Tante Lina saya akan berikan uangnya. Kita ketemu dimana?" Tanya Gladys, dia tidak ingin tambah memperburuk hubungannya dengan Lina.
"Bagus. Besok jam 09.00 di taman kota." Ujar Lina.
"Maaf Tante taman kota dari tempat saya bekerja lumayan jauh dan saya juga gak bisa keluar terlalu lama di jam segitu. Gini aja tante Lina gimana kalau di house cafe dekat tempat saya bekerja?" Tanya Gladys.
Lina pun menyetujui perkataan Gladys dan langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Gladys langsung menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya yang empuk.
Untungnya uang dari jadi pacar bohongan Pak Mika masih ada. Pikir Gladys.
"Dys Makan siang yuk." Ajak Mira yang membuat Glays tersadar.
"Saya bawa makanan kok." Ujar Gladys.
"Yah udah kalau gitu. Bye Dys." Ujar Mira lalu mereka berempat menuju ke lift.
Gladys memgambil roti dan susu yang di belinya pagi tadi di dalam tas kantornya, dia lalu melihat sepasang gantugan kunci kayu puzzle dan menaruhnya di saku celananya.
Gladys melangkah menuju ke lift,dia lalu menekan tombol bertuliskan angka 28. Dia ingin menenangkan sedikit pikirannya dan dia membutuhkan udara segar.
Kini Gladys membuka pintu besi di hadapannya dan langsung menuju ke pinggir rooftop.
Dia melihat kebawah, pemandangan kota.
"Seandainya saya bisa mengatur dunia ini. Saya ingin Leon sembuh, saya ingin menemui mama, saya ingin hidup bahagia." Gumam Gladys, dia lalu melihat ke langit cerah.
"Tuhan apakah kebahagiaan itu juga berlaku untuk saya? apakah orang-orang yang saya cintai bisa selalu ada bersama dengan saya?" Ujar Gladys kini air matanya mulai membasahi pipi putihnya, dia menundukkan kepalanya.
"Saya hanya ingin perpisahaan itu tidak ada. Saya ingin mama, papa, Leon ada bersama saya." Ujar Gladys dalam hati.
Gladys mengambil gantungan kunci kayu puzzle dari saku celananya.
"Kamu kenapa?" Tanya seseorang.
Gladys yang mendengarnya sontak berbalik dan tanpa sengaja menjatuhkan gantungan kunci kayu puzzle dari genggamannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....