
Sepanjang perjalanan menuju ke mobil, semua mata para karyawan tertuju pada mereka. Pasalnya Mikael terus memegang Gladys seakan sewaktu-waktu Gladys bisa saja terjatuh.
Kini mereka telah berada di dalam mobil Mikael.
"Kak Mika." Panggil Gladys memecah kehenigan di antara mereka.
"Ada apa?"
"Kak Mika benar-benar tidak sedang bertengkarkan dengan Kak Gilang?" Tanya Gladys ragu.
"Tidak. Sudah saya katakan kalau tadi saya hanya memperingatinya karena telah membawa kamu ke rooftop." Jawab Mikael yang telah fokus pada jalanan.
"Tapi rooftop tempat yang nyaman dan tenang kak Mika. Coba deh kak Mika sekali-sekali ke sana dan berlahan Kak Mika harus menghapus rasa sakit di hati kak Mika." Jelas Gladys yang berusaha meyakinkan Mikael.
"Kamu gak usah memikirkan rooftop itu lagi. Yang terpenting sekarang kamu harus sehat dulu, saya tidak ingin kamu pingsan lagi karena kurang istirahat atau banyak pikiran. Kamu mengerti?" Ujar Mikael lembut.
"Iya Kak." Sahut Gladys.
"Sebenarnya saya kenapa?" Tanya Gladys dalam hati.
Gladys merasa senang ketika Mikael menaruh perhatian padanya, dia juga merasa jantungnya terus berdebar ketika menjadi sangat dekat dengan Mikael. Seperti saat pertama kali dia jatuh cinta dengan Leon. Pikirnya
"Tidak tidak saya tidak boleh jatuh cinta dengan Kak Mika, saya sudah memiliki Leon dan Leon telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan saya tapi seandainya saja Tante Lina bisa seperti tante Nana yang menerima saya..." Ujar Gladya dalam hati tanpa sadar dia terus memperhatikan Mikael dari sisi samping.
Mikael melihat kearah Gladys saat dia memberhentikan mobilnya. Alhasil tatapan mereka saling bertemu.
Mikael tersenyum berusaha menutupi kegugupannya.
"Mau sampai kapan melihat saya?"Ttanya Mikael.
"Maaf kak saya sedang tidak fokus." Ujar Gladys lalu menyadari jika mereka telah tiba di parkiran apertemennya.
"Terimakasih kak Mika sudah mengantar saya pulang." Ujar Gladys lalu keluar dari mobil Mikael.
Begitu Gladys sudah tidak terlihat dari pandangannya Mikael segera melajukan mobilnya kejalan raya.
Mikael terus memikirkan Gladys.
Apa dia akan kehilangan orang yang di sayangnya lagi. Seperti saat dia kehilangan Elin, dia harus merelakan Elin bersama adiknya. Berat rasanya. pikir Mikael
Mikael menggelengkan kepalanya pelan.
***
Gladys membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang super nyaman.
Dia melihat foto mamanya yang di simpannya di atas meja samping tempat tidurnya.
"Mama sekarang dimana? Saya ingin cerita ma. Saya ingin mama berada di samping saya, saya ingin memeluk Mama." Gumam Gladys.
🎵 you, you love it how i move...
Gladys memgambil hpnya yang di lemparmya tadi ke atas tempat tidur lalu melihat ke layar hpnya yang bertuliskan Lea
__ADS_1
"Halo Kak Lea." Sapa Gladys.
"Halo Dys. Mama sekarang sedang sibuk dengan teman-temannya. Apa kamu ada waktu?" Tanya Lea.
"Ada Kak Lea. Kebetulan hari ini saya pulang cepat." Ujar Gladys.
"Kalau begitu saya tunggu kamu."
Panggilan telepon terputus.
Gladys segera mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang santai.
Setelah siap Gladys memesan ojol lalu turun menuju ke parkiran apertemen mencari ojol yanh yang dipesannya.
Gladys merasa senang karena dia sudah lama tidak bertemu dengan Leon.
Setelah 30 menit perjalanan dia telah tiba di rumah sakit.
Seera Gladys menuju ke ruang ICU tempat Lepn di rawat.
"Hai Kak Lea." Sapa Gladys ketika melihat Lea yang sedang duduk di kursi depan ruang ICU.
Lea tersenyum pada Gladys.
"Kamu masuklah dulu. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu." Ujar Lea.
"Kak Lea ingin membicarakan apa?" Tanya Gladys penasaran.
Gladys menuruti perkatan Lea. Dia masuk ke dalam ruang ICU.
Seperti biasa Gladys telah memakai gaun luar juga masker.
Gladys melangkah di samping Leon dan duduk di kursi yang berada tepat di samping temat tidur Leon
"Hai Leon." Sapa Gladys.
"Hari ini kondisi saya kurang fit, saya bahkan sampai pingsan. Tapi kamu tenang saja kata dokter, itu karena kecapean aja. Semalam saya memang kurang tidur mungkin itu yang mrmbuat saya sampai kecapean." 7jar Gladys sambil menatap Leon yang masih terbarin di hadapannya.
Gladys memegang telapak tangan Leon.
"Leon, saya sudah menemukan titik terang keberadaan mama. Lihat ini." Ujar Gladys sembari mengambil gantungan kunci kayu puzzle yang ditemukannya di butik hello fashion.
"Ini gantungan kunci buatan mama. Kamu ingatkan saya pernah cerita ke kamu. Satu sisi gantungan kunci puzzle ini ada inisial mama dan saya juga sudah mencocokkan dengan gantungan kunci milik saya. Sekarang saya tinggal mencari tau orang yang menjatuhan gantungan kunci ini. Saya berharap semoga orang itu adalah Mama." Lanjut Gladys lalu mengusap lembut rambut Leoan.
Tiba-tiba saja Gladys merasa jari tangan Leon yang di pegangnya bergerak. Sontak saja Gladys melihat ke tangan Leon.
"Leon, tangan kamu..." Ujar Gladys. Dia lalu menekan tombol di samping tempat tidur Leon untuk memanggil perawat rumah sakit.
Tidak menuggu lama seorang perawat dan dokter masuk ke ruang ICU.
"Dok tadi saya merasakan jari tangan Leon bergerak." Ujar Gladys senang.
"Dokter akan memeriksa pasien. Silahkan anda metunggu di luar." Ujar perawat.
__ADS_1
"Baik suster." Ujar Gladys.
Saat Gladys keluar sari ruang ICU, Lea yang sejak tadi menunggu di depan ruang ICU menyambut Gladya dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Ada apa Dys? Kenapa suster dan dokter tadi terburu-buru masuk ke dalam?" Tanya Lea panik.
"Tadi saya merasakan tangan Leon bergerak kak Lea." Ujar Gladys senang,tanpa di sadarinya air matanya mengalir ke pipinya.
Lea lalu memeluk Gladys.
"Semoga saja ini pertanda baik." Ujar Lea.
"Iya kak Lea. Amin." Ujar Gladys sambil menghapus air mataya.
Dokter dan perawat tadi telah keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanya Lea.
"Sepertinya sudah ada kemajuan dari adik anda. Semoga saja pasien cepat sadar." Ujar Dokter sembari memperbaiki posisi kacamatanya.
"Terimakasih Dok." Ujar Lea.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Ujar Dokter.
Dokter dan perawat tadi telah pergi meniggalkan mereka berdua.
"Saya senang banget dengarnya Kak." Ujar Gladys.
Lea tersenyum senang pada Gladys.
"Oh iya kata Kak Lea ada yang ingin Kak Lea bicarakan dengan saya." Ujar Gladys.
"Kita duduk dulu." Ajak Lea.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai guys
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣
__ADS_1