
"Perut.... perut saya... ah.... sakit ah...." Teriak Gladys sambil memegangi perutnya. Kini air matanya telah mengalir membasahi pipinya. Dia menangis sejadi-jadinya, bukan karena menahan rasa sakit di perutnya tapi karena mengingat apa yang telah terjadi antara dirinya dan Leon. Leon yang tiba-tiba meminta putus darinya tanpa alasan yang jelas.
Mikael yang melihat Gladys yang terus-menerus menangis membuatnya menjadi panik dan bingung harus melakukan apa untuk menenangkan Gladys, hingga ia teringat dengan perkataan Dokter Nano padanya kemarin.
Dengan cepat Mikael mengambil hpnya yang di taruhnya semalam di nakas samping tempat tidurnya untuk menelpon Dokter Nano.
***
"Apa yang anda rasakan?" Tanya Dokter Nano.
"Perut saya terasa nyeri melilit Dok, seperti ingin BAB tapi sebenarnya tidak." Lirih Gladys.
"Apa anda memiliki pantangan dalam makanan?" Tanya Dokter Nano.
"Tidak Dok."
"Apa anda pernah mengalami nyeri seperti ini sebelumnya atau orang tua anda?"
"Saya gak pernah alami Dok. Kalau orang tua saya, setahu saya mereka tidak memiliki penyakif apapun." jawab Gladys.
Dokter Nano hanya merespon jawaban Gladys dengan anggukan kepala.
"Pak Mika apa kita bisa bicara sebentar di luar?" Tanya dokter Nano.
"Iya Dok, mari." Ajak Mikael.
Kini mereka telah berada di ruang tamu.
Bi Jum datang menyuguhkan kopi untuk Dokter Nano dan Tuannya.
"Apa yang ingin Dokter katakan?" Tanya Mikael.
" Maaf sebelumnya, apa nona Gladys pernah atau sedang mempunyai masalah yang menyebabkan dia mengalami stress?" Tanya Dokter Nani sedikit ragu.
"Iya Dok, dia memang sedang ada masalah."
"Ok. Seperti yang saya katakan kemarin, sepertinya memang benar nona Gladys mengalami radang usus faktor stress. Saya akan memberikan resep obat suplemen serat atau laksatif, obat antidepresi dan obat-obat untuk meringan sakit perut. Untuk obat yang kemarin anda tetap berikan karena itu hanya vitamin dan penambah nafsu makan saja." Jelas Dokter Nano.
"Terimakasih Dokter Nano."
"Jika stress nona Gladys terus berlanjut maka saya sarankan untuk di bawah ke dokter psikolog." Ujar Dokter Nano.
"Baik Dok."
"Yah sudah kalau begitu saya pamit dulu."
Mikael mengantar Dokter Nano ke pintu keluar unit apertemen lalu melangkah menuju ke kamarnya untuk melihat kondisi Gladys. Dia sudah menchat WA Teddy untuk segera datang ke apertemennya dan menebus resep obat yang di berikan dokter Nano tadi.
Tok tok tok
__ADS_1
Mikael mengetuk pelan pintu kamarnya. Walaupun itu kamarnya tapi dia harus tetap berlaku sopan karena saat ini kamar itu sedang di gunakan oleh Gladys.
"Kak Mika masuk aja." Terdengar suara dari dalam kamar.
Mikael segera membuka pintu kamarnya dan mendapati Gladys yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur, wanita itu menyelimuti sebagian badannya yang tidak terasa dingin.
"Apa kamu sudah merasa baikan?" Tanya Mikael.
"Saya udah mendingan Kak Mika." Jawab Gladys lirih.
"Suaranya seperti orang habis menangis." Batin Mikael.
"Saya sudah menyuruh Teddy ke sini untuk menebus resep obat kamu." Ujar Mikael.
"Maaf Kak Mika karena sudah merepotkan."
"Kamu gak perlu merasa sungkan. Kamu lagi pengen makan apa? Biar saya suruh Bi Jum masakin atau mau beli makan di luar?"
Gladys memaksa seulas senyum di bibirnya. "Gak perlu Kak Mika saya lagi tidak lapar."
"Saya gak suka lihat kamu yang seperti ini, seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup." Batin Mikael.
"Saya ingin bertanya ke Kak Mika." Gladys meminta izin terlebih dulu.
"Tanyakan saja."
"Karena saya merasa lebih aman jika di apertemen saya, saya bisa menjaga kamu. Lagian saya lebih percaya kalau Dokter Nano yang memeriksa kamu." Jawab Mikael.
"Saya juga tidak ingin kamu bertemu lagi dengan laki-laki brengsek itu yang akan membuat kamu lebih terluka" Tambahnya dalam hati.
"Kenapa Kak Mika mau menjaga saya?" Tanya Gladys heran.
"Karenaaaa kamu kan pacar saya, jadi sudah sepatutnya saya menjaga kamu." Jawab Mikael asal.
"Saya mengerti Kak Mika, saya akan berusaha lekas sembuh agar bisa menjalankan perjanjian kita dan tidak merepotkan Kak Mika lagi."
"Bisa bisanya kamu berpikir karena perjanjian itu" Maki Mikael dalam hati.
"Mungkin hari ini lebih baik saya tetap tinggal di apertemen Kak Mika, daripada saya harus tinggal di apertemen Sunrise" Batin Gladys.
Apertemen Sunrise adalah nama apertemen yang selama ini di tinggali oleh Gladys. Apertemen yang di sewa berdua oleh Gladys dan Leon.
"Terserah kamu mau pikir apa." Ujar Mikael dingin lalu keluar dari kamar meninggal Gladys yang heran dengan sikap Bossnya yang tiba-tiba berubah.
Sepeninggalnya Mikael.
Gladys hanya sendirian di kamar megah dengan nuansa serba putih itu. Dia menuruni tempat tidur dan melangkah mendekati sofa panjang yang terletak di dekat jendala super besar sekedar ingin melihat pemandangan kota yang begitu indah. Namun bukannya Gladys merasa senang karena bisa meniknati pemandangan kota, air matanya justru mengalir membasahi pipinya. Tubuh Gladys mendadak lemas, dia mendudukkan tubuhnya pelan ke sofa panjang tepat di sampingnya berdiri.
"Apa semuanya benar-benar berakhir antara kita? tanpa kamu memberikan penjelasan pada saya alasan kamu mendadak mengatakan.... hiks... hiks...." Gumam Gladys pilu, dia kembali menangis.
__ADS_1
"Saya masih sangat mencintai kamu, Leon. Saya pikir kalau kita berdua memang sudah di takdirkan oleh Tuhan untuk bersama, kamu bahkan sudah berjanji pada papa dan eomma untuk terus menjaga saya setelah sebelumnya mereka tidak merestui hubungan kita. Apa janji kamu itu palsu? Atau kamu telah melupakan janji itu? hiks..... hiks..... hiks....." gumam Gladys yang mengingat saat dirinya membujuk kedua orang tuanya agar mereka mau merestui hubungannya dengan Leon.
Hati Gladys benar-benar sakit seperti ada sebuah pisau menyayatnya, suara tangisnya semakin keras. Deraian air mata terus keluar dari kedua matanya membasahi kedua pipinya.
"Apa kamu memang sudah merencanakan untuk putus dari saya?" Tanya Gladys yang kembali mengingat saat sehari sebelum Leon meminta putus darinya, sifat Leon yang tiba-tiba berubah padanya. Laki-laki itu menjadi pendiam dan dingin pada Gladys.
"Apa selama 3 tahun kebersamaan kita gak ada artinya untuk kamu? Kamu orang pertama yang mengajarkan saya jatuh cinta, mengajarkan saya memiliki hubungan istimewa dengan laki-laki tapi kamu juga yang mengajarkan saya patah hati. SAYA BENCI DENGAN KAMU."
Gladys menarik paksa kalung berbentuk love dengan ukiran huruf awal nama mereka yang terlingkqr di lehwr jenjangnya hingga terputus lalu melemparnya kesembarang tempat. Kalung itu adalah pemberian Leon saat anniversary mereka yang ketiga sehari sebelum keberangkatan mereka ke Indonesia.
Mikael yang mendengar suara teriakan dari dalam kamarnya segera masuk, dia takut Gladys berbuat yang tidak diinginkannya.
"Gladys" panggil Mikael yang melihat Gladys telah duduk di lantai sambil memeluk kedua kakinya, dengan langkah cepat dia mendekati Gladys dan duduk tepat di samping Gladys.
"Gladys, hei. Kamu kenapa? Mikirin laki-laki brengsek itu lagi?" Tanya Mikael lembut.
"Apa patah hati sesakit ini?" Tanya Gladys lirih.
Mikael benar-benar tidak tegah melihat Gladys yang terus menderita. Emosi Gladys yang labil membuatnya khawatir.
"Hei, look at me please." Mikael memegang kedua pipi Gladys lalu mengarahkan pandangan Gladys ke dirinya.
"Kamu gak usah mikirin laki-laki itu lagi. Gak ada gunanya. Justru malah kamu yang rugi, kamu buang-buang tenaga dan pikiran untuk memikirkannya tapi belum tentu dia juga memikirkan kamu, memikirkan perasaan kamu." Jelas Mikael yang berusaha membuat Gladys merasa tenang.
Mikael membawa Gladys ke dalam pelukannya, dia mengusap lembut pujuk rambut wanita itu.
Entah kenapa Gladys merasa seperti terlindungi dan merasa sedikit lebih tenang berada di pelukan Mikael.
"Berikan saya waktu akan ku hapus luka mu." Batin Mikael.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Oh Iya Author mau memberitahukan mulai besok Author gak up dulu, kembali up 3 hari setelahnya.
Mohon dukung Author terus yah
Biar lebih semangat aja nulisnya, klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya š
Terimakasih untuk pengertiannyaā£
__ADS_1