Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #55


__ADS_3

"Sejak kapan keponakan Paman ini cepat akrab dengan orang yang baru di kenalnya? Kamu inikan paling susah akrab dengan orang yang baru kenal." Lanjut Mikael pada keponakannya yang masih diam pada posisi duduknya.


"Kalau Tante Gladys beda, Tante Gladys itu spesial. Yulin sangat suka dengan Tante Gladys." Ujar Yulin.


"Terimakasih cantik. Tante Gladys juga suka sama kamu." Balas Galdys.


"Paman, Tante kata mama kalau laki-laki dan perempuan yang saling menyukai itu nantinya bisa punya adik. Apa Paman dan Tante nanti akan memberikan Yulin adik?" Tanya Yulin tiba-tiba.


Gladys dan Mikael yang mendengarnya hanya melempar pandangan tanpa bersuara. Suasana cangguh tiba-tiba menyelimuti mereka.


"Paman, Tante kenapa hanya diam saja. Ayo jawab?" Desak Yulin.


"Sayang, Paman dan Tante masih belum tau apa nanti kami berdua bisa memberikan kamu adik. Itu semua tergantug dari Tuhan." Jelas Gladys yang berusaha menyaring setiap kata yang dikeluarkannya agar mudah di pahami oleh Yulin.


"Kalau begitu Yulin akan berdoa kepada Tuhan agar Paman dan Tante bisa memberikan Yulin adik. Iyakan?" Ujar Yulin bersemangat.


"Semoga saja doa kamu dijabah oleh Tuhan." Lirih Mikael dalam hati.


"Yulin rambut kamu udah selesai, kita keluar yuk. Cari Oma Nana." Ujar Yulin.


Yulin mendengarkan kata Gladys, dia keluar dari kamarnya.


Gladys yang mengikuti Yulin dari belakang sempat melihat ke arah Mikael saat melewati laki-lali itu dengan perasaan canggung.


Ruang tengah


"Oma, Opa." Panggil Yulin saat melihat Nana dan Winjaya sedang duduk santai di atas sofa empuk.


"Kamu udah mandi Sayang?" Tanya Nana.


"Iya Oma, Tante Gladys yang mandiin saya. Saya suka dengan Tante Gladys Oma." Jelas Yulin yang kini telah berada di pangkuan Opanya.


"Terimakasih yah Yulin. Udah mau mandiin Gladys." Ujar Nana.


"Sama-sama Tante. Oh iya Tante gimana dengan cup cakenya?" Tanya Gladys.


"Tadi saya sudah menyuruh orang untuk membeli terigu nya tapi sepertinya kita gak bisa buat hari ini. Gimana kalau besok saja?" Tanya Nana.


"Oh iya Tante. Kalau gitu besok saya balik lagi ke sini."


"Balik? Ngapain balik Dys. Kamu nginap aja di sini. Banyak kamar yang bisa kamu tempatin sambil nunggu baju kamu di keringkan."


"Gak usah Tante, saya lebih baik pulang aja. Takut merepotkan Tante sama Paman." Ujar Gladys yang merasa tidak nyaman.


"Udah Sayang, dengerin aja apa kata Tante Nana." Ujar Mikael yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Gladys lalu menatap mata Gladys yang membuat siapapun yang melihat tatapan Mikael akan meleleh.

__ADS_1


Jantung Gladys kembali berdegup kencang melihat tatapan Mikael barusan. Dia seakan tidak dapat berkata apapun.


"Sayang." Panggil Mikael yang membuat Gladys kembali tersadar.


"Ah... Yah sudah kalau gitu. Saya menurut saja." Ujar Gladys pasrah.


"Yeeeee..... Tante Gladys nginap. Tante nanti tidur di kamar Yulin aja." Yulin kegirangan mendengar Gladys yang akan menginap.


"Iya Sayang, kita tidur bareng yah." Ujar Gladys.


"Kalau gitu Paman juga nanti temenin Yulin tidur di kamar yah." Canda Mikael.


"Nggak. Yulin hanya ingin tidur bersama Tante Gladys. Paman kan punya kamar sendiri." Tolak Yulin dengan wajah kesalnya tapi bukannya nampak seram malah terlihat lucu hingga membuat mereka yang melihatnya tertawa.


"Pelit amat sih, sama Paman sendiri." Ujar Mikael sembari mencubit pelan hidung mungil Yulin.


"Bay the way kelihatannya dress Tante yang kamu pakai ini, kok jadi seperti daster yah di badan kamu." Ujar Nana yang sedari tadi memperhatikan dress yang di pakai Gladys.


"Iya Tante, dress ini kebesaran di badan saya, makanya jadi seperti daster ditambah lagi coraknya yang rameh menambah kesan daster." Jelas Gladys.


"Makanya itu badan jangan terlalu kurus Sayang." ujar Mikael.


"Terus yang waktu itu siapa yah yang bilang kalau pipi saya ini cabi?" Sindir Gladys.


"Gak tau. Siapa yah yang bilang?" ujar Mikael yang berpura-pura lupa.


"Lucu banget sih kamu." Ujar Mikael lalu mencubit kedua pipi Gladys.


"Permisi Nyonya, makan malamnya sudah siap." Ujar Bi Yuyun yang baru saja menghampiri mereka.


"Iya Bi. Terimakasih yah." Balas Nana.


Mereka berlima menuju ke ruang makan, seperti sebelumnya selesai Nana mengangkatkan nasi untuk suami dan dirinya, Gladys mengambil rice bowl dari Nana lalu mengangkat nasi kepiring Mikael, dirinya lalu ke Yulin yang tepat duduk di samping kirinya. Gladys duduk di antara Mikael dan Yulin.


Nana dan Winjaya yang sejak awal mereka menyantap makan malam hingga selesai terus mempehatikan Gladys yang sudah seperti seorang istri yang melayani suaminya di meja makan dan seorang ibu yang memperhatikan makanan yang di makan oleh anaknya.


"Tante Gladys ikannya ada tulang." Ujar Yulin yang membuat Gladys langsung mensuwirkan ikan dan memisahkan duri dari dagingnya untuk Yulin.


"Sayang sambalnya dong." Pinta Mikael.


Gladys segera menuruti keinginan Mikael.


"Walaupun usia Gladys masih mudah tapi dia sudah telaten mengurus anak kecil hingga mengurus Mikael di meja makan seperti ini." Nisik Winjaya pada istrinya.


"Iya Pa, saya dari tadi sudah memperhatikan mereka." Timpal Nana.

__ADS_1


***


Seperti sebelumnya setelah makan,merrka pindah tempat ke ruang tengah.


Yulin yang sudah merasa mengantuk, mengajak Gladys untuk masuk ke kamarnya.


"Tante kita tidur yuk, Yulin udah gantuk." Ujar Yulin lalu menguap, otaknya telah memberi sinyal untuk istirahat sekali lagi Yulin kembali menguap.


"Yah udah yuk." Ujar Gladys.


"Tante, Paman, Kak Mika kami duluan ke kamar." pamit Gladys.


"Good night Sayang" Ujar Mikael.


Mereka berdua kini telah melangkah menuju ke kamar tidur Yulin yang serba berwarna pink dengan tema barbie.


"Kapan kalian nikah?" Tanya Winjaya yang dia sendiri pun sudah dapat menebak apa yang akan di jawab oleh putra sulungnya.


"Tante dan papa kamu ingin kamu cepat-cepat nikah. Usia kamu sekarang sudah tidak mudah lagi, sudah cukup matang untuk membina rumah tangga. Lagian kamu gak takut nanti Gladys di ambil orang?" Tanpa menunggu jawaban putra sambungnya, Nana melanjutkan kalimatnya. " Nanti giliran di ambil orang baru kamu nyesal. Tante dan Papa kamu sangat suka dengan anak itu. Dia pintar masak, urus anak, urus makan kamu. Apalagi yang kamu tunggu cepetan lamar Gladys?"


"Saya menunggu hatinya terbuka untuk saya Tante, hanya untuk saya seorang." Jawab Mikael dalam hati.


"Saya belum punya pacar di jodoh-jodohkan terus, giliran udah punya pacar di paksa terus untuk nikah. Di pikir gampang apa." Keluh Mikael lalu melangkah menuju ke kamarnya meninggalkam kedua orang tuanya.


"Mika." Panggil Winjaya.


Mikael tidak memperdulikan panggilan papanya, dia terus saja melangah ke kamarnya.


"Mikael Winjaya." Sekali lagi Winjaya memanggil putranya namun tetap saja Mikael tidak menghiraukannya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai guys


Jangan lupa dukung author yah😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣


__ADS_2